Yuk, Kenali 4 Fakta tentang Bahan Makanan Berkelanjutan!

Reading time: 3 menit
Ilustrasi bahan makanan berkelanjutan. Foto: Pexels
Ilustrasi bahan makanan berkelanjutan. Foto: Pexels

Food and Agriculture Organisation (FAO) menyebutkan, sepertiga gas rumah kaca global berasal dari sistem pangan dunia, dihitung mulai dari produksi, pengemasan, distribusi, hingga limbah. Itu berarti, pilihan kita terhadap suatu bahan makanan sangat berpengaruh terhadap kesehatan bumi. Nah, kita perlu ikut berkontribusi untuk menurunkan gas rumah kaca dengan memilih bahan makanan berkelanjutan.

Menurut FAO, pola makan berkelanjutan adalah pola makan yang meminimalkan dampak lingkungan, berkontribusi terhadap keamanan pangan dan gizi, serta menjaga kesehatan generasi sekarang dan masa depan.

BACA JUGA: Food Sustainesia Ajak Generasi Muda Mengenal Sistem Keberlanjutan Pangan

CEO dan Co-Founder Eathink, Jaqualine Wijaya mengatakan langkah yang bisa masyarakat lakukan adalah mengadopsi pola makan berkelanjutan, termasuk memilih bahan pangan yang juga berkelanjutan. Ia menguraikan, pola makan berkelanjutan perlu dipandang secara holistik. Hal itu tidak bisa masyarakat lihat dari satu aspek saja, melainkan dari banyak aspek, termasuk lingkungan, kesehatan, sosial, dan ekonomi.

Lalu, seperti apa bahan makanan yang masuk dalam kriteria berkelanjutan? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini!

1. Harga terjangkau dan mudah didapat

Makanan yang diproduksi oleh petani lokal merupakan bahan pangan yang ramah lingkungan. Sebab, bahan makanan lokal tidak harus melalui proses perjalanan yang panjang, sebelum kemudian sampai di tangan konsumen.

Hal tersebut berbeda dengan pangan impor yang harus melalui jalur distribusi panjang, menggunakan banyak kemasan untuk memastikan keamanannya, dan membutuhkan waktu penyimpanan cukup lama yang berpotensi menurunkan nilai gizi.

“Keuntungan dari berbelanja produk pangan lokal adalah meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, karena aksi ini dapat mengurangi jejak karbon, sekaligus mendukung produsen lokal, baik petani maupun nelayan. Keuntungan lainnya adalah produk lokal biasanya berlimpah, mudah sekali kita dapatkan di sekitar kita, dan harganya sangat terjangkau,” kata Jaqualine.

2.  Berdampak baik terhadap lingkungan

Praktik penanaman bahan pangan, misalnya padi, yang konvensional masih menggunakan pupuk dari bahan kimia dan pestisida, yang berpotensi merusak tanah. Bahan kimia tersebut menyumbang jejak karbon.

Di samping itu, lahan pertanian padi masih ada yang didapatkan dari pembukaan lahan dengan pembakaran hutan. Padahal, nasi dari beras masih menjadi sumber karbohidrat yang paling banyak masyarakat konsumsi.

BACA JUGA: 5 Tips Membuat Kebiasaan Makan Lebih Berkelanjutan

Nah, kamu bisa memilih beras yang ramah lingkungan, yaitu beras organik. Beras tersebut tidak menggunakan bahan kimia dalam penanamannya dan tidak menggunakan air yang tercemar.

Jaqualine menambahkan, untuk memastikan suatu bahan makanan, carilah kemasan yang melekatkan label organik atau sustainable food. Label tersebut menandakan bahwa bahan pangan tersebut sudah mendapatkan sertifikasi organik.

“Atau, kalau membeli protein hewani dari daging sapi, carilah yang berlabel grass-fed dan telur berlabel cage-free,” imbunya.

3. Berlimpah nutrisi

Dari segi kesehatan, bahan makanan berkelanjutan adalah yang sarat muatan nutrisi. Menurut Jaqualine, langkah awal yang bisa masyarakat lakukan untuk mempraktikkan pola makan berkelanjutan adalah memilih dan mengonsumsi makanan bergizi.

“Masyarakat jangan hanya melihat dari proses produksi dan distribusi yang dinilai ramah lingkungan. Mengonsumsi makanan bergizi merupakan aspek penting dalam pola makan berkelanjutan,” katanya.

Jaqualine menyebutkan, terdapat banyak cara untuk mendapatkan asupan makanan yang bergizi tinggi. Ia mencontohkan panduan Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan. Panduan ini menganjurkan agar dalam satu piring terdapat 50% buah dan sayur, 50% karbohidrat dan protein.

“Untuk memenuhi anjuran porsi buah dan sayur, kita bisa menggunakan bahan makanan lokal yang berbeda jenis, sehingga mendapatkan nutrisi optimal dari berbagai sumber pangan. Jadi, sebaiknya tidak memilih makanan yang itu-itu saja. Keragaman isi piring kita akan mendukung biodiversitas atau keanekaragaman hayati yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan menjaga kekayaan alam,” kata Jaqualine.

4. Berbahan dasar tanaman

Sejak beberapa tahun belakangan ini, para pencinta lingkungan ramai-ramai mendorong masyarakat untuk mengonsumsi bahan makanan berbahan dasar tanaman (plant-based food). Sehingga, banyak orang mempraktikkan urban farming, memanfaatkan lahan sempit di rumah untuk menanam sayuran. Namun, mengapa para pegiat lingkungan menyarankan kita untuk mengurangi konsumsi daging?

Alasannya, hal itu akan meningkatkan permintaan produk berbahan dasar hewani yang akan berujung pada terlalu banyak lahan untuk produksi.

“Jejak karbon dari produksi bahan pangan hewani bisa mencapai 50 kali produksi bahan pangan nabati,” kata Jaqualine.

Eathink telah mengumpulkan sejumlah data terkait konsumsi produk hewani, seperti daging dan ikan. Saat ini, terjadi penurunan stok ikan laut yang berkelanjutan. Selain itu, eksploitasi yang berlebihan terhadap satwa liar, termasuk ikan telah mengancam keanekaragaman hayati.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top