Bustar Maitar: Papua Ingin Dilihat Sama

Reading time: 5 menit

Bagaimana Anda dan EcoNusa mengomunikasikan hal ini dengan pemerintah?

Tentu kita berkomunikasi dengan pemerintah, tapi juga mengumpulkan praktik terbaik yang dilakukan oleh orang Papua dan Maluku asli di lapangan. Praktik itulah yang kemudian dikolaborasikan di media dan website untuk menunjukan bahwa orang Papua juga bisa.

Misalnya Raja Ampat, 75 persen akomodasi di Raja Ampat dikelola oleh anak-anak asli Papua melalui asosiasi homestay. Inilah yang harus dijaga dan diproteksi. Atau ketika orang ingin ke Raja Ampat yang diinformasikan ke pengunjung tinggal di homestay yang dikelola orang Papua. Itu menurut saya yang harus didorong oleh pemerintah.

Sejauh mana pelibatan masyarakat adat maupun lokal dalam ekowisata?

Saya rasa masyarakat berkembang sendiri meski ada bantuan dari pemerintah. Kalau dibilang pelibatan saya juga tidak tahu siapa membangun siapa, artinya masyarakat melakukan saja apa yang bisa dilakukan. Dalam perencanaan pembangunan itulah proses di mana masyarakat harus dilibatkan, tetapi masih minim.

Ini yang EcoNusa sedang coba dorong, bagaimana pelibatan masyarakat harus lebih terbuka dalam perencanaan pembangunan supaya lebih partisipatif.

Harapan untuk lingkungan Indonesia?

Harapan saya ada lebih banyak anak muda yang melindungi hutan karena hutan kita habis atau tidak dalam 15-20 tahun anak-anak muda yang akan merasakan. Kedua untuk generasi tua berhentilah membahas undang-undang yang tidak ada manfaatnya buat lingkungan seperti Omnibus Law dan lain sebagainya.

Profil Bustar Maitar

Penulis: Ridho Pambudi dan Devi Anggar Oktaviani

Top
You cannot copy content of this page