Cekakak Jawa, Si Cantik Berparuh Merah yang Tidak Suka Manusia

Reading time: 3 menit
cekakak jawa
Cekakak Jawa, Si Cantik Berparuh Merah yang Tidak Ramah Manusia. Foto: Shutterstock.

Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris) atau Tengkek memang sangat unik. Selain memiliki rupa yang indah, burung endemik Jawa dan Bali ini ternyata sangat sensitif terhadap kehadiran manusia. Pemeliharaannya pun sejatinya tidak disarankan karena sifat aktif dari hewan tersebut.

Tengkek adalah spesies burung anggota marga Halcyon yang berasal dari suku Halcyonidea. Satwa ini masih berkerabat dengan Burung Raja-Udang, serta sering beterbangan di sekitar lahan terbuka.

Bukan cuma itu, spesies  H. cyanoventris juga bisa kita jumpai di area persawahan, kolam ikan, paya yang mengering, padang semak, serta tempat pengembalaan hingga ketinggian 1.000 mdpl.

Meski secara habitat cukup dekat manusia, nyatanya mereka bukan hewan yang “ramah.” Sedikit saja ia melihat keberadaan makhluk asing, maka cekakak Jawa akan langsung menghindar.

Ciri-Ciri, Makanan dan Kebiasaan Cekakak Jawa

Perdagangan spesies cekakak Jawa memang cukup marak di masyarakat. Berkat fisiknya yang cantik, banyak orang berminat untuk memelihara serta menjadikannya sebagai hewan peliharaan.

Belum lagi, tengkek sendiri publik kenali sebagai burung pengicau. Suaranya sangat merdu, jika kita simak secara seksama, suara unggas ini terdengar seperti “cii-rii-rii-rii” atau “crii-crii-crii.”

Melansir berbagai sumber, harga burung cekakak saat ini mulai dari Rp1,5 jutaan. Agar lebih mengenal hewan yang satu ini, berikut ulasan dari Greeners yang bisa Anda simak.

cekakak jawa

Secara morfologi, burung cekakak jawa sejatinya masuk dalam kategori hewan berukuran sedang. Foto: Shutterstock.

1. Morfologi atau Ciri-Ciri Fisik

Secara morfologi, burung cekakak jawa sejatinya masuk dalam kategori hewan berukuran sedang. Mereka dapat tumbuh hingga 25 cm, dengan dominasi corak bulu berwarna sangat gelap.

Saat usia dewasa, bagian kepala fauna tersebut tampak berwarna cokelat tua. Tenggorokan dan kerahnya berwarna cokelat, dengan bagian perut dan punggung bercorak biru-ungu.

Sedang di usia muda, ciri-ciri tengkek dapat terlihat dari corak tenggorokan berwarna keputihan. Ia mempunyai penutup sayap berwarna hitam, serta bulu terbang yang berwarna birung terang.

Pada saat terbang, bercak putih besar yang terletak pada sayap burung tengkek akan lebih terlihat. Mereka memiliki iris mata cokelat tua, serta paruh dan kaki yang berwarna merah.

2. Makanan Cekakak Jawa

Cyanoventris tergolong sebagai satwa pemakan serangga. Mereka juga acap kali tertangkap sedang memburu hewan-hewan kecil seperti larva kumbang air, ikan, udang hinga katak.

Induk cekakak bertugas untuk membawakan makanan kepada anak-anaknya. Jika si anak baru menetas, maka hasil buruan yang dibawa biasanya bersifat lunak seperti cacing.

Namun apabila anaknya sudah mulai besar atau bisa mengunyah lebih keras, maka makanan yang induk sajikan relatif lebih besar yakni ular air, ikan, sampai dengan kadal.

3. Kebiasaan Burung Tengkek

Seperti yang telah saya sebutkan, salah satu daya tarik dari burung ini adalah kicauannya. Namun menurut pakar, spesies cekakak sungai justru lebih aktif berkicau daripada cekakak Jawa.

Hewan yang satu ini berburu mangsa di sekitar lahan rerumputan terbuka. Mereka terlihat bertengger sendirian di atas tonggak atau cabang pohon yang rindang.

Siklus bersarang burung tengkek berlangsung pada bulan Maret dan September. Sekali bertelur mereka dapat menghasilkan 3-4 butir, dengan bentuk bulat oval dan berwarna putih.

Fauna berordo Coraciiformes ini akan meletakkan telur-telurnya di dalam sarang. Sarang mereka berbentuk saluran/terowongan dalam tanah di tebing sungai yang terbuka dan tersinari matahari.

cekakak jawa

Hewan yang satu ini berburu mangsa di sekitar lahan rerumputan terbuka. Mereka terlihat bertengger sendirian di atas tonggak atau cabang pohon yang rindang. Foto: Shutterstock.

Kelestarian dan Status Konservasi Cekakak Jawa

Bila kita bandingkan dengan spesies burung pada umumnya, penelitian terkait cekakak Jawa memang terbilang sangat minim. Sehingga status konservasi terhadap hewan yang satu ini cukup sulit untuk kita kaji lebih dalam. 

Mulanya, pada PP No.7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, semua famili Alcedinidae atau keluarga King Fisher masuk dalam kategori fauna yang dilindungi oleh negara.

Namun pada Permen LHK No.P.20/menlhk/setjen/kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, terjadi perubahan pada poin perlindungan keluarga Alcedinidae.

Dari 46 spesies Alcedinidae yang ada di Indonesia, hanya tersisa 17 spesies yang masih berstatus dilindungi sedang yang sisanya tidak. Permen LHK No.P92/2018 mempertegas hal ini.

Salah satu spesies yang keluar dari kelompok dilindungi adalah H. cyanoventris atau cekakak Jawa. Sejumlah kalangan sangat menyayangkan langkah ini, terutama pegiat pelestarian satwa.

Bila kita tinjau dari IUCN redlist, status konservasi unggas ini berada di level least concern atau berlimpah.

Namun mengingat nilai ekonomisnya yang tinggi, penghapusan nama burung tengkek sebagai satwa dilindungi dikhawatirkan dapat mengganggu keberadaan populasi mereka di alam liar.

Taksonomi Cekakak Jawa

taksonomi cekakak jawa

Referensi:

Rizki Agung Santosa, dkk., Universitas Lampung 

Yoga Putra Aliyani, dkk., Universitas Negeri Yogyakarta

Laman Kehati, Yogyakarta

Penulis: Yuhan Al Khairi

Top
You cannot copy content of this page