Mencari Cinta Diantara Isyarat Alam Ubud

Reading time: 1 menit
Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Judul Buku: Angin Bersyair
Penulis: Andrei Aksana
Jumlah Halaman: 216 halaman
Terbit: Desember 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

“Berbekal secarik kertas aku berangkat. Dituliskan begitu tergesa oleh Kiev, arsitek yang menjadi kekasihku, di atas selembar kertas yang sembarang dirobek. Alamat tanpa nama jalan dan nomor, membawaku menjelajahi Ubud.

Di sanalah aku memulai titik nol. Membaca isyarat-isyarat alam yang disampaikan sawah, sungai, lembah. Mempertemukanku dengan Raka, dosen seni dan pelukis, yang mengajariku tentang ketabahan yang sederhana, dan Nawang, dunia yang diam, yang memperkenalkanku kepada angin.”

Setidaknya begitulah penggalan cerita yang ingin disampaikan oleh Andrei Aksana melalui buku terbarunya, “Angin Bersyair”. Melalui karyanya yang ke 13 ini, ia sangat ingin menggambarkan bagaimana indahnya Ubud, Bali, melalui cerita romantis yang kali ini dibawakan dengan bahasa yang dalam dan filosofis. Sangat berbeda dengan buku-bukunya sebelum ini.

Buku setebal 216 halaman ini bercerita tentang kisah seorang gadis Jakarta yang melakukan sebuah pencarian. Ia mendapatkan hadiah dari kekasihnya berupa secarik kertas berisi alamat.

Setelah ia mencari tahu, ternyata alamat tersebut berada di Ubud. Gadis itu lantas mendatangi Ubud untuk mengetahui hadiah apa yang sebenarnya ingin diberikan sang kekasih. Di sana, ternyata ia memulai perjalanan hatinya dan menemukan “carik-carik” kertas yang tidak ia duga.

(G09)

Top