Belasan Ekor Paus Pilot Ditemukan Terdampar di NTT

Reading time: 2 menit
Paus Pilot NTT
Sejumlah petugas sedang mengukur paus pilot yang terdampat di perairan Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis, (30/7). Foto: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)

Jakarta (Greeners) – Peristiwa mamalia laut terdampar kembali terjadi di wilayah Taman Nasional Perairan Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 11 ekor paus pilot dilaporkan berada di dua lokasi terpisah sekitar pukul 09.00 WITA, pada Kamis, (30/7). Lima di antaranya diketahui terdapat di Pantai Lie Jaka dan enam ekor lainnya ditemukan di Kelurahan Ledeunu, Kecamatan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, NTT.

Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang Ikram Sangadi menuturkan, paus tersebut berjenis paus pilot sirip pendek atau Globicephala macrorhynchus. Paus yang dikategorikan berusia remaja dan dewasa itu memiliki panjang antara 2,5 hingga 6 meter dengan lebar tubuh 0,9 sampai 1,2 meter.

Baca juga: Bali Barat Bangun Fasilitas Pengolah Sampah Berkapasitas 40 Ton

“Dari 11 paus pilot yang terdampar, 10 dalam keadaan mati dan hanya satu yang dapat diselamatkan. Kejadian seperti ini terjadi juga di Pulau Sabu pada Oktober 2019, sebanyak 17 individu paus terdampar dan hanya dapat diselamatkan sembilan individu, 8 individu mati,” kata Ikram dalam rilis resminya.

Dalam survei persebaran mamalia laut yang dilakukan oleh BKKPN Kupang, perairan Sabu Raijua termasuk koridor migrasi paus dan lumba-lumba. Ia menduga disorientasi arah menyebabkan paus terdampar di pantai. Menurutnya paus sirip pendek memiliki sifat hidup berkelompok sehingga jika salah satu di antaranya terdampar, memungkinan anggota lainnya akan mengikuti. “Sangat jarang paus pilot terdampar dalam jumlah kurang dari 10 individu,” ucapnya.

Paus Pilot NTT

Sebanyak 11 ekor paus pilot sirip pendek atau Globicephala macrorhynchus ditemukan terdampar di perairan Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur pada Kamis, (30/7). Foto: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)

Kejadian ini juga diketahui oleh Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT Timbul Batubara. Ia mengatakan bahwa banyak faktor yang dapat menyebabkan mamalia laut terdampar, misalnya, karena sakit, faktor usia, cuaca yang buruk, dimangsa predator, ditangkap langsung, dan disorientasi.

“Disorientasi ini seperti gempa dasar laut, gangguan pada sistem sonar, aktivitas seismik, dan suara kapal. Sabu Raijua merupakan daerah penyebaran Short Finned Pilot Whale dan potensi terdampar sangat tinggi,” ujarnya kepada Greeners, Jumat, (31/07/2020).

Baca juga: Balai Konservasi Identifikasi Penyebab Kematian Paus Biru di Kupang

Untuk mempercepat proses penanganan agar bangkai paus tidak mengalami pembusukan, BKKPN Kupang berkoordinasi dengan Satuan Polres Sabu Raijua untuk memandu proses penguburan tujuh mamalia laut yang mati tersebut.

Sementara Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan Aryo Hanggono, meminta kepada aparat setempat agar selanjutnya melakukan sosialisasi dan pelatihan penanganan mamalia laut yang terdampar di wilayah TNP Laut Sewu.

“Perlindungan dan pelestarian mamalia laut merupakan salah satu target pengelolaan kawasan konservasi perairan. Terutama di TNP Laut Sawu dengan luas 3,35 juta hektare yang merupakan habitat alami bagi 31 jenis mamalia laut meliputi 18 jenis paus, 12 jenis lumba-lumba, dan satu jenis duyung,” ujarnya.

Penulis: Dewi Purningsih

Top