Asimetris: Antara Sawit, Kebutuhan, dan Kerusakan

Reading time: 3 menit
Asimetris
Foto: Youtube Watchdoc Image

Judul Film : Asimetris

Tahun : 2018

Genre : Dokumenter

Durasi : 1 jam 8 menit

Sumber : Youtube Watchdoc Image

Film dokumenterr Asimetris yang dirilis oleh Watchdoc Image pada tahun 2018 menceritakan bagaimana maraknya pembukaan perkebunan kelapa sawit hingga dampaknya pada lingkungan dan masyarakat sekitar.

Sebelumnya, pada 1996 pemerintah mendirikan bendungan irigasi untuk mencetak sawah seluas 1,4 hektare di lahan gambut. Namun, proyek lahan gambut untuk sawah tersebut gagal total dan bendungan yang dibangun tidak berfungsi hingga menyisakan bekas irigasi di atas hutan yang gundul. Gambut yang terlantar kemudian menjadi salah satu penyebab kebakaran dan kabut asap.

Berbeda dengan perkebunan kelapa sawit yang mencapai 11 juta hektare di seluruh Indonesia, luas ini hampir sama dengan yang ada di Pulau Jawa. Saat ini semua kebutuhan makanan dan bahan bakar memerlukan minyak kelapa sawit. Tidak hanya minyak goreng yang menggunakan minyak kelapa sawit, tetapi kebutuhan produk lain seperti sabun, sampo, deterjen, dan pelumas.

Perkembangan teknologi juga menjadikan minyak sawit sebagai bahan bakar seperti bio solar dan  bio diesel. Jenis bensin atau premium yang digunakan saat ini juga mulai mencampurnya dengan minyak sawit untuk mengurangi bahan bakar fosil. Pada setiap liter bio diesel terdapat 20 persen minyak sawit dan akan terus meningkat menjadi 30 persen yang berarti akan membutuhkan lebih banyak lahan untuk menanam.

Organisasi Penerbangan Sipil Internasional menargetkan pada 2050, minyak sawit menjadi bahan bakar pesawat. Selain itu, di dalam bio solar yang digunakan oleh PLN setidaknya mengandung 1 per 3 minyak sawit. Untuk memenuhi kebutuhan ini perkebunan sawit membuka lahan seluas 1 juta hektare kebun termasuk Indonesia.

Kelapa sawit saat ini banyak digunakan untuk bahan makanan, campuran bahan kimia, dan campuran bahan bakar nabati. Sebanyak 50 persen barang kebutuhan yang dikemas mengandung minyak kelapa sawit. Setidaknya setiap 5 tahun perkebunan kelapa sawit rata-rata bertambah seluas Pulau Bali.

Pembukaan lahan dengan cara membakar juga menimbulkan dampak lain seperti kabut asap. Di Kalimantan dan Sumatera, 19 orang meninggal dunia dan setengah juta di antaranya mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) akibat asap kebakaran hutan. Pada Oktober 2015, kadar polusi mencapai 1.300 persen dari ambang kualitas udara sehat.

Asimetris

Foto: Youtube Watchdoc Image

Sebanyak 52 persen area yang terbakar adalah lahan gambut yang mengering. Setidaknya terdapat 3.200 jumlah titik api di Indonesia yang menyangkut 2,6 juta hektare lahan yang terbakar pada Juni hingga Oktober 2015. Luas ini setara dengan 4 kali Pulau Bali.

Tidak hanya Sumatera dan Kalimantan, di Papua pembukaan hutan untuk perkebunan juga mulai marak terjadi, hal ini seperti mengulangi kejadian pada tahun 1996 di Kalimantan. Pembukaan sawah terjadi di Merauke seluas satu juta hektare.

Menurut laporan bank dunia lebih dari 3 per 4 atau 30 persen hektare yang terbakar berada di area konsesi kelapa sawit dan konsesi hutan. Penelitian yang dilakukan oleh Center for International Forestry Research (CIFOR) mencatat, di 11 lokasi kebakaran di Riau terdapat keterkaitan secara ekonomi antara industri perkebunan dan kebakaran.

Di Kalimantan Selatan perkebunan kelapa sawit mencemari air karena terkena limbahnya. Limbah sawit ini mengalir ke sungai-sungai kecil dan masuk ke perkampungan. Akibatnya, ikan-ikan menjadi sulit didapat dan menyebabkan masyarakat harus mencari mata pencaharian ke luar desa.

Terdapat 25 perusahaan yang menguasai hampir separuh area sawit di Indonesia. Mereka disebut mengendalikan sekitar 5 juta hektare lahan atau hampir separuh Pulau Jawa. Kelapa sawit menjadi bisnis yang menjanjikan, pada 2016, sekitar 14 dari 30 orang terkaya di Indonesia berbisnis kelapa sawit. Di tahun yang sama, ekspor sawit mencapai 240 triliun rupiah, ekspor CPO dan turunannya mencapai 25 juta ton. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di Indonesia. Perkebunan sawit juga turut dibiayai oleh berbagai bank dunia.

Akibat dari meluasnya perkebuna sawit menjadikan hutan-hutan Indonesia berkurang karena lahan dibakar untuk membuka kebun. Pembukaan lahan juga menyebabkan kebakaran hutan hingga pencemaran air. Masyarakat di sekitar perkebunan kelapa sawit tidak memiliki pilihan lain selain harus bekerja di perusahaan sawit untuk mencari nafkah.

Penulis: Mega Anisa

Top
You cannot copy content of this page