Kutilang, Burung Bersuara Merdu yang Senang Berjemur

Reading time: 4 menit
burung kutilang
Kutilang, Burung Bersuara Merdu yang Senang Berjemur. Foto: Shutterstock.

Kutilang atau Cucak Kutilang adalah jenis burung pengicau (passerine). Hewan dengan nama ilmiah Pycnonotus aurigaster ini cukup populer di masyarakat karena populasinya yang besar. Berkat suara yang merdu, satwa ini juga sering dipelihara lalu diikutsertakan sebagai burung kontes.

Secara umum, kita bisa menemukan Burung Nilam (nama lain kutilang) di hampir seluruh wilayah. Fauna ini kerap beterbangan di tempat-tempat terbuka, kebun bahkan area pemukiman manusia.

Berdasarkan peta persebarannya, hewan bergenus Pycnonotus ini tersebar luas mulai dari dataran Tiongkok Selatan sampai regional Asia Tenggara (kecuali negara Malaysia).

Di tanah air, mulanya kawanan nilam hanya bisa dijumpai di wilayah Jawa dan Bali. Namun seiring berjalannya waktu, hewan tersebut mulai diperkenalkan di Sumatera, Sulawesi serta Kalimantan.

Karakteristik Kutilang: Morfologi, Habitat dan Kebiasaannya

Mengindentifikasi karakteristik kutilang sebenarnya tidak sulit. Seluk-beluk mengenai satwa tersebut sebenarnya dapat kita lihat berdasarkan morfologi (ciri fisik), habitat serta kebiasaannya, seperti:

1. Morfologi atau Ciri Fisik

Secara umum, Pycnonotus aurigaster tergolong sebagai hewan berukuran kecil-sedang. Mereka mempunyai corak khas berupa warna jingga pada bagian bulu-bulu di sekitar pantatnya.

Jika diukur dari paruh ke ekor, total panjang tubuhnya berkisar 20 cm saja. Pada tubuh bagian atas terdapat corak berwarna cokelat kelabu, sedang di bagian bawah berwarna putih keabu-abuan

Bagian atas kepala mulai dari dahi, topi dan jambul tampak adanya dominasi warna hitam. Sedang di bagian tungging, terdapat corak berwarna putih yang tertutup bulu berwarna jingga.

Tidak cuma pandai “bernyanyi,” burung yang satu ini juga memiliki penampilan yang menawan. Iris matanya berwarna merah, sedang paruh dan kakinya serasi berwarna hitam gelap.

2. Habitat Kutilang

Meski burung nilam mudah dijumpai di sekitar kita, bukan berarti fauna tersebut tidak takut dengan manusia. Kebalikan burung gereja, nilam sebenarnya menghindari lingkungan yang terlalu padat.

Mereka lebih suka hidup secara berkelompok di area terbuka layaknya kebun, pekarangan, semak belukar sampai dengan hutan berketinggian sekitar 1.600 m di atas permukaan laut.

Menurut ahli, cucak kutilang memilih lokasi tempat tinggalnya berdasarkan ketersediaan pangan. Sehingga habitat mereka biasanya dipenuhi buah-buahan, serangga, ulat dan hewan kecil lainnya.

Di habitatnya kawanan pycnonotus juga membuat beberapa sarang. Tempat tinggal hewan ini umumnya berbentuk cawan dari anyaman daun rumput, tangkai atau ranting yang halus.

3. Kebiasaan Nilam

Sebagai satwa yang komunal, burung nilam terbang secara berkelompok untuk mencari makan. Mereka juga sering terlihat bersama-sama ketika sedang bertengger maupun beristirahat.

Bukan cuma itu, kutilang memiliki kebiasaan berjemur dan mandi embun setiap paginya. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga bulu-bulunya yang sering mengeluarkan minyak.

Perlu diketahui, unggas yang sering dianggap hama oleh petani ini juga memiliki kebiasaan unik lain, seperti menaikan jambulnya ketika sedang senang maupun ingin buang air besar.

Mereka juga memiliki masa ‘Mubang,’ di mana bulu-bulu lama akan rontok dan digantikan dengan bulu baru. Pada saat itu, nilam akan terlihat lebih pendiam baik secara suara atau gerakannnya.

burung kutilang

Perlu diketahui, unggas yang sering dianggap hama oleh petani ini juga memiliki kebiasaan unik lain, seperti menaikan jambulnya ketika sedang senang maupun ingin buang air besar. Foto: Shutterstock.

Jenis Burung Kutilang dan Peta Persebarannya

Melansir situs KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, jenis kutilang diketahui terbagi dalam beberapa subspesies. Pembagian ini didasarkan peta persebaran masing-masing jenis, yakni:

  • P.A aurigaster mendiami kawasan Pulau Jawa dan Bali;
  • P.A chrysorrhoides berasal dari Cina bagian tenggara;
  • P.A dolichurus tersebar di wilayah Vietnam;
  • P.A germani mendiami Thailand bagian tenggara, Kamboja dan Indochina Selatan;
  • P.A klossi menyebar di Myanmar bagian tenggara dan Thailand bagian utara;
  • P.A latouchei berasal dari Cina Selatan, Myanmar, Thailand, Laos dan Vietnam;
  • P.A resurrectus tersebar di utara Vietnam sampai dengan Cina bagian tenggara
  • P.A schauenseei berada di selatan Myanmar dan barat-daya Thailand; serta
  • P.A thais bermukim di Thailand bagian tengah dan tenggara, serta Laos bagian tengah.

Sebab luasnya peta persebaran dan banyaknya jenis burung nilam yang tersebar di seluruh dunia, penyebutan bagi hewan tersebut di berbagai daerah juga berbeda-beda.

Di Indonesia sendiri, burung dengan kicau indah ini dikenal memiliki banyak sebutan seperti Cangkurileung di Jawa Barat, serta Ketilang atau Genthilang di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Suara Burung Kutilang beserta Kegunaannya

Tak bisa dipungkiri, suara burung kutilang memang terdengar indah. Selain unggul jika dilombakan dalam kontes kicau burung, suara tersebut nyatanya memegang peranan vital bagi kehidupan satwa.

Berdasarkan penelitian Ahmad Baihaqi dari Universitas Nasional, pola dan frekuensi suara ketilang diketahui berguna sebagai sarana komunikasi antara spesies atau dengan jenis burung lainnya.

Beberapa fungsi vokalisasi bagi pycnonotus aurigaster di antaranya sebagai instruksi pertahanan wilayah, menarik pasangan, informasi sinyal bahaya, pakan hingga tanda terjadinya agresi.

Mereka cukup “cerewet,” kita dapat mendengar ceracau burung ini pada saat terbang maupun bertengger di dahan pohon. Suara yang mereka keluarkan terdengar seperti “cuk-cuk, tuit-tuit!”

Pada momen yang berbeda, hewan ini juga kerap terdengar seperti sedang bersiur dan mengeluarkan suara “ke-ti-lang,” yang diulang-ulang selama beberapa waktu.

Sebagai informasi, penangkapan dan pemeliharaan kutilang memang diperbolehkan. Merujuk daftar merah IUCN, status konservasi hewan tersebut tergolong Least Concern atau risiko rendah.

Namun menurut pengamatan ahli, populasi satwa ini diketahui terus mengalami penurunan. Jika tak henti dieksploitasi, bukan tidak mungkin kita akan kehilangan suara merdu mereka di masa depan.

Referensi

Anas Badrunasar, 9 Jenis Burung Pekicau

Laman KSDAE KLHK

Ahmad Baihaqi, Universitas Nasional

Dahlan, dkk., Institut Pertanian Bogor

Penulis: Yuhan Al Khairi

Top
You cannot copy content of this page