B2W Bandung : Sepeda Itu Solusi Tanpa Polusi

Reading time: 3 menit
Ini adalah aktivitas gowes B2W sebelum pandemi Covid-19. Foto : B2W Bandung

Jakarta (Greeners) – Pandemi Covid-19 mendorong hadirnya tren gaya hidup yang lebih sehat. Salah satunya hobi bersepeda alias gowes. Akan tetapi, komunitas Bike To Work (B2W) Bandung ini menghadirkan gowes bukan sekadar bersepeda tapi punya misi “hijau” untuk bumi.

B2W Bandung merupakan bagian dari komunitas Bike To Work Indonesia. Komunitas ini hadir karena keprihatinan akan kondisi polusi udara yang semakin mengkhawatirkan. Belum lagi kemacetan yang ada di kota-kota besar. Bike To Work (B2W) berdiri pada Agustus 2005. Sedangkan B2W Bandung berdiri dua tahun setelahnya, yakni pada tahun 2007.

Ketua Bike To Work (B2W) Bandung Wildan Fachdiansyah mengatakan, pandemi Covid-19 menghadirkan dua kondisi. Di satu sisi memunculkan euforia antusiasme para penggowes pemula. Namun, di sisi lain aktivitas kumpul-kumpul tak lagi bisa dilakukan seperti sebelumnya. Hal ini membuat komunitas B2W Bandung vakum selama kurang lebih dua tahun.

Bagi Om Wildan, begitu ia akrab disapa, sejak terpilih menjadi Ketua B2W Bandung pada Januari lalu menurutnya adalah babak baru. Ia berharap agar eksistensi B2W Bandung bangkit dan kembali mewarnai jalanan di Kota Bandung.

“Ke depan kita ingin memastikan agar para penggowes masa pandemi ini tak sekadar ikut tren. Tapi memang bersepeda setiap hari,” katanya dalam Kupas Komunitas bersama Greeners, Rabu (9/2).

Hal itu seiring dengan program B2W Bandung yang memang ingin memastikan agar semua orang dari berbagai kalangan, gender dan profesi ikut bersepeda. Aktivitas bersepeda ini bisa mereka lakukan untuk bekerja, sekolah, kampus hingga pergi ke pasar.

B2W Bandung Ajak Mulai Bersepeda Jarak Dekat

Menariknya, Om Wildan bergabung dalam B2W Bandung sejak tahun 2008, tepatnya saat ia masih duduk di bangku SMP. Kebiasaan bersepedanya itu terbawa hingga bangku kuliah dan sampai bekerja seperti sekarang.

Untuk saat ini, ia berangkat dan pulang kerja bisa menempuh jarak kurang lebih 25 kilometer. Lelaki berkacamata ini mengungkap, kebiasaan bersepeda bisa dimulai dari tempat paling dekat. “Tak usah jauh-jauh dulu, yang penting mulai bersepeda,” imbuhnya.

Selanjutnya, masyarakat bisa mendisiplinkan diri untuk bersepeda. Om Wildan menyebut, lebih baik meningkatkan kualitas bersepeda dari segi konsisten daripada terpaku pada kuantitas jarak, tapi tak disiplin.

Ia menyatakan, tantangan untuk memasyarakatkan bersepeda yakni mindset masyarakat yang masih memandang bersepeda kurang efisien daripada motor. “Bahkan masih banyak yang bilang kalau bersepeda malah bikin keringetan pas di kantor dan tidak fresh. Padahal bisa disiasati, misalnya mandi,” ujarnya.

Kendala lain yang kerap menjadi masalah terkait ketersediaan fasilitas parkir yang belum banyak di berbagai tempat atau fasilitas umum. Namun, ia bersyukur Pemerintah Kota Bandung telah proaktif menyediakan fasilitas, seperti parkir hingga destinasi laju jalur sepeda.

Om Wildan menyatakan, bahwa kini Bandung telah memiliki banyak destinasi laju jalur sepeda. “Kalau dulu di kawasan Dago, Jl. Asia Afrika, tapi sekarang sudah menyebar di mana-mana. Termasuk di pinggiran,” ungkapnya.

Selain gowes bersama, B2W Bandung juga kerap melakukan bakti sosial. Foto: B2W Bandung

Fasilitas Pendukung Gerakan Bersepeda Di Bandung

Animo masyarakat yang tinggi terhadap gerakan bersepeda selaras dengan fasilitas yang Pemerintah Kota Bandung berikan. Terbukti, berkat gerakan komunitas B2W ini, Kota Bandung meraih penghargaan sebagai kota metropolitan ramah sepeda terbaik II.

Penghargaan ini Kementerian Dalam Negeri berikan kepada Pemkot Bandung pada acara B2W Indonesia Award Kota Ramah Sepeda pada Desember 2021. Om Wildan menyatakan, penghargaan ini hendaknya menjadi cambuk ke depan agar gerakan bersepeda semakin masif.

Berbagai pendekatan juga ia lakukan untuk memastikan masyarakat melakukan gerakan bersepeda. Misalnya, dengan menantang suatu perusahaan atau pemerintah daerah untuk bersepeda ke kantor.

“Mungkin ini nanti yang akan kita lakukan, melalui learning by doing. Kita tantang mereka lalu memberi testimoni gimana rasanya bersepeda,” katanya.

Bersepeda, sambung Om Wildan tak sekadar menyehatkan badan. Akan tetapi juga bisa mengurangi polusi. Ia memberikan kunci bagi pemula yang ingin bersepeda, yakni 3M. “3M itu mulai dari dekat, mulai saat ini dan mulai aja dulu,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page