Jatna Supriatna, Peneliti yang Gemar Bertualang di Hutan

Reading time: 5 menit
Jatna Supriatna. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Jatna Supriatna. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Namun demikian, penyakit malaria atau penderitaan lainnya hanyalah sebuah cerita untuk Jatna. Ia mengaku tidak pernah terlintas di pikirannya untuk berhenti meneliti. Ia pun tidak pernah ragu ketika diharuskan untuk terjun kembali ke hutan selepas penyakitnya sembuh.

“Mereka yang tidak suka hutan pasti akan cepat bosan dan kesal. Tapi kalau sudah biasa pasti enjoy, apalagi kalau sudah lama tidak mencium bau hutan,” jelas pria yang mendapat penghargaan Habibie Award 2008 dan Bakri Award 2011 dalam bidang sains ini.

Cinta Alam

Jiwa petualang Jatna mulai terasah sejak dini. Sang ayah adalah prajurit militer yang harus berpindah tempat tinggal karena tuntutan tugasnya. Oleh karena itu, ia seringkali harus pindah sekolah karena mengikuti sang Ayah.

“Saya lahir di Bali, adik saya lahir di Makassar, kemudian terus pindah-pindah. SMP pindah sekali, SMA dua kali,” ujarnya sambil tertawa.

Jatna menyebut sosok Ayah sebagai orang yang punya pengaruh besar terhadap jiwa petualangnya. Ia menggambarkan ayahnya sebagai orang yang gemar berekreasi. Tak jarang Ayahnya membawa ia dan sepuluh saudaranya untuk berpergian ketika libur sekolah, termasuk untuk berkemah.

“Ayah saya memang suka ke luar kota, senang berpergian, senang ngajak kita piknik, senang ngajak kita berkemah,” cerita Jatna.

Meski sudah jarang melakukan penelitian di hutan karena usia yang makin bertambah, Jatna tidak menampik jika ia lebih kerasan tinggal di lingkungan yang dekat dengan alam jika dibanding harus tinggal di kota. “Ada satu hal yang mempengaruhi bagaimana kecintaan terhadap alam berkembang dengan baik (dalam diri). Dan saya tidak takut dengan alam karena sering orang bilang kalau hutan itu tempat jin buang anak dan sebagainya,” katanya.

Jatna tidak asal bicara. Meneliti di hutan selama berbulan-bulan membuatnya kerap bertemu berbagai hewan buas. Namun, alih-alih merasakan takut, Jatna justru merasa tertantang untuk meneliti mereka.

Pengalamannya sebagai peneliti selama puluhan tahun membuat Jatna tahu bahwa setiap hutan di masing-masing wilayah memiliki karakteristik yang khas. Faktor geografi dan iklim membuat hutan di satu wilayah memiliki perbedaan dengan hutan di wilayah yang lain.

“Anggap saja hutan itu seperti nyanyian. Ada tonggeret, burung, mamalia, mereka kan nyanyi. Kita masuk hutan beda sensasinya,” katanya.

Menurut Jatna, memang tidak semua orang dapat merasakan sensasi tersebut. Selain faktor pengalaman, rasa cinta dan kepedulian terhadap hutan adalah faktor yang memengaruhi seseorang untuk bisa merasakan suara alam di hutan.

Top

You cannot copy content of this page