Ide & Inovasi
Bahan bangunan umumnya menggunakan batu bata dari tanah liat yang dibakar. Namun, bagaimana jika rumah Anda terbuat dari batu bata yang berbahan dasar urine? Saya dapat pastikan, batu bara urine tidak seburuk yang Anda bayangkan. Meskipun terdengar menjijikkan, ternyata urine bisa bermanfaat menjadi bahan bangunan, sekaligus menjadi solusi untuk pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Sebelum mengenal pewarna sintetis, bangsa Indonesia telah memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan menjadi pewarna alam secara turun temurun. Hal ini menginspirasi Annisa Ayuningtias dan Aldi Hendrawan, mahasiswa Universitas Telkom, Bandung. Mereka mencipatkan cat tekstil berbahan dasar kunyit. Cat tekstil ini kemudian mereka aplikasikan dengan teknik lukis pada produk fesyen.
SunToWater namanya, sebuah alat penghasil air minum mirip dehumidifier berteknologi tinggi yang diklaim mampu menghasilkan delapan galon air per hari. Unit ini menggunakan teknologi gabungan antara sinar matahari dan listrik sehingga membuatnya menjadi lebih ramah lingkungan dalam proses dan hasil produksinya.
Sebuah perusahaan rintisan asal Inggris, Notpla, menciptakan plastik alternatif yang dapat terurai dalam waktu cepat. Plastik ini terbuat dari rumput laut. Selain dapat terurai dengan cepat, plastik ini juga dapat dimakan langsung oleh manusia, mengingat bahan bakunya yang alami sehingga tidak berbahaya.
Tim peneliti dari China, Inggris, dan Arab Saudi mengembangkan solusi untuk menyelesaikan permasalahan limbah plastik sekaligus emisi karbon. Mereka berupaya menguraikan sampah plastik menjadi gas hidrogen dan tabung nano karbon. Bahan bakar hidrogen menjadi salah satu alternatif energi yang paling menjanjikan untuk bahan bakar fosil.
Penggunaan bahan bakar fosil yang terus merusak bumi membuat dua peneliti muda Surabaya prihatin. Mereka adalah mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS), Handy Rifaldin dan Marita Nilam. Duo peneliti muda ini kemudian mengembangkan alternatif pembuatan bioetanol dengan menggunakan buah salak.
Pot organik yang diciptakan terbuat dari serat kelapa sawit. Berasal dari bahan alami, nantinya pot organik ini dapat terurai secara alami dan dapat langsung di tanam dalam tanah sehingga dapat menambah kandungan bahan organik yang terdapat pada tanah.
Yernisa dan Fera Oktaria, duo alumni Universitas Jambi menawarkan solusi wadah makanan sekali pakai yang ramah lingkungan. Mereka merancang ide wadah dari pelepah pinang.
Beton yang masih meninggalkan begitu banyak jejak emisi, mendorong para peneliti dan desainer untuk berinovasi mencari ganti bahan baku semen pada beton. Salah satu inovasi ramah lingkungan yang ditawarkan ke publik adalah beton berbahan dasar kerang.
Tidak hanya dagingnya, sebagian besar bagian dari ayam dapat dimanfaatkan. Mulai dari kulit hingga telurnya. Meski begitu, dalam proses pemotongan, ayam masih meninggalkan sisa limbah. Seperti air bekas cucian ayam, darah hasil pemotongan, dan bulu ayam.
Sampah plastik yang berada di permukaan laut bagaikan ‘puncak gunung es’ yang terlihat besar. Padahal, ada bagian yang lebih besar di bawah puncak gunung es itu. Proyek yang melakukan pembersihan sampah dari dasar laut ini disebut SeaClear.
Melihat tingginya potensi limbah spanduk di Tanah Air, Aditya Redja Kusuma dan Ratna Puspitasari terinspirasi menggunakan limbah spanduk dalam penelitian mereka. Mahasiswa Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya ini mengaplikasikan limbah spanduk sebagai produk dekorasi ruangan.
Menambah daftar alat modern yang dapat membantu menyelesaikan pekerjaan rumah, kali ini mahasiswa asal Universitas Dinamika, Surabaya merancang gawai pelipat baju otomatis.










































