Sosok & Komunitas - Greeners.Co https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 11 Jul 2025 05:11:09 +0000 id hourly 1 Noer Chanief Menerangi Jalan Desa dengan Angin dan Surya https://www.greeners.co/sosok-komunitas/noer-chanief-menerangi-jalan-desa-dengan-angin-dan-surya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=noer-chanief-menerangi-jalan-desa-dengan-angin-dan-surya https://www.greeners.co/sosok-komunitas/noer-chanief-menerangi-jalan-desa-dengan-angin-dan-surya/#respond Sun, 13 Jul 2025 03:00:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=46950 Jakarta (Greeners) – Di tengah kelangkaan listrik yang masih menjadi persoalan di daerah-daerah terpencil, penerangan jalan di desa-desa pun seringkali sulit terwujud. Dari kondisi inilah, Noer Chanief (60) hadir di […]]]>

Jakarta (Greeners) – Di tengah kelangkaan listrik yang masih menjadi persoalan di daerah-daerah terpencil, penerangan jalan di desa-desa pun seringkali sulit terwujud. Dari kondisi inilah, Noer Chanief (60) hadir di tengah kegelapan dengan menciptakan inovasi yang memanfaatkan kekuatan angin dan matahari, untuk menerangkan gelapnya jalan desa-desa di Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Sejak 2015, Chanief menciptakan sebuah teknologi pembangkit energi terbarukan hibrida bernama Omset Pintar (Omah Setrum Pintar). Dengan menggabungkan energi angin dan surya, teknologi ini bisa menghasilkan listrik dari sumber energi terbarukan.

Beberapa desa seperti Sukorejo, Tutup, dan Kalisangku, serta beberapa desa lain di Kecamatan Ngawen, telah merasakan manfaat dari inovasi ini. Total ada sekitar sepuluh desa yang menjadi tahap awal pemasangan Omset Pintar, dengan pembangunan pertama di Blora.

BACA JUGA: BRIN dan UI Kembangkan Sistem Inovatif untuk Keselamatan Reaktor Nuklir

“Listrik ini bisa membantu masyarakat di desa-desa yang ada di Blora, karena desa-desa di Blora itu kebanyakan di tengah hutan. Jangkauan listrik dari PLN juga tidak ada. Dengan inovasi pemanfaatan angin dan matahari ini, warga yang ada di kawasan merasa terbantu dengan hadirnya listrik yang tanah lingkungan ini,” ujar Chanief dalam wawancaranya bersama Greeners.

Seiring waktu, inovasi Omset Pintar mulai masyarakat kenal luas. Alat ini ada di berbagai lokasi wisata di Kabupaten Blora, yang juga belum terjangkau jaringan listrik PLN. Mulai dari tahun 2017, teknologi ini semakin berkembang untuk digunakan di daerah terpencil.

Noer Chanief menerangi jalan desa dengan angin dan surya. Foto: Dini Jembar Wardani

Noer Chanief menerangi jalan desa dengan angin dan surya. Foto: Dini Jembar Wardani

Rancang Omset Pintar Mudah Dirakit

Berkat keberhasilan ini, pada tahun 2018 Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengundang Chanief untuk mempresentasikan inovasinya. Tahun itu, ia mencoba memproduksi 10 unit, kemudian bertambah lagi 16 unit di tahun berikutnya. Selebihnya, masyarakat dari berbagai daerah secara mandiri semakin banyak memesan teknologi ini.

Dalam proses pengembangannya, Omset Pintar dirancang agar mudah dirakit dan tidak memerlukan teknologi canggih atau material yang sulit diperoleh. Chanief memang tidak mematenkan atau memproteksi teknologi ini untuk dirinya sendiri.

Sebaliknya, ia justru ingin agar masyarakat bisa meniru dan memproduksi sendiri, sehingga desa-desa lain bisa mandiri dalam menghadirkan listrik. Dalam satu paket Omset Pintar, terdiri atas satu unit kincir angin dan 20 tiang lampu penerangan desa, dengan kisaran biaya antara 40 hingga 45 juta rupiah tergantung medan lokasi.

Hingga kini, pemanfaatan Omset Pintar masih didominasi untuk penerangan desa, dan belum digunakan secara luas untuk kebutuhan rumah tangga. Namun, sudah mulai ada rencana pengembangan, seperti pemasangan di lima rumah di daerah Garut.

Sosok Guru dan Inovator

Menariknya, sosok Chanief ini bukan berasal dari latar belakang elektro, melainkan dari jurusan teknik kendaraan ringan (otomotif). Ia juga merupakan pensiunan guru SMK Negeri 1 Blora, yang mengembangkan inovasi ini secara otodidak berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya di bidang teknik.

Perjuangan Chanief membuat teknologi ini tak sia-sia. Manfaatnya begitu berdampak untuk masyarakat sekaligus mendorong energi bersih sebagai sumber listrik. Kini, sudah ada 57 unit kincir Omset Pintar yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

BACA JUGA: Yeti Can Crusher, Alat Penghancur Kaleng untuk Mudahkan Daur Ulang

“Karena dulu masih berstatus pegawai negeri, mobilitasnya terbatas. Namun, setelah pensiun pada 1 Mei 2025, saya lebih leluasa mengembangkan dan menyebarluaskan inovasi ini,” ungkapnya.

Chanief berharap teknologi ini bisa terus berkembang dan diwariskan kepada generasi muda. Oleh karena itu, ia selalu menggandeng siswa-siswa sekolah untuk ikut dalam melakukan proses pengembangan teknologi.

“Saya ingin menunjukkan bahwa energi baru terbarukan tidaklah sesulit yang mereka bayangkan. Bahkan, generator pun bisa kita rakit sendiri dengan biaya murah. Dengan kesabaran dan ketekunan, teknologi ini bisa kita buat dalam waktu 3 minggu hingga 1 bulan,” ungkapnya.

Atas inovasinya, Chanief juga berhasil menerima penghargaan nasional sebagai inovator dari negara pada 30 Januari 2020. Penghargaan tersebut diberikan oleh Presiden Joko Widodo melalui BRIN.

Selain itu, pada tahun 2020 Chanief juga membimbing tiga orang siswa dari SMK Negeri 1 Blora dengan menciptakan inovasi Dakasyagi (Sepeda Bekas Kaya Energi). Inovasi ini memadukan sepeda bekas dengan motor dinamo listrik. Sehingga bisa menghasilkan energi listrik ketika dikayuh.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/noer-chanief-menerangi-jalan-desa-dengan-angin-dan-surya/feed/ 0
Sewakan Gelas Guna Ulang, Cara BALIKIN Lawan Sampah Plastik Sekali Pakai https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sewakan-gelas-guna-ulang-cara-balikin-lawan-sampah-plastik-sekali-pakai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sewakan-gelas-guna-ulang-cara-balikin-lawan-sampah-plastik-sekali-pakai https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sewakan-gelas-guna-ulang-cara-balikin-lawan-sampah-plastik-sekali-pakai/#respond Thu, 05 Jun 2025 08:45:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=46709 Jakarta (Greeners) – Maraknya acara musik dan olahraga di Indonesia menyebabkan peningkatan timbulan sampah plastik sekali pakai. BALIKIN hadir sebagai solusi dengan menyewakan gelas guna ulang untuk melawan sampah plastik […]]]>

Jakarta (Greeners) – Maraknya acara musik dan olahraga di Indonesia menyebabkan peningkatan timbulan sampah plastik sekali pakai. BALIKIN hadir sebagai solusi dengan menyewakan gelas guna ulang untuk melawan sampah plastik di acara berskala besar.

BALIKIN merupakan inisiatif dari Langit Biru Pertiwi, sebuah organisasi yang fokus pada pelestarian lingkungan melalui berbagai program edukatif dan kolaboratif bagi individu, komunitas, hingga perusahaan. Layanan ini mulai banyak digunakan dalam festival musik, acara olahraga, dan berbagai event lainnya yang sebelumnya masih mengandalkan gelas plastik sekali pakai.

Menurut Co-Founder BALIKIN Nadia Mulya, ide awal ini lahir dari pengalamannya saat berada di luar negeri. Ia melihat bahwa sistem rental cup atau penyewaan gelas sudah menjadi praktik umum di berbagai acara besar seperti pertandingan sepak bola, maraton, hingga konser musik.

BACA JUGA: Isi dan Guna Ulang Solusi Tepat Kurangi Plastik

“Ini bisa kita temukan di berbagai acara berskala besar. Sementara di sini, misalnya saat menghadiri acara lari, kita akan menemukan water station yang menyediakan minuman, namun sering kali tanpa mempertimbangkan dampak sampah yang dihasilkan,” ungkap Nadia dalam wawancaranya bersama Greeners.

Ia menambahkan bahwa masih banyak orang yang beranggapan bahwa sampah dari gelas sekali pakai dapat dengan mudah didaur ulang. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Proses daur ulang hanya bisa berjalan efektif jika materialnya berasal dari satu jenis bahan saja (single source).

“Masalahnya, gelas kertas umumnya berlapis plastik, sehingga sangat sulit, bahkan hampir mustahil untuk didaur ulang secara efektif,” jelas Nadia.

Ironisnya, justru kegiatan yang dianggap ramah lingkungan seperti event olahraga masih menghasilkan volume sampah yang sangat besar. Karena sistem pengelolaan sampah yang belum memadai, sebagian besar sampah tersebut akhirnya hanya akan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

BALIKIN hadir sebagai solusi dengan menyewakan gelas guna ulang untuk melawan sampah plastik di acara berskala besar. Foto: BALIKIN

BALIKIN hadir sebagai solusi dengan menyewakan gelas guna ulang untuk melawan sampah plastik di acara berskala besar. Foto: BALIKIN

BALIKIN Miliki Dua Pelayanan

Saat ini, BALIKIN memiliki dua pendekatan layanan yang berbeda, tergantung pada skala acara. Untuk acara yang berskala kecil atau yang tidak memiliki akses terhadap sumber air dan saluran pembuangan, BALIKIN menyediakan layanan penyediaan dan pengambilan kembali gelas guna ulang.

“Dalam hal ini, kami menyediakan dukungan seperti collection point, materi edukasi untuk para peserta, misalnya pelari, serta memastikan bahwa gelas-gelas tersebut dapat mereka kembalikan dengan benar,” kata Nadia.

Kemudian, pada pendekatan kedua adalah jasa pencucian gelas langsung di lokasi (on-site washing). Contohnya seperti di ajang Mandalika MotoGP.

“Menariknya, kami juga memberdayakan perempuan lokal untuk terlibat dalam proses pencucian ini. Jadi, dari kegiatan washing on-site ini, ada beberapa poin SDGs (Sustainable Development Goals) yang juga bisa kami dukung secara langsung,” ucapnya.

Sistem Utuh dan SOP Ketat

Dalam pengoperasian layanan guna ulang ini bukanlah hal mudah, menurut Nadia sistemnya cukup kompleks. “Banyak yang mengira bahwa ini hanyalah soal penyewaan gelas. Padahal, yang kami jalankan adalah satu sistem utuh, termasuk sistem pencucian yang memiliki standar operasional (SOP) yang ketat,” kata Nadia.

Menurutnya, SOP ini bahkan setara dengan yang industri katering terapkan. BALIKIN juga sempat berkonsultasi dengan para pegiat katering untuk memastikan bahwa seluruh proses penanganan peralatan makan, termasuk gelas dilakukan dengan benar dan higienis.

BACA JUGA: Startup Guna Ulang Mampu Kurangi 300 Kilogram Sampah Plastik

Dalam kiprahnya di gerakan guna ulang, saat ini BALIKIN juga tergabung dalam Reuse Special Interest Group, yang mencakup berbagai negara di Asia. Dalam forum ini, mereka rutin berdiskusi dan berbagi perkembangan mengenai penerapan sistem reusable di masing-masing negara.

Antusiasme Pengunjung

Nadia mengatakan bahwa respons dari pengunjung terhadap penyediaan gelas guna ulang ini sangat positif dan begitu antusias. Salah satu yang menjadi daya tariknya adalah desain cup BALIKIN yang berwarna fuchsia. Warnanya cerah dan menarik perhatian.

“Banyak yang bilang cup-nya lucu, karena warnanya pink. Dari situ saja, sebenarnya sudah menjadi pintu masuk atau gateway untuk mulai mengedukasi mereka lebih jauh,” kata Nadia.

Mereka mengedukasi pengunjung tentang manfaat penggunaan wadah guna ulang terhadap lingkungan. “Misalnya, bahwa cup kami ini BPA-free, aman untuk mereka gunakan. Lalu, saya juga sering menyampaikan fakta bahwa orang Indonesia setiap bulannya bisa mengonsumsi mikroplastik setara dengan tiga kartu ATM,” ujarnya.

Menurut Nadia, edukasi-edukasi seperti ini ternyata bisa langsung tersampaikan dengan cara yang ringan tapi mengena.

Selama satu tahun berjalan, BALIKIN juga semakin banyak terlibat akitf dalam berbagai acara olahraga dan komunitas outdoor. Nadia berharap ke depannya BALIKIN bisa masuk ke lebih banyak kegiatan skala besar.

“Kami ingin membangun ekosistem reuse ini bersama-sama. Kami ingin sistem ini bisa terintegrasi dan tumbuh dengan kolaborasi berbagai pihak,” tutupnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sewakan-gelas-guna-ulang-cara-balikin-lawan-sampah-plastik-sekali-pakai/feed/ 0
Dua Dekade Petani Perempuan Perjuangkan Hak Atas Tanahnya https://www.greeners.co/sosok-komunitas/dua-dekade-petani-perempuan-perjuangkan-hak-atas-tanahnya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dua-dekade-petani-perempuan-perjuangkan-hak-atas-tanahnya https://www.greeners.co/sosok-komunitas/dua-dekade-petani-perempuan-perjuangkan-hak-atas-tanahnya/#respond Mon, 21 Apr 2025 10:47:38 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=46409 Jakarta (Greeners) – Pembangunan masif seperti jalan tol dan perumahan skala besar memang memberi kenyamanan bagi masyarakat urban. Namun, pembangunan ini menuntut lahan luas yang sering kali merampas hak hidup […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pembangunan masif seperti jalan tol dan perumahan skala besar memang memberi kenyamanan bagi masyarakat urban. Namun, pembangunan ini menuntut lahan luas yang sering kali merampas hak hidup masyarakat. Di tengah ketidakadilan itu, perempuan tampil di garis depan, bersuara dan berjuang mempertahankan tanah yang telah lama mereka garap dan tinggali.

Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Dewi Sartika menyatakan jika proses-proses pembangunan itu tidak menjalankan prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan, banyak pihak akan mengalami krisis. Di antaranya adalah petani, masyarakat adat, nelayan, perempuan, dan kelompok marjinal. Dalam sistem agraria di Indonesia, mereka masih menjadi kelompok yang terdiskriminasi, khususnya dalam hal perlindungan dan pemulihan hak.

Peringatan Hari Kartini setiap 21 April menjadi momen penting untuk mengingat bahwa perempuan berperan besar dalam memperjuangkan hak-haknya, termasuk hak atas lingkungan hidup yang adil dan berkelanjutan. Hal ini tercermin dari perjuangan tiga perempuan luar biasa, yaitu Tiomerli Sitinjak dari Pematangsiantar, Wati dari Ciamis, dan Luh Sumantri dari Buleleng.

BACA JUGA: Perempuan Gigih Berjuang Gaungkan Revolusi Guna Ulang

Selama lebih dari dua dekade, ketiganya berdiri teguh di garis depan, memperjuangkan hak atas tanah yang telah mereka garap dan tinggali secara turun-temurun. Perjalanan mereka bukan tanpa hambatan. Ada fase kritis harus mereka hadapi, mulai dari ketimpangan penguasaan tanah, perampasan lahan, hingga konflik agraria yang kian meningkat.

Lantas, seperti apa sebenarnya perjuangan mereka selama lebih dari dua dekade ini?

Tiomerli Sitinjak, Tak Gentar Hadang Ekskavator demi Lindungi Tanahnya

Lahir di tengah keluarga petani, bertani telah menjadi bagian dari kehidupan Tiomerli sejak kecil. Baginya, kegiatan bertani sungguh menyenangkan, karena ada harapan tanaman itu akan tumbuh dengan baik. Itulah mengapa hatinya begitu hancur ketika tanah yang selama lebih dari 20 tahun menjadi tempatnya bergantung hidup terancam diambil untuk area perkebunan.

“Lebih dari 700 orang datang untuk menghancurkan tanaman dan rumah, 16 unit ekskavator diturunkan pula. Tanpa ingat rasa takut, kami berlari mencegat dan memanjat ekskavator, mencegah mereka menghancurkan semua. Tanah ini adalah kehidupan kami, hasil tani ini untuk menyekolahkan anak-anak kami,” kata Tiomerli.

Ia bercerita, Kota Pematangsiantar di Sumatra Utara, dulunya merupakan perkampungan orang tuanya. Pada 1969, lahan mereka diambil dan dijadikan perkebunan, hingga kemudian pada 2004 Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan tersebut habis masa berlakunya.

“Karena HGU perkebunan tidak diperpanjang, masyarakat bersama-sama mengklaim lahan ini untuk menjadi tempat tinggal dan lahan pertanian. Jalan sudah dibangun, begitu juga dengan masjid dan gereja,” ujarnya.

Saat itu, akhirnya kehidupan mereka aman dan tenteram. Namun, pada 2022 perusahaan perkebunan yang sama, kembali mendapatkan HGU. Tanpa bertanya pada rakyat, perusahaan tersebut mengerahkan orang untuk merusak semua. Padahal, tidak semua keluarga yang rumah dan tanamannya dirusak tersebut menerima tali asih (semacam penggantian dalam bentuk uang).

Dua setengah tahun terakhir ini, Tiomerli dan teman-teman sekampungnya hidup dengan sangat tidak nyaman. Ia mengatakan, “Bahkan, bertani di pekarangan rumah saja tidak aman. Malam hari bisa dirusak orang. Begitu juga kalau kami pergi meninggalkan rumah. Ketika pulang, tanaman sudah dirusak juga.”

Masyarakat di sana kini hanya berstatus petani, tapi tak bisa bertani lagi, hanya bekerja serabutan. Apa pun pekerjaan yang ada, akan mereka kerjakan, termasuk bongkar muat bahan bangunan dan menenun. Padahal, sebelumnya masyarakat di sana hidup dengan guyub dalam bertani. Ketika Tiomerli menanam jagung, ia mengajak teman-temannya untuk bantu menanam. Begitu juga ketika temannya menanam, Tiomerli ikut membantu.

Perjuangan Berlanjut

Perjuangan untuk mendapatkan hak tanah masih terus berlanjut. Tiomerli menjadi Ketua Sepasi (Serikat Petani Sejahtera Indonesia). Tugasnya sebagai Ketua Sepasi adalah merangkul teman-temannya supaya kuat berjuang.

“Tanah ini memang tanah negara. Namun, kami juga berhak atas tanah negara. Itulah semangat yang selalu saya berikan kepada kawan-kawan untuk bertahan hidup di sini. Hidup kami memang agak sulit. Tapi, kalau pindah, akan pindah ke mana? Kalau dapat tali asih 30 juta rupiah, bisa pindah ke mana, mau bekerja apa?” ujarnya.

Berbagai jalan telah Sepasi tempuh. Mereka mendatangi berbagai pihak, mulai dari Walikota Pematangsiantar, Polres, Kanwil Medan, Komisi II DPR RI, juga Komnas HAM. Bahkan, Komnas HAM turun ke lapangan, mengevaluasi situasi, dan sudah mengeluarkan surat agar perusahaan perkebunan itu menghentikan dahulu kegiatannya. Sebab, dinilai telah melakukan pelanggaran HAM.

Namun, surat tersebut diabaikan oleh mereka. Sepasi juga sempat mengadakan pertemuan di Jakarta, tapi hasil musyawarah di sana tidak terlaksana. Apalagi, ketika keluar peraturan menteri pada 2024 yang menyatakan bahwa tidak ada peruntukan perkebunan di wilayah Pemantangsiantar.

“Kami sungguh berharap kehidupan kami tidak diganggu, kami tidak diusir dari tanah yang sudah kami tempati lebih dari 20 tahun. Jangan miskinkan kami. Dengan hidup selama 21 tahun di sini, kami sudah berhak memohon kepada negara untuk mengakui kami menempati tanah ini,” kata Tiomerli, yang siap untuk terus berjuang.

Wati, Berjuang untuk Hak Tanah Tanpa Kenal Lelah

Bagi masyarakat Banjaranyar, Ciamis, Jawa Barat, bertani adalah kehidupan. Mayoritas warga di sana bertani sebagai mata pencaharian. Bahkan, warga desa yang punya usaha toko pun bertani.

Menurut Wati, hasil bertani mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menambah penghasilan keluarga. Misalnya, sebagian singkong mereka konsumsi, sebagian lainnya mereka jual. Hasil penjualannya untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga.

“Kalau tidak ada tempat pertanian, kami mau makan apa? Bagaimana kami mau membangun rumah? Semua bisa kami lakukan dari hasil pertanian,” katanya.

Sayangnya, belum semua warga Banjaranyar mendapatkan hak tanah yang mereka garap. Sebagian sudah mendapatkan sertifikat, sebagian lagi masih terus berjuang.

“Sudah 24 tahun kami berjuang. Prosesnya memang sangat lama. Memperjuangkan hak tanah tidak bisa sebentar. Tidak seperti main hompimpa, tidak seperti membalikkan telapak tangan, dan perjuangan itu tidak pernah berhenti. Jika berhenti, ‘musuh’ akan ‘menyergap’ tanah kami,” kata Wati.

Dalam perjalanannya berjuang atas hak tanah, Wati mendapat pendampingan dari sebagian besar mahasiswa. Aktif di berbagai organisasi membuat Wati belajar banyak hal tentang hak perempuan atas tanah. Kehadiran KPA sebagai pendamping yang terus melakukan edukasi juga menambah ilmunya.

Ia menegaskan, perjuangan tersebut membutuhkan keberanian besar. Rumah Wati pernah didatangi aparat yang mencari-cari suaminya, yang memang seorang aktivis tentang hak tanah. Wati tidak gentar. Dengan suara lantang, ia menantang balik para aparat tersebut.

“Sejujurnya saya lebih takut kalau mereka menemukan suami saya. Dia bisa dipenjara dengan tuduhan penjarahan tanah,” kisahnya.

Manggandeng Perempuan di Kampung

Melihat keberanian Wati, perempuan di kampungnya seperti tertular semangatnya. Wati pun mulai mengumpulkan mereka setiap kali ada kesempatan. Berbekal pengetahuan yang ia miliki, Wati memberi pemahaman soal hak tanah bagi perempuan dan selalu mengingatkan tentang pentingnya memperjuangkan hak tanah.

“Supaya mudah mengumpulkan mereka, saya membuat pengajian, seperti yasinan keliling. Jadi, sebelum yasinan, saya bicara dahulu dengan ibu-ibu. Bahwa perjuangan ini bukan perjuangan laki-laki, perempuan harus terlibat. Tapi, ketika mengadakan aksi di bawah terik matahari, perempuan di rumah saja. Kasihan, kan, kalau ada anak yang ikut,” cerita Wati.

Tak hanya dapat pemahaman, ibu-ibu tersebut juga belajar berpikir, berpidato, berbicara di depan umum, belajar tentang ilmu-ilmu tanah, tentang mengapa harus mempertahankan tanahnya. Wati sendiri belajar tentang hak dasar atas tanah dari suami yang kerap mendapatkan pelatihan dan pendidikan dari pendamping seperti KPA.

Wati berjuang bersama dalam wadah bernama Serikat Petani Pasundan (SPP). Menariknya, sejak awal berdiri, SPP menempatkan perempuan dengan hak dan tanggung jawab yang sama dengan laki-laki. Wati mencontohkan, ketika proses reclaiming tanah, sudah langsung tertera nama suami dan istri. Dalam reclaiming itu diatur batasan bidang tanahnya.

“Semisal, ada seorang istri mendaftar dan memohon dua persil (sebidang tanah dengan batasan tertentu). Nama istri dan nama suami sama-sama terdaftar. Ada juga ibu-ibu yang mendaftar dua persil dengan namanya sendiri, sementara suaminya tidak mau terdaftar, karena takut didatangi polisi,” tambahnya.

Perjuangkan Kebenaran

Sejauh ini, wilayah Banjaranyar 2 dan area persawahan 2 sudah mendapatkan sertifikat tanah. “Karena musuhnya sudah tidak ada,” kata Wati. Sementara itu, Banjaranyar 1 dan persawahan 1 masih berjuang untuk mendapatkan sertifikat tersebut. Di Banjaranyar 2, SPP sudah membangun sekolah tingkat PAUD, SMP, SMK, dan pesantren.

“Karena ada sekolah, pemerintah jadi ikut membantu, misalnya dalam hal bangunan. Awalnya, dana pembangunan sekolah berasal dari iuran warga,” kata Wati, yang bercita-cita membangun perguruan tinggi di sana.

Bagi yang masih berjuang untuk mendapatkan hak tanah, Wati berpesan, “Jangan takut akan kebenaran”. Menurutnya, walaupun perjuangannya memang tidak segampang itu, tetapi hasilnya indah.

Luh Sumantri Dua Dekade Menanti Keadilan

Cerita perjuangan perempuan dalam mempertahankan tanahnya tidak berhenti di Wati dan Tiomerli. Perempuan dari Bali, Luh Sumantri juga masih berjuang dan menanti keadilan selama dua dekade lamanya.

Diminta kembali pulang ke Bali setelah bertahun-tahun hidup sebagai transmigran di Timor Timur (kini Timor Leste), Sumantri dan teman-temannya tidak memiliki hak tanah di negerinya sendiri. Selama 21 tahun tinggal lagi di Desa Sumberklampok, Buleleng, selama itu pula eks transmigran Timor Timur mengajukan permohonan untuk mendapatkan hak tanah. Hingga kini, permohonan itu belum terkabul.

“Berbeda sekali ketika kami masih tinggal di Timor Timur. Di sana tanah garapan kami lebih luas, dan mudah sekali mencari pekerjaan di ladang. Proses kepemilikan lahan juga mudah. Seiring berjalannya waktu kami tinggal di sana, pemerintah Timor Timur langsung menerbitkan sertifikat tanah, tanpa perlu kami ajukan permohonan,” kata Sumantri.

Sementara itu, di tanah kelahirannya sendiri, Sumantri sudah memohon sangat lama, tapi belum juga mendapatkan sertifikat. Ia bercerita, sejauh ini baru lahan pekarangan saja yang mendapatkan sertifikat, lahan garapannya belum.

Berita baiknya, perjuangan untuk mendapatkan hak tanah di Bali berbeda dari teman-teman mereka di luar Bali. Sebab, di Bali tidak pernah ada larangan untuk menggarap lahan. Tidak pernah ada kasus menggusur tanaman atau rumah.

“Tidak ada yang merusak tanaman kami. Hanya saja, hak kepemilikan tanah itu belum juga kami dapatkan,” tuturnya.

Unjuk Rasa dengan Damai

Dengan pendampingan KPA, Sumantri dan teman-teman eks transmigran Timor Timur, melakukan pemetaan partisipatif. Mereka harus mengulang lagi pengajuan permohonan untuk lahan garapan, padahal sebelumnya sudah diajukan bersamaan dengan lahan pekarangan. Tak hanya itu, mereka juga melakukan unjuk rasa secara damai. Sepulang dari Timor Timur, suami Sumantri, I Nengah Kisid, sempat mendatangi DPRD provinsi untuk meminta keadilan.

Selama ini pemerintah menempatkan mereka di kawasan hutan produksi, yang lahannya bisa digarap untuk pertanian. Selain itu, untuk menambah penghasilan, mereka juga beternak sapi, sebagian juga yang beternak babi. Masing-masing kepala keluarga menggarap 50 are (sekitar 5.000 meter persegi). Sedangkan permohonan atas kepemilikan tanah yang mereka ajukan adalah seluas 136,94 hektare untuk 107 kepala keluarga.

Lahan garapan yang mereka kelola terletak tidak jauh dari permukiman. Di sana, mereka menanam tanaman musiman seperti cabai, kacang, dan jagung. Hasil panen tidak mereka jual langsung ke pasar, melainkan ke tengkulak dengan harga yang cukup adil. Sementara itu, lahan pekarangan seluas 4 are mereka tanami berbagai tanaman untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari keluarga.

Kembali Memimpin Perjuangan

Sumantri tak berhenti mendampingi suaminya, Kisid, sejak kembali dari Timor Timur terus memimpin perjuangan tersebut. Setiap kali menghadap pemerintah, ia tidak mau berhadapan pada peraturan pemerintah yang menurutnya tidak terkait dengan masalah yang mereka hadapi.

“Suami saya meminta pemerintah agar bijak dalam menyelesaikan kasus pengungsi eks Timor Timur. Kalau mengacu pada peraturan, pasti tidak ada yang nyantel,” katanya.

Hidup Sumantri saat ini cukup sejahtera, tetapi hatinya resah karena tidak punya sertifikat kepemilikan tanah. Ia khawatir akan status tanah yang mereka tempati, karena ada keturunan yang tinggal di sana juga.

“Kami tidak pernah tahu kebijakan pemerintah nanti. Beda pemimpin, beda kebijakan. Kami berharap, melalui program-programnya, pemerintah sekarang bisa berpihak pada rakyat. Semoga mereka berkomitmen untuk menyelesaikan kasus eks transmigran Timor Timur,” imbuhnya.

Ketiga perempuan Indonesia yang sedang berjuang mempertahankan tanahnya ini mencerminkan bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk terus berjuang demi mendapatkan haknya. Perempuan bisa bersuara, dan perempuan tak mengenal batas lelah dalam memperjuangkan keadilan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/dua-dekade-petani-perempuan-perjuangkan-hak-atas-tanahnya/feed/ 0
Sekolah Adat Arus Kualan: Belajar dari Alam, Menjaga Warisan Kalimantan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sekolah-adat-arus-kualan-belajar-dari-alam-menjaga-warisan-kalimantan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sekolah-adat-arus-kualan-belajar-dari-alam-menjaga-warisan-kalimantan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sekolah-adat-arus-kualan-belajar-dari-alam-menjaga-warisan-kalimantan/#respond Tue, 04 Mar 2025 04:31:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=46063 Jakarta (Greeners) – Pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang. Di tengah arus modernisasi, sekelompok anak muda di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, mendirikan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang. Di tengah arus modernisasi, sekelompok anak muda di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, mendirikan Sekolah Adat Arus Kualan untuk mengajarkan mencintai alam dan budaya Kalimantan kepada generasi muda.

Sejak berdiri pada tahun 2014, sekolah ini telah menggerakkan sebuah sistem pendidikan informal yang berbeda dari kebanyakan. Sekolah Adat Arus Kualan hadir untuk memberi ruang bagi anak-anak belajar dengan cara yang lebih alami, jauh dari batasan-batasan konvensional sekolah pada umumnya. Di sini, alam adalah ruang kelasnya, dan setiap pepohonan, sungai, dan tanah yang dijelajahi menjadi sumber pengetahuan.

Founder Sekolah Adat Arus Kualan, Florentini Delina Winki yang akrab disapa Delly, mengungkapkan bahwa para murid belahar berbagai keterampilan tradisional. Tak hanya sekadar pengetahuan, tetapi juga merupakan warisan hidup yang harus dipertahankan.

Dikelilingi luasnya hutan Kalimantan, mereka banyak belajar tentang pengobatan tradisional, memasak menggunakan bambu, dan mencari sayuran di hutan dengan cara yang bijak. Tak hanya itu, mereka juga bermain permainan tradisional yang menggugah ingatan akan masa lalu. Selain itu, juga mendengarkan cerita-cerita bijak dari orang tua yang masih hidup sebagai bagian dari proses belajar yang tak tertulis.

“Kegiatan kami bersifat non-formal, tanpa beban aturan yang membatasi. Anak-anak bebas datang dengan pakaian apa pun, tanpa kewajiban mengenakan seragam atau membawa tas. Kami ingin mereka merasa nyaman, tanpa tekanan, dan belajar dengan hati yang bebas,” ujar Delly dalam wawancara bersama Greeners.

Dari tahun ke tahun, jumlah anak murid di Sekolah Adat Arus Kualan semakin berkembang. Dari hanya enam orang di tahun 2014, kini mereka telah mengajarkan nilai-nilai tradisional kepada 183 anak di berbagai kampung. Sebuah perjalanan panjang ini membuktikan bahwa meskipun waktu berlalu, semangat untuk menjaga warisan budaya tetap membara di hati setiap generasi.

Belajar mencintai budaya dan alam Kalimantan kepada generasi muda di tengah modernisasi. Foto: Sekolah Adat Arus Kualan

Belajar mencintai budaya dan alam Kalimantan kepada generasi muda di tengah modernisasi. Foto: Sekolah Adat Arus Kualan

Menari dan Bernyanyi

Selain kegiatan di luar ruangan, para siswa di Sekolah Adat Arus Kualan juga terlibat dalam berbagai kegiatan di dalam ruangan. Mereka mempelajari keterampilan literasi, musik, tari, lagu tradisional, serta membuat kerajinan tangan. Kelas bahasa Inggris dan kegiatan mewarnai juga menjadi bagian dari kurikulum untuk memperkaya pengetahuan dan keterampilan mereka.

Sekolah Adat Arus Kualan menerima anak-anak mulai dari usia 3 hingga 17 tahun. Setelah itu, mereka bisa berperan sebagai fasilitator dalam mengorganisasi kegiatan di sekolah. Anak-anak yang lebih tua juga ikut terlibat dalam proses pembelajaran.

BACA JUGA: Monika Maritjie Kailey, Perempuan Penjaga Kekayaan Alam Kepulauan Aru

Para pengajar di sekolah ini tidak hanya berasal dari warga lokal, tetapi juga banyak relawan internasional, misalnya dari Australia dan Inggris. Meskipun demikian, kegiatan pembelajaran sehari-hari tetap dipimpin oleh pemuda lokal yang masih duduk di bangku SMA.

Selain itu, para tetua adat juga turut berperan penting sebagai pengajar yang menyampaikan cerita-cerita lokal kepada anak-anak. Delly mengungkapkan bahwa Sekolah Adat Arus Kualan menerapkan prinsip “semua orang adalah guru alam raya di sekolah ini”. Setiap individu, baik pengajar maupun alam itu sendiri, memiliki peran dalam mengajarkan nilai-nilai dan pengetahuan kepada generasi muda.

Belajar mencintai budaya dan alam Kalimantan kepada generasi muda di tengah modernisasi. Foto: Sekolah Adat Arus Kualan

Belajar mencintai budaya dan alam Kalimantan kepada generasi muda di tengah modernisasi. Foto: Sekolah Adat Arus Kualan

Tergerak Pertahankan Budaya

Di balik berdirinya Sekolah Adat Arus Kualan, ada latar belakang yang menggerakkan Delly bersama kakaknya, Plorentina Dessy Elma Thyana. Pada tahun 2014, mereka melihat banyak pemuda di sana yang melanjutkan sekolahnya di kota, sehingga sebagian besar dari mereka merasa kehilangan identitas.

“Dia merasa bahwa sebagai anak kampung yang masih menggunakan bahasa lokal, kami seperti tertinggal dibandingkan anak-anak kota. Kami merasa seolah-olah kami tidak bisa bersaing dengan mereka. Namun, ketika kami kembali ke kampung dan melihat orang tua kami, kami menyadari bahwa mereka memiliki banyak pengetahuan yang luar biasa. Mereka belajar tanpa membaca, mengingat ribuan kata dan obat-obatan tradisional,” tambah Delly.

Dari situlah mereka menyadari bahwa mereka memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh banyak orang kota. Kebudayaan, adat, dan kearifan lokal tempat tinggalnya adalah hal yang patut mereka banggakan.

“Kami mulai berpikir jika kami tidak melakukan sesuatu, generasi berikutnya mungkin akan kehilangan identitas seiring dengan perkembangan zaman,” ujar Delly.

Dengan demikian, ketika sekolah ini berdiri, Delly bersama kakaknya merasa bangga bisa memberikan kesempatan anak-anak Dayak belajar banyak hal, terutama tentang kebudayaan mereka.

Manfaatkan Gawai

Seiring perkembangannya zaman, pembelajaran kepada anak-anak juga tidak terlepas dari tantangan. Salah satunya penggunaan gawai yang kini menjadi daya tarik utama bagi mereka. Melihat hal ini, Delly akhirnya mencoba pendekatan berbeda dalam proses pembelajaran dengan membuat program pembuatan film dan dokumentasi kearifan lokal.

“Kami mengajarkan anak-anak memanfaatkan handphone mereka, misalnya untuk membuat konten seperti menjadi content creator atau TikTokers,” imbuh Delly.

Meski sebagian anak mulai tertarik, ada juga yang belum. Namun, Delly terus berusaha agar mereka dapat memanfaatkan gawainya dengan cara positif. Hal itu akhirnya terbukti, beberapa anak telah membuat film. Bahkan, baru-baru ini Delly bersama murid-muridnya meluncurkan buku berjudul “Sansangan”, sebuah cerita lokal Dayak Simpakng Kualan.

BACA JUGA: Merangkul Lintas Agama Merawat Bumi, Hening Parlan Raih ‘Planet Award’

Lewat gawainya, mereka merekam cerita dari orang tua atau nenek mereka, mengetiknya, dan mengirimkannya ke penerbit. Mereka merasa bangga karena nama mereka tercantum sebagai penulis, yang menjadi motivasi besar untuk terus belajar dan berkarya.

Saat ini, anak-anak yang baru saja meluncurkan buku kini sedang menyusun penelitian untuk buku cerita rakyat. Delly juga sedang merencanakan pembangunan gedung sekolah adat yang lebih besar. Ia berharap sekolah adat ini dapat mengenalkan kebudayaan Kalimantan ke dunia.

“Bergerak sendiri itu sulit, tetapi jika kita bergerak bersama, kita lebih mudah mempertahankan kebudayaan kita. Jangan biarkan kebudayaan kita hilang begitu saja. Semoga sekolah ini bermanfaat bagi banyak orang dan membantu melestarikan warisan budaya.”

Hadirnya sekolah adat ini menjadi bagian penting dari upaya Indonesia untuk melestarikan pengetahuan serta nilai-nilai tradisional. Dengan menyediakan sistem pendidikan informal yang mengutamakan budaya lokal, Arus Kualan punya peran besar untuk memastikan generasi muda tetap memahami dan menghargai warisan budaya mereka.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sekolah-adat-arus-kualan-belajar-dari-alam-menjaga-warisan-kalimantan/feed/ 0
Berkarier Tak Menghalangi Patricia Lisia untuk Menekuni Hobi Bersepeda https://www.greeners.co/sosok-komunitas/berkarier-tak-menghalangi-patricia-lisia-untuk-menekuni-hobi-bersepeda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=berkarier-tak-menghalangi-patricia-lisia-untuk-menekuni-hobi-bersepeda https://www.greeners.co/sosok-komunitas/berkarier-tak-menghalangi-patricia-lisia-untuk-menekuni-hobi-bersepeda/#respond Wed, 12 Feb 2025 06:55:40 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=45900 Jakarta (Greeners) – Bagi Patricia Lisia, menjadi wanita karier tidak menghalanginya untuk menekuni hobi bersepeda. Ribuan kilometer (km) telah ia tempuh, menghadapi berbagai tantangan, dan menjelajahi setiap sudut alam. Bersepeda […]]]>

Jakarta (Greeners) – Bagi Patricia Lisia, menjadi wanita karier tidak menghalanginya untuk menekuni hobi bersepeda. Ribuan kilometer (km) telah ia tempuh, menghadapi berbagai tantangan, dan menjelajahi setiap sudut alam. Bersepeda kini telah menjadi pelengkap dalam perjalanan hidupnya yang tak mengenal batas jarak dan waktu.

Kebiasaan bersepeda Patricia Lisia dimulai pada tahun 2007, saat ia memutuskan untuk menggowes sepeda menuju kantornya di Jakarta. Setiap hari, ia menempuh jarak tiga kilometer untuk pergi dan pulang kerja, yang totalnya menjadi enam kilometer. Pada saat itu, jarak yang ia tempuh masih terbilang sedikit, belum sebanyak yang ia capai sekarang.

“Di Jakarta, jalanan selalu macet, terutama di pagi hari. Jadi, saya pikir mengendarai sepeda lebih efisien daripada berjalan kaki atau terjebak di kemacetan,” ujarnya dalam wawancara dengan Greeners pada Jumat (7/2).

Seiring waktu, bersepeda menjadi kebiasaan yang terus Patricia pertahankan, bahkan ketika melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Meskipun berangkat dengan kendaraan umum, ia tak pernah lupa membawa sepedanya.

BACA JUGA: Tiga Pemuda Indonesia Boyong Pelajaran Berharga dari Cali

Sepulang dari perjalanan dinas, Patricia bisa melanjutkan kebiasaannya dengan bersepeda menuju rumah, terlepas dari jarak yang harus ia tempuh, selama ia masih mampu. Baginya, ini adalah kesempatan untuk melatih fisiknya.

Contohnya, baru-baru ini, Patricia melakukan perjalanan dinas ke Kota Bandung. Ia membawa sepedanya dengan kendaraan umum. Setelah tugas selesai, ia bersepeda kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan tersebut, ia berhasil menempuh ratusan kilometer di atas aspal dan tiba di Jakarta dalam waktu 11 jam.

Perempuan yang akrab disapa Ci Pat di kalangan komunitas pesepeda ini juga memiliki pengalaman serupa saat melakukan perjalanan dinas ke Palembang dan Makassar. Meskipun jaraknya cukup jauh, sepedanya tetap ia bawa.

Justru, bagi Patricia, perjalanan ke luar kota bukanlah penghalang, melainkan waktu yang berharga untuk bersepeda. Ia juga menjelajahi alam dan menikmati suasana kota baru yang ia kunjungi. Begitulan kecintaan Patricia terhadap hobinya.

Patricia Lisia. Foto: Instagram @patricia_lisia

Patricia Lisia. Foto: Instagram @patricia_lisia

Bentang Jawa Jadi Ajang Pertama

Setelah belasan tahun menekuni hobi ini, keseriusan Patricia untuk bersepeda semakin terlihat pada tahun 2022. Ia mendaftarkan diri untuk mengikuti ajang Bentang Jawa. Lomba balap sepeda ultra ini mengharuskannya bernavigasi secara mandiri melintasi Pulau Jawa.

Rutenya tak main-main, mencapai 1.500 km. Sebelumnya, Patricia belum pernah menempuh jarak sejauh itu, dan tentunya ini menjadi tantangan pertama yang ia coba. Meskipun baru pertama kali, ia berhasil menaklukannya.

“Saat pertama kali bersepeda jarak jauh, saya benar-benar merasa new bie. Belum pernah saya mencoba perjalanan sepanjang itu. Saya ikut Bentang Jawa yang menempuh 1.500 km, padahal saya juga belum pernah mengikuti event 300 km atau 500 km. Tapi begitu saya menetapkan mindset untuk 1.500 km, otak saya akan fokus pada target tersebut.”

Patricia juga terinspirasi oleh sosok suaminya, seorang pelari jarak jauh. Dari suaminya, ia banyak belajar, salah satunya adalah mindset bahwa lomba itu merupakan perayaan. Namun, di baliknya ada persiapan luar biasa yang harus dilalui.

Untuk persiapan fisik ajang besar pertamanya, Patricia yang sebelumnya hanya bersepeda kurang dari 50 km per minggu, harus meningkatkan intensitas latihannya. Ia pun akhirnya berlatih dengan minimal 50 km setiap hari.

Dalam sesi latihan, Patricia sering melatih dirinya di daerah Sentul atau Bogor. Ia berfokus pada tanjakan-tanjakan yang menantang. Bagi dirinya, tantangan terbesar bukan hanya melawan jarak, tetapi juga bagaimana menyeimbangkan latihan dengan kegiatan lain dalam kehidupan sehari-harinya.

Patricia Lisia. Foto: Instagram @patricia_lisia

Patricia Lisia. Foto: Instagram @patricia_lisia

Kembali Menantang Diri

Puas dengan ajang pertamanya, Patricia kembali menantang dirinya di tahun 2023 dengan mengikuti ajang sepeda bergengsi Trans Nusantara Race. Perlombaan yang dimulai dari Sabang hingga Golo Mori di Labuan Bajo ini menuntutnya menempuh jarak 4.800 km dalam waktu 20 hari.

Namun, dari sekian banyak ajang yang telah ia jalani, ada satu yang sangat berkesan di hatinya, yaitu Silk Road Mountain Race di Kirgistan pada tahun 2023 dengan rute 1.880 km. Perlombaan ini melewati Pegunungan Tian Shan di Kirgistan. Menurutnya, ajang ini sangat melelahkan karena ia harus bersepeda di jalur gunung dengan mountain bike.

BACA JUGA: Sekar Kawung Merawat Biodiversitas dan Budaya Lewat Sandang

“Setiap hari, saya melewati rute naik-turun gunung, dengan jalur yang berbatu dan banyak kerikil. Naik gunung bisa mencapai 100 km, dan turunnya sangat menantang. Untung saya selamat tanpa cedera. Meski sangat melelahkan, pengalaman ini menyenangkan dan sangat prestisius bagi para pesepeda dunia,” imbuhnya.

Patricia telah menaklukkan berbagai ajang bergengsi. Ia tak menyangka bahwa berawal dari kebiasaan bersepeda ke kantor, hal ini membuka jalan baginya untuk menjadi pesepeda perempuan yang berhasil menembus berbagai tantangan. Ia juga meraih prestasi di ajang-ajang bergengsi.

Mengandung Banyak Makna

Bagi Patricia, bersepeda jarak jauh telah memberikan makna yang begitu besar dalam hidupnya. Ia merasakan kenikmatan perjalanan dengan cara yang berbeda. Ajang besar ini baginya lebih dari sekadar pencapaian olahraga.

Saat mengikuti ajang Bentang Jawa, Patricia berkesempatan singgah di warung-warung atau restoran 24 jam. Di sela perjalanan, ia bertemu dengan warga lokal yang ramah menyambutnya. Momen ini sangat berkesan, karena sebelumnya ia lebih sering melintasi Pulau Jawa menggunakan mobil atau bus lewat jalan tol, tanpa berinteraksi langsung dengan penduduk setempat.

Salah satu kenangan tak terlupakan bagi Patricia terjadi saat ia bersepeda jarak jauh dan berhenti di sebuah warung malam hari untuk beristirahat. Awalnya, ia merasa ragu karena tempat itu sepi dan gelap. Namun, pemilik warung justru menyambutnya dengan ramah dan memberikan selimut untuknya beristirahat.

“Itu membuat saya menyadari betapa baiknya orang-orang yang saya temui sepanjang perjalanan. Kebaikan-kebaikan kecil itu mengubah perspektif saya.”

Melepas Stres

Bersepeda telah memberikan banyak manfaat kesehatan bagi Patricia. Perubahan positif terjadi pada dirinya, baik dari segi fisik maupun mental.

“Dari sisi pekerjaan, saya merasa selalu fresh berkat aktivitas bersepeda. Bersepeda memberi saya waktu quality me-time yang sangat berharga. Ini membantu menghilangkan kepenatan, sehingga saya merasa lebih produktif,” ujar Patricia.

Tak hanya itu, ide-ide segar juga sering muncul saat dirinya bersepeda. Menurutnya, aktivitas ini memungkinkan otak untuk berpikir lebih jernih dan melepaskan semua stres.

Bagi Patricia, bersepeda adalah energi yang menggerakkan hidupnya. Sebagai pesepeda perempuan, ia mengakui bahwa bersepeda membutuhkan konsistensi, pengorbanan, dan keberanian untuk terus mencintai hobi ini. Melalui bersepeda, Patricia berhasil mendobrak rasa takutnya, membangun keberanian, dan mengembangkan kecintaannya terhadap olahraga ini.

Hobi yang dilakukan oleh Patricia ini bukan sekadar memberi manfaat pribadi, tetapi setiap kayuhan juga begitu berarti untuk bumi. Melalui bersepeda, ia telah meninggalkan jejak-jejak baik tanpa mengeluarkan emisi dan menebarkan semangat budaya ramah lingkungan ini kepada banyak orang.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/berkarier-tak-menghalangi-patricia-lisia-untuk-menekuni-hobi-bersepeda/feed/ 0
Tiga Pemuda Indonesia Boyong Pelajaran Berharga dari Cali https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tiga-pemuda-indonesia-boyong-pelajaran-berharga-dari-cali-untuk-tanah-air/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tiga-pemuda-indonesia-boyong-pelajaran-berharga-dari-cali-untuk-tanah-air https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tiga-pemuda-indonesia-boyong-pelajaran-berharga-dari-cali-untuk-tanah-air/#respond Wed, 15 Jan 2025 06:52:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=45691 Pada ajang Conference of the Parties to the Convention on Biological Diversity (COP16 CBD) di Cali, Kolombia, pada November tahun lalu, sekelompok pemuda Indonesia berkesempatan untuk hadir dan terlibat dalam […]]]>

Pada ajang Conference of the Parties to the Convention on Biological Diversity (COP16 CBD) di Cali, Kolombia, pada November tahun lalu, sekelompok pemuda Indonesia berkesempatan untuk hadir dan terlibat dalam perhelatan penting ini. Bagi mereka, pertemuan internasional ini menjadi ladang pengetahuan yang tak ternilai, sebuah wacana baru yang kaya akan pemahaman tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dunia.

Setelah kembali ke tanah air, para pemuda ini membawa pulang beragam pelajaran berharga yang kini siap untuk mereka aplikasikan dalam komunitas lokal mereka. Mereka bertekad untuk menerjemahkan ilmu dan semangat yang mereka peroleh di ajang tersebut dalam bentuk tindakan nyata. Hal itu guna memberi kontribusi dalam mengatasi permasalahan lingkungan yang semakin kompleks.

Dari enam pemuda yang berpartisipasi, tiga di antaranya—Naomi Waisimon, Novita Ayu Matoneng Oilsana, dan Andi Reza Zulkarnain—berkenan berbagi pengalaman dan refleksi mereka, setelah turut serta dalam pertemuan dengan delegasi dari berbagai penjuru dunia itu.

Beragam pengetahuan dan perspektif baru mereka serap selama konferensi keanekaragaman hayati dunia tersebut. Kini, dengan penuh semangat dan tekad, mereka siap membawa wawasan untuk memberi dampak positif di tengah masyarakat.

Mereka tidak hanya membawa pulang pengetahuan, tetapi juga komitmen untuk menjadi agen perubahan. Mereka bertekad menjaga kelestarian alam dan menghidupkan kembali kesadaran akan pentingnya keberagaman hayati sebagai kunci keberlanjutan kehidupan di bumi ini.

Tiga pemuda Indonesia membawa pelajaran berharga dari Cali. Foto: Istimewa

Tiga pemuda Indonesia membawa pelajaran berharga dari Cali. Foto: Istimewa

Suntikan Energi dan Semangat

Naomi, seorang perempuan asal Papua yang kini berkiprah sebagai social entrepreneur, mengungkapkan kegembiraannya. Ia dapat bertemu dengan banyak teman dari kelompok masyarakat adat di berbagai negara di Amerika Latin. Pertemuan itu menjadi saksi bahwa mereka, meskipun terpisah jarak dan budaya, memperjuangkan isu yang sama—pelestarian dan pemberdayaan masyarakat adat.

“Hal itu membuat saya merasa memiliki teman, terkait hal yang kami perjuangkan di Papua.”

Dalam ajang tersebut, ia mengikuti sebuah sesi Net Positive Commitments in Tourism – The Catalytic Function of One of the Largest Economic Sectors in the World yang sangat berkesan. Sesi itu telah membuka wawasan baru tentang pengelolaan di sektor pariwisata.

Ia belajar bahwa jika sektor pariwisata dikelola dengan bijaksana, sektor ini dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah ekonomi, perubahan iklim, dan pelestarian keanekaragaman hayati.

“Topik ini sangat sejalan dengan apa yang kami lakukan di Papua. Rasanya seperti mendapatkan penguatan energi dan semangat.”

Pertemuan dengan teman-teman baru dari kalangan muda juga memberikan dampak yang mendalam. Bagi Naomi, kesempatan untuk berdiskusi dan belajar bersama delegasi dari berbagai belahan dunia membuka matanya tentang berbagai solusi dan strategi yang sudah diterapkan di negara-negara lain.

BACA JUGA: Sekar Kawung Merawat Biodiversitas dan Budaya Lewat Sandang

Ia melihat bahwa Kolombia dan secara umum Amerika Latin, telah mampu menerapkan pengelolaan yang lebih terencana melalui berbagai lembaga yang membantu komunitas adat di sana.

Hal itu membuatnya semakin yakin bahwa Indonesia, khususnya Papua, juga dapat mewujudkan hal yang sama. Semua itu dapat terwujud jika ada kerja sama yang solid antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait. Naomi juga merasakan bahwa pengalaman ini membantunya lebih memahami titik-titik kritis dalam upaya penyelamatan keanekaragaman hayati global.

Tiga pemuda Indonesia membawa pelajaran berharga dari Cali. Foto: Istimewa

Tiga pemuda Indonesia membawa pelajaran berharga dari Cali. Foto: Istimewa

Saksikan Perjuangan di Cali

Cerita dari Cali juga datang dari Novita, pendiri komunitas BALENTA, yang merasakan begitu banyak pengetahuan dan konsep baru yang menarik selama mengikuti COP16. Salah satu yang paling berkesan baginya adalah pengalaman di Green Zone, yang dikemas sebagai bentuk kedaulatan dan perlawanan masyarakat adat.

Di Green Zone, Novita menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat adat dan komunitas lokal yang hadir di sana dengan tegas memperjuangkan hak mereka atas tanah dan kekayaan alam. Mereka berada di tenda-tenda atau di sepanjang pinggir Sungai Cali, menunjukkan komitmen kuat dalam mempertahankan hak-hak tersebut.

Mereka melawan dengan cara yang damai namun penuh kekuatan, yakni dengan membawa kekayaan alam dan pengetahuan lokal yang sangat berharga untuk dunia.

“Ini adalah cara mereka agar suara-suara mereka terdengar lebih keras, hingga ke pelosok dunia. Agar dunia tahu bahwa mereka juga ada di ruang-ruang kolaboratif, dan masyarakat adat dan komunitas lokal berdaulat penuh atas tanah dan kekayaan alamnya. Tidak ada yang berhak merusak atau merampasnya, apa pun iming-imingnya.”

Selama mengikuti konferensi, Novita menyadari bahwa para pemuda lokal memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang kedaulatan hidup masyarakat adat mereka. Mereka berjuang bersama dalam ruang-ruang diskusi dengan membawa pengetahuan lokal yang tak ternilai, serta kesadaran tentang pentingnya menjaga biodiversitas dan mengatasi perubahan iklim. Novita pun terkesan dengan kemampuan mereka dalam berbicara di depan umum.

Anak-anak tersebut berbagi pengalaman tentang konservasi frailejon, tanaman endemik yang tumbuh melalui proses panjang dan menjadi penjaga mata air. Novita juga bercerita tentang teman-teman dari Life of Pachamama, sebuah organisasi yang digagas oleh orang muda di Kolombia. Mereka memiliki jejaring komunitas yang sangat kuat, dan hampir semua anggotanya menjadi pembicara dalam sesi-sesi, bahkan sering diliput oleh media.

“Potensi dan pengetahuan lokal serta dukungan seperti inilah yang belum banyak Indonesia miliki, apalagi di Nusa Tenggara Timur (NTT).”

Tiga pemuda Indonesia membawa pelajaran berharga dari Cali. Foto: Istimewa

Tiga pemuda Indonesia membawa pelajaran berharga dari Cali. Foto: Istimewa

Ilmu Baru dari Cali

Bagi Novita, pengalaman pada ajang COP16 di Cali memberikan banyak ilmu baru. Mulai dari cara acara besar seperti itu dikemas dengan sangat menarik, hingga keterlibatan berbagai pihak dalam mengumpulkan dan merayakan kekayaan alam dan intelektual yang masyarakat adat miliki.

Salah satu keuntungan besar yang ia rasakan adalah semakin luasnya jejaring yang dapat ia bangun. Novita bertemu dengan banyak orang dari seluruh dunia, berbagi pengetahuan, dan saling belajar. Ini adalah impian yang akhirnya bisa terwujud baginya di COP16.

Kini, Novita berniat untuk membagikan pengalamannya di lingkup komunitas dan wilayahnya, khususnya di Alor. Menurutnya, ilmu tentang pemetaan isu dan pemberdayaan komunitas sangat penting untuk diterapkan di komunitas lokalnya. Hal ini agar mereka bisa lebih mandiri dalam menjaga dan mengelola kekayaan alam mereka.

Memperkaya Wawasan

Bagi Reza, yang menjabat sebagai Co-chair Young People Action Team (YPAT) UNICEF East Asia and Pacific (EAPRO), salah satu pengalaman paling berharga selama COP16 adalah kesempatan untuk bertemu dengan pemuda-pemuda luar biasa dari seluruh dunia.

Mereka datang membawa pengalaman, perspektif, dan praktik baik yang berasal dari komunitas mereka masing-masing. Salah satu sesi yang sangat mempengaruhi dirinya adalah LAB of Youth Engagement and Participation oleh CAF.

“Dalam sesi ini, saya bekerja sama dengan kelompok yang berfokus pada perlindungan komunitas terdampak proyek tambang. Bersama-sama, kami merancang pendekatan yang melibatkan pelatihan, dukungan langsung, dan penciptaan peluang kerja. Proses ini mengajarkan saya bagaimana memadukan strategi berbasis komunitas dengan advokasi kebijakan.”

Reza juga sangat terinspirasi oleh proyek-proyek yang telah pemuda laksanakan di berbagai negara. Seperti upaya pemuda Kolombia dalam menciptakan ruang publik ramah lingkungan, yang berhasil didorong oleh kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta. Pengalaman-pengalaman ini memberinya wawasan baru tentang bagaimana anak muda bisa berperan besar dalam menciptakan perubahan positif di komunitas mereka.

BACA JUGA: Monika Maritjie Kailey, Perempuan Penjaga Kekayaan Alam Kepulauan Aru

Namun, salah satu pengalaman yang paling mengesankan baginya adalah kesempatan untuk menyaksikan secara langsung proses negosiasi global yang sedang berlangsung. Terutama yang berkaitan dengan pembentukan kesepakatan mengenai keanekaragaman hayati.

“Momen ini benar-benar mengubah cara pandang saya tentang kompleksitas politik internasional. Setiap kata dalam rancangan perjanjian memiliki dampak yang sangat luas. Sebagai seorang pemuda dari wilayah pedesaan Indonesia, duduk di ruangan yang sama dengan delegasi dari seluruh dunia adalah pencapaian yang luar biasa.”

Ada pengalaman yang begitu istimewa baginya. Reza berkesempatan berbicara di berbagai forum internasional. Selain itu, ia diwawancarai oleh media lokal maupun internasional, termasuk oleh Cali Tourism Office.

Ia mengatakan, mengenakan pakaian adat Indonesia dalam setiap wawancara memberi rasa kebanggaan tersendiri baginya. Reza merasa bahwa melalui kesempatan ini, ia tidak hanya mewakili suara anak muda Indonesia, tetapi juga merasa bangga dapat memperkenalkan kekayaan budaya tanah air di panggung global.

Bertemu Tokoh Penting

Reza juga menyadari bahwa jaringan yang ia bangun selama COP16 sangat berharga untuk masa depannya. Reza merasa bersyukur bisa bertemu dengan tokoh-tokoh penting selama COP16. Di antaranya Grant Wilson dari Earth Law Centre dan Juan David Amaya dari Life of Pachamama.

“Diskusi dengan mereka memberi saya wawasan baru tentang advokasi berbasis komunitas dan strategi kebijakan. Semua ini menjadi sumber inspirasi untuk langkah-langkah saya ke depan, baik untuk organisasi yang saya pimpin, maupun untuk kolaborasi yang lebih besar.”

Reza juga mendapatkan banyak wawasan yang sangat relevan untuk ia terapkan dalam pekerjaannya. Salah satunya adalah peluncuran Modul Perjanjian Escazú oleh Life of Pachamama. Modul ini memberikan panduan praktis mengenai bagaimana anak muda dapat berpartisipasi dalam advokasi lingkungan. Salah satunya adalah cara mengakses informasi publik dan melindungi hak-hak lingkungan.

Pelajaran lain yang sangat berguna ia peroleh saat mengikuti sesi Forest Mapping and Monitoring Tools for IPLC. Di sesi ini, Reza belajar bagaimana komunitas adat dapat memanfaatkan teknologi untuk memetakan hutan dan melindungi keanekaragaman hayati. Pengetahuan ini sangat berguna bagi program pelestarian hutan bakau yang sedang ia jalankan bersama tim di Sulawesi Selatan.

Dengan berbagai pengetahuan baru tersebut, Reza menyatakan bahwa langkah berikutnya adalah mengintegrasikan hasil pembelajaran dari COP16 ke dalam proyek-proyek yang dijalankan oleh organisasinya. Ia berencana melakukannya melalui beberapa pendekatan. Seperti edukasi kepada anak muda dan masyarakat, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta advokasi kebijakan berbasis bukti.

Bagi Reza, pengalaman di COP16 semakin memperkuat komitmennya untuk terus mendorong aksi nyata. Ia bertekad untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan pelestarian keanekaragaman hayati dengan langkah-langkah yang konkret.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tiga-pemuda-indonesia-boyong-pelajaran-berharga-dari-cali-untuk-tanah-air/feed/ 0
Sekar Kawung Merawat Biodiversitas dan Budaya Lewat Sandang https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sekar-kawung-merawat-biodiversitas-dan-budaya-lewat-sandang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sekar-kawung-merawat-biodiversitas-dan-budaya-lewat-sandang https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sekar-kawung-merawat-biodiversitas-dan-budaya-lewat-sandang/#respond Tue, 31 Dec 2024 05:16:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=45531 Jakarta (Greeners) – Sekar Kawung merangkul warga desa yang secara arif mengolah keanekaragaman hayati atau biodiversitas lokal menjadi bahan sandang. Dengan cinta mendalam terhadap kekayaan biodiversitas dan kebudayaan tanah air, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sekar Kawung merangkul warga desa yang secara arif mengolah keanekaragaman hayati atau biodiversitas lokal menjadi bahan sandang. Dengan cinta mendalam terhadap kekayaan biodiversitas dan kebudayaan tanah air, komunitas ini membawa karya-karya masyarakat lokal dari penjuru nusantara ke dunia fesyen lestari kontemporer.

Di tengah industri fesyen yang terkenal sebagai salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia, Sekar Kawung melihat bahwa kain tradisional yang seluruhnya buatan tangan dari bahan lokal adalah sebuah solusi.

Inisiatif pengembangan ekosistem lestari dalam fesyen ini berawal dari perjalanan Chandra Kirana Prijosusilo. Ia adalah seorang perempuan yang meyakini bahwa Indonesia dapat mengembangkan ekonomi lestari yang tangguh. Keyakinannya itu didasarkan pada pentingnya merawat biodiversitas dan memupuk kebudayaan-kebudayaan lokal agar terus berkembang.

BACA JUGA: Altereco Gerakkan Aksi Pelestarian Lingkungan di Pulau Lombok

Sekar Kawung berdiri pada tahun 2015 dan mulai fokus pada pelestarian biodiversitas melalui kain tenun di desa Lambanapu Sumba Timur dan dusun Sungai Utik di Kalimantan Barat. Keduanya menghasilkan tenun-tenun warna alami. Namun, ternyata tenun Sumba Timur jauh lebih berwarna.

Sekar Kawung belajar bahwa meskipun sebagian besar Sumba Timur terdiri dari sabana yang gersang, desa-desa tenunnya cenderung rimbun seperti oasis hijau. Kerimbunan ini berkat perawatan desa-desa tenun terhadap sejumlah besar tanaman yang diperlukan untuk bahan pewarnaan alaminya.

Penenun perempuan di Sumba Timur sedang memamerkan hasil tenunnya. Foto: Sekar Kawung

Penenun perempuan di Sumba Timur sedang memamerkan hasil tenunnya. Foto: Sekar Kawung

Belajar dan Bertumbuh Lestarikan Alam

Sekar Kawung meyakini bahwa keragaman motif pada sandang mencerminkan pengaruh biodiversitas. Misalnya, kain-kain tenun dari Kalimantan Barat sering menampilkan sulur-sulur pakis yang tumbuh di hutan. Kemudian, beberapa benang terbuat dari serat daun ulap doyo, tanaman hutan lokal.

Berbeda dengan itu, kain tenun tradisional di Sumba Timur berhias motif bunga pare hutan. Bunga ini merupakan tanaman yang tumbuh di lingkungan alam mereka.

Sementara itu, di desa-desa Tuban, motif kainnya antara lain menggambarkan bunga jati, kelopak daun bunga kapas, dan burung srigunting. Seluruhnya merupakan bagian dari biodiversitas lokal yang ada di sana.

Di Sumba Timur, Sekar Kawung berkolaborasi dengan para artisan tenun. Mereka bekerja sama untuk merestorasi lahan dengan tanaman pewarna alami, sekaligus mengembangkan ekonomi desa berbasis budaya tenun.

BACA JUGA: Sentuhan Alam di Rumah Mahika: Mengukir Jejak Pangan Lestari

Proses tersebut melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari anak-anak yang berpartisipasi dalam program photovoice untuk mengenali budaya tenun dan lingkungan sekitar, hingga para tetua masih memahami makna simbol-simbol yang terlukis pada kain-kain mereka.

“Intinya, Sekar Kawung berusaha menguatkan Desa Lambanapu untuk menjadi tujuan wisata budaya tenun yang warga desa kelola,” ungkap Chandra kepada Greeners.

Chandra mengambil banyak pelajaran penting dari proses pendampingan di Lambanapu. Ia kini memahami bahwa pelestarian biodiversitas yang dibutuhkan untuk tenun juga memerlukan kepekaan dalam merawat dan mengangkat biodiversitas, yang digunakan dalam aspek-aspek budaya lainnya.

Chandra Kirana Prijosusilo bersama pembatik Tuban, Jawa Timur. Foto: Sekar Kawung

Chandra Kirana Prijosusilo bersama pembatik Tuban, Jawa Timur. Foto: Sekar Kawung

Mulai Mengenal Tanaman Kapas

Dari kolaborasi dengan para artisan tenun di Lambanapu, Sekar Kawung semakin teguh dalam keyakinannya bahwa pelestarian biodiversitas dapat terwujud melalui penguatan budaya dan pembangunan ekonomi lestari di desa-desa. Namun, pada saat yang sama, Chandra mulai menyadari kenyataan bahwa sektor tenun tradisional Indonesia tengah menghadapi tantangan besar.

“Hampir seluruh benang dalam tenun Lambanapu berasal dari benang toko, yang tentu saja terbuat dari kapas impor, mengingat Indonesia belum memproduksi kapasnya sendiri,” imbuhnya.

Proses produksi kapas impor ini sayangnya merusak sumber daya alam, mengonsumsi air dalam jumlah besar, dan menggunakan pestisida. Hal ini disayangkan karena meskipun setiap helai kain melewati proses pewarnaan alami dan dikerjakan handmade, kain-kain tersebut tidak bisa diklaim berkelanjutan.

Chandra juga menyadari bahwa fesyen adalah salah satu industri penyumbang polusi terbesar. Sekitar 9% dari total emisi dunia berasal dari fesyen. Proses produksi benang dan kain adalah bagian terbesar dari rantai pasokan yang mencemari.

Mereka akhirnya menemukan sebuah desa di Tuban, yang unik dan luar biasa. Di sana, para artisan masih menenun kain dari benang yang mereka buat sendiri. Mereka menggunakan kapas yang tertanam di tanah mereka sendiri sebagai bahan baku utama.

Kapas Tuban, dengan warna cokelat dan putih alami, adalah tanaman semusim yang dapat dipanen dalam waktu sekitar lima bulan. Hasil dari setiap helai kain tidak hanya sarat makna, tetapi juga penuh keberlanjutan.

Inovasi untuk Kemandirian Kapas

Dalam pandangan Chandra, kemandirian kapas yang para artisan di Tuban miliki ini mencerminkan kearifan lokal yang mendalam. Di tanah Tuban yang gersang, para petani menggunakan metode tumpangsari untuk menanam kapas bersama tanaman lain. Metode ini mereka lakukan di halaman rumah atau pagar pemisah lahan, tanpa mengurangi lahan untuk tanaman pangan.

Kapas ini menjadi pelengkap yang menyediakan bahan baku bagi penenun dan pembatik lokal, untuk menciptakan produk “slow fashion” berkualitas tinggi dan sepenuhnya handmade. Produk-produk ini tidak bisa diproduksi massal, bernilai jual tinggi, namun hanya bisa dibuat oleh maestro tenun gedog yang sangat terampil.

Sekar Kawung pun berinovasi untuk meningkatkan hasil kapas agar dapat menghasilkan benang pabrikan. Pada tahun 2021, mereka menanam kapas di lahan seluas 3.500 meter persegi, berpadu dengan jagung dan kacang hijau. Hasilnya, mereka panen 496 kg kapas, yang menghasilkan sekitar 230 kg serat murni setelah terpisah dari bijinya.

Kemudian, mereka mengirim kapas ini ke pabrik untuk mengubahnya menjadi benang yang lebih halus dan kuat, sehingga dapat mereka tenun dengan alat ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Teknologi ATBM ini, meski masih berbasis tangan, tetapi lebih efisien dan bisa menghasilkan kain hingga 100 meter sekaligus.

Sekar Kawung pun berkolaborasi dengan penenun ATBM di Klaten, Yogyakarta, dan Pekalongan untuk menenun benang-benang tersebut menjadi kain. Desainer kemudian mengambil kain itu atau mengirimkannya kembali ke Tuban untuk dibatik oleh kaum muda setempat.

Setelah melewati perjalanan ini, Sekar Kawung akhirnya mendampingi petani kapas, pemintal benang, penenun, hingga pembatik. Mereka juga berkolaborasi dengan desainer dan jenama fesyen untuk membeli, mengembangkan produk, dan memasarkan produk yang terbuat dari kain-kain karya para artisan dampingan Sekar Kawung.

Jalin Kolaborasi

Sekar Kawung meyakini bahwa fesyen lestari pada hakikatnya harus memenuhi tiga prinsip sirkuleritas. Pertama, bahan harus alami dan dapat kembali terurai menjadi tanah. Kedua, ide-ide kreatif dan pertukaran budaya harus terus terjadi di antara semua pelaku sepanjang rantai nilai. Ketiga, keuntungan finansial harus mengalir secara sirkuler dan berkeadilan.

Dengan keyakinan tersebut, akhirnya pada tahun 2022 Sekar Kawung bekerja sama dengan jenama Lemari Lila untuk meluncurkan koleksi Mulih, yang bermakna “pulang.”

Sekar Kawung juga berkolaborasi dengan Studio Sejauh milik Chitra Subyakto, desainer fesyen dan pemilik jenama Sejauh Mata Memandang. Dalam kolaborasi ini, Sekar Kawung menyediakan kain-kain hasil karya artisan tenun dan batik Tuban.

Selain itu, Sekar Kawung menyuplai benang dari hasil bumi Tuban. Lalu, Sejauh Mata Memandang mengolah benang dan kain tersebut lebih lanjut.

Chandra menyampaikan bahwa Sekar Kawung berupaya membangun kesadaran bahwa fesyen lestari sesungguhnya merupakan hasil bumi yang diolah secara kreatif. Hal ini juga selaras dengan budaya lokal Indonesia, untuk menciptakan keberkahan ekonomi bersama bagi seluruh pelaku di sepanjang rantai nilai tersebut.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sekar-kawung-merawat-biodiversitas-dan-budaya-lewat-sandang/feed/ 0
Merangkul Lintas Agama Merawat Bumi, Hening Parlan Raih ‘Planet Award’ https://www.greeners.co/sosok-komunitas/merangkul-lintas-agama-merawat-bumi-hening-parlan-raih-planet-award/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=merangkul-lintas-agama-merawat-bumi-hening-parlan-raih-planet-award https://www.greeners.co/sosok-komunitas/merangkul-lintas-agama-merawat-bumi-hening-parlan-raih-planet-award/#respond Tue, 24 Dec 2024 06:25:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=45516 Jakarta (Greeners) – Hening Parlan, sosok perempuan yang tekun merangkul persatuan lintas agama untuk merawat bumi, meraih penghargaan Planet Award dari Kedutaan Inggris di Jakarta. Penghargaan ini menjadi buah dari […]]]>

Jakarta (Greeners)Hening Parlan, sosok perempuan yang tekun merangkul persatuan lintas agama untuk merawat bumi, meraih penghargaan Planet Award dari Kedutaan Inggris di Jakarta. Penghargaan ini menjadi buah dari inisiatif-inisiatifnya dalam mendorong keberlanjutan planet ini.

Pemberian penghargaan oleh Kedutaan Inggris ini dalam rangka merayakan 75 tahun hubungan diplomatik antara Inggris dan Indonesia. Penghargaan untuk Hening Parlan sekaligus mewakili kerja sama terbaik antara Inggris dan Indonesia dalam bidang lingkungan.

Atas penghargaan Planet Award tersebut, Hening merasa sangat bersyukur. Bagi Hening, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan pribadi, melainkan pengakuan atas kerja keras dan dedikasi banyak pihak. 

Ia mengungkapkan bahwa dedikasi itu tidak terlepas dari dukungan pegiat lingkungan dari Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, dan Green Faith Indonesia. Ketiga organisasi itu yang telah berjuang bersama dengannya dalam menciptakan kerukunan antarumat beragama dan keberlanjutan lingkungan. 

BACA JUGA: Monika Maritjie Kailey, Perempuan Penjaga Kekayaan Alam Kepulauan Aru

“Peran serta kita semua sangat penting. Tidak ada satu pihak pun yang dapat bekerja sendiri dalam menghadapi tantangan besar dampak perubahan iklim dan kerusakan lingkungan,” ungkap Hening lewat keterangan tertulisnya. 

Hening juga mengajak semua pihak untuk bergandeng tangan. Mulai dari lintas agama, budaya, dan sektor harus ikut menjaga serta melestarikan bumi ini demi generasi yang akan datang. Baginya, hanya dengan kebersamaan dan komitmen yang tulus dapat tercipta masa depan yang lebih baik bagi bumi dan masa depan. 

Hening Parlan meraih 'Planet Award' dari Kedutaan Inggris. Foto: PP Muhammadiyah

Hening Parlan meraih ‘Planet Award’ dari Kedutaan Inggris. Foto: PP Muhammadiyah

Pemimpin Inspiratif

Sepanjang perjalanannya sebagai aktivis lingkungan, Hening dikenal luas atas kepemimpinannya yang menginspirasi dalam berbagai inisiatif lingkungan. Mulai dari menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kemudian, ia juga menjabat Wakil Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. 

Sebagai seorang pemimpin, Hening telah berkontribusi besar dalam mendorong aksi-aksi keberlanjutan serta pengelolaan lingkungan yang menghargai keberagaman bersama organisasinya. 

Ia juga menjadi penggagas berbagai gerakan penting, seperti Eco Jihad, Green ‘Aisyiyah, Membangun Kepentingan  Keluarga dan Komunitas Menghadapi Pandemi Covid-19, serta Eco Bhinneka Muhammadiyah. Gerakan itu merupakan bagian dari Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA). 

BACA JUGA: Laudato Si’ Indonesia Hidupkan Gerakan Lingkungan untuk Umat Katolik

Hening juga turut berkontribusi dalam Global Forum for Climate Movement yang membentuk Muhammadiyah Climate Center (MCC), serta inisiatif 1000 Cahaya bersama ViriyaENB.

Selain itu, ia saat ini juga sedang menjabat sebagai Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, sebuah gerakan lintas agama yang berkomitmen mengurangi dampak perubahan iklim sejak 2023. Sebelumnya, Hening sudah aktif menjadi anggota GreenFaith Internasional sejak 2018.

Bangun Perdamaian Lewat Lingkungan 

Sebagai seorang perempuan yang memimpin berbagai program pelestarian lingkungan lintas agama, Hening telah menciptakan berbagai pendekatan baru dalam merawat bumi. Salah satunya adalah program Eco Bhinneka. Program tersebut mengusung konsep inovatif dalam membangun perdamaian melalui pengelolaan lingkungan dan keberagaman. 

Kata “Eco” merujuk pada ekologi, yaitu interaksi makhluk hidup dengan sesamanya dan lingkungan sekitar. Sementara, “Bhinneka” mengandung makna dari semboyan nasional Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu.

Program ini telah sukses membangun kerukunan antar umat beragama di Indonesia dengan pendekatan berbasis lingkungan di empat provinsi yang memiliki latar belakang dan keyakinan yang berbeda. Mulai dari Pontianak (Kalimantan Barat), Ternate (Maluku Utara), Surakarta (Jawa Tengah), dan Banyuwangi (Jawa Timur). 

Dedikasinya tak berhenti di situ. Sebagai Koordinator Program 1000 Cahaya, inisiatif Muhammadiyah untuk mendukung transisi energi, Hening telah mendorong penggunaan energi terbarukan di tempat-tempat pendidikan, ibadah, dan sosial, memperkuat gerakan menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan.

Dengan semangat dan dedikasi yang tak tergoyahkan, Hening Parlan telah menjadi sosok perempuan yang menginspirasi banyak pihak dalam perjuangan menjaga keberlanjutan bumi. Ia telah membuktikan bahwa kolaborasi lintas agama dalam pelestarian lingkungan mampu menciptakan dunia yang lebih baik dan harmonis bagi generasi mendatang.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani 

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/merangkul-lintas-agama-merawat-bumi-hening-parlan-raih-planet-award/feed/ 0
Monika Maritjie Kailey, Perempuan Penjaga Kekayaan Alam Kepulauan Aru https://www.greeners.co/sosok-komunitas/monika-maritjie-kailey-perempuan-penjaga-kekayaan-alam-kepulauan-aru/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=monika-maritjie-kailey-perempuan-penjaga-kekayaan-alam-kepulauan-aru https://www.greeners.co/sosok-komunitas/monika-maritjie-kailey-perempuan-penjaga-kekayaan-alam-kepulauan-aru/#respond Fri, 01 Nov 2024 07:42:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=45115 Jakarta (Greeners) – Kepulauan Aru yang terletak di Provinsi Maluku kaya akan keindahan alam dan biodiversitas yang unik. Namun, hak masyarakat adat sering terancam oleh oknum yang mengeksploitasi sumber daya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kepulauan Aru yang terletak di Provinsi Maluku kaya akan keindahan alam dan biodiversitas yang unik. Namun, hak masyarakat adat sering terancam oleh oknum yang mengeksploitasi sumber daya alam. Di tengah tantangan ini, Monika Maritjie Kailey atau Monik, muncul sebagai sosok perempuan tangguh yang berjuang untuk melindungi lingkungan dan hak-hak masyarakatnya.

Monik dibesarkan di kampung kecil Fatlabata. Orang tuanya mengajarkan nilai-nilai adat yang telah ada jauh sebelum manusia memiliki agama dan negara terbentuk. Meskipun hidup di era modern, Monik tetap berpegang pada warisan budaya yang membentuk identitasnya. Ia bertekad agar generasi mendatang tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga melihat dan merasakan realitasnya.

Partisipasinya dalam konferensi keanekaragaman hayati tingkat dunia, Conference of the Parties to the Convention on Biological Diversity (COP 16 CBD), di Cali, Kolombia, menjadi langkah besar. Di forum tersebut, Monik menyampaikan pesan bahwa selama berabad-abad, masyarakat adatlah yang menjaga hutan, laut, dan biodiversitas.

BACA JUGA: Menanti Penguatan Hukum untuk Cegah Kerusakan di Kepulauan Aru

Monik bercerita, Sekitar 65-70 persen masyarakat adat Aru bergantung pada hasil laut, dengan sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Hasil laut yang melimpah, seperti rumput laut, teripang, ikan, udang lobster, dan kepiting bakau, menjadi sumber kehidupan mereka. Monik menjelaskan bahwa masyarakat Aru memiliki aturan adat yang ketat. Misalnya, sebelum menebang pohon untuk membangun rumah, mereka harus menanam bibit pohon terlebih dahulu.

“Alam telah menyediakan apa yang kita butuhkan setiap hari. Karena itu, banyak hal yang masyarakat Aru lakukan untuk menjaga alam,” kata Monik.

Bagi Monik, memperjuangkan hak masyarakat adat bukan sekadar tindakan, melainkan tanggung jawab yang melekat pada jiwanya. Ia menyadari perjuangan ini bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk kehidupan banyak orang yang bergantung pada tanah dan laut yang mereka cinta.

Monika Maritjie Kailey Termotivasi Sosok Ayah

Motivasi Monik menjadi sosok terdepan untuk membela masyarakat adat Kepulauan Aru juga berasal dari sosok ayahnya. Ayahnya pernah berjuang bersama 117 kepala kampung lainnya dalam gerakan #SaveAru untuk melindungi hutan dan tanah masyarakat adat dari eksploitasi.

Menurut Monik, meskipun ayahnya tidak berpendidikan tinggi, tetapi pemikirannya yang tajam tentang alam sebagai penyedia utama kehidupan sangat menginspirasi dirinya. Dia memahami bahwa tanggung jawab untuk menyadarkan generasi muda adalah misi penting yang harus ia lanjutkan.

Ayahnya selalu menekankan, “Ketika kau berbicara tentang Aru dan memperjuangkan hak-hak masyarakat adat, kau tidak akan pernah mati sia-sia di tanah ini.” Kalimat tersebut membakar semangat Monik untuk terus berjuang, memastikan bahwa suara masyarakat adat tetap terdengar, dan keindahan Kepulauan Aru bisa dinikmati oleh generasi mendatang.

Dengan tekad yang kuat, Monik terus melangkah maju, mengingatkan kita semua tentang pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati dan menjaga warisan budaya yang sangat berharga.

Monika Maritjie Kailey. sosok perempuan tangguh yang berjuang untuk melindungi lingkungan dan hak-hak masyarakat Kepulauan Aru. Foto: Contentro

Monika Maritjie Kailey, sosok perempuan tangguh yang berjuang untuk melindungi lingkungan dan hak-hak masyarakat Kepulauan Aru. Foto: Contentro

Bukan Anak Perempuan Biasa di Kepulauan Aru

Saat tumbuh dewasa, Monik telah menjadi sosok perempuan inspiratif yang berani berdiri dan menyuarakan hak masyarakat adat Aru. Pencapaiannya pada saat ini tentu tak lepas dari kebiasaan yang ia jalani sejak kecil. Monik bukanlah sosok anak perempuan biasa.

Ketika rata-rata anak perempuan di kampungnya belajar memasak di dapur, Monik lebih suka mengikuti ayahnya berpetualang ke hutan dan laut. Ia masih ingat saat berusia sekitar tujuh tahun, ketika diajak ayahnya memasuki hutan dan tidur di gua beralaskan tempat tidur militer yang ditinggali kakak dari kakeknya. Di dalam gua-gua itu, ayahnya mengumpulkan sarang burung walet untuk dijual.

BACA JUGA: Enam Pemuda Indonesia Suarakan Isu Biodiversitas di COP16 CBD

“Dalam perjalanan dari satu gua ke gua lain, Papa mengajari kami membaca jejak berbagai hewan buruan, seperti rusa dan babi hutan. Saya juga pernah diajak berburu, melihat para pemburu menghalau binatang agar mendekati pemanah,” ungkap Monik.

Dari alam, Monik belajar banyak tentang mencari makan dan bertahan hidup. Ia tahu pohon mana yang harus dipanjat untuk menyelamatkan diri dari hewan berbahaya. Seperti babi bercula, rusa bertanduk besar, dan kasuari. Ia belajar membuat dan memasang perangkap untuk hewan. Selain itu, Monik juga belajar memilih kayu yang dapat digunakan untuk menghasilkan api.

Pengalaman tersebut membentuk Monik menjadi seorang pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri. Dari kesehariannya berpetualang di hutan dan laut, anak pertama dari enam bersaudara ini belajar bertanggung jawab dan menjadi panutan bagi adik-adiknya. Monik percaya bahwa apa yang ia pelajari di alam telah membentuknya menjadi sosok yang kuat dan berani, siap untuk memperjuangkan hak masyarakat adat Aru di panggung internasional.

Pendidikan sebagai Jalan Keluar dari Kegelapan

Perempuan yang sebelumnya berprofesi sebagai guru ini, suatu mendapat tawaran sangat menarik. Ia harus memilih antara uang atau sekolah.

Ia berpikir, dengan uang, ia bisa membantu masyarakat adat dalam proses pemetaan wilayah adat. Namun, uang bisa habis dalam waktu singkat, entah itu sebulan atau setahun. Di sisi lain, jika Monik melanjutkan pendidikan, ilmu yang ia dapat akan bertahan seumur hidup. Pemikiran ini akhirnya membawa Monik untuk memilih melanjutkan sekolah.

Monik menerima beasiswa dari Pemerintah Norwegia untuk belajar di jurusan English Linguistics and Language Acquisition di Norwegian University of Science and Technology. Ia menyadari bahwa pendidikan di Aru masih memerlukan perhatian serius dari generasi muda.

“Pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari kegelapan. Saya ingin menjadi salah satu orang yang berkontribusi terhadap dunia pendidikan di Aru. Saya ingin mempelajari bahasa Inggris, khususnya dalam bidang linguistik, dan membawa sesuatu yang baru ke dunia pendidikan di Aru,” ungkapnya.

Kini, dengan semangatnya, Monik terus melangkah maju untuk melindungi lingkungan dan hak-hak masyarakat adat. Ia berjuang memastikan bahwa tradisi dan kearifan lokal tetap hidup untuk generasi mendatang.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/monika-maritjie-kailey-perempuan-penjaga-kekayaan-alam-kepulauan-aru/feed/ 0
Laudato Si’ Indonesia Hidupkan Gerakan Lingkungan untuk Umat Katolik https://www.greeners.co/sosok-komunitas/laudato-si-indonesia-hidupkan-gerakan-lingkungan-untuk-umat-katolik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=laudato-si-indonesia-hidupkan-gerakan-lingkungan-untuk-umat-katolik https://www.greeners.co/sosok-komunitas/laudato-si-indonesia-hidupkan-gerakan-lingkungan-untuk-umat-katolik/#respond Thu, 26 Sep 2024 03:17:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=44836 Jakarta (Greeners) – Komunitas agama kini kian aktif menggaungkan kepedulian terhadap lingkungan. Salah satu contoh nyata adalah Komunitas Laudato Si’ Indonesia yang digaungkan oleh umat Katolik. Laudato Si’ merupakan ensiklik […]]]>

Jakarta (Greeners) – Komunitas agama kini kian aktif menggaungkan kepedulian terhadap lingkungan. Salah satu contoh nyata adalah Komunitas Laudato Si’ Indonesia yang digaungkan oleh umat Katolik.

Laudato Si’ merupakan ensiklik yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2015, yang menekankan pentingnya isu lingkungan hidup. Terciptanya gerakan yang membawa pesan Laudato Si’ ini muncul dari sosok pemuda asal Argentina, Thomas Insua, setelah melihat minimnya gerakan lingkungan hidup di kalangan Gereja Katolik.

Thomas pun menghubungi berbagai pihak di dalam Gereja dan bersama-sama melahirkan gerakan Global Catholic Climate Movement (GCCM). Gerakan ini diluncurkan saat kunjungan Paus Fransiskus ke Manila di tahun 2015.

BACA JUGA: Teladani Kesederhanaan dan Kepedulian Lingkungan Paus Fransiskus

Koordinator Nasional Gerakan Laudato Si’ Indonesia, Cyprianus Lilik Krismantoro Putro, menyatakan komunitas ini dirintis di tanah air pada tahun 2021. Kehadiran Laudato Si’ Indonesia  turut berkontribusi pada upaya pelestarian lingkungan di kalangan Gereja Katolik.

“Dalam workshop pasca 50 tahun FABC di Siem Reap, Kamboja, tahun 2020 saya bertemu dengan Cheryl Dugan, koordinator GCCM Asia-Pasifik yang memperkenalkan gerakan ini pada saya. Karena gerakan ini belum ada di Indonesia, maka Ibu Agnes Winaryati dan saya memutuskan untuk merintis Gerakan Laudato Si’ Indonesia sebagai respons terhadap kebutuhan ini,” ungkap Lilik kepada Greeners melalui sambungan telepon, Senin (23/9).

Di Indonesia, gerakan Laudato Si’ telah hadir di berbagai daerah. Di antaranya Medan, Manado, Sintang, Atambua, Soe, Jakarta, Jayapura, Makassar Lampung, Bogor, Balikpapan, Bandung, Purwokerto, Cilacap, Banjarnegara, Semarang, Yogyakarta, Malang, dan Surabaya. Lilik juga memperluas kemitraan dengan komunitas lingkungan setempat untuk meningkatkan jangkauan gerakan ini.

Bersihkan Sampah saat Kunjungan Paus

Komunitas Laudato Si’ Indonesia secara aktif melakukan aksi-aksi lingkungan dalam berbagai kegiatan besar. Salah satunya, pada tahun 2024, mereka ikut menyuarakan isu lingkungan hidup dan membersihkan sampah saat acara misa akbar bersama Paus Fransiskus di Jakarta.

Pada kesempatan itu, sebanyak 300 relawan dari Laudato Si’ Indonesia berpartisipasi dengan sukarela. Mereka membawa pesan penting bahwa setiap orang harus bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan.

BACA JUGA: Paus Fransiskus: Jangan Jadikan Tambang Emas Alasan untuk Bertikai

Selama kegiatan berlangsung, para relawan mengenakan pakaian mencolok dan topi bundar yang unik. Mereka berkeliling mengingatkan pengunjung untuk tidak meninggalkan sampah di tribun. Para relawan juga membawa trash bag besar untuk mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan.

“Kami juga ikut melakukan dua kali penyapuan area untuk membersihkan sampah. Terutama botol plastik, banyak sekali kami temukan. Dengan semangat kolaborasi, kami berharap gerakan ini dapat terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak orang untuk beraksi demi lingkungan,” kata Lilik.

Lilik mengungkapkan bahwa Komunitas Laudato Si’ sangat bersyukur atas kedatangan Paus Fransiskus, khususnya bagi umat Katolik. Kedatangan ini merupakan sebuah momen yang penting dalam satu generasi.

“Kesempatan ini memungkinkan kami untuk berpartisipasi langsung dalam forum sebesar ini, yang sekaligus menjadi peneguhan bagi Komunitas Laudato Si’. Para relawan datang dengan sukarela untuk ikut menyuarkan pesan Laudato Si’ dan mengelola sampah, ini sebagai komitmen spiritual untuk menyampaikan pesan Laudato Si’ kepada umat Katolik,” kata Lilik.

Laudato Si’ Indonesia menghidupkan gerakan lingkungan untuk umat Katolik. Foto: KPA

Laudato Si’ Indonesia menghidupkan gerakan lingkungan untuk umat Katolik. Foto: Laudato Si’

Laudato Si’ Indonesia Buat Pelatihan

Sejak awal mula berdiri, Laudato Si’ Indonesia kinimemiliki berbagai kegiatan, baik secara langsung dan tidak langsung. Setiap tahunnya, mereka mengadakan beberapa pelatihan besar. Pertama, ada pelatihan untuk Animator Laudato Si’, yang terbuka untuk umum. Pelatihan ini memberikan pemahaman dasar tentang ensiklik Laudato Si’.

Di bulan Mei, mereka juga mengadakan kampanye Laudato Si’ Week. Kemudian, dari September hingga Oktober, mereka terlibat kampanye global yang melibatkan berbagai denominasi, baik Protestan maupun Katolik. Kampanye ini berlangsung selama sebulan penuh dengan fokus pada isu lingkungan hidup, dengan banyak kegiatan online dan offline di berbagai gereja.

Di akhir September atau awal Oktober, Laudato Si’ Indonesia juga mengadakan rapat kerja dan pertemuan nasional di Lampung. Pada bulan November, ada pelatihan untuk menjadikan paroki ramah lingkungan di Wonosobo.

Kegiatan lingkungan di setiap daerah sangat beragam. Laudato Si’ tidak hanya mencakup isu lingkungan, tetapi juga kemiskinan yang tergantung pada permasalahan spesifik di setiap daerah.

Mendorong Aksi di Setiap Paroki

Simpul-simpul Komunitas Laudato Si’ Indonesia telah banyak terbentuk, meskipun belum semuanya aktif. Saat ini, mereka terus berupaya membawa pesan Laudato Si’ kepada umat gereja, mengingat penyebaran pesan ini masih terbatas.

Dengan demikian, Laudato Si’ Indonesia terus mendorong gerakan lingkungan hingga ke paroki-paroki terkecil. Saat ini, mereka memiliki tiga fokus utama, yaitu pertobatan ekologis, perubahan gaya hidup, dan kebijakan.

Selain itu, pengurus Laudato Si’ Indonesia juga berencana untuk menggaungkan pesan Laudato Si’ ke sekolah-sekolah Katolik dan universitas guna menanamkan semangat pelestarian lingkungan di kalangan generasi muda.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/laudato-si-indonesia-hidupkan-gerakan-lingkungan-untuk-umat-katolik/feed/ 0
30 Tahun Advokasi Lingkungan, Yuyun Ismawati Terpilih Menjadi Co Chair IPEN https://www.greeners.co/sosok-komunitas/30-tahun-advokasi-lingkungan-yuyun-ismawati-terpilih-menjadi-co-chair-ipen/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=30-tahun-advokasi-lingkungan-yuyun-ismawati-terpilih-menjadi-co-chair-ipen https://www.greeners.co/sosok-komunitas/30-tahun-advokasi-lingkungan-yuyun-ismawati-terpilih-menjadi-co-chair-ipen/#respond Tue, 20 Aug 2024 05:49:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=44540 Jakarta (Greeners) – Yuyun Ismawati terpilih sebagai Co-Chair IPEN (International Pollutans Elimination Network). Ia menduduki posisi kepemimpinan utama dalam jaringan global tersebut. Yuyun telah berdedikasi lebih dari 30 tahun dalam […]]]>

Jakarta (Greeners) – Yuyun Ismawati terpilih sebagai Co-Chair IPEN (International Pollutans Elimination Network). Ia menduduki posisi kepemimpinan utama dalam jaringan global tersebut. Yuyun telah berdedikasi lebih dari 30 tahun dalam advokasi kesehatan lingkungan dan kebijakan bahan kimia serta limbah.

Perempuan asal Bandung ini juga meraih berbagai penghargaan. Pada 2009, Yuyun menerima Goldman Environmental Prize atas karyanya yang inovatif dalam mengurangi polusi dan limbah.

Sebagai Co-Chair IPEN, Yuyun akan berbagi tanggung jawab dengan Pamela Miller dari Alaska Community Action on Toxics. IPEN adalah jaringan masyarakat sipil global yang terdiri dari lebih dari 600 kelompok di 125 negara yang berfokus pada kesehatan lingkungan.

Sebelumnya, posisi Yuyun diduduki oleh Tadesse Amera. Namun, ia mengundurkan diri setelah menjabat sebagai Co-Chair IPEN sejak 2018. Di bawah kepemimpinannya, IPEN mencapai berbagai kemenangan signifikan, termasuk kampanye melawan pestisida berbahaya, plastik beracun, dan merkuri.

BACA JUGA: Risiko Kesehatan Pekerja Pabrik Cat Bertimbal Sangat Tinggi

Selama periode ini, IPEN juga mengalami pertumbuhan signifikan, memperluas jaringan, dan meningkatkan kapasitas staf serta dukungan untuk organisasi peserta. Amera kini menjabat sebagai Koordinator Internasional Pesticide Action Network International dan tetap sebagai Direktur Eksekutif Pesticide Action Nexus Ethiopia.

IPEN bekerja untuk menghilangkan ancaman terhadap kesehatan dan lingkungan dari bahan kimia berbahaya. Tujuannya untuk menciptakan masa depan bebas racun untuk semua.

IPEN memainkan peran penting dalam kebijakan bahan kimia global. Jaringan ini membantu membentuk perjanjian pertama yang melarang bahan kimia paling berbahaya di dunia, yaitu Konvensi Stockholm. IPEN juga terus berpengaruh dalam penerapan Konvensi Stockholm serta perjanjian lain yang mengatur bahan kimia dan limbah, seperti Konvensi Rotterdam, Konvensi Basel, dan Perjanjian Merkuri Minamata.

Di tingkat lokal di Indonesia, IPEN sering melakukan studi terkait bahan kimia berbahaya bersama Nexus3 Foundation. Contohnya, tahun ini IPEN bersama Nexus3 melakukan studi mengenai risiko kesehatan tinggi bagi pekerja cat bertimbal di Indonesia.

Aksi oleh Nexsus3 Foundation.

Aksi oleh Nexsus3 Foundation.

Yuyun Mendirikan Nexus3 Foundation

Di samping itu, Yuyun juga aktif dalam advokasi kesehatan lingkungan di Indonesia. Ia adalah pendiri dan penasihat senior Nexus3 Foundation. Organisasi tersebut melindungi masyarakat dari dampak pembangunan terhadap kesehatan dan lingkungan serta berupaya menuju masa depan yang adil, bebas racun, dan berkelanjutan.

Kariernya dikenal dengan pendekatan kolaboratif dan solusi inovatif untuk mengatasi tantangan lingkungan. Termasuk merkuri di pertambangan emas, bahan kimia dalam plastik, serta limbah lainnya.

Yuyun pernah menjadi anggota Komite Pengarah IPEN, memimpin upaya penghapusan merkuri, serta mewakili IPEN dalam negosiasi Perjanjian Plastik dan peran kepemimpinan lainnya.

BACA JUGA: Di Indonesia Masih Ada Cat Bertimbal, Arsitek Harus Tolak!

Dalam keterlibatannya dengan IPEN, Yuyun berharap dapat berbagi pemahaman tentang masalah lingkungan dan pentingnya respons global yang terpadu.

“Saya berharap dapat bekerja sama dengan Pam Miller. Sebagai Co-Chairs, kami akan membangun konsensus, mengasah visi strategis IPEN, dan menunjukkan komitmen teguh IPEN terhadap keberlanjutan dan masa depan bebas racun,” kata Yuyun dalam keterangan tertulisnya, Jumat (16/8).

Yuyun Ismawati Panutan dan Inspirasi di IPEN

Co-Chair IPEN, Pam Miller, menyatakan bahwa Yuyun telah lama menjadi panutan di IPEN. Pam merasa terhormat menjabat bersama Yuyun sebagai Co-Chair.

“Ini adalah waktu penting untuk mengatasi tiga krisis planet—perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi beracun. Pengalaman puluhan tahun Yuyun sangat penting untuk mengatasi tantangan-tantangan ini. Saya yakin dia akan menjadi kekuatan penting dan memberi energi pada jaringan IPEN yang dinamis dan efektif,” ungkap Pam.

Selain Goldman Environmental Prize, Yuyun adalah Ashoka Fellow dan Fellow dari Leadership for Environment and Development (LEAD), yang menunjukkan kepemimpinannya dalam pembangunan berkelanjutan.

Yuyun Ismawati memiliki gelar Sarjana Teknik Lingkungan dari Institut Teknologi Bandung, gelar MSc dalam Environmental Change and Management dari Universitas Oxford pada tahun 2011, dan diploma dalam Medical Research-International Health dari Ludwig Maximilian University of Munich yang diperolehnya pada tahun 2018.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/30-tahun-advokasi-lingkungan-yuyun-ismawati-terpilih-menjadi-co-chair-ipen/feed/ 0
Sentuhan Alam di Rumah Mahika: Mengukir Jejak Pangan Lestari https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sentuhan-alam-di-rumah-mahika-mengukir-jejak-pangan-lestari/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sentuhan-alam-di-rumah-mahika-mengukir-jejak-pangan-lestari https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sentuhan-alam-di-rumah-mahika-mengukir-jejak-pangan-lestari/#respond Thu, 15 Aug 2024 07:21:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=44488 Jakarta (Greeners) – Terletak di tengah luasnya lahan perkebunan dan peternakan, Rumah Mahika telah memanfaatkan berkah tersebut secara optimal. Komunitas di Ciawi, Kabupaten Bogor ini memanfaatkan lahannya untuk menanam tanaman […]]]>

Jakarta (Greeners) – Terletak di tengah luasnya lahan perkebunan dan peternakan, Rumah Mahika telah memanfaatkan berkah tersebut secara optimal. Komunitas di Ciawi, Kabupaten Bogor ini memanfaatkan lahannya untuk menanam tanaman pangan dan memproduksi olahan pangan secara berkelanjutan.

Sebagai komunitas yang fokus pada bidang pangan, Rumah Mahika juga menyediakan ruang bagi publik untuk merasakan pengalaman berkebun, mengolah, mengonsumsi, serta melestarikan pangan lokal.

Inisiatif ini digagas oleh Adi Dwianto, founder Rumah Mahika. Melalui jalannya, Adi telah menciptakan sistem pangan yang lebih lestari. Inisiatifnya memberikan manfaat besar untuk mendukung pangan berkelanjutan di tengah banyaknya permasalahan lingkungan saat ini.

Rumah Mahika berdiri sejak tahun 2021. Melalui komunitas ini, Adi bertujuan untuk menumbuhkan ekosistem yang lestari serta komunitas yang resiliensi dan berdaya. Keluarga menjadi salah satu motivasi utama Adi dalam mendirikan komunitas ini.

Adi sering menyebut Rumah Mahika sebagai komunitas yang ‘bestari’ untuk keluarga, karena kekhawatirannya terhadap krisis lingkungan seperti perubahan iklim, perubahan sosial budaya, dan perubahan ekonomi di masa depan.

BACA JUGA: Wibu4Planet: Pecinta Pop Jepang yang Beraksi untuk Lawan Krisis Iklim

“Setelah pandemi, saya merasa ada urgensi untuk mengerjakan proyek yang bisa memberikan ekosistem berkelanjutan di masa depan,” ujar Adi kepada Greeners melalui telepon, Minggu (11/8).

Adi menganggap komitmennya dalam membangun dan menjaga ekosistem pangan lestari serta membentuk komunitas bestari, sebagai salah satu privilese terbesar yang dapat ia berikan kepada keluarganya.

Menurut Adi, penting bagi setiap orang untuk terhubung dengan pangan yang mereka konsumsi. Termasuk mengetahui asal-usulnya, siapa petani atau komunitas lokal yang memproduksinya, serta ekosistem pertaniannya. Hal ini penting untuk menyadari dampak sistem pangan, seperti kesenjangan sosial, masalah kesehatan, hilangnya pengetahuan dan kearifan lokal, serta kerusakan lingkungan.

Ilustrasi mengolah bahan pangan. Foto: Rumah Mahika

Ilustrasi mengolah bahan pangan. Foto: Rumah Mahika

Pasarkan Produk Olahan Pangan

Luas lahan kebun dan peternakan Rumah Mahika sekitar dua hektare. Namun, saat ini baru setengah dari luas tersebut yang Adi manfaatkan untuk menanam dan beternak.

Publik pun bisa mengikuti program kegiatan di Rumah Mahika, seperti kegiatan berkebun di Kebun Mahika. Kebun ini telah berhasil mengembangkan ekosistem hortikultura, hutan pangan, silvopasture, dan akuakultur melalui penerapan desain dan pengelolaan pertanian yang selaras dengan alam.

Publik dapat merasakan pengalaman berkebun di Kebun Mahika bersama para petani. Kebun Mahika menanam berbagai jenis tanaman pangan, termasuk sorgum, hanjeli, talas belitung (kimpul), ganyong, ubi jalar, singkong, serta berbagai sayuran dan buah-buahan.

Selain itu, Adi juga mendirikan Studio Mahika sebagai ruang untuk mengembangkan dan memproduksi hasil pangan dari Kebun Mahika. Dari hulu hingga hilir, Rumah Mahika memproduksi olahan pangan secara bertanggung jawab untuk disalurkan ke konsumen.

BACA JUGA: Eathink Ajak Konsumen Lebih Bijak Pilih Makanan

“Kami menyajikan produk pangan yang difermentasi, selai, dan sirup. Kami juga mencoba pengeringan, penepungan, dan produk turunan lainnya dari hasil pangan tersebut,” imbuh Adi.

Produk olahan tersebut akan Adi pasarkan secara offline maupun online melalui Warung Mahika. Produk-produk yang ditawarkan mencakup minuman bersoda hasil fermentasi, manisan pala, dan selai rosella. Saat ini, Rumah Mahika juga sedang mengembangkan tepung sorgum mokaf.

Nikmati Hasil Pangan dari Kebun Mahika

Kebun Mahika tidak hanya ditujukan untuk komunitas. Melalui kolaborasi, Adi dapat mengajak publik untuk mengikuti aktivitas di Rumah Mahika.

Sejumlah komunitas, sekolah, dan lembaga telah berkolaborasi dengan komunitas tersebut. Mereka tidak hanya terlibat dalam kegiatan berkebun, tetapi juga mengajak pengunjung untuk mengonsumsi makanan hasil kebun melalui program ‘farm to table‘ atau ‘dari kebun ke meja’.

“Konsep ‘farm to table‘ bisa bermacam-macam. Kami sering mengolah hasil kebun menjadi hidangan untuk dinikmati bersama. Biasanya kami bilang dari kebun ke meja makan,” tambah Adi.

Meski masih dalam skala kecil, komunitas tersebut memiliki banyak inovasi yang bermanfaat bagi bumi dan manusia. Adi berharap dapat terus menumbuhkan sistem pangan yang lestari dan gaya hidup berkelanjutan bagi banyak orang.

Kelola Limbah dan Sampah

Dalam menciptakan pangan berkelanjutan, Rumah Mahika tidak hanya fokus pada produksi pangan yang melimpah. Mereka juga memperhatikan berbagai aspek yang mendukung keberlanjutan pangan, seperti perawatan siklus air, tanah, dan biodiversitas pangan.

Rumah Mahika peduli terhadap limbah pangan dan telah melakukan berbagai upaya pengelolaan, termasuk komposting dengan metode thermal compost, BSF, dan aerated compost tea, serta pemilahan sampah organik, anorganik, B3, dan residu.

Selain itu, Rumah Mahika mengolah limbah dengan sistem greywater dan blackwater, serta menggunakan reedbed dan kolam untuk pengelolaan air limbah.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sentuhan-alam-di-rumah-mahika-mengukir-jejak-pangan-lestari/feed/ 0
Wibu4Planet: Pecinta Pop Jepang yang Beraksi untuk Lawan Krisis Iklim https://www.greeners.co/sosok-komunitas/wibu4planet-pecinta-pop-jepang-yang-beraksi-untuk-lawan-krisis-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=wibu4planet-pecinta-pop-jepang-yang-beraksi-untuk-lawan-krisis-iklim https://www.greeners.co/sosok-komunitas/wibu4planet-pecinta-pop-jepang-yang-beraksi-untuk-lawan-krisis-iklim/#respond Sat, 10 Aug 2024 05:00:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=44445 Jakarta (Greeners) – Komunitas dari berbagai bidang kini mulai bersuara mengenai bahaya krisis iklim. Salah satunya adalah sekelompok anak muda pencinta budaya Jepang, Wibu4Planet, yang secara lugas menyuarakan urgensi krisis […]]]>

Jakarta (Greeners) – Komunitas dari berbagai bidang kini mulai bersuara mengenai bahaya krisis iklim. Salah satunya adalah sekelompok anak muda pencinta budaya Jepang, Wibu4Planet, yang secara lugas menyuarakan urgensi krisis iklim dan melakukan berbagai aksi untuk mencegah kerusakan bumi.

Wibu4Planet merupakan komunitas bagi para pencinta pop kultur Jepang yang memiliki semangat untuk melawan krisis iklim. Saat ini mereka sedang berupaya mendorong pemerintah Jepang sebagai negara maju yang berpengaruh dalam transisi energi, untuk melakukan transisi energi bersih yang berkeadilan.

Penggagas Wibu4Planet, Cyva Ardian Pradhika menyatakan, meskipun Wibu4Planet baru terbentuk pada awal 2024 ini, namun misi yang Wibu4Planet bawa sangatlah besar.

“Komunitas ini didirikan sebagai respons terhadap krisis iklim yang semakin parah. Kami juga melihat adanya kebutuhan untuk melibatkan berbagai komunitas dalam upaya mengatasi krisis tersebut,” kata Cyva dalam keterangan tertulisnya, Jumat (2/8).

Wibu4Planet menyuarakan urgensi krisis iklim. Foto: Wibu4Planet

Wibu4Planet menyuarakan urgensi krisis iklim. Foto: Wibu4Planet

Maskot Nekobu, Kucing Penyayang Bumi

Wibu4Planet memiliki sebuah keunikan, yaitu keberadaan maskot bernama Nekobu yang mempunyai arti ‘Kucing Bumi’. Pada logo komunitas ini, terlihat Nekobu sedang memeluk bumi dengan erat. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Nekobu sayang pada bumi.

Cyva bercerita, manga dan anime di Jepang banyak terinspirasi dari kucing. Artinya, penggambaran wajah karakternya banyak diambil dari bentuk wajah kucing. Dalam sejumlah seri anime populer, kucing juga selalu muncul sebagai ikon. Maka, Wibu4Planet kemudian memikirkan perlunya maskot yang mewakili budaya pop yang sangat Jepang dan dekat dengan dunia manga.

“Hingga kemudian kami memilih neko, yang artinya kucing, sebagai simbol bahwa kucing tersebut sayang dan peduli bumi. Ia juga merupakan bagian dari bumi, kucing itu diberi nama Nekobu. Nekobu akan mengajak siapa pun menjadi hero dalam perjalanan menyelamatkan bumi dari penjahat lingkungan yang memperparah krisis iklim,” tambah Cyva.

BACA JUGA: Peduli Lingkungan, Ribuan K-popers Tolak K-Washing

Seorang wibu dan pegiat budaya pop Jepang, Agam Zarrah Istanbul mengungkapkan, Nekobu kini tampil menjadi konten yang menarik. Menurutnya, Nekobu bisa muncul dalam konten bermuatan isu krisis iklim, sehingga penyampaian informasi pada konten tersebut bisa tersampaikan kepada audiens dengan menarik.

“Dengan begitu, Nekobu tak hanya sekadar kami tampilkan sebagai maskot yang diam saja. Harapannya, ia bisa muncul lebih sering sebagai konten. Misalnya, dia digambarkan sedang memunguti sampah, atau sedang membaca manga Wibu4Planet,” ujarnya.

Wibu4Planet Berikan Edukasi Lewat Anime dan Manga

Agam berpendapat, para wibu adalah orang-orang yang sangat visual. Cyva pun sepakat dengan pendapat tersebut. Itulah kenapa, dalam kampanye digitalnya, Wibu4Planet mengadopsi gaya manga dan menampilkan visual yang sangat colourful. Ini salah satu cara Wibu4Planet merangkul wibu di Indonesia.

Komunitas tersebut menerapkan berbagai strategi kreatif dan menyenangkan dengan medium budaya pop Jepang, antara lain melalui anime, manga, dan musik.

Wibu4Planet menggunakan cerita dan karakter dari anime dan manga populer untuk mengilustrasikan isu-isu lingkungan. Misalnya, menggambarkan kerusakan lingkungan di Pulau Wawonii. Nekobu pun berinteraksi dengan aktif dengan karakter anime dan manga dalam komik singkat dan konten kreatif lain.

“Di seri manga singkat, Nekobu masuk ke dalam universe para anime. Kami ingin memperlihatkan isu iklim kepada audiens dengan cara mengangkat cerita-cerita yang sudah ada di manga, sekaligus memperkenalkan Nekobu,” ungkap Cyva.

Sebenarnya, banyak manga dan anime yang menceritakan soal krisis iklim. Jadi, bagi komunitas wibu, isu iklim bukanlah hal yang baru. Sejumlah seri anime terbaru mengangkat isu tersebut, bahkan ada anime yang secara spesifik mengangkat cerita tentang tenggelamnya kota-kota di dunia.

“Yang belum banyak komunitas wibu ketahui adalah kaitan antara Jepang dan Indonesia. Dalam Perjanjian Paris tertuang bahwa negara maju berkontribusi besar terhadap emisi yang dampaknya kita alami sekarang. Mereka punya tanggung jawab lebih besar untuk membantu negara-negara berkembang, seperti indonesia, untuk beralih ke energi bersih. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, Jepang sebagai negara maju malah berinvestasi pada energi kotor,” kata Cyva.

Kolaborasi Dinamis untuk Sebuah Perubahan

Tidak bergerak sendirian, Wibu4Planet melakukan sejumlah kolaborasi dengan influencer, seperti cosplayer, ilustrator, dan KOL pegiat budaya Jepang. Komunitas ini percaya, kerja sama dengan komunitas wibu yang lain, organisasi lingkungan, dan pemerintah, dapat menjadi kunci menuju transisi energi yang adil.

Cyva bercerita, pada Mei 2024 lalu, Wibu4Planet mendapat kesempatan untuk terlibat dalam Anime Festival Asia Indonesia (AFA), yang selalu dibanjiri wibu. Mereka menyajikan kampanye kreatif melalui doujinshi (komik pendek), berkolaborasi dengan penulis dan seniman lokal. Doujinshi tersebut diangkat dari anime, seperti Prince Mononoke, One Piece, Dr. Stone, dan Code Geass.

BACA JUGA: Hyundai Batal Beli Alumunium dari Adaro, Fans K-Pop Gembira

“Kami mengusung tema isekai, sebuah plot yang tokoh utamanya terlempar ke dimensi lain, dan membawa tokoh anime ke dalam beberapa isu lingkungan. Misalnya, deforestasi di Kalimantan, kerusakan hilirisasi nikel di Pulau Wawonii, permasalahan PLTU di Cirebon, dan gambaran lingkungan yang asri, jika menggunakan energi bersih dan berkelanjutan.

Selain itu, mereka juga menyajikan VR 360 dan mengajak para wibu, untuk menyaksikan visual One Piece Arc Wano Kuni, yang mereka padukan dengan kerusakan di Pulau Wawonii akibat pertambangan nikel.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/wibu4planet-pecinta-pop-jepang-yang-beraksi-untuk-lawan-krisis-iklim/feed/ 0
Eathink Ajak Konsumen Lebih Bijak Pilih Makanan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/eathink-ajak-konsumen-lebih-bijak-pilih-makanan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eathink-ajak-konsumen-lebih-bijak-pilih-makanan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/eathink-ajak-konsumen-lebih-bijak-pilih-makanan/#respond Sat, 24 Feb 2024 05:00:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=43152 Jakarta (Greeners) – Eathink, sebuah pergerakan yang diinisiasi anak muda mengajak konsumen untuk lebih bijak dalam memilih makanan secara berkelanjutan. Gerakan yang menyuarakan tentang keberlanjutan pangan ini telah berlangsung sejak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Eathink, sebuah pergerakan yang diinisiasi anak muda mengajak konsumen untuk lebih bijak dalam memilih makanan secara berkelanjutan. Gerakan yang menyuarakan tentang keberlanjutan pangan ini telah berlangsung sejak 2018. Gerakan tersebut merupakan inisiasi sejumlah mahasiswa di bidang pangan bernama Food Sustainesia. Pada tahun 2021, Food Sustainesia berganti nama menjadi Eathink yang memiliki arti “konsumen harus berpikir matang dalam memilih makanan”.

Eathink telah membuat sejumlah kampanye secara berkala untuk memberikan edukasi melalui media sosial tentang gaya hidup ramah lingkungan, isu pangan berkelanjutan, dan bijak dalam memilih makanan. Bahkan, mereka telah mendorong masyarakat untuk mencintai produk lokal.

BACA JUGA: 5 Tips Membuat Kebiasaan Makan Lebih Berkelanjutan

Gerakan ini terbentuk karena didorong oleh beberapa permasalahan serius yang saat ini melanda Indonesia. Isu ketimpangan, misalnya. Angka kelaparan saat ini cukup tinggi, tetapi masih banyak sisa makanan. Artinya, meski masyarakat kelaparan, namun banyak juga makanan yang terbuang.

“Akhirnya, kami terdorong untuk mendalami isu-isunya. Ternyata, kesadaran soal isu pangan masih kurang. Kemudian, kami gunakan channel paling mudah sama anak muda, yaitu media sosial seperti Instagram. Eathink juga menyesuaikan cara komunikasi anak muda dengan mengemas konten yang relevan sama anak muda,” ungkap Co-Founder Eathink, Genoveva Jaqualine Wijaya kepada Greeners, Rabu (21/2).

Konsumen Perlu Bijak Pilih Makanan

Eathink pun berharap kampanye yang mereka suarakan melalui media sosial ini bisa meningkatkan kesadaran semua orang mengenai isu pangan berkelanjutan. Lewat tagline #OurFoodChoiceMatters, Eathink ajak publik untuk mindful consumption atau lebih sadar dan bijak dalam memilih makanan. Sebab, apa yang konsumen makan tidak hanya berdampak pada kesehatannya, tetapi juga lingkungan.

“Jadi dalam memilih makanan oleh setiap orang itu penting, karena isunya makanan juga berdampak ke climate change. Nah, dengan mendorong orang-orang agar bisa tahu soal itu, yang kami intervensi adalah konsumen,” tambah Jaqualine.

Eathink pun ingin mengubah kebiasaan konsumen dalam mengonsumi makanan lebih berkelanjutan, artinya pola makanan yang meminimalkan dampak lingkungan dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan. Terutama memperhatikan gizi serta menjaga kesehatan generasi saat ini dan generasi mendatang.

BACA JUGA: Food Sustainesia Ajak Generasi Muda Mengenal Sistem Keberlanjutan Pangan

Misalnya, secara berkelanjutan, konsumen harus terbiasa menghabiskan makanannya sehingga tidak menimbulkan food waste. Kemudian, jika ada makanan tersisa, konsumen juga perlu mengomposnya.

Di samping itu, Eathink terus berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran melalui konten edukasi. Sejalan dengan misinya, gerakan tersebut juga akan terus membuat program kelas pembelajaran yang mendorong konsumen untuk mengembangkan kebiasaan berkelanjutan secara konsisten.

Eathink mengajak konsumen untuk lebih bijak dalam memilih makanan. Foto: Eathink

Eathink mengajak konsumen untuk lebih bijak dalam memilih makanan. Foto: Eathink

Eathink Gaungkan Makanan Lokal

Produk siap saji, makanan dan minuman yang mengandung gula dalam jumlah tinggi kini banyak anak muda gemari. Eathink menyadari, konsumsi produk yang tinggi kandungan gula secara terus-menerus akan berdampak pada kesehatan tubuh. Kendati demikian, mereka terus menggaungkan produk lokal khas Indonesia yang berbasis organik agar bisa digemari oleh masyarakat.

Faktanya, saat ini Eathink telah berkolaborasi dengan para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia. Kolaborasi ini untuk menawarkan makanan yang lebih sehat dan berkelanjutan kepada para konsumen.

“Masalah makanan instan itu karena sudah banyak proses, otomatis secara kandungan nutrisi berkurang. Misalnya, membuat menu diet dan ingin menambahan produk yang processed food itu tidak apa-apa, asalkan bisa diseimbangkan dengan sayuran, buah, dan makanan lokal,” imbuh Jaqualine.

Indonesia mempunyai banyak sumber pangan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi. Namun, di pasaran juga terdapat produk instan memiliki kandungan gula dan lemak lebih tinggi yang dapat memicu penyakit kronis. Apalagi, banyak yang menilai makanan sehat masih mahal. Skeptisisme ini membuat generasi muda kurang tertarik terhadap makanan sehat berbahan pangan lokal.

“Padahal, kita punya akses makanan sehat untuk sayur dan buah, di mana Indonesia memiliki sumber nabati yang bersagam dan kita bisa akses itu dengan harga yang sesuai,” ujar Jaqualine.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/eathink-ajak-konsumen-lebih-bijak-pilih-makanan/feed/ 0
Altereco Gerakkan Aksi Pelestarian Lingkungan di Pulau Lombok https://www.greeners.co/sosok-komunitas/altereco-gerakkan-aksi-pelestarian-lingkungan-di-pulau-lombok/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=altereco-gerakkan-aksi-pelestarian-lingkungan-di-pulau-lombok https://www.greeners.co/sosok-komunitas/altereco-gerakkan-aksi-pelestarian-lingkungan-di-pulau-lombok/#respond Sat, 23 Dec 2023 05:00:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=42606 Jakarta (Greeners) – Demi menjaga lingkungan tetap bersih, komunitas lingkungan Alternative Ecological and Colloborative Movements (Altereco) Nusa Tenggara hadir sebagai penggerak aksi lingkungan hidup di Lombok. Pembentukan komunitas ini merupakan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Demi menjaga lingkungan tetap bersih, komunitas lingkungan Alternative Ecological and Colloborative Movements (Altereco) Nusa Tenggara hadir sebagai penggerak aksi lingkungan hidup di Lombok. Pembentukan komunitas ini merupakan upaya berkelanjutan dari generasi muda di Indonesia bagian timur untuk terus menjaga lingkungan.

Altereco merupakan sebuah gerakan yang fokus pada kolaborasi untuk menyelaraskan ekologi. Isu lingkungan menjadi hal utama yang akan mereka kampanyekan.

“Kami akan fokus ke isu-isu lingkungan yang ada di Lombok. Semua kawan-kawan yang bergabung di sini berasal dari lokal daerah yang dulunya di komunitas lingkungan. Jadi, kami bareng-bareng membangun sebuah gerakan yang fokus ke isu lingkungan di Lombok. Saat ini kami fokus ke pengelolaan sampah,” ungkap Koordinator Altereco Nusa Tenggara, Wibisono Setiyoadi kepada Greeners, Rabu (13/12).

Komunitas yang berdomisili di Mataram ini baru memulai aksinya pada tahun 2023. Langkah yang masih terbilang cukup baru ini menjadi pembuka jalan untuk anak muda di Pulau Lombok dalam menyuarakan pentingnya pelestarian lingkungan di daerah.

Altereco melakukan aksi pelestarian lingkungan di Pulau Lombok. Foto: Altereco

Altereco melakukan aksi pelestarian lingkungan di Pulau Lombok. Foto: Altereco

Altereco Ajak Anak Usia Dini Peduli Lingkungan

Dalam aksinya, Altereco telah mengedukasi banyak pihak untuk lebih peduli lingkungan. Menariknya, komunitas ini juga menyebarkan informasi tentang pentingnya kepedulian lingkungan kepada anak usia dini.

“Kegiatan dari kami sejauh ini fokus pada campaign dan pendidikan lingkungan, terutama pada pendidikan anak-anak usia dini dalam membangun awareness soal lingkungan di Mataram. Sebab, masih kurang sekali pemuda dan anak-anak untuk menyadari hal itu. Apalagi, saat ini Lombok telah menjadi destinasi wisata, bahkan katanya akan menjadi seperti tujuan wisatawan kedua setelah Bali,” ujar Wibisono.

BACA JUGA: Resan Gunungkidul, Jaga Mata Air dengan Melestarikan Pohon

Wibisono juga melihat saat ini fenomena krisis iklim sudah terjadi secara nyata. Oleh sebab itu, Wibisono sebagai koordinator Altereco pun terus menyadarkan masyarakat tentang bahayanya fenomena tersebut lewat campaign.

“Kenapa anak-anak? Karena lebih gampang kami influence. Kami juga menyasar anak-anak muda dan masyarakat umum. Kemarin, kami juga melakukan talkshow soal lingkungan di Mataram, sebagai pemantik untuk memperlihatkan permasalahan lingkungan kepada anak-anak muda. Dalam talkshow ini juga sejumlah anak muda dan pemangku kebijakan saling rembuk,” imbuh Wibisono.

Gerakan Lingkungan di Lombok Perlu Dimasifkan

Menurut Wibisono, gerakan lingkungan di Kota Mataram Pulau Lombok perlu dimasifkan. Sebab, masih sedikit anak muda yang menyadari pentingnya aksi pelestarian lingkungan.

“Saat ini masih sedikit awareness di kalangan anak muda kalau enggak digerakin bersama-sama. Akhirnya, kami kepengin membuat banyak kolaborasi bareng anak muda agar isu lingkungan bisa dipahami banyak orang,” tambah Wibisono.

BACA JUGA: Saling ID Suarakan Isu Lingkungan ke Anak Muda Sukabumi

Menurut Wibisono, semangat gerakan lingkungan juga perlu mereka tularkan kepada anak muda secara konsisten. Harapannya, agar penggerak lingkungan di daerah Lombok tidak akan lenyap atau hilang.

“Makanya, kami buat sebuah tren baru untuk peduli pada lingkungan. Apalagi kan Lombok sekarang banyak dituju wisatawan yang menimbulkan potensi menumpuknya sampah. Oleh karena itu, kami ingin memajukan campaign bersama anak-anak muda, jangan sampai merusak lingkungan. Namun, kami juga ingin melakukan itu secara masif karena mumpung masih bisa kami cegah kerusakannya,” lanjut Wibisono.

Altereco saat ini sedang merancang sejumlah kegiatan, seperti mengadakaan forum-forum soal lingkungan. Mereka akan terus berupaya untuk menyebarluaskan isu lingkungan kepada anak muda. Dengan demikian, mereka bisa beraksi bersama dalam menyelamatkan lingkungan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/altereco-gerakkan-aksi-pelestarian-lingkungan-di-pulau-lombok/feed/ 0
YPCII Dorong Pekerja di Bidang Sampah Miliki Jaminan Kesehatan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ypcii-dorong-pekerja-di-bidang-sampah-miliki-jaminan-kesehatan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ypcii-dorong-pekerja-di-bidang-sampah-miliki-jaminan-kesehatan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ypcii-dorong-pekerja-di-bidang-sampah-miliki-jaminan-kesehatan/#respond Sat, 18 Nov 2023 04:00:15 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=42287 Jakarta (Greeners) – Para pekerja dalam bidang sampah memiliki risiko besar dalam menjalani pekerjaannya. Menyadari hal itu, Non Governmental Organization (NGO) asal Indonesia, Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII) bergerak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Para pekerja dalam bidang sampah memiliki risiko besar dalam menjalani pekerjaannya. Menyadari hal itu, Non Governmental Organization (NGO) asal Indonesia, Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII) bergerak memprioritaskan jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan kepada pekerja sampah.

NGO yang berdiri sejak tahun 2008 ini bertujuan memajukan kehidupan masyarakat di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan hidup. Tujuan tersebut akan mereka capai dengan cara meningkatkan kemampuan masyarakat dalam membangun diri sendiri. Hal itu tanpa membedakan suku, agama, ras, dan pandangan politik mereka.

Semua personel dalam perangkat YPCII juga berpengalaman luas dalam program pengembangan masyarakat di bidang kesehatan ibu dan anak. Selain itu, YPCII juga terus mendorong agar masyarakat bisa mengakses air bersih, higienitas, dan sanitasi.

Anggota YPCII sekaligus Program Manager Inclusive Recycling Indonesia, Lydia Fransisca mengatakan YPCII mendukung program pengelolaan sampah. Salah satunya di Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Panggungharjo, Kabupaten Bantul. YPCII mendorong para pekerja di TPS3R memiliki jaminan kesehatan dan jaminan ketenagakerjaan gratis dari pemerintah.

BACA JUGA: Paste Lab Hasilkan Banyak Karya dari Sampah Plastik

“Dengan jaminan kesehatan, mereka bisa mengakses (layanan) kesehatan. Terpenting kami niat saja buatnya, kami mintakan KTP dan kartu keluarganya untuk membuat jaminan kesehatan. Ada juga jaminan kecelakaan kerja, karena mereka rentan mengalami kecelakaan kerja. Lalu, untuk jaminan kami kerja sama dengan BPJS ketenagakerjaan,” ucap Lydia kepada Greeners di TPS3R Panggungharjo.

Lydia menambahkan, melalui jaminan ketenagakerjaan, karyawan bisa mendapatkan tiga benefit dari BPJS ketenagakerjaan. Di antaranya asuransi kecelakaan kerja, jaminan pensiun hari tua, dan jaminan kematian.

“Setidaknya kami mendorong teman-teman di TPS3R atau di collection center punya itu. Kami pelan-pelan mendorong mereka punya BPJS ketenagakerjaan yang kemudian poinnya itu akan ditanggung oleh TPS3R sendiri,” ujar Lydia.

YPCII Dorong Ciptakan Lingkungan Sehat

Menurut Lydia, banyak faktor penyebab masalah kesehatan di Indonesia. Salah satunya penanganan sampah yang kurang tepat.

“Kami paham penanganan sampah yang kurang tepat bisa mencemari lingkungan. Kemudian, mempengaruhi kualitas air yang akan masyarakat konsumsi, yang akhirnya menimbulkan penyakit. Melihat hal seperti itu, kami dari YPCII memang bergerak dalam bidang kesehatan, lalu fokus juga ke lingkungannya supaya bersih dan orang itu sehat,” kata Lydia.

YPCII juga mendorong semua pihak yang terlibat seperti pekerja dalam sektor sampah. Jika karyawan sakit, otomatis sistem pengelolaan sampah juga tidak bisa berjalan efektif. Dengan demikian, kesehatan karyawan sangat penting untuk dijaga.

Pekerja di Bidang Sampah Rentan Terkena Penyakit

Para pekerja di bidang sampah tentu tidak pernah jauh dari tumpukan sampah yang mengandung mikroorganisme. Hal itu mengakibatkan karyawan terserang penyakit lantaran ada banyak bakteri dan virus yang menumpuk di sampah.

“Ingat kemarin saat Covid, bayangkan semua sampah di bawa ke sini, kan kita gak tahu Covid atau enggak. Itu semua ditangani oleh teman-teman di sini. Kami juga terus mengimbau mereka untuk pakai masker dan face shield,” imbuh Lydia.

Tak hanya itu, petugas sampah juga sering mengalami infeksius serta trauma fisik seperti terkena tusuk sate. Kemudian, ada juga petugas yang terkena infeksi berat yang sangat membahayakan.

BACA JUGA: Project B Indonesia, 15 Tahun Buat Produk Bernilai dari Sampah

“Ketika menjadi infeksi dan meluas, itu membahayakan dan mengancam nyawa. Belum lagi terkena beling, kena paku, lalu ada pekerja yang kecelakaan terkena mesin,” tambah Lydia.

Oleh sebab itu,  YPCII terus mendorong agar karyawan di TPS3R memiliki lingkungan kerja yang lebih sehat. Setidaknya, mereka aman dan terlindungi dari kecelakaan kerja. Mendukung hal itu, YPCII mengadakan pelatihan keselamatan kerja kepada para karyawan dan terus menyediakan alat pelindung diri.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ypcii-dorong-pekerja-di-bidang-sampah-miliki-jaminan-kesehatan/feed/ 0
Resan Gunungkidul, Jaga Mata Air dengan Melestarikan Pohon https://www.greeners.co/sosok-komunitas/resan-gunungkidul-jaga-mata-air-dengan-melestarikan-pohon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=resan-gunungkidul-jaga-mata-air-dengan-melestarikan-pohon https://www.greeners.co/sosok-komunitas/resan-gunungkidul-jaga-mata-air-dengan-melestarikan-pohon/#respond Wed, 08 Nov 2023 04:31:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=42200 Jakarta (Greeners) – Peran pohon atau yang lumrah disebut dengan resan di Gunungkidul memiliki manfaat baik sebagai penjaga mata air. Komunitas Resan Gunungkidul menjadi pendorong sinergi untuk ikut menjaga mata […]]]>

Jakarta (Greeners) – Peran pohon atau yang lumrah disebut dengan resan di Gunungkidul memiliki manfaat baik sebagai penjaga mata air. Komunitas Resan Gunungkidul menjadi pendorong sinergi untuk ikut menjaga mata air di wilayah tersebut lewat pelestarian pohon.

Komunitas yang berdiri sejak tahun 2018 ini berawal dari keresahan akan alam yang kini semakin rusak hingga menimbulkan berbagai kesulitan. Misalnya, bencana alam dan kemarau panjang. Keresahan tersebut menjadi awal mula Resan Gunungkidul terbentuk untuk melakukan penanaman pohon.

BACA JUGA: Operasi Semut Rutin Pungut Sampah demi Lingkungan Bersih

“Saya mencoba berdiskusi tentang keadaan alam ini, banyak teman yang merespons. Ketika ketemu, teman-teman punya keresahan yang sama, terus ngobrol. Akhirnya berkembang dan kami berjejaring jadi Komunitas Resan Gunungkidul,” ungkap Pendiri Komunitas Resan Gunungkidul, Edi Padmo saat Greeners temui di Gunungkidul.

Resan Gunungkidul juga memiliki kegiatan rutin membibit dan menanam bakal resan. Selain itu, mereka juga ikut merawat dan membersihkan sumber air, melaksanakan upacara penghormatan, pemuliaan pohon resan, serta nglangse (menyelimuti) resan.

“Kalau musim kemarau gini melakukan pembersihan sumber air. Kami juga mencatat cerita di balik sumber air itu,” lanjut Edi.

Komunitas Resan Gunungkidul menjadi pendorong sinergi untuk ikut menjaga mata air lewat pelestarian pohon. Foto: Resan Gunungkidul

Komunitas Resan Gunungkidul menjadi pendorong sinergi untuk ikut menjaga mata air lewat pelestarian pohon. Foto: Resan Gunungkidul

Resan Miliki Manfaat Baik

Eksplorasi sumber daya air yang mereka lakukan menjadi hal yang menarik. Sebab, ada latar belakang sejarah dari leluhur di sana. Tak sekadar itu, Resan Gunungkidul juga melihat ada manfaat baik dari resan sehingga perlu dilestarikan.

Misalnya, secara fungsi ekologis, pohon resan bermanfaat untuk menyimpan dan melahirkan air, tempat tinggal para satwa, dan menyuburkan tanah. Resan atau pohon pelindung ini juga bisa menyerap polutan baik di udara, di tanah, maupun suara. Oleh karena itu, masyarakat menghormati pohon-pohon resan dan memuliakannya dengan upacara daur hidup semacam Nyadran dan Rasulan.

BACA JUGA: Saling ID Suarakan Isu Lingkungan ke Anak Muda Sukabumi

“Jadi, akar pohon ini menjalankan jalan air. Daun dan ranting pohon memiliki fungsi konservasi yang menyerap air hujan. Lalu, meresapkan daun tanah dan menyimpan itu menjadi cadangan air, nah itu bisa dimanfaatkan,” kata Edi.

Di samping itu, resan merupakan golongan utama unsur kehidupan sasamaning dumadi (sesama ciptaan Tuhan). Bersama dengan pohon resan, satwa, dan aneka tumbuhan lain, masyarakat melaksanakan perikehidupan bebrayan agung (persaudaraan alam raya). Terutama, dalam lingkaran kerukunan, keselamatan, dan kemakmuran.

Saat ini, sudah ada 14 titik sumber air yang Resan Gunungkidul konservasi. Edi menambahkan, dirinya dan masyarakat telah terlibat dalam proses konservasi ini sejak sumber air ditutup hingga air berhasil dikeluarkan. Namun, pada musim kemarau banyak mata air yang kembali kering.

Eksplorasi Sumber Air Lewat Sejarah

Saat Resan Gunungkidul menelusuri sumber air di kawasan Gunungkidul, itu erat kaitannya dengan cerita sejarah desa setempat. Dalam menjalankan misinya, Resan Gunungkidul terus menelusuri sumber air dengan mencari sesepuh atau tokoh masyarakat setempat. Tujuannya untuk mempelajari sejarah dari sumber mata air di wilayah yang mereka kunjungi.

“Sesepuh itu pernah kontak langsung dengan mata air itu, baik dengan air atau upacara adat di situ. Kadang saat ini sumber air itu terabaikan, karena mindset di masyarakat sekarang tentang mendapatkan air mulai menurun,” ujar Edi.

Edi menambahkan, upacara adat biasa mereka lakukan di dekat sumber air. Sebab, kawasan tersebut merupakan titik spiritual bagi warga yang menganggap air sebagai sumber kehidupannya. Oleh karena itu, mereka ingin bersyukur kepada Tuhan, dengan melakukan upacara adat di dekat sumber mata air.

“Namun, seringkali dikira melakukan ritual ini seperti menyembah pohon. Padahal, tempat ini masyarakat gunakan agar merasa dekat dengan Tuhannya sebagai sumber kehidupan,” kata Edi.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/resan-gunungkidul-jaga-mata-air-dengan-melestarikan-pohon/feed/ 0
Operasi Semut Rutin Pungut Sampah demi Lingkungan Bersih https://www.greeners.co/sosok-komunitas/operasi-semut-rutin-pungut-sampah-demi-lingkungan-bersih/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=operasi-semut-rutin-pungut-sampah-demi-lingkungan-bersih https://www.greeners.co/sosok-komunitas/operasi-semut-rutin-pungut-sampah-demi-lingkungan-bersih/#respond Tue, 24 Oct 2023 08:08:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=42059 Jakarta (Greeners) – Operasi Semut rutin membersihkan sampah di lingkungan terdekat. Hal itu untuk memulai kebiasaan baik pada setiap orang dalam menjaga kebersihan kawasannya. Komunitas yang terbentuk sejak 2022 itu […]]]>

Jakarta (Greeners) – Operasi Semut rutin membersihkan sampah di lingkungan terdekat. Hal itu untuk memulai kebiasaan baik pada setiap orang dalam menjaga kebersihan kawasannya. Komunitas yang terbentuk sejak 2022 itu bermula dari salah satu program kegiatan Cleanaction Network.

Berawal dari pergerakan masyarakat untuk membersihkan sampah di wilayah utara Jakarta, Operasi Semut pun memulai aksinya. Mereka membersihkan sampah di kawasan Jakarta International Stadium (JIS) pada 19 Februari 2022.

“Karena JIS itu proyek itu sudah dicita-citakan menjadi bangunan yang green building, menerapkan keberlanjutan lingkungan, dan punya material sirkulasi udara baik yang bisa influence pengunjung (untuk jaga kebersihan). Operasi Semut menyambut berita itu dengan melakukan kegiatan bersih-bersih di sana,” ungkap Program Direktur Cleanaction, Hendro Subroto kepada Greeners melalui sambungan telepon.

BACA JUGA: Komunitas Kejar Mimpi Aksi Bersih Pantai di Balikpapan

Warga yang membersihkan kawasan JIS merupakan anak-anak kampung sekitaran Stadion JIS. Dalam menjaga kebersihan stadion, para petugas kebersihan juga turut membantu mereka.

“Teman-teman Operasi Semut yang ada di seputaran stadion ini ingin menjadi tuan rumah yang baik. Misalnya, saat ada pertandingan, orang-orang yang di sana juga jadi teredukasi, seperti tidak membuang sampah sembarangan,” tambah Hendro.

Operasi Semut rutin membersihkan sampah di lingkungan terdekat. Foto: Komunitas Operasi Semut

Operasi Semut rutin membersihkan sampah di lingkungan terdekat. Foto: Komunitas Operasi Semut

Operasi Semut Bersihkan Sampah saat CFD

Operasi pembersihan sampah ini tidak hanya mereka lakukan di kawasan JIS. Mereka juga memperluas aksinya di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat setiap hari Minggu saat car free day (CFD).

“Mereka mulai konsisten setiap Sabtu sore di JIS melakukan kegiatan. Setelah JIS ada pengelola, kami pindah ke bundaran HI. Jadi, kegiatan komunitas Operasi Semut ini tidak mengacu sebuah tempat,” ucap Hendro.

Dalam setiap operasi membersihkan sampah di Bundaran HI, para relawan juga melakukan edukasi lewat poster yang mereka bawa. Mereka berharap masyarakat bisa sadar soal kepeduliannya terhadap sampah.

Hindari Bebani TPA dengan Pilah Sampah

Setiap kali habis melakukan pemungutan sampah, Komunitas Operasi Semut juga memilah dan menimbang sampah. Kegiatan ini telah menjadi sebuah kebisaan baru bagi anak kampung Tanjung Priok dan sekitarnya.

Padahal, awal mula pola yang mereka terapkan hanya mengumpulkan sampah yang tercecer. Namun, pola itu berkembang lebih baik. Kini, para relawan telah menerapkan pola baru menjadi kumpul dan pilah.

BACA JUGA: Komunitas Pecinta Bromo Bersih-Bersih Gunung dari Sampah Pengunjung

“Baru-baru ini bulan Juni 2023 kami ada kegiatan sampah dengan Waste4change. Sampah yang dipilah kami kumpulkan dan kami bawa ke Waste4change. Ini agar tidak menambah volume ke TPA,” imbuh Hendro.

Anak muda menjadi penggerak terbanyak dalam Komunitas Operasi Semut. Menurut Hendro, kebanyakan dari mereka masih memiliki ruang yang lebar. Selain itu, mereka pun sadar bahwa perjalanan sampah ini cukup panjang. Apabila tidak dikelola dengan baik, akan berpotensi mencemari lingkungan.

“Mereka baru sadar soal sampah, misalnya soal proses panjang sampah, sampai sampah ini punya nilai guna. Selain itu, rata-rata dari mereka juga ada yang content creator, mereka rutin melakukan kegiatan bebersih ini.  Ada juga anak-anak SD yang ikut kegiatan ini,” kata Hendro.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/operasi-semut-rutin-pungut-sampah-demi-lingkungan-bersih/feed/ 0
Wahjudi Wardojo Raih Gelar Doktor Honoris Causa dari UGM https://www.greeners.co/sosok-komunitas/wahjudi-wardojo-raih-gelar-doktor-honoris-causa-dari-ugm/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=wahjudi-wardojo-raih-gelar-doktor-honoris-causa-dari-ugm https://www.greeners.co/sosok-komunitas/wahjudi-wardojo-raih-gelar-doktor-honoris-causa-dari-ugm/#respond Sun, 10 Sep 2023 04:04:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=41476 Jakarta (Greeners) – Wahjudi Wardojo meraih anugerah sebagai Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Universitas Gajah Mada (UGM). Gelar itu ia dapatkan atas dedikasnya dalam melestarikan alam Indonesia. Ia berkecimpung lebih […]]]>

Jakarta (Greeners) – Wahjudi Wardojo meraih anugerah sebagai Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Universitas Gajah Mada (UGM). Gelar itu ia dapatkan atas dedikasnya dalam melestarikan alam Indonesia. Ia berkecimpung lebih dari 45 tahun dalam sektor kehutanan, khususnya keanekaragaman hayati.

“Kendati berperan penting bagi dunia, aset alam Indonesia bukanlah aset global. Indonesia mempunyai kedaulatan penuh terhadap aset ini,” ujar Wahjudi.

Dilansir UGM, Wahjudi memiliki jasa luar biasa dalam bidang ilmu konservasi sumber daya hutan dengan fokus utama ilmu konservasi keanekargaman hayati. Hal itu menjadi bagian dalam penyelamatan keanekaragaman hayati.

BACA JUGA: Acil Bimbo Pertahankan Nilai Budaya Lewat Gerakan Jaga Lembur

Selain itu, ia juga memiliki keluasan cakrawala terkait dinamika paradigma konservasi keanekaragaman hayati di tingkat global dan nasional.

Menurutnya, keanekaragaman hayati dapat menjadi modal penting dalam negosiasi di tingkat multilateral, regional, maupun bilateral. Hal itu agar tidak ada pemanfaatan aset ini tanpa memberikan kontribusi apa pun pada Indonesia.

“Ada pemaknaan tentang pentingnya keanekaragaman hayati sebagai sistem penyangga kehidupan. Inilah yang perlu menjadi landasan dalam pengembangan setiap kebijakan, pembangunan, dan pengelolaan sumber daya alam dalam jangka panjang,” ungkapnya.

Wahjudi Wardojo meraih anugerah sebagai Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Universitas Gajah Mada (UGM). Foto: YKAN

Wahjudi Wardojo meraih anugerah sebagai Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Universitas Gajah Mada (UGM). Foto: YKAN

Keanekaragaman Hayati Aset Alam Indonesia

Wahjudi Wardojo yang sekaligus Penasihat Senior Kebijakan Terestrial Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mengemukakan, aset alam Indonesia berperan dalam penyediaan pangan penduduk dunia. Namun, kapitalisasi keanekaragaman hayati ini perlu diutamakan untuk kepentingan dalam negeri.

“Peran keanekaragaman hayati untuk obat-obatan, energi, pupuk, peningkatan produktivitas usaha pertanian, bahan makanan alternatif, perlindungan sumber air sampai purifikasi air, layak dikelola bersama lintas lembaga dan sektor. Tentu dengan memperhatikan dampak dan keberlangsungan hidup dari semua sistem penyangga kehidupan ini,” imbuh Wahjudi.

Ia mengatakan, Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Pelestarian Keanekaragaman Hayati dalam Pembangunan Berkelanjutan adalah hal yang tepat. Ia berharap keanekaragaman hayati di Tanah Air bisa menjadi soko guru dan pertimbangan utama dalam mendorong pembangunan berkelanjutan.

Perkuat YKAN Sajikan Solusi Inovatif

Bagi Indonesia, dengan cakupan wilayah yang sangat luas, peluang untuk menerapkan keselarasan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian keanekaragaman hayati bukanlah sesuatu yang mustahil.

Sebagai lembaga berbasis data, penganugerahan gelar doktor Honoris Causa yang diterima Wahjudi Wardojo telah memperkuat kapasitas YKAN dalam menyajikan solusi inovatif.

Selain itu, hal ini juga bisa membantu YKAN memperkaya data ilmiah. Data tersebut telah dihasilkan oleh puluhan ilmuwan di 14 provinsi wilayah kerja YKAN untuk mewujudkan Indonesia yang lestari.

BACA JUGA: Rahmat Suprihat, Cetak “Generasi Berkeringat” dengan Kayuh Sepeda

Aktif Tuangkan Gagasan

Ketua Tim Promotor Pemberian Gelar Doktor, Satyawan Pudyatmoko, mengatakan selama masa baktinya sebagai pejabat publik, Wahjudi telah mencerminkan profil seorang pengambil kebijakan publik. Itu sesuai dengan deskripsi profil lulusan program studi doktor ilmu kehutanan UGM.

Selain itu, Wahjudi juga memberi keteladanan perwujudan misi UGM, yaitu catur dharma UGM, baik dalam bidang pendidikan dan penelitian. Khususnya melakukan pengabdian pada masyarakat dan upaya pelestarian ilmu dengan memanifestasikannya dalam kehidupan. Terutama dalam pengelolaan kawasan konservasi dan pelestarian sumber daya hayati dan ekosistemnya.

Di balik prestasinya, Wahjudi Wardoyo juga aktif membagikan gagasan dan pemikirannya seputar dunia kehutanan. Hal itu telah Wahjudi tuangkan dalam seminar dan konferensi, baik di dalam negeri maupun di mancanegara.

Ia pun banyak menghasilkan karya-karya ilmiah yang terbit dalam bentuk dokumen akademik, artikel ilmiah dan media masa. Buah-buah pemikiran Ir. Wahjudi Wardojo juga banyak tertuang dalam buku maupun bab buku.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/wahjudi-wardojo-raih-gelar-doktor-honoris-causa-dari-ugm/feed/ 0
Saling ID Suarakan Isu Lingkungan ke Anak Muda Sukabumi https://www.greeners.co/sosok-komunitas/saling-id-suarakan-isu-lingkungan-ke-anak-muda-sukabumi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=saling-id-suarakan-isu-lingkungan-ke-anak-muda-sukabumi https://www.greeners.co/sosok-komunitas/saling-id-suarakan-isu-lingkungan-ke-anak-muda-sukabumi/#respond Wed, 06 Sep 2023 06:00:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=41453 Jakarta (Greeners) – Sahabat Lingkungan (Saling ID) menggandeng anak muda di Kota Sukabumi untuk lebih melek terhadap isu lingkungan. Komunitas lingkungan hidup sekaligus Non Governmental Organization (NGO) ini menjadi satu-satunya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sahabat Lingkungan (Saling ID) menggandeng anak muda di Kota Sukabumi untuk lebih melek terhadap isu lingkungan. Komunitas lingkungan hidup sekaligus Non Governmental Organization (NGO) ini menjadi satu-satunya yang menggalakkan kepekaan lingkungan di kalangan pemuda Kota Sukabumi.

Komunitas tersebut berdiri sejak 2018 oleh tiga anak muda. Ketiga pendirinya adalah Deruz, Neviawati, dan Ruswanto.

“Saling ID ingin fokus pada isu sosial dan lingkungan,” kata CEO Saling ID Dede Ruslan, yang biasa disapa Deruz. Lalu, Deruz ingin membawa kedua isu tersebut menjadi perbincangan anak muda di Sukabumi.

BACA JUGA: Yayasan Penyu Indonesia Lindungi Penyu dari Kepunahan

“Kami ingin anak-anak  muda melek sama isu lingkungan. Lingkungan itu bahasanya berat banget, ngajakinnya susah untuk mereka concern ke hal itu. Makanya, kami masukkan isu itu disela-sela kebiasaan anak muda,” kata Deruz kepada Greeners, Jumat (1/9).

Dengan memasukkan pembahasan isu lingkungan ke kalangan anak muda, Deruz bersama timnya mencoba berbagai pendekatan. Misalnya, dalam sebuah konser, Saling ID memanfaatkan momen tersebut untuk membuat sesuatu hal yang berkaitan dengan lingkungan.

“Anak muda sukanya nongkrong, kami bikin sesuatu juga di situ dengan ada musik dan talskhow tentang lingkungan. Kami bikin konsepnya seperti anak muda banget,” tambah Deruz.

Perkenalkan Ecobrick di Kota Sukabumi

Pada awal berkembangnya Saling ID, banyak aksi dan inisiatif dalam kegiatan komunitas ini. Mereka memulai perjalanannya dengan melakukan penanaman di sebuah desa di wilayah Kota Sukabumi.

Namun, seiring berjalannya waktu, Saling ID mengalihkan fokusnya ke persoalan sampah. Sebab, kekhawatiran utama saat ini adalah sebagian besar masyarakat menghasilkan sampah. Dengan menggerakan hal ini, Saling ID memperkenalkan ecobrick atau botol plastik yang dikemas padat dengan plastik bekas di Kota Sukabumi.

Akhirnya, kami beralih untuk fokus ke persampahan. Sebab, menurut kami, tidak semua menebang pohon, tapi semua orang menghasilkan sampah. Nah, akhirnya kami fokus ke persampahan, kami bawa ecobrick pertama kali ke Sukabumi. Kami keliling ke paud-paud, sampai akhirnya dijadikan lomba sama paud-nya. Komunitas lain juga mengadopsi ide itu,” ucap Deruz. 

Sahabat Lingkungan (Saling ID) menggandeng anak muda di Kota Sukabumi untuk lebih melek terhadap isu lingkungan. Foto: Saling ID

Sahabat Lingkungan (Saling ID) menggandeng anak muda di Kota Sukabumi untuk lebih melek terhadap isu lingkungan. Foto: Saling ID

Selipkan Berbagai Edukasi ke Pelajar

Kegiatan rutinitas yang Saling ID lakukan tidak melulu memberikan edukasi lingkungan. Ada berbagai materi yang mereka ajarkan kepada para pelajar di Kota Sukabumi melalui program Saling Jagoan Sekolah.

“Anak sekolah bukan cuma dibekali tentang lingkungan saja, tapi juga materi yang tidak diajarkan sekolah. Misalnya, komunikasi bisnis, finance, hukum, karena banyak yang belum mengetahuinya, jadi kami masukkan ke hal-hal itu,” tambah Deruz. 

BACA JUGA: Bicara Udara Kawal Perbaikan Kualitas Udara

Selain itu, mereka juga berkolaborasi dengan sejumlah pihak untuk terlibat di dalam kegiatannya. Misalnya, saat ini Saling ID kerja sama dengan salah satu perusahaan nasional dalam melakukan kegiatan recycle puntung rokok menjadi asbak. 

Saling ID Miliki Prinsip “Kita Dulu Aja”

Sebelum mengajak orang lain untuk peka terhadap lingkungan, Saling ID sudah mulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dalam lingkup internalnya dengan prinsip “Kita Dulu Aja”.

“Kami punya prinsip ‘Kita Dulu Aja’, karena semua hal baik dan buruk itu kami mulai dari sendiri dulu aja. Kalau kami melakukan sesuatu dari hal baik, kami juga akan memberikan hal baik,” ujar Deruz.

Dengan prinsip tersebut, mereka terus konsisten menyuarakan dan mengambil tindakan terhadap permasalahan lingkungan hidup di Kota Sukabumi. Mereka juga terus menekankan ruang lingkup internalnya untuk memperkuat prinsip-prinsip tersebut. Salah satunya adalah setiap anggota harus bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/saling-id-suarakan-isu-lingkungan-ke-anak-muda-sukabumi/feed/ 0