Peneliti BRIN Mengungkap Sungai Cisadane Tercemar Logam Berat

Reading time: 2 menit
Peneliti BRIN mengungkap Sungai Cisadane tercemar logam berat. Foto: Magnific
Peneliti BRIN mengungkap Sungai Cisadane tercemar logam berat. Foto: Magnific

Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan adanya pencemaran logam berat dan mikroplastik yang cukup serius di Sungai Cisadane. Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak buruk terhadap ekosistem laut serta kesehatan manusia.

Peneliti Pusat Riset Oseanologi (PRO) BRIN, Triyoni Purbonegoro  memaparkan hasil penelitian mengenai akumulasi logam berat kadmium (Cd) dan timbal (Pb) pada sedimen serta belut sawah (Monopterus albus) di hilir Sungai Cisadane.

Hasil penelitian menunjukkan sedimen di wilayah hilir Sungai Cisadane telah tercemar logam berat Cd dan Pb pada kategori sedang berdasarkan Indeks Geoakumulasi (Igeo). Temuan itu menunjukkan adanya peningkatan akumulasi logam berat menuju wilayah muara.

“Konsentrasi kedua logam tersebut telah melebihi kadar alami dan berpotensi menimbulkan risiko ekologis,” jelas Triyoni melansir Berita BRIN, Jumat (8/5).

Triyono menambahkan, kandungan Cd dan Pb pada belut sawah juga telah melampaui batas standar nasional maupun internasional. Meski demikian, konsumsi belut sawah masih relatif aman apabila berada di bawah ambang batas tertentu, yakni sekitar 50 gram per minggu. Penentuan batas tersebut berdasarkan risiko paparan logam berat terhadap kesehatan manusia.

Menurut Triyoni, kondisi pencemaran di Sungai Cisadane tidak terlepas dari berbagai sumber aktivitas manusia. Sungai Cisadane merupakan salah satu daerah aliran sungai (DAS) prioritas nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, sungai ini memiliki kualitas air pada kategori tercemar ringan hingga berat.

Sumber pencemaran diduga berasal dari tempat pembuangan akhir (TPA) Cipeucang dan Rawa Kucing, aktivitas industri di kawasan Tangerang. Residu pupuk pertanian yang mengandung logam berat juga mencemari sungai ini.

Pantau, Edukasi, Sebarkan Informasi

Untuk mengatasi permasalahan ini, menurut Triyoni perlu langkah pengelolaan terpadu melalui pemantauan kualitas perairan secara berkelanjutan, khususnya terhadap kandungan logam berat pada sedimen dan biota.

Selain penguatan pemantauan, edukasi dan penyebaran informasi kepada masyarakat juga penting untuk mengurangi risiko kesehatan sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem Sungai Cisadane.

Sementara itu, dosen Universitas Gadjah Mada, Sulistiowati, menyoroti ancaman lain yang tak kalah serius, yakni sampah laut dan mikroplastik. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia masih berada dalam kategori tinggi dalam pengelolaan sampah. Sekitar 43,8% sampah belum tertangani dengan baik dan berpotensi mencemari lingkungan, termasuk laut.

“Sebagian besar sampah berasal dari daratan dan terbawa melalui sungai hingga ke laut. Indonesia bahkan masuk lima besar penyumbang sampah plastik ke laut dunia,” ujarnya.

Sulistiowati menjelaskan, mikroplastik kini ada di berbagai lapisan perairan, bahkan dalam tubuh organisme laut seperti bulu babi. Partikel kecil ini juga terdeteksi dalam tubuh manusia, termasuk dalam darah, plasenta, dan air susu ibu.

“Mikroplastik tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga dapat membawa zat beracun seperti logam berat dan senyawa kimia berbahaya lainnya sehingga memperparah dampaknya melalui rantai makanan,” jelasnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top