Mahasiswa, Tentara dan Pegawai Istana Di Balik 98

Reading time: 2 menit
Poster film "Di Balik 98". Gambar: MNC Pictures

Judul film: Di Balik 98
Sutradara: Lukman Sardi
Pemain: Chelsea Islan, Boy William, Donny Alamsyah, Alya Rohali, Ririn Ekawati, Teuku Rifnu Wikana
Produksi: MNC Pictures
Durasi: 106 menit

Kerusuhan yang terjadi di tahun 1998 menjadi salah satu catatan sejarah kelam bangsa Indonesia. Demonstrasi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa bersama dengan rakyat untuk menurunkan Presiden Soeharto berbuntut pada tragedi penembakan mahasiswa dan eksodus etnis Tionghoa dari Indonesia ke luar negeri.

Seorang mahasiswi idealis bernama Diana (Chelsea Islan) bergabung dengan gerakan mahasiswa kampusnya. Ia dan teman-temannya merencanakan untuk melakukan aksi demonstrasi besar-besaran menuntut adanya reformasi di negara ini. Daniel (Boy William), pacar Diana, ikut terlibat dalam gerakan tersebut, namun Daniel menyatakan bahwa dirinya sebenarnya tidak suka konfrontasi.

Pada Mei 1998, demonstrasi yang direncanakan akhirnya dijalankan. Namun, aksi yang semula berjalan damai berubah anarkis. Adanya provokator yang menyusup diantara para demonstran membuat militer mengambil tindakan melampaui batas, mereka menggunakan peluru tajam dan melakukan penyisiran hingga ke dalam kampus.

Diana yang sempat bertemu dengan kakak iparnya, Bagus (Donny Alamsyah), di lokasi demonstrasi, sempat bersitegang. Ia menuduh Bagus lebih mementingkan karirnya sebagai Letnan Dua di kemiliteran daripada kakak perempuan sekaligus istri Bagus, Salma (Ririn Ekawati), yang tengah hamil besar.

Sementara itu, Salma yang merupakan pegawai Istana Negara, mencemaskan keselamatan Diana. Ia menyusup keluar istana untuk mencari adiknya. Namun di tengah jalan, ia terjebak di tengah-tengah massa yang riuh menjarah pusat perbelanjaan dan membakar kendaraan. Tak kuat, Salma pun pingsan.

Selama beberapa hari setelah demonstrasi besar, suasana berubah mencekam, terlebih bagi Daniel. Ia yang keturunan Tionghoa, tidak kuasa menahan sedih ketika mendapati rumahnya hancur berantakan dan ayah serta adik perempuannya tidak ada di sana. Sembunyi-sembunyi, ia berusaha mencari keluarganya. Di salah satu lorong jalan, kumpulan preman yang tengah berjaga menyadari kehadiran Daniel dan lari mengejarnya.

Meski film “Di balik 98” berlatar belakang kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998 dan memasukan beberapa penggalan gambar dokumentasi saat terjadinya kerusuhan tersebut, namun Lukman Sardi selaku sutradara menyatakan film ini bukanlah film sejarah.

“(Di Balik) 98 ini menguatkan karakter keluarga yang gue buat. Jadi, gue berusaha menampilkan sesuatu yang dimasyarakat juga sudah familiar dengan karakter utamanya yang fiksi. Disitu terjadi konflik antara mereka bertiga, dari sisi mahasiswa, sisi tentara, sisi pegawai istana. Semua punya sudut pandang yang berbeda-beda,” ujar Lukman saat dijumpai usai pemutaran film “Di balik 98” untuk media di Djakarta Theater XXI, Jakarta, Rabu (7/01) lalu. Film ini direncanakan akan tayang serentak di bioskop mulai tanggal 15 Januari 2015.

(G08)

Top
You cannot copy content of this page