Bumi Macakal, Ruang Tanti dan Irman Jalani Sustainable Living

Reading time: 3 menit
Bumi Macakal Tanti dan Irman di kawasan Tangerang. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Banyak orang lebih memilih hidup yang serba praktis dan instan karena tuntutan zaman. Namun, beberapa orang lebih menarik diri dari ritme yang cepat, tapi tetap produktif dan sustainable living atau ramah lingkungan. Salah satunya dilakukan oleh pasangan pemilik Bumi Macakal, Tanti dan Irman Yudiana.

Awalnya, pasangan ini menyukai kehidupan praktis. Keduanya merupakan karyawan tapi setelah anak kedua mereka lahir akhirnya Tanti memutuskan untuk membuat usaha newsletter untuk sektor transportasi.

Berawal usahanya ini, ia justru kerap terpapar dengan berbagai permasalahan kompleks terkait isu lingkungan, mulai dari polusi hingga sampah.

“Kekhawatiran dan kesadaran ini mulai tumbuh hingga merembet ke isu lain seperti soal makanan sehat tak mengandung bahan kimia, pengelolaan energi, air sekompleks itu,” katanya saat Greeners temui di kediamannya baru-baru ini.

Demikian pula dengan suaminya, Irman. Pria ini memberanikan diri untuk memutuskan pensiun dini di salah satu perusahaan swasta di bidang migas. Ia menyebut, aspek lingkungan menjadi hal paling diperhatikan dalam pekerjaannya.

“Kebiasaan di kantor seperti memilah sampah, mengelola air ini akhirnya menjadi kultur karyawannya sendiri dan akhirnya menyadarkan saya bahwa kita bisa berkontribusi lebih besar terhadap lingkungan,” ucap lelaki berkacamata ini.

Irman juga menyebut, tantangan terbesar permasalahan lingkungan terletak pada kesadaran lingkungan. Oleh karena itu, dengan adanya Bumi Macakal, ia berharap dapat mendekatkan rumah ramah lingkungan yang ideal pada masyarakat.

“Ada saat di mana kita ingin lebih berkontribusi buat masyarakat umum. Dalam hal ini masalah lingkungan tantangannya terbesarnya adalah rendahnya kesadaran masyarakat,” tutur Irman.

Awal Mula Bumi Macakal

Dari semua alasan itu, pasangan ini kemudian mewujudkan rumah impian Bumi Macakal pada tahun 2018. Bumi Macakal mereka desain khusus menjadi naungan rumah ramah lingkungan secara kompleks. Mulai dari pangan, air, listrik, energi hingga pengelolaan sampahnya.

Rumah di atas tanah seluas 660 m2 ini terlihat sangat sejuk kaya akan berbagai jenis tanaman. Menariknya, tanaman-tanaman ini tak hanya untuk hiasan, tapi juga bermanfaat.

“Mulai yang bermanfaat sebagai pembersih udara seperti lidah mertua. Lalu ada tanaman bunga pukul 4 yang juga sebenarnya bisa kita makan, hingga tanaman obat yang bisa kita manfaatkan seperti kunyit hingga sereh,” papar Tanti.

Menariknya, untuk meminimalisir penggunaan airnya, tanaman-tanaman ini disiram dengan memanfaatkan air kolam yang ada di sekitarnya. Itu artinya tak ada air yang terbuang. “Ya meski baunya sedikit lebih amis. Tapi tidak apa-apa,” ujar perempuan berhijab ini.

Adapun air kolam ini berasal dari sistem irigasi tetes dengan memanfaatkan penampungan air hujan dalam toren air.

Toren air ini mereka manfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kebutuhan mandi, mencuci, hingga mereka minum. Tanti menyebut, air hujan yang mengalir disaring menggunakan filter sehingga dijamin kebersihannya.

“Air hujan yang tidak boleh diminum itu 15 menit pertama, itu kita atur sedemikian rupa melalui pipa-pipa,” kata dia.

Pasutri ini terapkan gaya hidup ramah lingkungan di segala aspek. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Pengelolaan Sampah di Bumi Macakal

Tak hanya itu, pasutri ini pun bijak mengelola sampahnya. Bumi Macakal mengelola sampah sachet menjadi bantalan hingga ecobrick agar sampah-sampah sachetnya tak mencemari TPA. Khusus sampah anorganiknya mereka berikan pada pemulung atau bank sampah terdekat.

Untuk sampah organiknya, yakni berupa sisa makan mereka jadikan makanan ayam hingga maggot di belakang rumah. “Kita bahkan kerap kekurangan sampah organik di rumah,” kata Tanti diselingi tawa.

Kemandirian Energi untuk Sustainable Living

Untuk energi listrik, Bumi Macakal memanfaatkan instalasi panel surya. “Sebenarnya ini belum semua mencukupi kebutuhan kita. Tapi yang penting kita berusaha memanfaatkan energi terbarukan,” kata Irman.

Bumi Macakal turut menggunakan energi dari sinar matahari sebagai solar oven-nya. Saat keadaan kemarau, solar oven mampu memanggang sale pisang dalam waktu satu hingga dua hari.

Tak hanya sebagai rumah mereka berdua, Bumi Macakal juga kerap kali mengadakan workshop hingga house tour untuk masyarakat dan anak-anak sekolah. “Ini menjadi salah satu target kami agar selalu bermanfaat bagi masyarakat secara luas,” tandas Irman.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top