Trilogi Perubahan Iklim di Indonesia

Reading time: 2 menit
Buku Trilogi Perubahan Iklim
Buku Trilogi Perubahan Iklim. Foto: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Judul: Trilogi Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim, (Urgensi, Politik, dan Tata Kelola Perubahan Iklim, Sektor Pembangunan dan Emisi Gas Rumah Kaca, Krisis Sosial-Ekologis dan Keadilan Iklim)

Penulis: Ruandha A. Sugardiman, Joko Prihatno, Belinda A. Margono, Budiharto dan Tim.

Tanggal Terbit: Desember 2019

Jumlah Halaman:

Urgensi, Politik, dan Tata Kelola Perubahan Iklim:  168  halaman,

Sektor Pembangunan dan Emisi Gas Rumah Kaca: 320 halaman, dan

Krisis Sosial-Ekologis dan Keadilan Iklim: 312 halaman

Penerbit: Kompas Gramedia

Pemanasan global, perubahan musim, dan bencana hidrometeorologis telah banyak dikenal masyarakat luas. Namun, kebijakan, langkah, dan inisiatif mitigasi maupun adaptasi Indonesia di tingkat lokal, nasional, dan global masih belum banyak diketahui.

Fenomena tersebut memotivasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta lebih dari 50 penulis kontributor untuk menghimpun pengetahuan-pengetahuan mengenai krisis iklim. Di dalam buku ini, para penulis menarasikan awal mula krisis iklim dan bagaimana implementasi kebijakan yang telah berjalan selama ini.

Membedah Tiga Tema Besar

Buku Trilogi Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim dibagi menjadi tiga volume. Di buku pertama, tema besar berfokus pada Urgensi, Politik, dan Tata Kelola Perubahan Iklim. Di dalamnya dipaparkan betapa dibutuhkannya kerja sama global yang melibatkan negara maju serta lembaga internasional dalam menghadapi perubahan iklim. Komunitas ilmiah, organisasi, hingga pebisnis juga turut dilibatkan dalam menghadapi krisis iklim.

Sedangkan, pada volume kedua membahas sektor pembangunan dan emisi gas rumah kaca. Sektor pembangunan di Indonesia berisiko terhadap kesehatan. Dibahas juga dekabornisasi melalui pendekatan ekonomi pasar dan nonpasar. Tata kelola yang buruk dan korupsi menyebabkan pemborosan sumber daya alam di sektor perencanaan kota, perkebunan, hingga mengakibatkan krisis iklim.

Volume ketiga menjelaskan krisis sosial-ekologi dan keadilan iklim yang mengungkapkan bagaimana krisis sosial ekologi muncul di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Berbagai upaya mengatasi tingkat kerentanan dipaparkan secara inklusif melalui praktik mitigasi dan adaptasi pada tataran individu hingga nasional.

“Buku ini sangat menarik karena ada pembahasan mengenai perubahan iklim dalam perspektif gender. Juga dengan sangat lugas digambarkan persinggungan antara kemiskinan dan perubahan iklim secara global dan internasional. Ini berarti antara kemiskinan dan peruban iklim ada kaitan yang sangat erat. Kalau berhasil memerangi krisis iklim, otomatis kita juga berhasil memerangi kemiskinan,” tutur Teguh Suryo Adiwibowo, Perwakilan dari Lembaga Swadaya Masyarakat Madani.

Melibatkan Puluhan Penulis

Proses penulisan buku melibatkan sebanyak 78 kontributor dari berbagai kalangan. Misalnya, dari kalangan akademisi, pengusaha hingga anggota parlemen berpartisipasi menuangkan ide serta pemahamannya mengenai krisis iklim.

Kehadiran buku “Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim” ini mempunyai peran dan relevansi. Trilogi buku tidak hanya dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman dan perasaan mendesak terhadap krisis iklim. Namun juga untuk mengetahui sejauh mana upaya mitigasi dan adaptasi Indonesia selama ini, serta agenda yang harus ditempuh oleh semua pihak di masa depan.

Penulis: Krisda Tiofani

 

Top
You cannot copy content of this page