Cecak Kayu, Reptil Berbintil dengan Daya Adaptasi Tinggi

Reading time: 3 menit
Cecak Kayu. Foto: Ady Kristanto

Cecak Kayu atau Cicak Kayu (Hemidactylus frenatus) adalah sejenis reptil yang tergabung dalam famili Gekkonidae. Mereka dapat kita temukan di hampir seluruh negara di dunia, serta paling banyak ahli jumpai berada di sekitar rumah.

Sama seperti Cecak Tembok (Cosymbotus platyurus), H. frenatus tergolong sebagai cecak rumahan. Sebab lebih senang berada di area berkayu, ia pakar identifikasi dengan nama yang berbeda.

Di Tanah Air, julukan bagi spesies cicak satu ini sebenarnya tidak terlalu beragam. Ia publik kenal dengan nama Cakcak di Jawa Barat, Cicek bagi masyarakat Betawi, serta Cecak di daerah Jawa.

Secara internasional, cecak kayu awam sebut sebagai Common House-Gecko. Berkat populasinya yang berlimpah di Australia, spesies hewan ini juga pakar juluki sebagai Darwin House-Gecko.

Morfologi dan Ciri-Ciri Cecak Kayu

Pada dasarnya, cecak kayu adalah spesies Gekkonidae berukuran sedang. Jika kita ukur mulai dari kaki sampai ke bagian kepala, panjang tubuh hewan tersebut bisa mencapai 120 mm.

Salah satu pembeda antara spesies H. frenatus dan C. platyurus adalah corak dan moncongnya. Moncong cicak kayu relatif pendek, dengan dorsal berwarna abu-abu keputihan atau kehitaman.

Bagain dorsal hewan ini tampak berbintik-bintik, sedang ventral atau perutnya terlihat berwarna putih atau agak kekuningan. Tidak ada jumbai kulit di sisi tubuh atau tungkai hewan tersebut.

Namun ia memiliki ekor yang bentuknya agak membulat, dengan enam deret duri-duri kulit bertekstur lunak. Terdapat sisik-sisik berbentuk bulat halus pada bagian sisi dorsal mereka.

Meski tampilan sisik cecak kayu cukup jelas, ukuran sisik tersebut pakar ketahui tidak seragam. Pada area ini terdapat pula bintil-bintil yang tersusun dalam deretan agak jarang.

Bintil-bintil tersebut menyebar sebanyak dua baris di tiap sisi tubuh (dari pinggang hingga ke pinggul), satu deret di bagian atas pinggul, dan tiga deret berbentuk duri lunak di tiap sisi ekornya.

Perubahan Fisik dan Kebiasaan Cecak Kayu

Saat usia dewasa, warna kulit cecak kayu terlihat cukup berbeda. Corak kehitaman pada bagian dorsalnya kini terlihat lebih jelas, dengan sejalur pita keputihan di masing-masing sisi lateral.

Pita putih pada spesies cicak ini memang terlihat seperti kekang kuda. Ia memanjang mulai dari ujung moncong hingga ke area mata, melewati telinga, bahu, sisi-sisi tubuh sampai ke pinggul.

Di bagian punggung terdapat bercak-bercak putih berpasangan yang ahli sebut vertebral. Bercak putih itu berada tepat di jalur tulang punggung, memanjang dengan kaki dan ekor belang-belang.

Sebab berasal dari keluarga yang sama, perilaku cecak kayu cenderung mirip dengan cicak biasa. Mereka aktif di malam hari, serta kerap terlihat berada di dinding, tembok dan langit-langit.

Area sekitar lampu adalah tempat favorit berkumpulnya beragam spesies cicak. Pada saat siang hari, H. frenatus biasanya bersembunyi di sela-sela kayu, pohon atau semak-semak halaman.

Seperti yang kita ketahui, cicak hidup dengan memangsa serangga-serangga kecil. Ia indentik dengan suara “cak…cak…cak,” yang berfungsi untuk menarik perhatian betina serta menandai wilayahnya.

Peta Persebaran Cecak Kayu yang Luas

Ke manapun kaki melangkah agaknya kita akan selalu menemukan berbagai spesies cicak, termasuk cecak kayu atau pohon. Tak bisa kita dipungkiri, peta persebaran H. frenatus memang sangat luas.

Melansir berbagai sumber, jenis Gekkonidae yang satu ini menyebar mulai dari timur dan selatan Afrika, Madagaskar, kepulauan-kepulauan Mauritius, Reunion, Rodrigues, Komoro dan Seychelles.

Bukan cuma itu, mereka juga pakar temukan di kawasan Pakistan, Bhutan, Nepal, India, Sri Lanka, Bangladesh, Andaman, Nikobar, Maladewa, Tiongkok selatan, Myanmar, Laos, sampai Jepang.

Di Indonesia sendiri, hewan yang melepaskan ekornya sebagai bentuk pertahanan diri ini dapat kita jumpai mulai dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Lombok, Sulawesi, Ambon hingga Papua.

Mengingat daya adaptasi cecak kayu yang tinggi, luasnya distribusi hewan tersebut bukan hal yang mengagetkan. Dibanding cicak biasa, kemampuan adaptasi H. frenatus bahkan lebih besar!

Taksonomi Cicak Kayu atau Pohon

Penulis : Yuhan Al Khairi

Top

You cannot copy content of this page