Eco Fashion ala Berkain dapat Hindari Kerusakan Lingkungan

Reading time: 3 menit
LTKL dan Hutan Itu Indonesia melakukan parade berkain. Foto: LTKL
LTKL dan Hutan Itu Indonesia melakukan parade berkain. Foto: LTKL

Jakarta (Greeners) – Berkain merupakan sebuah gerakan fesyen berupa penggunaan kain tradisional. Kain berbahan dasar alam menjadi salah satu solusi untuk mengurai penggunaan bahan kimia. Terobosan fesyen ramah lingkungan atau eco fashion ini dapat meminimalkan dampak buruk terhadap lingkungan.

Wujud eco fashion bisa berupa kapas organik, kain yang tahan lama, bahan daur ulang, pewarna nabati, hingga upah yang adil bagi produsen dan pemasok.

Indonesia sangat potensial dalam pengembangan eco fashion, khususnya pewarna nabati dari bahan alami. Sebab, Indonesia merupakan rumah bagi salah satu keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Bahkan, eco fashion bisa mendatangkan potensi ekonomi.

BACA JUGA: LTKL Kenalkan Eco Fashion Lewat Berkain Bahan Alam

Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) bersamaorang muda mengajak masyarakat untuk mendorong eco fashion lewat UMKM daerah. Peran orang muda sangat penting dalam mempromosikan produk lokal lestari yang ramah sosial dan ramah lingkungan.

Langkah ini juga sekaligus mendorong keterlibatan penetrasi produk lokal yang masih di bawah 20%. Sebab, masih banyak orang yang belum mengetahui produk unggulan. Misalnya, kerajinan yang tidak hanya terbuat dari alam, melainkan juga melestarikannya.

LTKL dan Hutan Itu Indonesia melakukan parade berkain. Foto: LTKL

LTKL dan Hutan Itu Indonesia melakukan parade berkain. Foto: LTKL

Manfaatkan Getah Gambir sebagai Pewarna Alami

Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan memproduksi kain gambo muba dengan menerapkan eco fashion. Perajin memanfaatkan getah gambir sebagai pewarna alami kain. Selain gambo muba, ada juga kain tenun ikat dari Sintang yang merupakan warisan asli suku Dayak.

Proses pembuatannya mulai dari menanam kapas, ngaos atau memintal benang, memberikan warna pada benang dengan mencelupkannya, dan mengikat motif. Kemudian, menenun dengan alat tenun yang terbuat dari kayu dan bambu atau ‘gedokan’.

BACA JUGA: Menakar Tekstil Serat Bambu untuk Industri Mode, Apakah Berkelanjutan?

Kain tenun ikat menggunakan pewarna alam dari berbagai tumbuhan hutan mulai dari akar-akaran, semak, pohon, dedaunan, buah, umbi, maupun batang pohon. Beberapa tanaman seperti daun dan batang semak Intenet (Glochidion littorale), jengkol, daun dan buah kemunting, akar mengkudu, kunyit, manggis dan masih banyak lagi bahan pewarna alami dari hutan Indonesia.

LTKL dan Hutan Itu Indonesia melakukan parade berkain. Foto: LTKL

LTKL dan Hutan Itu Indonesia melakukan parade berkain. Foto: LTKL

LTKL Lakukan Parade Berkain

LTKL berkolaborasi dengan Hutan Itu Indonesia memperkenalkan wastra nusantara berbasis alam produksi kabupaten anggota LTKL. Dengan menyerukan kampanye #BanggaBuatanIndonesia, LTKL dan Hutan Itu Indonesia melakukan parade berkain. Mereka menyerukan dukungan akan produk lokal lestari serta mengajak masyarakat, khususnya bagi kaum muda.

Mereka meminta masyarakat untuk menormalkan pemakaian produk lokal, termasuk kain berbahan alam di keseharian mereka. Mengambil momentum car free day, mereka berharap masyarakat dapat lebih mendukung produk lokal.

Kepala Sekretariat Interim LTKL, Ristika Putri Istanti mengatakan, parade ini adalah sebuah inisiatif orang muda. Mereka ingin menggaungkan semangat dukungan terhadap produk lokal dan eco fashion.

“Parade ini bertujuan mengkampanyekan wastra nusantara dan produk lokal lestari. Produk lokal seperti gambo muba tidak hanya jadi salah satu eco fashion terbaik asli Indonesia, melainkan juga menjadi jawaban atas
masalah limbah dari pewarna kimia di industri tekstil,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Ristika, sentuhan dari orang muda pada produk unggulan kabupaten ini membuat bisnis ekonomi lestari bisa dengan mudah berkolaborasi dengan multipihak. Baik dengan teknologi terbaru maupun inovasi lainnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top