Jamur Shitake, Fungi Pohon Shii yang Berguna sebagai Obat

Reading time: 3 menit
Jamur Shitake. Foto: Shutterstock

Jamur Shitake atau Hioko adalah sejenis jamur pangan yang berasal dari Asia Timur. Ia publik kenal memiliki nilai ekonomis yang tinggi, serta berkhasiat bagi kesehatan. Berkat kandungan nutrisinya, shitake jamak ahli manfaatkan sebagai bahan baku obat.

Secara harfiah nama shitake dapat kita artikan sebagai jamur dari pohon shii. Menurut penelitian, Ia kerap tumbuh pada permukaan pohon tersebut, terutama pada batangnya yang telah lapuk.

Sebelum 1878, jamur shitake populer dengan nama binomial Lentinula edodes. Namun setelah ahli melakukan riset genetik lanjutan, nama spesies tersebut lantas berubah menjadi Agaricus edodes.

Dari sisi komersial, produksi jamur hioko merupakan yang terbesar kedua dibanding jamur edible lainnya. Ia marak awam budi dayakan di kawasan Tiongkok, Korea, Jepang, hingga Asia Tenggara.

Sejarah Budi Daya Jamur Shitake di Dunia

A. bisporus tergolong sebagai rajanya jamur karena memiliki kandungan gizi, khasiat, serta nilai jual yang tinggi di pasaran. Karena itu, banyak negara di dunia yang tertarik untuk membudidayakannya.

Berdasarkan tinjauan sejarah, jamur shitake pertama kali publik temukan di Tiongkok pada tahun 199 M. Sedang langkah budi dayanya pakar ketahui telah berlangsung lebih dari 1.000 tahun silam.

Di zaman Dinasting Ming (1.368 – 1.644), seorang dokter bernama Wu Jeui menulis bahwa hioko tidak hanya baik dikonsumsi sebagai bahan panganan, namun bermanfaat sebagai obat herbal.

Dalam catatan tersebut, ia menyebutkan bahwa spesies jamur ini berguna untuk mengobati penyakit saluran napas, melancarkan sirkulasi darah, hingga meredakan gangguan hati.

Sejalan dengan temuan Wu Jeui, riset terhadap manfaat jamur shitake kini semakin gencar pakar publikasikan. Ia ahli sinyalir memiliki antioksidan tinggi, sehingga berpotensi sebagai obat kanker.

Habitat dan Peta Persebaran Jamur Shitake

Sebab memiliki sifat saprob, A. bisporus pakar ketahui tumbuh pada bagian pohon yang telah mati. Sedang tumbuhan yang sering shitake jadikan media tanam biasanya berasal famili Fagaceae.

Di habitat aslinya, hioko dapat tumbuh pada daerah bersuhu rata-rata mencapai 20 Celcius. Meski begitu, suhu ideal untuk pembudidayaan jamu tersebut ahli ketahui berkisar 10 – 15 Celcius.

Perlu Anda ketahui, spesie jamur shitake mempunyai julukan yang berbeda di setiap negara. Di Cina ia awam sebut sebagai Shiang-gu, sedangkan di Indonesia ia dijuluki sebagai Jamur Payung.

Sebagain masyarakat Nusantara mengenal jamur tersebut dengan nama Jamur Kayu Cokelat. Khusus warga Jawa Barat (terutama daerah Pangalengan), mereka menyebutnya sebagai Jamur Jengkol.

Baik warna maupun bentuknya, jamur shitake memang tampak seperti jengkol. Aroma fungsi tersebut juga terbilang menyengat, sehingga sering publik samakan dengan suku Archidendron.

Morfologi dan Ciri-Ciri Jamur Shitake

Morfologi A. bisporus sejatinya cukup mudah kita kenali, ciri khasnya terletak pada bagian tudung yang berbentuk seperti payung. Warna jamur tersebut umumnya cokelat muda sampai cokelat tua.

Sebagian spesies shitake mempunyai kulit berbintik putih (renda), sedangkan yang lainnya memiliki pola seperti retak. Tudungnya mempunyai selaput kutikula, serta tumbuh antara 2,5 – 9 cm.

Terdapat insang (lamella) berisi spora pada bagian bawah tudung hioko, sedangkan tangkainya bertekstur sedikit keras. Warna tangkai cenderung mirip dengan bagian tudungnya.

Panjang tangkai tersebut ahli sinyalir mencapai 3 – 9 cm, dengan diameter berkisar 0,5 – 1,5 cm. Pertumbuhan buah biasanya pakar bagi menjadi empat tingkatan atau stadium, yaitu:

  • Stadium pinhead; merupakan bentuk awal dari calon jamur yang berbentuk tonjolan
  • Stadium kancing; biasa khalayak sebut sebagai button stage karena berbentuk seperti kancing
  • Stasium muda; sudah berbentuk seperti jamur dewasa, namun dengan ukuran lebih kecil
  • Stadium masak; jamur utuh yang tudungnya sudah mengembang, namun lamella-nya belum terlihat membuka. Pada fase ini, jamur shitake biasanya siap untuk petani panen.

Dalam keadaan normal, Chinese Black Mushroom (hioko dalam bahasa Inggris) memerlukan waktu 2 – 3 hari untuk berbiak. Rentan waktu tersebut ditandai mulai dari pinhead sampai stadium masak.

Taksonomi Jamur Agaricus Edodes

Penulis: Yuhan Al Khairi

Top
You cannot copy content of this page