calendar
Kamis, 16 Agustus 2018
Pencarian
rusa bawean
rusa Bawean (Axis kuhlii) Foto: wikimedia

Rusa Bawean, Rusa Kecil dari Pulau Bawean

Fauna

Pulau Bawean merupakan sebuah pulau kecil terletak di Kawasan laut Jawa kurang lebih 150 km sebelah Utara Surabaya. Di pulau tersebut diketahui menjadi tempat hidup rusa Bawean (Axis kuhlii) yang merupakan rusa endemik Indonesia dan dilindungi baik pada tingkat nasional maupun internasional (CITES, IUCN).

Sejak dari zaman penjajahan Belanda, hampir seluruh jenis rusa asli Indonesia telah dilindungi oleh Ordonisasi dan Undang-Undang Perlindungan Satwa Liar No. 134 dan No. 266 Tahun 1931, dari segala bentuk perburuan, penangkapan dan pemilikan. Hanya rusa bawean yang saat itu belum dilindungi. Di zaman Republik, perlindungan terhadap jenis rusa Indonesia diperkuat kembali dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 dan mencakup semua jenis rusa (Semiadi dan Nugraha, 2004).

Habitat alami rusa terdiri dari beberapa tipe vegetasi seperti savana yang dimanfaatkan sebagai sumber pakan dan vegetasi hutan yang terlalu rapat untuk tempat bernaung (istirahat), kawin, dan menghindarkan diri dari predator. Hutan di ketinggian 2.600 m diatas permukaan laut dengan padang rumput merupakan habitat yang paling disukai oleh rusa.

Rusa merupakan jenis hewan yang memiliki beberapa kelebihan. Satwa ini mampu beradaptasi pada berbagai habitat dan efisien dalam mengkonvesi pakan menjadi daging. Kemampuan hidup dan adaptasi rusa cukup tinggi, namun rusa juga merupakan hewan liar dengan tingkat stres yang cukup tinggi yang dapat menyebabkan kematian dengan sangat cepat.

Sempitnya habitat rusa bawean dan letaknya terisolir menjadikan rusa bawean sebagai satu-satunya rusa di dunia yang terisolasi sehingga kurang mendapat perhatian. Kegiatan hidup rusa ini terutama berlangsung pada malam hari (nocturnal).

rusa bawean

rusa Bawean (Axis kuhlii) Foto: wikimedia

Secara morfologi, panjang tubuh rusa bawean sekitar 140 cm, tinggi bahu 65-70 cm, dan bobotnya sekitar 65 kg. Panjang ekor berkisar 20 cm, berwarna coklat dan keputihan. Rusa bawean memiliki gigi taring pada rahang bawah. Bulunya berwarna coklat pendek, kecuali pada bagian leher. Sekitar mata berwarna putih terang dan di sekitar mulut berwarna sedikit terang dibanding muka yang dipisahkan oleh garis kehitaman. Sekilas bagian bahu mirip dengan kijang, bahu rusa bawean depannya lebih rendah dari pada bagian belakang.

Rusa bawean dewasa jantan mempunyai sepasang tanduk bercabang tiga, sedangkan rusa jantan muda ranggahnya belum bercabang. Pada anak rusa akan terlihat totol-totol yang lama kelamaan akan menghilang, seiring ia tumbuh dewasa.

Rusa bawean dapat hidup dan berkembang biak dengan sempurna di Kawasan Suaka Margastwa yang merupakan habitatnya. Populasi rusa bawean akan berubah mengikuti perubahan atau dinamika lingkungannya. Bila daya dukungnya rendah, produktivitas rusa akan rendah dan akhirnya populasi rusa juga akan rendah atau menurun.

Sampai saat sekarang tidak diketahui dengan pasti, berapa jumlah rusa bawean, bagaimana penyebarannya dan keadaan habitatnya. Berdasarkan ejurnal.bppt.go.id, hasil sensus tahun 1977-1979 diperkirakan rusa bawean ini diperkirakan antara 200-400 ekor. Meskipun telah dilindungi oleh undang-undang, sayangnya rusa bawean masih menjadi target incaran para pemburu gelap dan mengalami ancaman kritis (Critically Endangered).

rusa bawean

Penulis: Sarah R. Megumi

Top