Buaya Senyulong, Reptil Pemalu Penghuni Perairan Rawa

Reading time: 3 menit
buaya senyulong
Foto : Shutterstock

Buaya Senyulong atau Sepit merupakan satu dari tujuh jenis buaya yang ada di Indonesia. Namun berbeda dengan genus Crocodylus (buaya sejati) lainnya, reptil yang satu ini berasal dari subfamili Tomistominae sehingga memiliki nama ilmiah Tomistoma schlegelii.

Secara fisik, ukuran tubuh sepit (False Gharial dalam bahasa Inggris) cenderung lebih kecil dan pendek daripada buaya biasa. Menurut ahli, panjang maksimal tubuh mereka hanya 3,5 m saja.

Bentuk moncongnya pun terlihat agak berbeda dari hewan sekelasnya. Jika kita perhatikan, moncong false gharial relatif sempit, pipih dan panjang, mirip seperti buaya gavial di India.

Buaya senyulong menyukai area perairan tawar seperti sungai, danau, rawa hingga lahan basah lainnya. Dilihat dari persebarannya, mereka terdistribusi mulai dari Sumatera sampai Kalimantan.

Ciri-Ciri, Perilaku dan Kebiasaan Buaya Senyulong

Buaya senyulong umumnya memiliki warna kulit abu-abu dengan gradasi warna gelap dan kekuningan. Mereka tergolong sebagai hewan yang soliter, serta terlihat aktif pada siang hari.

Secara garis besar, spesies buaya memang mempunyai kemampuan berenang yang baik. Mereka dianugerahi selaput pada bagian mata yang berfungsi sebagai alat perlindungan dari gesekan air.

Jenis reptil yang satu ini juga tergolong cukup agresif, terlebih saat musim kawin dan bertelur. Spesiesnya merupakan hewan berdarah dingin sekaligus tergolong sebagai fauna ecyotherms.

Berdasarkan penelitian Sosilawaty, dkk. dari Universitas Palangka Raya, saat pagi seekor buaya senyulong akan keluar dari sungai menuju ke tepian untuk aktivitas basking atau berjemur.

Hal ini mereka lakukan demi menaikkan suhu tubuh, serta mengembalikan kalori yang hilang setelah seharian berendam. Buaya umumnya akan membuka mulut ketika terik matahari atau siang hari.

Kebiasaan ini berguna sebagai mekanisme pendinginan tubuh sehabis berjemur. Sebagai informasi, Sepit terkenal sebagai hewan pemalu, ia senang bersembunyi dan jarang terlihat berkelompok.

Pola Makan dan Cara Reproduksi Buaya Senyulong

Dari bentuk moncongnya, kita dapat mengetahui bahwa makanan buaya senyulong adalah ikan dan hewan kecil. Meski pada beberapa kasus, ia juga mampu memakan bekantan, monyet bahkan rusa.

Karena itu, tidak selamanya hewan berordo Crocodilia ini berdiam diri di perairan. Pada saat siang hari, ia akan berjalan menuju daratan untuk berburu mangsa sambil menstabilkan suhu tubuhnya.

Melansir laman Gembiralokazoo.com, peran sang betina sangat penting dalam proses pembiakkan anak. Ia bertugas menyimpan telur-telur mereka dengan membenamkannya di bawah tanah.

Biasanya, gundukan tanah tersebut telah bercampur dengan serasah dedaunan. Sang induk akan berada di sana, mengontrol sejauh kurang lebih 2 m dari lokasi tertanamnya telur.

Perlu Anda ketahui embrio buaya tak memiliki kromosom seksual, sehingga jenis kelamin calon bayi sebagian besar bergantung pada suhu pengeraman atau suhu sarang tempat telur ditetaskan.

Menurut pakar, untuk menetaskan seekor bayi buaya senyulong jantan butuh suhu sekitar 31,6 Celsius. Namun apabila suhu lingkungan lebih atau kurang, maka yang akan lahir adalah bayi betina.

Masa pengeraman telur sendiri berlangsung sekitar 80 hari. Kendati demikian, telur-telur tersebut biasa saja menetas lebih cepat atau lambar tergantung pada suhu rata-rata sarang.

Populasi dan Status Konservasi Buaya Senyulong

Merujuk IUCN (International Union and Conservation Nature) populasi buaya senyulong di dunia hanya tinggal 2.500 individu, sehingga spesiesnya masuk dalam kategori genting atau Endangered.

Di kawasan Sumatera misalnya, menurut penelitian persentase kepunahan spesies sepit di kawasan tersebut mencapai 30 – 40% per tahun seiring maraknya aktivitas perburuan dan alih fungsi hutan.

Dalam Convention on International Trade in Endangered Spesies (CITES) of Wild Flora and Fauna, T. schlegelii bahkan masuk dalam Appendix 1 dan dilarang untuk diperjualbelikan sebagai komoditi.

Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mengambil langkah tegas, dengan menggolongkan buaya ini sebagai satwa dilindungi berdasarkan Permen No. P.92/ MENLHK/ SETJEN/KUM.1/8/2018.

Namun minimalnya kontrol pemerintah di lapangan, serta kurangnya kepedulian masyarakat terhadap keberlangsungan satwa mempersulit proses konservasi buaya senyulong di alam liar.

Taksonomi Tomistoma Schlegelii

Penulis : Yuhan Al Khairi

Top
You cannot copy content of this page