Peneliti Muda Surabaya Manfaatkan Salak Sebagai Bahan Baku Bioetanol

Reading time: 2 menit
Peneliti Muda Surabaya Manfaatkan Salak Sebagai Bahan Baku Bioetanol
Peneliti muda Surabaya manfaatkan salak sebagai bahan baku bioetanol. Foto: Shutterstock.

Bioetanol merupakan energi alternatif yang digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil yang terus merusak bumi membuat dua mahasiswa Surabaya prihatin. Mereka adalah mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS), Handy Rifaldin dan Marita Nilam. Duo peneliti muda ini kemudian mengembangkan alternatif pembuatan bioetanol dengan menggunakan buah salak.

Dalam “Pemanfaatan Buah Salak (Salacca Zalacca) Sebagai Bahan Baku Pembuatan Bioetanol”, kedua peneliti menilai buah salak yang merupakan tanaman asli Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol. Penilaian ini berdasarkan kandungan glukosa buah salak, kandungan etanol, pengaruh suhu dan keasamaan (pH). Peneliti mendapati kandungan bioetanol yang dihasilkan sesuai dengan kriteria campuran bahan bakar fosil.

Bioetanol merupakan cairan biokimia dari proses fermentasi gula yang bersumber dari karbohidrat dengan bantuan mikroorganisme. Tahap awal yang dilakukan pada penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa ITATS ini adalah menganalisis kadar glukosa. Analisis dilakukan dengan memeras bubur salak yang menghasilkan filtrat. Filtrat dipanaskan pada suhu 80°C, kemudian ditambahkan ragi dan difermentasi selama 7 hari. Setelah itu diditalasi untuk memisahkan etanol dengan air dan diukur menggunakan alkoholmeter.

“Proses fermentasi dilakukan selama 7 hari dengan pengecekkan rutin parameter, suhu, dan pH setiap harinya. Reaktor yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 6 reaktor fermentasi dengan penambahan ragi yang sama,” ungkap Rifaldin dan Nilam dalam jurnalnya.

Baca Juga: Wadah Makanan Sekali Pakai dari Pelepah Pinang

Kadar Glukosa Tinggi Kunci Potensi Salak sebagai Bioetanol

Buah salak mengandung kadar glukosa yang tinggi yang dapat difermentasi dengan baik oleh bakteri Saccaromyches cerevisiae sehingga menghasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi. Semakin tinggi kadar glukosa yang terkandung dalam bahan baku maka kadar bioetanol yang dihasilkan juga semakin tinggi. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Triwahyuni pada tahun 2015.

Selain itu, semakin banyak ragi yang ditambahkan maka kadar etanol yang dihasilkan juga semakin besar karena mikroorganisme yang berperan dalam mengurai glukosa untuk menghasilkan etanol semakin banyak.

“Kandungan glukosa dalam buah salak sebesar 4,45 persen. Kadar etanol sebesar 61-99,7 persen. Suhu fermentasi yaitu 30-34°C dan pH optimum untuk pertumbuhan bakteri sebesar 3,5-5. Bioetanol yang tertinggi dihasilkan dengan bahan buah salak dengan penambahan ragi 67,5gram sebesar 99,7 persen” ujar kedua peneliti.

Penulis: Mega Anisa

Editor: Ixora Devi

Top
You cannot copy content of this page