Ancaman Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kemunculan Virus Baru

Reading time: 3 menit
Perubahan iklim berpotensi memunculkan virus baru seperti halnya Covid-19. Foto: The Guardian

Jakarta (Greeners) – Ancaman perubahan iklim berisiko meningkatkan kemunculan ribuan virus baru. Berdasarkan penelitian yang Nature terbitkan terungkap ‘tumpahan zoonosis’ diperkirakan akan meningkat. Setidaknya 15.000 kasus virus berpindah antar spesies selama 50 tahun ke depan.

Para peneliti telah lama memperingatkan bahwa bumi yang memanas memicu banyak spesies hewan terpaksa pindah ke daerah baru. Mereka membawa parasit dan patogen dan menyebarkannya ke spesies yang belum pernah berinteraksi sebelumnya.

Ini akan meningkatkan risiko “zoonotic spillover”, di mana virus berpindah dari hewan ke manusia. Kondisi ini akan berpotensi memicu pandemi lain seperti halnya Covid-19.

“Pekerjaan ini memberikan lebih banyak bukti yang tak terbantahkan bahwa dekade mendatang tidak hanya akan lebih panas tapi lebih sakit,” kata Gregory Albery, pakar ekologi penyakit Universitas Georgetown dan rekan penulis lainnya sampaikan di Nature, seperti dikutip The Guardian, akhir April 2022 lalu.

Lebih jauh, Albery mengatakan, perubahan iklim mampu mengguncang ekosistem hingga ke intinya. Hal ini menyebabkan interaksi antar spesies berpotensi saling menyebarkan virus.

Dia menyebut, bahkan tindakan drastis untuk mengatasi pemanasan global sekarang tidak akan cukup untuk menghentikan risiko tersebut.

“Ini terjadi dan tidak dapat dicegah bahkan dalam skenario terbaik perubahan iklim. Dan kita perlu mengambil tindakan untuk membangun infrastruktur kesehatan untuk melindungi populasi hewan dan manusia,” paparnya.

Virus Akan Menginfeksi Hewan dan Manusia Secara Diam-Diam

Makalah penelitian tersebut juga menyatakan, setidaknya 10.000 jenis virus dari populasi hewan liar berpotensi menginfeksi manusia secara diam-diam. Sampai saat ini, infeksi silang seperti itu tidak biasa terjadi.

Seiring banyaknya habitat alam yang hancur untuk pertanian dan ekspansi perkotaan maka akan semakin besar pula potensi penularan. Kondisi ini imbas interaksi kontak manusia dengan hewan.

Studi memperkirakan akan terjadi pergeseran jangkauan geografis dari 3.139 spesies mamalia karena perubahan iklim dan penggunaan lahan hingga tahun 2070. Selain itu, ada temuan tingkat pemanasan global yang relatif rendah akan membuat 15.000 peristiwa penularan lintas spesies dari satu atau lebih virus dalam kurun waktu tersebut.

Kelelawar di Wuhan

Jauh sebelum dugaan kelelawar yang terinfeksi di Wuhan di China menjadi penyebab pandemi Covid-19, penelitian sebelumnya memperkirakan ada sekitar 3.200 jenis virus corona yang sudah berpindah di antara populasi kelelawar.

Kelelawar ini mempunyai kemampuan perjalanan jarak jauh dan sebagian besar dapat berpotensi menyebarkan penyakit ini.

Risiko penyakit yang perubahan iklim sebabkan kini juga telah berlangsung. Penelitian baru memperingatkan, “Anehnya, kami menemukan bahwa transisi ekologis ini mungkin sudah berlangsung dan menahan pemanasan di bawah 2 Celcius dalam abad ini tidak akan mengurangi penyebaran virus di masa depan,” tulis makalah itu.

Rekan penulis lainnya Colin Carlson, seorang ahli biologi perubahan global Georgetown, mengatakan bahwa perubahan iklim menciptakan titik panas yang bisa meningkatkan risiko penyakit zoonosis semakin dekat dengan manusia.

“Kita harus mengakui bahwa perubahan iklim akan menjadi pendorong terbesar munculnya penyakit. Kita harus membangun sistem kesehatan yang siap untuk itu,” kata dia.

Cegah Pandemi di Masa Depan

Para ahli yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut mengatakan, ada hal mendesak untuk mencegah pandemi di masa depan. Termasuk menghapus penggunaan bahan bakar fosil yang menyebabkan krisis iklim.

“Temuan ini menggarisbawahi bahwa kita harus, mutlak mencegah penyebaran patogen,” kata Direktur interim Pusat Iklim, Kesehatan, Lingkungan Global di Universitas Harvard, Aaron Bernstein.

Ia menyebut, pentingnya investasi besar dalam pencegahan pandemi primer. Yakni memastikan konservasi habitat, pengaturan ketat terhadap perdagangan satwa liar dan peningkatan biosekuriti.

Presiden EcoHealth Alliance, Peter Daszak menyatakan, penelitian baru ini langkah maju yang kritis dalam memahami bagaimana perubahan iklim akan memicu penyebaran virus. Ia menyebut, saat ini manusia kemungkinan sudah berada dalam proses ini dan ini panggilan untuk membangun kesehatan masyarakat.

“Faktanya, jika Anda memikirkan dampak perubahan iklim, penyakit karena pandemi adalah salah satunya. Kita pun berbicara tentang potensi dampak yang mencapai triliunan dolar,” katanya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page