Kerbau: Simak Lebih Dalam tentang Hewan Perkerja Keras Ini!

Reading time: 3 menit
kerbau
Kerbau: Simak Lebih Dalam tentang Hewan Perkerja Keras Ini! Foto: Shutterstock.

Berdasarkan Tahun Baru Imlek 2021, tahun ini merupakan “Tahun Kerbau Logam”. Tahun ini menyimpan arti sebagai waktunya untuk bekerja keras, meningkatkan kedisiplinan, dan juga menggapai harapan. Menyambut tahun baru imlek, Greeners pun mengangkat tentang satwa pekerja keras ini. Yuk kita lihat lebih dalam!

Nah, satwa ini memang identik sebagai hewan yang memiliki banyak keunggulan, khususnya sebagai hewan ternak. Tenaganya amat kuat sehingga mereka biasa berfungsi sebagai ternak pekerja. Kehidupannya juga menyukai air, sehingga sangat cocok bila bekerja di daerah pertanian berlumpur (Dinas Peternakan Provinsi Riau, 1998).

Ciri-Ciri dan Morfologi

Sebagai binatang memamah biak, ciri khas satwa ini umumnya memiliki sungut yang relatif panjang, bertulang besar dan agak kompak.

Mereka memiliki kuping besar, kaki-kaki kuat dan pendek dengan kuku-kuku besar, bulu jarang, gemuk, tidak mempunyai punuk dan gelambir.

Salah satu ciri khas satwa ini adalah kepalanya yang bertanduk padat dan mengarah ke belakang. Warna tubuh umumnya abu-abu dengan warna kulit hitam.

Daerah Persebaran Kerbau

Satwa ini merupakan hewan asli Afrika dan Asia. Mereka termasuk salah satu hewan liar (primitif) dari famili Bovidae. Perlu kita catat bahwa kerbau tidak sama dengan American buffalo atau bison (Bison bison) dan European bison (Bison bonasus).

Fauna ini dapat berkembang biak dalam rentang kondisi agroekosistem yang luas dari daerah dengan kondisi yang basah sampai dengan kondisi yang kering (Jurnal Peternakan Integratif, 2013).

Menurut kajian ilmiah Chalid Talib, Balai Penelitian Ternak Bogor dalam Jurnal Wartazoa (2014) kerbau liar di dunia terdapat di dua benua yaitu di Afrika (Syncerus cafeer) dan di Asia.

Spesies yang hidup di Afrika belum mampu melalui proses domestikasi karena membahayakan manusia. Di Asia Arnee (Bubalus arnee), Anoa (Bubalus quarlesi/ depresicornis) pun bukanlah satwa yang telah melewati proses domestikasi. 

Baca juga: Cekakak Jawa, Si Cantik Berparuh Merah yang Tidak Suka Manusia

Populasi

Berdasarkan tulisan ilmiah dalam repository.uin-suska.ac.id, di seluruh dunia terdapat minimal 135 rumpun dan galur kerbau, di mana jumlah rumpun dan galur ini akan terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Populasi satwa ini di dunia sekitar 158 juta ekor, dan 97% dari populasi dunia terdapat di Asia.

Untuk jenis Bubalus bubalis merupakan jenis hewan yang telah didosmestikasi dari kerbau liar. Jenis ini masih dapat kita temukan di Pakistan, India, Bangladesh, Nepal, Bhutan, Vietnam, Cina, Filipina, Taiwan, Indonesia dan Thailand (Jurnal Indonesia Medicus Veterinus, 2016).

kerbau lumpur

opulasi satwa ini di dunia sekitar 158 juta ekor, 97% dari populasi dunia terdapat di Asia. Foto: Shutterstock.

Kerbau lumpur (Bubalus bubalis) mempunyai variasi pada bobot badan dan warna kulit, sehingga di Indonesia kerbau lumpur terkenal dengan berbagai nama, seperti kerbau Jawa, Aceh, Toraja, Kalang dan Moa (Akhmad Sukri. Jurnal Florea, 2014).

Berdasarkan tipe produk yang mereka hasilkan, satwa ini terbagi menjadi dua tipe yaitu kerbau potong (beef/buff buffalo) dan kerbau perah (dairy buffalo). Kerbau lumpur/air (swamp/water buffalo) mendominasi jenis potong, sementara kerbau sungai (river buffalo) mendominasi jenis kerbau sungai.

Peran Kerbau dalam Kehidupan Berbudaya

Menariknya dalam Jurnal Indonesia Medicus Veterinus (2016), selain sebagai penghasil daging dan membantu kerja manusia dalam kegiatan pertanian, fauna ini juga berguna dalam aktivitas budaya. Dia kerap hadir dalam pelbagai upacara adat dan keagamaan.

Di Toraja Utara, anggota masyarakat yang menggunakan mereka sebagai hewan korban dalam acara adat pemakaman dapat menigkatkan status sosialnya di masyarakat.

Di Bali, tepatnya di Kabupaten Jembrana, Bubalus bubalis berperan dalam aktivitas sosial budaya “Makepung”. Makepung adalah tradisi menggunakan fauna ini dalam pacuan. Makepung biasa berlangsung pada musim kemarau atau setelah panen padi di sawah.

Taksonomi Kerbau

taksonomi kerbau

Penulis: Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page