Segara Anakan di Ambang Kepunahan, Penanganan tak Kunjung Jadi Kenyataan

Reading time: 2 menit

Purwokerto (Greeners) – Penanganan secara komprehensif menyelamatkan laguna Segara Anakan masih sebatas wacana kebijakan. Padahal, kini laguna Segara Anakan kian menyempit, bahkan diperkirakan hanya tersisa 600 hektare (ha). Padahal tahun 1930 silam, laguna masih memiliki luasan 6.450 ha. Dengan kata lain, setiap tahunnya rata-rata laguna mengalami penyusutan seluas 30 ha. Jika tidak ada upaya yang serius, maka 20 tahun mendatang laguna Segara Anakan tinggal kenangan.

Penyusutan itu sangat dahsyat akibat sedimentasi yang dibawa oleh sungai-sungai yang bermuara di Segara Anakan di antaranya yang paling besar adalah dari Sungai Citanduy dan Cimeneng. Laju sedimentasi setiap tahunnya tercatat 740 ribu meter kubik (m3), 75% di antaranya berasal dari sungai-sungai yang memiliki hulu di Jawa Barat, sisanya adalah sungai dengan hulu di Jawa Tengah.

Sekretaris Dinas Kelautan Perikanan dan Pengelola Sumber Daya Kawasan Segara Anakan Cilacap, Supriyanto, mengakui bahwa sejauh ini penanganan secara nyata dan komprehensif belum ada. “Sudah bertahun-tahun penanganan laguna Segara Anakan diwacanakan baik di tingkat daerah, provinsi, bahkan melibatkan pemerintah pusat. Namun sampai sekarang, upaya nyata penyelamatan memang belum ada. Kalau hal ini dibiarkan, barangkali cerita laguna Segara Anakan tinggal kenangan bakal menjadi kenyataan. Tidak lama, kisarannya hanya 15-20 tahun mendatang,”ujar Supriyanto.

Menyusutnya Segara Anakan, tidak hanya berdampak pada rusaknya ekosistem unik antara laguna dengan hutan mangrove di kawasan itu, tetapi juga bencana mulai datang. “Dengan menyusutnya Segara Anakan, banjir tahunan mulai muncul di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Citanduy dan Cimeneng. Di wilayah Cilacap, pada musim penghujan, ada sekitar 1.000 ha sawah yang tergenang, demikian juga di daerah Jabar kisarannya 500 ha. Bencana itu akibat kembalinya air sungai ke wilayah hulu, karena muara tidak mampu menampung. Dapat dibayangkan, kalau Segara Anakan menjadi daratan,”katanya.

Di sisi lain, lanjut Supriyanto, kalau Segara Anakan hilang, maka sejatinya telah menghilangkan potensi ekonomi yang luar biasa. “Berdasarkan riset yang dilakukan Kementrian Kelautan dan Perikanan dan Science for Protection of Indonesian Coastal Ecosystems (SPICE) menyebutkan kalau nilai ekonomi ekosistem laguna Segara Anakan dan hutan mangrove mencapai Rp17 triliun,”kata dia.

Salah satu peneliti dari Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Erwin Riyanto Ardli mengatakan kalau laguna Segara Anakan dan hutan mangrove merupakan ekosistem unik dan merupakan tempat berkembangnya biota laut. Bahkan, kawasan itu sebagai tempat pemijahan biota laut. “Jadi, kalau kerusakan ekosistem terus dibiarkan, maka dampak yang muncul adalah semakin sedikitnya biota laut. Ujung-ujungnya adalah hasil tangkapan nelayan menjadi berkurang, karena ekosistem untuk perkembangbiakan biota laut mengalami kerusakan,”ujarnya. (G12)

Top

You cannot copy content of this page