“Masa Depan Kami Diambang Kehancuran”

Reading time: 2 menit
Kita Masih d Planet Bumi
"Kita Masih d Planet Bumi"

Judul Film: Kita Masih di Planet Bumi

Sutradara: Erick EST

Pemain: Chika, Agnes, Mada, Bobby Kool

Rilis: 19 Desember 2019

Durasi: 2 Menit 2 Detik

Jakarta (Greeners) – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengampanyekan penyelamatan bumi melalui film pendek “Kita Masih di Planet Bumi”, di kantor Walhi, Jakarta Selatan, Kamis, (19/12). Video tersebut digarap oleh Erick EST, sineas asal Bali yang terlibat dalam gerakan sosial maupun lingkungan seperti Bali Tolak Reklamasi.

Tema krisis iklim dipilih untuk merespons keterlibatan Indonesia dalam Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim (COP25), di Madrid, Spanyol, awal Desember lalu. Menurut Walhi, Indonesia hanya mengambil posisi aman dalam kesepakatan tersebut. Padahal, bencana akibat krisis iklim paling berdampak ke wilayah di negara ini sehingga diperlukan komitmen yang serius dalam menegosiasi emisi global. Krisis iklim juga menjadi tanggung jawab seluruh seperti pemerintah dan korporasi, bukan hanya individu.

Kita Masih di Planet Bumi menceritakan bagaimana Chika, seorang anak perempuan yang mempertanyakan masa depannya. Sebab, lingkungan semakin hancur karena sungai dan laut dipenuhi sampah plastik maupun limbah industri, kebakaran hutan, polusi udara, emisi industri, hingga perubahan cuaca ekstrem dan pemanasan global. “Masa depan kami sudah diambang kehancuran.”

Walhi mendesak agar kebijakan pemerintah dapat beradaptasi sesuai krisis iklim yang terjadi. “Komitmen pemerintah mengenai wacana  penurunan emisi karbon tidak nyambung dengan perilaku. Misalnya, hutan masih dihabisi untuk kepentingan industri, laut dijadikan reklamasi, hutan bakau di sejumlah daerah dihancurkan, dan penggunaan batu bara makin massif,” ujar produser film “Kita Masih di Planet Bumi”, I Wayan Gendo Suardana.

Gendo mengatakan film ini merupakan gugatan kepada pemerintah dan korporasi termasuk di negara-negara maju. Masyarakat sipil juga diajak bergerak untuk mendesak para pemangku kepentingan agar tidak hanya berkomitmen, tetapi juga melakukan tindakan konkrit dalam menurunkan emisi karbon yang signifikan.

Pemain: Mada, Bobby Kool, Agnes, Chika. Foto: Youtube Walhi Nasional

Film berdurasi dua menit ini juga melibatkan musisi Superman Is Dead, Bobby Kool. Ia dipilih karena merupakan sosok yang peduli dan bergerak langsung dalam aksi penyelamatan lingkungan maupun krisis iklim. Di dalam film juga disinggung masalah pencemaran laut akibat sampah plastik. Akibatnya, biota laut khususnya ikan mengonsumsi plastik yang terbawa arus. Siklus tersebut semakin membahayakan sebab dampaknya berpotensi sampai kepada manusia.

“Ketika orang memakan ikan, secara tidak sadar mereka telah mengonsumsi ikan yang sudah terpapar. Itu nasib manusia di kemudian hari yang dipadatkan dalam film ini,” kata Gendo.

Dalam proses pembuatannya, produsen Estmovie melakukan riset melalui data Walhi. Hasilnya kemudian diolah menjadi potongan gambar tanpa menunjukkan angka. “Proses syuting selama seminggu untuk pengambilan footage, kemudian mengumpulkan data. Termasuk cepat karena semua talent yang terlibat sangat antusias.”

Walhi akan terus mengampanyekan masalah lingkungan dengan memanfaatkan media sosial agar dapat diakses oleh siapapun. “Ini akan berlanjut, karena kita harus memanfaatkan momentum dan platform teknologi yang tersedia. Tentunya kita akan memproduksi lagi banyak hasil riset strategis di Walhi yang butuh penyederhanaan dalam menyampaikan pesan,” ucap Gendo.

Penulis: Ridho Pambudi

Top
You cannot copy content of this page