Demi Selamatkan Hewan, Davina Panjat Pagar Rumah

Reading time: 2 menit
Davina. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Jakarta (Greeners) – Memiliki hewan peliharaan seperti anjing atau kucing ternyata membutuhkan keseriusan dan tanggung jawab yang cukup besar. Karena jika tidak, alih-alih tumbuh sehat, hewan peliharaan tersebut malah sakit dan mati karena tidak terawat.

Davina Veronica Hariadi, model cantik kelahiran Jakarta, 36 tahun yang lalu, adalah satu dari beberapa pecinta hewan yang mengaku sangat peduli terhadap nasib dan keselamatan hewan-hewan domestik di Jakarta.

Ditemui di sela acara peluncuran “Jakarta Smart City” beberapa waktu lalu, anak sulung dari dua bersaudara ini bahkan telah mendirikan gerakan penyelamat hewan, khususnya hewan domestik bersama dengan beberapa orang lainnya. Organisasi ini dinamakan Garda Satwa Indonesia.

Bagi Davina sendiri, membantu hewan-hewan yang terlantar di jalanan tidak bisa dilakukan sendirian, harus ada sebuah wadah agar bisa mengkoordinasikan proses menyelamatkan hewan. “Untuk itulah Garda Satwa Indonesia ini berdiri,” tutur Ketua Umum Garda Satwa Indonesia ini.

Selain memang karena perempuan berdarah Jawa-Manado ini menyukai anjing, ia pun merasa bahwa selain manusia, siapalagi yang mampu menolong hewan-hewan tersebut dari rasa lapar dan rasa aman.

Bersama Garda Satwa, Davina juga mengampanyekan "Dogs Are Not Food" (anjing bukan untuk konsumsi). Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Bersama Garda Satwa, Davina juga mengampanyekan “Dogs Are Not Food” (anjing bukan untuk konsumsi). Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Anjing dan kucing menjadi hewan yang banyak diselamatkan oleh Garda Satwa Indonesia karena kedua jenis hewan ini yang paling banyak dipelihara di rumah. Lebih jauh Davina bercerita ia pernah mendapat laporan ada anjing tertabrak yang ditelantarkan pemiliknya di daerah Kelapa Gading. Wanita berlesung pipit itu pun mendatangi rumah tersebut dan mengawasinya beberapa hari.

“Itu anjingnya sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus dan dikerubungi lalat karena buang air di situ. Anjing itu tidak bisa bergerak karena tulang kakinya patah,” ceritanya.

Tanpa ragu, Davina lalu nekat memanjat pagar karena tidak dibukakan pintu oleh sang pemilik. Saat sudah loncat, ternyata pembantu rumah itu keluar dari dalam rumah. “Bilang ibu, saya ambil anjing ini dan tidak akan saya kembalikan lagi karena jelas-jelas mereka enggak peduli,” kata Davina menirukan ucapannya kepada si pembantu saat itu.

Garda Satwa Indonesia, lanjutnya, juga kerap mengkritisi para pemilik petshop. Dia melihat kucing dan anjing yang bagus kerap dipaksa berkembang biak lebih dari 2 hingga 3 kali seumur hidupnya. Belum lagi, ketika lahir, anakan yang jelek atau cacat dibuang karena tidak komersil.

Menurut Davina, anjing dan kucing yang diselamatkan oleh Garda Satwa Indonesia dapat diadopsi oleh siapa saja. Namun, Garda Satwa Indonesia tidak sembarangan menerima tawaran adopsi. Para calon adopter harus melalui serangkaian tes untuk bisa membawa pulang hewan tersebut.

Ia menjelaskan, para calon adopter harus mengisi formulir terlebih dahulu. Di dalamnya ada pertanyaan-pertanyaan yang menjadi penilaian apakah orang tersebut benar-benar pecinta hewan rumahan atau tidak.

“Setelah itu wawancara. Saya harus bertemu langsung dengan calon pengadopsi dan mensurvey rumah mereka,” pungkasnya.

(G09)

Top
You cannot copy content of this page