daur ulang - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/daur-ulang/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 19 Aug 2025 11:47:00 +0000 id hourly 1 Recycle Experience Hidupkan Kembali Mainan Bekas Lewat Karya Seni https://www.greeners.co/ide-inovasi/recycle-experience-hidupkan-kembali-mainan-bekas-lewat-karya-seni/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=recycle-experience-hidupkan-kembali-mainan-bekas-lewat-karya-seni https://www.greeners.co/ide-inovasi/recycle-experience-hidupkan-kembali-mainan-bekas-lewat-karya-seni/#respond Tue, 19 Aug 2025 11:47:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47167 Barang dan mainan bekas ketika sudah selesai pakai seringkali hanya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Namun, bagi sosok pasangan yang bergiat dalam dunia seni, Evan Driyananda dan Attina Nuraini, […]]]>

Barang dan mainan bekas ketika sudah selesai pakai seringkali hanya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Namun, bagi sosok pasangan yang bergiat dalam dunia seni, Evan Driyananda dan Attina Nuraini, benda-benda tersebut justru memiliki potensi besar, yang bisa mereka olah kembali melalui kegiatan berkesenian yang mereka jalankan, yaitu REEXP (Recycle Experience).

Lewat REEXP, mainan patah, kaleng kosong, hingga peralatan rumah tangga mereka rangkai jadi karya seni yang penuh warna. Ide ini juga lahir dari ketertarikan mereka pada pop culture dan toys art movement.

Attina mengatakan bahwa pada mulanya REEXP merupakan ekspresi yang lahir dari keinginan untuk mengubah serta menata ulang berbagai benda temuan yang cenderung terlupakan, bahkan tidak diharapkan keberadaannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Benda-benda tersebut kemudian kami jadikan media penciptaan karya seni melalui tahapan eksperimen dan eksplorasi dengan menggunakan found object. Ini sebagai media utama yang kami gunakan dalam proses penciptaan karya,” kata Attina kepada Greeners.

Secara visual, karya-karya REEXP juga banyak terinspirasi dari wujud karakter yang hidup dalam imajinasi para perupa. Karya-karya tersebut tampil melalui deformasi objek, mengangkat tema kebahagiaan, keajaiban, mimpi, dongeng, taman bermain, dunia imajinatif, hingga cerita-cerita keseharian yang sering terlupakan. Semua hal itu menjadi sumber ide dan gagasan mereka dalam berkarya.

Karya seni dari mainan bekas. Foto: Recycle Experience

Karya seni dari mainan bekas. Foto: Recycle Experience

Benda Temuan Sehari-hari

Dalam pengumpulan material, pada awalnya mereka menggunakan benda-benda temuan sehari-hari. Seiring waktu berjalan, semakin banyak orang yang mengetahui proses berkarya mereka, sehingga makin banyak pula apresiator yang menyumbangkan benda tak terpakai yang sudah terpilah.

Kebutuhan materialnya juga selalu disesuaikan dengan karya yang akan diciptakan. Jenis barang bekas pun sangat beragam. Umumnya berupa objek temuan dan material non-organik yang memiliki volume, ketebalan, dan kekuatan untuk mereka olah kembali, selama tidak berbahan pecah belah.

“Belakangan ini, REEXP banyak mengolah mainan bekas, peralatan rumah tangga, dan kaleng,” tambahnya.

Dengan teknik potong-sambung dan konstruksi, Evan dan Attina mengubah benda-benda bekas menjadi patung dan instalasi tiga dimensi. Buat mereka, karya ini bukan hanya soal keindahan, tapi juga cara menyampaikan pesan bahwa barang bekas masih bisa punya nilai baru, bukan sekadar menumpuk jadi sampah yang mencemari lingkungan.

Sementara itu, material yang dipakai sebagian besar dikumpulkan secara mandiri, namun banyak juga yang diperoleh dari apresiator. Beberapa kali REEXP menjalin kerja sama dengan pihak luar seperti mal, toko elektronik, toko interior rumah, hingga brand kosmetik yang menyumbangkan produk rusak, kemasan kosong, maupun barang tak terpakai lainnya, biasanya untuk proyek commission art.

Proses Panjang Recycle Experience

Di balik kegiatan seni melalui Recycle Experience, Evan dan Attina memiliki cerita tersendiri. Pasangan ini mulai berkarya bersama sejak masa perkuliahan sekitar tahun 2006, dan pertama kali mengikuti pameran pada kisaran tahun 2011. Dari situ, muncul kesadaran akan adanya kesamaan ketertarikan, inspirasi, serta harapan di antara keduanya.

Selain itu, saat awal mereka berproses menciptakan sebuah karya, Bandung juga sedang menghadapi krisis sampah. Saat itu, banyak tempat pembuangan sampah ditutup dan sampah menumpuk di jalan-jalan besar yang mereka lalui setiap hari. Situasi tersebut kemudian memunculkan ide untuk memanfaatkan benda-benda tak terpakai di sekitar mereka.

Attina mengakui bahwa tantangan terbesar dalam berkarya terletak pada proses kreatif itu sendiri. Hal itu menuntut rasa, daya imajinasi, dan pola pikir yang selalu terasah. “Proses ini menjadi kejutan dan hal-hal tak terduga yang tidak bisa diprediksi sebelumnya,” ungkapnya.

Namun, baginya di situlah letak keistimewaannya. REEXP berkarya dengan memanfaatkan material yang sudah ada, bukan material baru yang diciptakan. Oleh karena itu, dalam memulai sebuah karya, mereka berpijak pada konsep dan imajinasi sebagai langkah awal berkarya.

Kolaborasi Meluas

Selain aktif mengikuti berbagai pameran, REEXP juga kerap diajak berkolaborasi dengan perusahaan, brand, maupun penyelenggara kegiatan seni. Dalam beberapa kesempatan, mereka juga diundang untuk mengisi workshop, baik di galeri seni, ruang publik, maupun sekolah.

Dengan menggunakan found object sebagai media, workshop ini juga secara tidak langsung menghadirkan pembelajaran lingkungan melalui cara yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Dalam berkarya, kami memiliki tujuan mengajak orang, khususnya anak-anak, untuk lebih bijak dan peka terhadap lingkungan di masa kini hingga masa depan,” kata Attina.

Selama REEXP menampilkan karya-karya yang penuh estetikanya, mereka kerap mendapatkan respons apresiator yang baik. Dukungan pun banyak datang terhadap hasil karya mereka.

Karakter visual yang khas, penuh cerita, serta nuansa playful dan menyenangkan menjadi daya tarik tersendiri dari REEXP. Namun, lebih dari itu, Evan dan Attina ingin menghadirkan kebahagiaan. Bagi mereka, berkarya adalah cara untuk mengubah yang biasa jadi luar biasa, sekaligus membagikan energi positif kepada siapa pun yang melihatnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/recycle-experience-hidupkan-kembali-mainan-bekas-lewat-karya-seni/feed/ 0
Kala Warga Nikmati Akhir Pekan dengan Olahraga dan Belajar Upcycling https://www.greeners.co/aksi/kala-warga-nikmati-akhir-pekan-dengan-olahraga-dan-belajar-upcycling/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kala-warga-nikmati-akhir-pekan-dengan-olahraga-dan-belajar-upcycling https://www.greeners.co/aksi/kala-warga-nikmati-akhir-pekan-dengan-olahraga-dan-belajar-upcycling/#respond Wed, 13 Aug 2025 03:00:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=47122 Jakarta (Greeners) – Car Free Day di kawasan Gelora Bung Karno pada Minggu (10/8) tampil berbeda dari biasanya. Tak hanya menjadi ruang olahraga dan rekreasi, kali ini pengunjung juga berkreasi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Car Free Day di kawasan Gelora Bung Karno pada Minggu (10/8) tampil berbeda dari biasanya. Tak hanya menjadi ruang olahraga dan rekreasi, kali ini pengunjung juga berkreasi lewat kegiatan workshop upcycling sampah dalam rangka Road to Pertamina Eco Runfest 2025.

Bekerja sama dengan Stuffstuff by Greeners.co, Pertamina Eco Runfest 2025 mengajak masyarakat untuk mengubah limbah menjadi karya kreatif. Beberapa kegiatan yang mereka gelar antara lain menjahit potongan kain denim bekas di totebag, dengan menggunakan teknik jahit tradisional Jepang, sashiko, serta membuat gantungan kunci dari limbah plastik HDPE.

Teknik sashiko sendiri cukup sederhana. Peserta hanya perlu mengikuti pola jahitan yang telah panitia siapkan, lalu menyulamnya secara manual. Sementara, untuk proses pembuatan gantungan kunci, peserta memulai dengan melelehkan serpihan plastik HDPE menggunakan setrika hingga membentuk lempengan padat. Lempengan ini kemudian peserta bentuk menjadi gantungan kunci dengan berbagai desain menarik.

Jadi Wadah Edukasi bagi Masyarakat

Fasilitator workshop dari Stuffstuff by Greeners.co, Kalianda Ghulam Besari mengatakan bahwa kegiatan ini tak hanya sekadar mendukung tema berkelanjutan dari acara Pertamina Eco Runfest 2025. Namun, juga menjadi wadah edukasi sekaligus memberikan pengalaman langsung bagi masyarakat.

“Jadi selain membawa pulang hasil karya, kita juga bisa menginformasikan bahwa ada beberapa bahan yang terlihat sudah tidak bisa terpakai atau terlihat tidak ada nilainya, ternyata bisa menjadi benda yang berguna kembali dan memiliki nilai,” ujar Ghulam di Jakarta, Minggu (10/8).

Ia menambahkan bahwa proses dalam membuat produk daur ulang itulah yang justru menjadi daya tarik tersendiri. “Proses dalam pembuatan produk itu yang bikin peserta antusias. Mereka bisa merasakan secara langsung bagaimana membuatnya,” tambah Ghulam.

Ghulam berharap kegiatan workshop upcyling yang akan hadir pada puncak kegiatan Pertamina Eco Runfest 2025 pada November mendatang, bisa memberikan pemahaman baru yang menyenangkan tentang mengubah barang bekas menjadi lebih bernilai dan kreatif dengan cara ramah lingkungan bagi para pencinta olahraga lari.

Warga menikmati akhir pekan dengan olahraga dan belajar upcycling. Foto: Dini Jembar Wardani

Warga menikmati akhir pekan dengan olahraga dan belajar upcycling. Foto: Dini Jembar Wardani

Upcycling Gali Kreativitas

Workshop upcycling ini juga menjadi pengalaman pertama bagi Muhammad Fatih Fawwaz Albukhari (20). Ia mengaku terkesan karena baru tahu bahwa plastik HDPE bisa dilelehkan dan dibentuk ulang menjadi benda yang menarik.

“Jadi baru tahu kalau barang bekas kaya plastik HDPE ini bisa dilelehin jadi gantungan kunci. Nggak harus beli baru untuk punya barang keren, karena ternyata kita bisa daur ulang barang yang sudah tidak terpakai,” ungkapnya kepada Greeners.

Namun, menurut Fatih, proses pembuatannya cukup menantang, terutama saat tahap melelehkan plastik agar menyatu. “Pas dipanasin plastiknya biar dia menyatu itu cukup lumayan sulit dan hampir gagal. Bisa dibilang susah-susah gampang, tapi kalau udah bisa dan plastiknya padat ya mudah juga,” tambahnya.

Sebagai mahasiswa yang aktif di dunia seni, Fatih mengaku senang bisa mencoba cara-cara kreatif seperti ini. Ia menilai bahwa upcyling bisa mendorong anak muda lebih berkreasi untuk menciptakan sesuatu dari barang bekas.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/kala-warga-nikmati-akhir-pekan-dengan-olahraga-dan-belajar-upcycling/feed/ 0
Yeti Can Crusher, Alat Penghancur Kaleng untuk Mudahkan Daur Ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/yeti-can-crusher-alat-penghancur-kaleng-untuk-mudahkan-daur-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yeti-can-crusher-alat-penghancur-kaleng-untuk-mudahkan-daur-ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/yeti-can-crusher-alat-penghancur-kaleng-untuk-mudahkan-daur-ulang/#respond Wed, 11 Jun 2025 05:00:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=46769 Banyak orang membuang kaleng soda atau bir kosong ke tempat sampah tanpa pikir panjang. Padahal, sampah tersebut masih memiliki nilai daur ulang. YETI, merek alat rekreasi asal Amerika akhirnya menciptakan […]]]>

Banyak orang membuang kaleng soda atau bir kosong ke tempat sampah tanpa pikir panjang. Padahal, sampah tersebut masih memiliki nilai daur ulang. YETI, merek alat rekreasi asal Amerika akhirnya menciptakan teknologi Yeti Can Crusher, alat penghancur kaleng untuk memudahkan daur ulang.

Menghancurkan kaleng sebelum kita buang ini bukan sekadar soal menghemat ruang di tempat sampah daur ulang, meskipun itu menjadi salah satu manfaatnya. Dengan adanya alat ini, pengguna dapat memasukkan lebih banyak kaleng dalam setiap kantong atau tempat sampah.

BACA JUGA: Rocketbook, Sticky Note Reusable yang Membantu Kurangi Limbah Kertas

Selain manfaat praktis tersebut, menghancurkan kaleng juga berdampak positif pada proses daur ulang itu sendiri. Kaleng yang telah padat lebih mudah ditangani, disortir, dan diangkut.

Dengan demikian, proses daur ulang ini bisa efisien. Mulai dari pengumpulan dan pengiriman hingga konsumsi bahan bakar yang lebih rendah, kontribusi kecil ini berarti terhadap pelestarian lingkungan.

Mudahkan Daur Ulang

Yanko Design melansir bahwa Yeti Can Crusher juga memiliki daya tahan yang kuat. Bahan yang dipilih sama sekali tidak tipis, dan konstruksinya cukup kokoh untuk bisa bertahan selama bertahun-tahun.

Dengan tuas yang terasa halus dan andal setiap saat, alat ini juga tampak mampu memadatkan kaleng apa pun. Bahkan, ada sesuatu yang aneh namun menyenangkan, yakni tentang suara yang dihasilkannya, bunyi derak logam yang menandakan kaleng lain telah padat dan hancur.

BACA JUGA: Cegah Kebakaran di Pabrik Daur Ulang, Peneliti Kembangkan Sensor Baterai

Selain itu, alat penghancur kaleng ini pemasangannya juga tak rumit dan fleksibel. Alat ini bisa kita pasang di dinding garasi atau di halaman belakang.

Yeti Can Crusher lebih dari sekadar alat yang canggih. Alat ini menjadi pengingat bahwa kebiasaan sederhana bisa menjadi menyenangkan dan bermanfaat untuk lingkungan, terutama jika menggunakan alat yang tepat.

Bagi orang-orang yang menggunakan teknologi ini juga akan merasakan sensasi tersendiri. Mereka berperan besar untuk mendorong upaya daur ulang lebih efektif.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

 

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/yeti-can-crusher-alat-penghancur-kaleng-untuk-mudahkan-daur-ulang/feed/ 0
Daur Ulang Bukan Solusi Utama Tangani Polusi Plastik https://www.greeners.co/berita/daur-ulang-bukan-solusi-utama-tangani-polusi-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=daur-ulang-bukan-solusi-utama-tangani-polusi-plastik https://www.greeners.co/berita/daur-ulang-bukan-solusi-utama-tangani-polusi-plastik/#respond Thu, 05 Jun 2025 10:09:08 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=46735 Jakarta (Greeners) – Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025 kembali menyoroti pentingnya upaya mengakhiri polusi plastik (ending plastic pollution). Meskipun daur ulang sering digadang-gadang sebagai solusi utama, tantangan yang Indonesia hadapi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025 kembali menyoroti pentingnya upaya mengakhiri polusi plastik (ending plastic pollution). Meskipun daur ulang sering digadang-gadang sebagai solusi utama, tantangan yang Indonesia hadapi masih sangat besar. Hingga kini, daur ulang belum menjadi solusi yang efektif untuk mengakhiri polusi plastik.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2022, ada sekitar 6,8 juta ton sampah plastik yang Indonesia hasilkan setiap tahunnya. Namun, berdasarkan data National Plastic Action Partnership (NPAP) Indonesia tahun 2020, jumlah sampah yang Indonesia hasilkan hanya kurang dari 10 persen jumlah sampah plastik yang kemudian diproses lebih lanjut melalui daur ulang.

Founder Nol Sampah, Hermawan Some, menyatakan bahwa solusi daur ulang untuk mengatasi masalah sampah di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan. Di antaranya distribusi pabrik daur ulang yang belum merata, beragamnya jenis sampah plastik, buruknya sistem pengelolaan sampah, proses daur ulang yang kompleks dan berpotensi merusak lingkungan, serta minimnya praktik pemilahan sampah di masyarakat.

BACA JUGA: Festival Rumekso Bumi Kembali Gunakan Energi dari Sampah

Menurutnya, solusi daur ulang bukan hanya soal menemukan cara yang praktis dan cepat untuk mengakhiri polusi plastik, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi masyarakat dan jenis plastik yang beredar saat ini.

“Kenyataannya, daur ulang belum menjadi solusi yang tepat karena jenis plastik yang sangat beragam dan sistem pengelolaan sampah yang belum memadai. Oleh karena itu, solusi paling bijak adalah pengurangan penggunaan plastik dan mendorong penggunaan ulang (reuse),” kata Hermawan dalam wawancaranya bersama Greeners.

Daur ulang bukan solusi tunggal untuk menangani polusi plastik. Foto: Freepik

Daur ulang bukan solusi tunggal untuk menangani polusi plastik. Foto: Freepik

Permasalahan pada Kemasan

Permasalahan daur ulang ini juga tidak hanya terpaku pada masyarakat yang tidak memilah sampah, melainkan juga masyarakat yang belum memahami jenis-jenis plastik yang berbeda. Sebagai contoh, plastik jenis PET mungkin bisa untuk daur ulang, tetapi sering bermasalah karena label yang menempel pada kemasan terbuat dari bahan berbeda seperti PP, PVC, dan lainnya.

Selain itu, tutup botol yang biasanya terbuat dari HDPE, label, dan lapisan laminasi dari kertas, plastik, atau foil menambah kompleksitas daur ulang. Bahkan, warna dan jenis cetakan pada kemasan turut memengaruhi keberhasilan proses daur ulang. Ketika label atau tutup menggunakan bahan berbeda, maka harus dipisahkan secara manual, yang tentu menambah waktu dan biaya.

“Hal ini menunjukkan bahwa masalah bukan hanya pada pemilahan, tetapi pada desain kemasan itu sendiri. Perlu regulasi yang mewajibkan standar kemasan berdasarkan fungsi dan jenis produk. Misalnya, makanan dan minuman harus menggunakan plastik dengan lapisan tertentu yang seragam dan bisa untuk daur ulang,” tambah Hermawan.

Redesain Kemasan Mudahkan Daur Ulang

Hermawan menegaskan bahwa redesain kemasan menjadi kunci untuk memudahkan daur ulang. Contohnya seperti botol minuman yang tidak menggunakan label, tetapi dicetak langsung pada botolnya.

Menurutnya, hal sederhana ini bisa mengurangi biaya pemilahan dan pencucian. Apalagi, pencucian adalah bagian paling mahal dari proses daur ulang.

“Jika sampah sudah terpilah dari rumah tangga, maka tidak perlu pencucian intensif. Namun, kenyataannya banyak sampah yang berasal dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan harus melalui proses pencucian yang mahal dan memerlukan instalasi pengolahan air limbah (IPAL),” ujarnya.

Selain itu, distribusi pabrik daur ulang juga sangat terbatas dan belum merata. Sebagian besar pabrik daur ulang kebanyakan di wilayah Jawa. Hal ini menyulitkan daerah-daerah lain seperti Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua yang harus mengirimkan sampah ke Jawa dengan biaya logistik sangat tinggi.

BACA JUGA: Sentuhan Nuklir Ciptakan “Wajah Baru” Sampah Plastik

Akibatnya, harga sampah yang dibeli dari daerah-daerah tersebut menjadi sangat rendah. Sehingga, tidak menarik bagi masyarakat untuk mengumpulkannya. Masalah lingkungan juga muncul dari proses daur ulang itu sendiri. Sebab, butuh banyak air, energi, dan infrastruktur.

“Bahkan, ada anggapan jika sebuah pabrik daur ulang plastik untung, bisa jadi dia tidak menjalankan IPAL dengan benar atau melanggar aturan lingkungan,” kata Hermawan.

Hermawan mengungkapkan bahwa saat ini masih ada beberapa pabrik kecil yang tidak memiliki instalasi pengolahan limbah yang memadai. Bahkan, mereka masih menggunakan tungku pembakar tanpa teknologi pengendalian emisi yang baik.

Ketatkan EPR

Menurut Hermawan, solusi nyata untuk meningkatkan efektivitas daur ulang adalah penerapan EPR (Extended Producer Responsibility), bukan sekadar CSR. Produsen harus bertanggung jawab terhadap sampah kemasan yang mereka hasilkan.

Aturan tersebut juga sudah tercantum dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Sayangnya, dari ribuan produsen di Indonesia, hanya sekitar 30-40 yang telah menyusun peta jalan pengelolaan sampah.

“Kalau memang ingin mendorong daur ulang, harus ada kebijakan tegas dan insentif dari pemerintah, termasuk regulasi kemasan yang seragam, edukasi masyarakat, pembangunan infrastruktur daur ulang di daerah. Pengawasan juga harus ketat terhadap klaim-klaim produsen. Tanpa itu semua, proses daur ulang akan tetap mahal, tidak efektif, dan merugikan lingkungan,” ujar Hermawan.

Kuatkan Pengawasan dan Edukasi

Sementara itu, sampah plastik saat ini juga semakin banyak ditemukan, tak terkecuali di pesisir. Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali mengungkapkan bahwa pengangkutan botol plastik dari pulau-pulau kecil masih menjadi tantangan besar.

Direktur Eksekutif PPLH Bali, Catur Yudha Hariani mengungkapkan bahwa biaya transportasi pengangkutan sangat tinggi. Sehingga, tidak ada yang mau mengambil botol-botol itu. Akhirnya, semua berakhir di TPA atau bahkan mencemari laut, sungai, dan lingkungan sekitar.

Provinsi Bali saat ini menjadi salah satu daerah yang sudah mengeluarkan kebijakan untuk menekan laju plastik sekali pakai. Pada tahun 2025 ini mereka instruksi pelarangan plastik sekali pakai, khususnya bagi pegawai pemerintah daerah (Pemda), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan siswa di sekolah.

Kemudian, pada April lalu, Pemerintah Bali menerbitkan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 9 Tahun 2025. Dalam surat edaran tersebut, Gubernur Bali, I Wayan Koster secara resmi melarang produksi dan distribusi air minum dalam kemasan (AMDK) plastik dengan volume di bawah 1 liter.

Menurut Catur, kebijakan ini patut mendapat apresiasi, namun penting juga untuk dibarengi dengan kampanye dan edukasi secara masif. Selain itu, hal yang lebih penting adalah menekan perusahaan untuk melakukan pengurangan plastik.

“Kita tidak bisa menyelesaikan sisa sampah yang perusahaan hasilkan. Maka, langkah kita adalah pengurangan. Ini pesan penting yang harus ditujukan ke perusahaan,” tambah Catur.

Catur juga mengingatkan agar peraturan-peraturan sebelumnya yang mendorong pengurangan plastik sekali pakai juga harus kembali dioptimalkan. Pemerintah harus menegakkan kembali aturan yang sudah ada, jangan sekadar imbauan.

“Pemerintah juga harus mengalokasikan anggaran untuk implementasi dan pengawasan. Tidak cukup hanya bilang ‘Ayo jalankan’, tapi juga harus ada kontrol, monitoring, dan evaluasi,” ujarnya.

Saat ini, sayangnya anggaran tersebut belum ada. Padahal, pengawasan dan edukasi menjadi hal yang paling penting. Sebab, faktanya di lapangan masih banyak pelanggaran terhadap aturan yang sudah dibuat.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/daur-ulang-bukan-solusi-utama-tangani-polusi-plastik/feed/ 0
Nestlé Indonesia Kurangi Plastik Virgin dan Tingkatkan Daur Ulang https://www.greeners.co/aksi/nestle-indonesia-kurangi-plastik-virgin-dan-tingkatkan-daur-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nestle-indonesia-kurangi-plastik-virgin-dan-tingkatkan-daur-ulang https://www.greeners.co/aksi/nestle-indonesia-kurangi-plastik-virgin-dan-tingkatkan-daur-ulang/#respond Fri, 28 Mar 2025 07:44:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=46250 Jakarta (Greeners) – Nestlé Indonesia melaporkan komitmen keberlanjutannya melalui berbagai inisiatif. Salah satunya adalah mengurangi pemakaian plastik virgin dan meningkatkan proporsi kemasan yang dapat didaur ulang atau digunakan kembali. Sejak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Nestlé Indonesia melaporkan komitmen keberlanjutannya melalui berbagai inisiatif. Salah satunya adalah mengurangi pemakaian plastik virgin dan meningkatkan proporsi kemasan yang dapat didaur ulang atau digunakan kembali.

Sejak 2018, perusahaan ini telah berhasil mengurangi penggunaan plastik virgin hingga 21,3 persen secara global. Upaya ini dengan cara menggunakan plastik daur ulang dalam kemasan dan mendesain kemasan yang lebih efisien dalam penggunaan material.

Sustainability Delivery Lead PT Nestlé Indonesia, Maruli Sitompul, menyampaikan bahwa di Indonesia, Nestlé telah mengganti seluruh sedotan plastik pada produk ready-to-drink dengan sedotan kertas.

“Kami juga menggunakan kemasan plastik yang memiliki kandungan daur ulang (recycled content), melakukan desain kemasan yang dapat mengurangi penggunaan plastik dan bertransisi menggunakan bahan kemasan plastik yang dapat didaur ulang (recyclable),” jelas Maruli di Jakarta, Senin (24/3).

BACA JUGA: Festival Rumekso Bumi Kembali Gunakan Energi dari Sampah

Nestlé juga mengembangkan infrastruktur pengelolaan sampah. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas daur ulang dan mengurangi limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Salah satunya adalah mendirikan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) Baraya Runtah di Karawang. Fasilitas ini merupakan salah satu bentuk dukungan Nestlé dalam upaya pengurangan sampah rumah tangga dikirim ke tempat pemrosesan akhir (TPA).

Fasilitas ini mengelola sekitar 4,8 ton sampah per hari dari sekitar 4.000 rumah tangga. Dalam mendorong praktik bisnis yang berkelanjutan, perusahaan ini juga banyak melibatkan para pemangku kepentingan dan masyarakat luas.

Turunkan Emisi Karbon 20,38 Persen

Pada Februari 2025, Nestlé melaporkan pencapaian inisiatif keberlanjutannya sepanjang 2024. Laporan ini menyoroti berbagai upaya Nestlé dalam mengurangi dampak lingkungan, termasuk pengurangan emisi karbon.

Secara global, Nestlé telah berhasil menurunkan emisi karbon sebesar 20,38 persen daripada 2018, dengan target selanjutnya mencapai 50 persen pada 2030 dan net zero pada 2050.

BACA JUGA: Re.juve Berkomitmen Kurangi Sampah Plastik

Untuk mencapai target tersebut, Nestlé mengadopsi energi terbarukan dalam operasionalnya. Saat ini, 95,3 persen listrik di fasilitas manufakturnya secara global telah bersumber dari energi terbarukan.

“Di Nestlé, kami percaya pada kolaborasi dalam menciptakan manfaat jangka panjang. Tidak hanya untuk bisnis kami, tetapi juga untuk lingkungan dan masyarakat di sekitar area operasional kami. Keyakinan kami pada doing well by doing good merupakan inti dari semua yang kami lakukan, dan itulah salah satu alasan kami menempatkan keberlanjutan sebagai inti dari pondasi kami,” ujar Samer Chedid, Presiden Direktur PT Nestlé Indonesia.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/nestle-indonesia-kurangi-plastik-virgin-dan-tingkatkan-daur-ulang/feed/ 0
Pabrik Daur Ulang Amandina Perluas Kemitraan untuk Tingkatkan Daur Ulang https://www.greeners.co/aksi/pabrik-daur-ulang-amandina-perluas-kemitraan-untuk-tingkatkan-daur-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pabrik-daur-ulang-amandina-perluas-kemitraan-untuk-tingkatkan-daur-ulang https://www.greeners.co/aksi/pabrik-daur-ulang-amandina-perluas-kemitraan-untuk-tingkatkan-daur-ulang/#respond Tue, 05 Nov 2024 07:30:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45149 Jakarta (Greeners) – PT Amandina Bumi Nusantara memperluas kemitraan dalam program ‘Recycle Me’ yang memasuki tahun ke-4. Kolaborasi ini bertujuan untuk mendorong laju daur ulang kemasan plastik bekas pakai jenis […]]]>

Jakarta (Greeners) – PT Amandina Bumi Nusantara memperluas kemitraan dalam program ‘Recycle Me’ yang memasuki tahun ke-4. Kolaborasi ini bertujuan untuk mendorong laju daur ulang kemasan plastik bekas pakai jenis PET. Hal itu dapat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Program ‘Recycle Me’ adalah kolaborasi daur ulang botol plastik bekas pakai. Hal itu bertujuan untuk mendorong dan melibatkan konsumen dalam memahami manfaat memilah dan mendaur ulang kemasan plastik. Pada tahun 2024, program ini melibatkan mitra seperti Grab, Waste4Change, Yayasan Mahija Parahita Nusantara, dan BenihBaik.com. Tujuan program ini adalah untuk mendukung para pahlawan daur ulang dari sektor informal.

Program ‘Recycle Me’ kini tidak hanya menjangkau wilayah Jabodetabek, melainkan juga daerah lain seperti Bandung dan Denpasar. Perusahaan juga melibatkan masyarakat dalam upaya memilah dan mendaur ulang botol plastik bekas pakai.

Managing Director Amandina Bumi Nusantara, Suharji Gasali, menekankan pentingnya kolaborasi dalam mengatasi masalah sampah kemasan plastik bekas pakai. Kolaborasi ini juga telah mendorong terwujudnya ekonomi sirkular.

BACA JUGA: Waste4Change Menangkan Climate Impact Innovations Challenge

“Maka itu, kami senantiasa berkolaborasi dengan mitra, termasuk di antaranya dengan berpartisipasi dalam program ‘Recycle Me’. Kami telah berpartisipasi dalam program ini sejak tahun pertamanya pada 2021. Melalui program ini, botol-botol bekas pakai kemudian dikumpulkan, didaur ulang, dan diubah kembali menjadi botol baru di pabrik Amandina Bumi Nusantara,” kata Suharji di Cikarang, Senin (4/11).

Fasilitas Amandina yang didirikan dalam kemitraan antara Coca-Cola Europacific Partner Indonesia dan Dynapack Asia ini, juga memiliki kapasitas untuk memproduksi botol plastik dari bahan daur ulang. Ini memungkinkan pengurangan penggunaan resin plastik baru sekitar 25.000 ton per tahun pada 2022. Pendirian fasilitas ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan industri daur ulang, tetapi juga mendukung peta jalan pemerintah dalam pengelolaan sampah.

PT Amandina Bumi Nusantara memperluas kemitraan dalam program 'Recycle Me'. Foto: Dini Jembar Wardani

PT Amandina Bumi Nusantara memperluas kemitraan dalam program ‘Recycle Me’. Foto: Dini Jembar Wardani

Daur Ulang 120 Ton Botol Plastik PET

Dalam menghadapi permasalahan sampah plastik, Amandina mengedepankan prinsip daur ulang melalui proyek Recycled PET Close Loops Value Chain. Proyek ini berfokus pada daur ulang limbah botol plastik menjadi botol yang aman untuk penggunaan kemasan.

Amandina menggunakan bahan baku berkualitas untuk memproduksi botol plastik PET daur ulang (rPET) dan menjalin kerja sama dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di seluruh Indonesia. UMKM ini berperan sebagai pusat pengumpulan dan penyuplai limbah botol plastik ke Amandina.

BACA JUGA: Festival Rumekso Bumi Kembali Gunakan Energi dari Sampah

Setiap harinya, Amandina mendaur ulang rata-rata 120 ton plastik bekas pakai jenis PET dan mengolahnya menjadi 100 ton biji plastik. Dalam sebulan, Amandina mendaur ulang sekitar 3.000 botol kemasan plastik bekas jenis PET. Bahkan, pada tahun 2024, Amandina berhasil mendaur ulang total 40.000 ton plastik PET. Sebagian besar kemasan PET ini berasal dari Pulau Jawa.

“Kami berharap ke depan akan semakin banyak program daur ulang botol plastik bekas pakai. Ini demi mendukung target pemerintah dalam pengurangan sampah plastik pada tahun 2030,” tambah Suharji.

Utamakan Kesejahteraan Pekerja Sampah

Dalam proses pengumpulan botol plastik bekas pakai, Amandina juga berkontribusi pada kesejahteraan pekerja sampah. Khususnya, pemulung yang berperan penting dalam pengumpulan botol plastik PET.

Ketua Yayasan Mahija Parahita Nusantara, Ardhina Zaiza mengatakan tahun ini yayasan kembali berpartisipasi dalam program ‘Recycle Me’. Hal itu untuk mendukung sektor informal di industri daur ulang.

“Kami menyebut para pekerja ini sebagai recycling heroes atas kontribusi mereka dalam ekonomi sirkular. Bersama BenihBaik.com, kami berkolaborasi untuk mendukung kesejahteraan para recycling heroes dan memberikan apresiasi yang layak,” kata Zaiza.

Partisipasi Amandina dalam program ‘Recycle Me’ 2024 adalah langkah nyata untuk memperluas upaya daur ulang botol plastik bekas pakai. Melalui inisiatif ini, Amandina berkomitmen untuk mendorong terwujudnya ekonomi sirkular di Indonesia. Sehingga, memberikan manfaat tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi masyarakat yang terlibat dalam proses ini.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/pabrik-daur-ulang-amandina-perluas-kemitraan-untuk-tingkatkan-daur-ulang/feed/ 0
Puma Gandeng Pengrajin Ethiopia Buat Koleksi Daur Ulang https://www.greeners.co/gaya-hidup/puma-gandeng-pengrajin-ethiopia-buat-koleksi-daur-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=puma-gandeng-pengrajin-ethiopia-buat-koleksi-daur-ulang https://www.greeners.co/gaya-hidup/puma-gandeng-pengrajin-ethiopia-buat-koleksi-daur-ulang/#respond Tue, 20 Feb 2024 05:51:14 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=43106 Merek pakaian olahraga ternama, Puma, meluncurkan produk daur ulang buatan pengrajin lokal di negara Ethiopia. Perusahaan tersebut juga menggandeng LemLem, usaha fesyen lokal asal Afrika. Misi ini Puma bangun untuk […]]]>

Merek pakaian olahraga ternama, Puma, meluncurkan produk daur ulang buatan pengrajin lokal di negara Ethiopia. Perusahaan tersebut juga menggandeng LemLem, usaha fesyen lokal asal Afrika. Misi ini Puma bangun untuk menginspirasi pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut dan melestarikan budaya lokal seperti tenun.

Setiap pakaian olahraga terbuat dari minimal 30% bahan daur ulang dengan tangan pengrajin lokal di Ethiopia. Hal ini merupakan bukti komitmen perusahaan tersebut untuk mengambil inisiatif berkelanjutan yang lebih kuat, sekaligus mempromosikan visi LemLem dalam praktik pakaian yang etis.

BACA JUGA: Nowatch, Jam Tangan Unik Pelacak Kesehatan Mental dan Fisik

The Wellness Feed melansir bahwa inisiatif seperti Puma sudah banyak merek lain lakukan. Misalnya, Adidas yang meluncurkan sepatu olahraga dari plastik hasil pembersihan laut. Tahun lalu, Crocs juga berkolaborasi dengan DOW Inc untuk meluncurkan koleksi sepatu berbasis bio.

Oleh karena itu, tidak heran kalau saat ini sudah banyak merek yang menerapkan konsep keberlanjutan melalui berbagai inovasi. Sebab, kini pencemaran lingkungan semakin mendesak, produsen fesyen pun mulai ikut bertindak.

Puma menggandeng pengrajin Ethiopia buat koleksi daur ulang. Foto: The Wellness Feed

Puma menggandeng pengrajin Ethiopia buat koleksi daur ulang. Foto: The Wellness Feed

Puma Memberdayakan Masyarakat Lokal

Puma tidak terlepas dari reputasi baiknya. Merek olahraga global ini memiliki produk berkualitas dan unggul. Apalagi, saat ini Puma berkolaborasi dengan LemLem yang mengangkat seni tradisional penenun Ethiopia.

Kolaborasi ini memberikan sebuah wajah baru dalam fesyen olahraga. Puma juga mendorong standar produksi yang lebih baik dengan memberdayakan masyarakat lokal.

BACA JUGA: Freitag “Sulap” Airbag dan Terpal Jadi Tas Kekinian

Pendiri LemLem, Liya Kebede mengatakan bahwa koleksi ini diperuntukkan bagi wanita yang menginginkan sesuatu berbeda dan bisa keluar dari zona nyaman. Sebab, produk buatan Puma dan LemLem telah memberikan nuansa warna dan bentuk yang penuh keunikan.

“Ini adalah koleksi untuk wanita yang ingin menonjolkan feminitasnya dan percaya bahwa pakaian olahraga tidak harus membosankan,” ujar Liya.

Konsumen Bisa Dapat Pakaian Olahraga Corak Baru

Sementara itu, dari kolaborasi telah memberikan koleksi yang menampilkan karya seni orisinal dan bermanfaat bagi komunitas pembuat pakaian inovatif. Sehingga, konsumen bisa mendapatkan merek pakaian olahraga global dengan corak yang baru.

LemLem melansir bahwa visi antara Puma dan LemLem mengenai keberlanjutan telah mendukung langkah masa depan lebih baik. Puma dan LemLem merasa bangga bisa mengemban tanggung jawab untuk memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Koleksi yang Puma luncurkan pun tengah mencerminkan komitmen mereka terhadap praktik dengan menggunakan bahan daur ulang.

Sejauh ini, LemLem juga sudah dikenal sebagai perusahaan yang memberikan praktik secara etis dan berdedikasi untuk memberdayakan pengrajin lokal di Afrika. Para penenun di Ethiopia pun berhasil menciptakan banyak karya menggunakan teknik tradisional.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/puma-gandeng-pengrajin-ethiopia-buat-koleksi-daur-ulang/feed/ 0
IKEA Daur Ulang Seragam Kerja Menjadi Tas dan Bantal https://www.greeners.co/gaya-hidup/ikea-daur-ulang-seragam-kerja-menjadi-tas-dan-bantal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ikea-daur-ulang-seragam-kerja-menjadi-tas-dan-bantal https://www.greeners.co/gaya-hidup/ikea-daur-ulang-seragam-kerja-menjadi-tas-dan-bantal/#respond Fri, 02 Feb 2024 05:50:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=42942 Peritel perabot rumah tangga dan furnitur kantor, IKEA, kini tengah mencoba menciptakan gaya hidup baru yang lebih berkelanjutan. Merek asal Swedia ini meluncurkan koleksi terbarunya, yaitu VäXELBRUK. Produk unik ini […]]]>

Peritel perabot rumah tangga dan furnitur kantor, IKEA, kini tengah mencoba menciptakan gaya hidup baru yang lebih berkelanjutan. Merek asal Swedia ini meluncurkan koleksi terbarunya, yaitu VäXELBRUK. Produk unik ini merupakan hasil daur ulang pakaian kerja lama IKEA yang diubah menjadi tas dan bantal.

Yanko Design melansir bahwa IKEA kini telah memperkenalkan seragam kerja baru. Jadi, mereka tak membiarkan seragam lama brand tersebut berakhir di tempat sampah dan terbuang sia-sia. Oleh karena itu, perusahaan tersebut memanfaatkan seragam dan mereka daur ulang menjadi barang baru yang lebih berguna.

BACA JUGA: Kenali Produk Kecantikan yang Mendukung Hidup Berkelanjutan

Saat meluncurkan desain seragam kerja baru selama beberapa tahun terakhir, perusahaan tersebut berhasil mengumpulkan ratusan palet seragam rekan kerja dengan desain lama. Pakaian yang telah usang telah dikembalikan oleh pegawai IKEA dari seluruh Eropa. Seragam yang terkumpul merupakan bagian dari eksplorasi daur ulang tekstil di IKEA.

Produk yang terbuat dari 300 ton seragam lama IKEA ini memiliki ciri khas warna kuning dan biru. Kemudian, telah menghasilkan 16 item berbahan tekstil dengan warna yang menarik. Tak hanya tas dan bantal, perusahaan itu juga membuat tirai serta sarung bantal.

Gunakan Botol Bekas untuk Bahan Campuran

Sementara itu, koleksi VÄXELBRUK tidak seluruhnya terbuat dari tekstil seragam. Terdapat campuran bahan daur ulang lainnya seperti poliester dari botol PET bekas.

Mereka juga mencampur beberapa seragam model baru yang “rusak” agar tidak terbuang dengan percuma. Dengan memasukkan material lain, itu telah membantu mengubah warna koleksi VÄXELBRUK lebih cerah.

Sobat Greeners, mungkin ini terlihat unik bukan? Sebab, kita seringkali hanya menumpuk seragam yang sudah tak dipakai di dalam lemari. Inisiatif IKEA telah menjadi sebuah ide kreatif dan mendukung sirkuler ekonomi berkelanjutan. Nah, koleksi VÄXELBRUK ini akan mereka rilis pada bulan Februari 2024 di seluruh toko Eropa.

IKEA Menuju Model Bisnis Sirkuler

IKEA Global melansir bahwa VÄXELBRUK merupakan koleksi perabot rumah tangga dekoratif dan fungsional yang tercipta dari sistem daur ulang. Sebagai Pemimpin Penerapan Bisnis dan Inovasi di IKEA, Luca Clerici telah menandai bahwa langkah ini menjadi perjalanan IKEA menuju model bisnis sirkuler.

“Orang tua saya selalu bekerja. Jadi, saya dibesarkan oleh kakek saya yang hidup dalam kemiskinan akibat perang dunia kedua. Dia mengajari saya untuk tidak menyia-nyiakan apa pun, bahwa segala sesuatu sangatlah berharga,” kata Luca.

BACA JUGA: Startup TexFad di Uganda Buat Karpet dari Serat Pisang

Hal ini membantu Luca mengembangkan rasa tanggung jawab dalam pilihan yang ia buat di kehidupan pribadi. Kemudian, Luca juga terinspirasi mengambil setiap kesempatan untuk membantu menangani berbagai hal.

Salah satu hal favorit Luca di IKEA adalah menyelidiki teknik produksi dan bahan baru untuk pengembangan produk berkelanjutan di masa depan. Jadi, ketika seragam kerja IKEA terkumpul dari seluruh Eropa, ia mengambil kesempatan untuk mengeksplorasi potensi tekstil sebagai sumber daya material.

“Ini adalah bagian yang menyenangkan dari pekerjaan saya. Bekerja dengan banyak industri dan bahan yang berbeda, dengan banyak orang yang berbeda, untuk menyelesaikan sesuatu bersama-sama,” ujar Luca.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/ikea-daur-ulang-seragam-kerja-menjadi-tas-dan-bantal/feed/ 0
Pengusaha Ifedolapo Runsewe Ubah Ban Bekas Jadi Paving Block https://www.greeners.co/ide-inovasi/pengusaha-ifedolapo-runsewe-ubah-ban-bekas-jadi-paving-block/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pengusaha-ifedolapo-runsewe-ubah-ban-bekas-jadi-paving-block https://www.greeners.co/ide-inovasi/pengusaha-ifedolapo-runsewe-ubah-ban-bekas-jadi-paving-block/#respond Sat, 06 Jan 2024 05:00:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=42699 Pengusaha wanita di Nigeria, Ifedolapo Runsewe memanfaatkan ban bekas menjadi paving block. Lewat inovasinya, dia telah mendirikan Freetown Waste Management Recycle di salah satu negara terpadat di Afrika. Tak hanya […]]]>

Pengusaha wanita di Nigeria, Ifedolapo Runsewe memanfaatkan ban bekas menjadi paving block. Lewat inovasinya, dia telah mendirikan Freetown Waste Management Recycle di salah satu negara terpadat di Afrika. Tak hanya menciptakan paving block, Freetown Waste Management Recycle yang merupakan sebuah pabrik industri juga berhasil mengubah ban bekas menjadi ubin lantai dan dekorasi rumah lainnya.

Reuters melansir bahwa kondisi pengelolaan sampah di Nigeria kini memang tidak merata. Baik di desa, kota besar, hingga kota kecil, tumpukan sampah sudah menjadi pemandangan umum. Bahkan, warga setempat sering membakarnya pada malam hari. Hal itu terjadi karena kurangnya metode pembuangan yang lebih aman. Ban secara rutin dibuang dan ditinggalkan.

BACA JUGA: Stump, Bangku Antik yang Terbuat dari 80% Plastik Daur Ulang

“Menciptakan sesuatu yang baru dari sesuatu yang seharusnya menjadi sampah adalah bagian dari motivasi,” kata Ifedolapo Runsewe.

Bahkan, Nigeria berpotensi menghasilkan lebih dari tiga juta limbah ban setiap tahunnya. Sebagai orang Nigeria yang sadar lingkungan, Ifedolapo Runsewe memutuskan untuk menciptakan solusi lingkungan dengan mendaur ulang limbah ban tersebut. Hal itu untuk mengurangi dampak lingkungan akibat pembuangan yang tidak tepat.

Oleh karena itu, Runsewe mulai mendirikan Freetown Waste Management Recycle pada Januari 2018. Namun, pabrik tersebut mulai beroperasi pada tahun 2020. Visi yang mereka usung adalah menjadi perusahaan manufaktur karet daur ulang terkemuka di Nigeria. Sehingga, bisa membantu mengurangi masalah pengelolaan limbah ban di negara tersebut.

Ifedolapo Runsewe memanfaatkan ban bekas menjadi paving block. Foto: Weforum

Ifedolapo Runsewe memanfaatkan ban bekas menjadi paving block. Foto: Weforum

Menjunjung Praktik Berkelanjutan

Sebagai perusahaan yang peduli lingkungan, Freetown Waste Management Recycle menjunjung tinggi visi penerapan praktik keberlanjutan secara holistik. Saat ini, pabrik milik Runsewe selaras dengan 12 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Mereka telah memanfaatkan rantai nilai dan melihat potensi di Nigeria untuk membangun beberapa fasilitas daur ulang limbah. Kemudian, memperluas operasi daur ulang dan manufakturnya ke setiap negara bagian di Nigeria serta keenam negara bagian di Afrika.

Pabrik daur ulang ini memiliki 159 pekerja penuh waktu. Seluruh tenaga kerja di Freetown Waste Management Recycle 100% warga Nigeria. Tak sekadar gaji pokok yang pekerja dapatkan, sang pemilik juga memberikan banyak tunjangan kepada karyawan di pabrik daur ulang miliknya.

Berikan Pelatihan Keselamatan Kerja pada Karyawan

Ketika Runsewe memutuskan untuk membangun pabrik daur ulang sampah, ia juga memberikan pelatihan keselamatan kerja pada karyawannya. Seluruh karyawan yang bekerja di pabrik tersebut mendapatkan pengetahuan teknis, khususnya dalam memahami komposisi ban dan proses daur ulang yang terlibat.

BACA JUGA: Lenovo Sulap Limbah Elektronik Jadi Kursi yang Unik

Pengetahuan itu membantu dalam pemilahan, pemrosesan, dan daur ulang ban secara efektif. Terutama pada pelatihan keselamatan kerja, karyawan mendapatkan pengetahuan dalam penanganan ban selama pemotongan, pencacahan, dan pemrosesan.

Pelatihan keselamatan yang tepat dan penggunaan alat pelindung diri menjadi hal penting untuk mencegah kecelakaan dan cedera. Runsewe juga mengadakan pelatihan keselamatan berkala, seperti pengoperasian mesin daur ulang ban, termasuk mesin penghancur, penggiling, dan granulator. Menurutnya, dalam proses produksi ini memerlukan pelatihan khusus untuk memastikan pemrosesan yang aman dan efisien.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/pengusaha-ifedolapo-runsewe-ubah-ban-bekas-jadi-paving-block/feed/ 0
Stump, Bangku Antik yang Terbuat dari 80% Plastik Daur Ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/stump-bangku-antik-yang-terbuat-dari-80-plastik-daur-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=stump-bangku-antik-yang-terbuat-dari-80-plastik-daur-ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/stump-bangku-antik-yang-terbuat-dari-80-plastik-daur-ulang/#respond Thu, 28 Dec 2023 03:00:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=42628 Perusahaan berbasis Australia, Derlot meluncurkan bangku “Stump” yang 80% terbuat dari plastik daur ulang. Bangku berbentuk minimalis ini menjadi bukti bahwa plastik pascakonsumsi dapat didaur ulang menjadi barang yang antik. […]]]>

Perusahaan berbasis Australia, Derlot meluncurkan bangku “Stump” yang 80% terbuat dari plastik daur ulang. Bangku berbentuk minimalis ini menjadi bukti bahwa plastik pascakonsumsi dapat didaur ulang menjadi barang yang antik.

Bangku Stump memiliki bentuk sederhana yang berdimensi dengan hasil akhir berbintik-bintik. Warnanya juga memiliki banyak kombinasi sehingga bisa menarik para konsumen untuk memilikinya. Selain itu, tampilan furnitur Stump juga bermakna “berani, minimalis, dan tidak rumit”. Material bangku terbuat dari plastik LDPE daur ulang pascaindustri. Inisiatif tersebut cocok bagi Sobat Greeners yang suka dengan perabotan ramah lingkungan.

BACA JUGA: Siswa SMKN 1 Bontang Ciptakan Sabun dari Pakis Boston

Selain itu, potongan pada setiap plastik sebagai material juga memiliki warna yang beragam. Secara khusus, konsumen juga dapat memesan sesuai permintaan warna yang mereka inginkan.

Karya dari desainer asal Australia, Alexander Lotersztain ini telah memanfaatkan cacahan atau pelet dari plastik menjadi sebuah barang yang fungsional. Berkat kreativitasnya, Alexander tak hanya menciptakan bangku daur ulang saja. Dirinya merupakan pemilik Derlot, sebuah studio furnitur yang telah berkomitmen untuk mendukung keberlanjutan.

Derlot meluncurkan bangku "Stump" yang 80% terbuat dari plastik daur ulang. Foto: Dezeen

Derlot meluncurkan bangku “Stump” yang 80% terbuat dari plastik daur ulang. Foto: Dezeen

Bangku Stump Miliki Desain seperti Teraso

Desain dari bangku Stump telah melahirkan sebuah warna baru dan berbeda dari bangku pada umumnya. Pola pada bangku ini sekilas mirip teraso yang terlihat lebih bertekstur dan berwarna.

Yanko Design melansir bahwa bangku ini adalah sebuah “interpretasi baru” bagi penggunanya. Mereka sekaligus bisa mengetahui tentang plastik daur ulang yang bisa menjadi barang yang cantik.

BACA JUGA: Biohybrid Microrobots Bisa Hilangkan Mikroplastik di Genangan Air

Dalam meluncurkan bangku ini, Derlot juga menandakan simbol komitmen untuk memproduksi barang yang berkelanjutan. Sampai saat ini, studio furnitur yang berdomisili di Australia tersebut terus menyeimbangkan keserbagunaan dan fungsionalitas dengan estetika modern untuk hidup serta bekerja. Mereka terus berupaya berinovasi dan mewujudkan produk dan solusi untuk dunia yang terus berkembang.

Tak hanya Derlot, kini banyak perusahaan lain yang sudah memulai langkahnya dalam berbisnis lebih berkelanjutan. Terutama, dalam perusahaan furnitur seperti Derlot, ada banyak peluang untuk memanfaatkan sampah pascakonsumsi untuk dijadikan sebuah kreativitas yang bermanfaat hingga memiliki nilai jual yang tinggi.

 

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/stump-bangku-antik-yang-terbuat-dari-80-plastik-daur-ulang/feed/ 0
Cozy Cleo Lamp, Lampu 3D dari Karton dan Plastik Daur Ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/cozy-cleo-lamp-lampu-3d-dari-karton-dan-plastik-daur-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cozy-cleo-lamp-lampu-3d-dari-karton-dan-plastik-daur-ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/cozy-cleo-lamp-lampu-3d-dari-karton-dan-plastik-daur-ulang/#respond Wed, 16 Aug 2023 04:00:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=41218 Studio desain Jerman Every Other Day telah meluncurkan Cozy Cleo Lamp, lampu meja cetak 3D yang terbuat dari botol plastik daur ulang dan karton. Lampu ini pun berdesain minimalis. Produk […]]]>

Studio desain Jerman Every Other Day telah meluncurkan Cozy Cleo Lamp, lampu meja cetak 3D yang terbuat dari botol plastik daur ulang dan karton. Lampu ini pun berdesain minimalis. Produk ini dirancang untuk menangkal masyarakat yang kerap berperilaku sekali pakai.

Frederik Rasenberger adalah sosok di balik rancangan ini. Karton daur ulang ditekan dan dicetak menjadi bentuk tanpa bahan tambahan apa pun untuk membentuk dasar perlengkapan.

Pada saat yang sama, botol plastik daur ulang diparut dan diproses dalam printer 3D untuk menciptakan bentuk bergelombang. Selama proses tersebut, menggunakan 200 gram karton dan 10 botol plastik didaur ulang. Setelah masa pakai berakhir, lampu dapat didaur ulang, sehingga bahan dapat digunakan kembali dengan cara yang benar-benar baru dan berbeda.

Lampu meja ini merupakan upaya inovatif Rasenberger untuk mengatasi pemborosan kardus yang berlebihan. Sebagai gantinya, ia memasukkannya ke dalam proses desain melingkar, memberikan material dengan identitas baru dan terdefinisi ulang.

Cozy Cleo Lamp dapat konsumen gunakan sebagai dekorasi rumah. Dengan desainnya yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, dapat diterapkan pada lampu, furnitur, dan dekorasi rumah lainnya.

Proses Desain Lingkaran untuk Meminimalkan Sampah

Dengan pesatnya bisnis pesanan melalui pos, semakin banyak kotak pengiriman yang dibutuhkan dan kemudian dibuang setelah digunakan sekali pakai. Setiap tahun, 22 juta ton limbah kertas dihasilkan. Limbah kardus menjadi yang terbanyak.

Mengatasi hal ini, Frederik Rasenberger, Pendiri dan Desainer Utama Every Other Day, menggunakan materi baru dan mengembangkan proses desain melingkar untuk meminimalkan sampah.

Untuk lampu meja Cozy Cleo, kardus daur ulang dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian dihancurkan dengan air. Dengan bantuan tekanan 5 ton berupa hydraulic press, kemudian ditekan menjadi bentuk body tanpa perlu tambahan apapun seperti lem atau bonding agent.

Setelah dibiarkan selama beberapa hari, permukaan yang keras seperti kayu akan dilapisi dengan lapisan pernis anti air yang tipis untuk melindungi dari kelembapan.

Cozy Cleo Table Lamp Hindari “Budaya Membuang”

Dalam ekspresi yang rumit namun minimalis, kap lampu dibentuk dari botol plastik daur ulang cetak 3D. Tim mengumpulkan botol bekas dan mencabik-cabiknya untuk membuat filamen, yang kemudian diproses dalam printer 3D.

Hasilnya adalah produk berkelanjutan secara holistik dengan garis geometris yang bersih dan bahasa visual yang berbeda. Selama  proses pembuatan produk telah meminimalkan limbah selama produksi.

Hal ini adalah langkah pertama untuk mencerminkan kepada konsumen bahwa perusahaan tidak lagi memiliki bahan-bahan yang baru, Mereka hanya menggunakan barang bekas untuk digunakan kembali.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : RIK

Sumber : Designboom

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/cozy-cleo-lamp-lampu-3d-dari-karton-dan-plastik-daur-ulang/feed/ 0
Sampah Produk Pascakonsumsi Harus Punya Solusi https://www.greeners.co/berita/sampah-produk-pascakonsumsi-harus-punya-solusi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sampah-produk-pascakonsumsi-harus-punya-solusi https://www.greeners.co/berita/sampah-produk-pascakonsumsi-harus-punya-solusi/#respond Sun, 02 Jul 2023 05:00:45 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40656 Jakarta (Greeners) – Indonesia punya target bersih sampah di tahun 2025. Peran produsen penting. Sebagai sumber penghasil produk kemasan, berpotensi menimbulkan sampah pascakonsumsi. Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan mengancam lingkungan. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia punya target bersih sampah di tahun 2025. Peran produsen penting. Sebagai sumber penghasil produk kemasan, berpotensi menimbulkan sampah pascakonsumsi. Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan mengancam lingkungan.

Untuk mengurangi sampah produknya, produsen terus berinovasi. Upaya ini tidak produsen lakukan sendirian, melainkan butuh kolaborasi menggandeng banyak pihak untuk mengurangi sampah.

Melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No 75 Tahun 2019 Tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen, mereka diwajibkan untuk menarik dan mengumpulkan kembali sampah kemasan pascakonsumsi untuk didaur ulang. Salah satu produsen minuman, Coca-Cola telah menerapkan langkah tersebut.

Public Affairs Communications and Sustainability Director Coca-Cola Europasific Partners, Lucia Karina mengatakan, sistem pengumpulan yang Coca-Cola lakukan melibatkan komunitas pemulung dan pengepul sampah (recyling heroes). Para pemulung ini memudahkan dalam pengumpulan kemasan botol yang akan mereka daur ulang nantinya.

“Dasar melakukan gerakan bukan hanya fokus mengurangi sampahnya saja, tapi kolaborasi sangat penting demi mengurangi dampak yang terjadi pada lingkungan dan masyarakat.” ungkap Karina.

Saat ini, Coca-Cola juga telah menunjukkan komitmen lainnya untuk mengurangi sampah. Ada banyak upaya yang sudah Coca-Cola implementasikan. Misalnya penggunaan kemasan 100 % rPET. Kemudian membuat sistem pengumpulan sampah kemasannya yang melibatkan banyak stakeholders.

Gunakan Kemasan 100 % rPEt

Direktur Pengurangan Sampah Ditjen Pengelolaan Sampah Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun  KLHK, Vinda Damayanti mengatakan, Permen LHK No 75 Tahun 2019 ini menegaskan kepada produsen untuk melakukan redesain kemasan lebih ramah lingkungan.

Hal tersebut sudah sejalan yang Coca-Cola lakukan. Perusahaan minuman ini telah meredesain kemasannya 100 % plastik PET daur ulang (rPET).

“Coca-Cola di Indonesia berkomitmen menciptakan dunia bebas sampah, dengan menghilangkan kemasan yang tidak perlu dan menjadikan kemasan minuman sebagai bagian dari ekonomi sirkular,” ucap Karina.

Melalui prinsip “This is Forward” Coca-Cola pun telah melaju cepat memikirkan rencana aksi keberlanjutan sebagai inti dari strategi jangka panjangnya. Bahkan, saat ini Coca-Cola mendirikan fasilitas daur ulang PET dan yayasan nirlaba untuk mengelola pengumpulan yang bertanggung jawab.

Komitmen Coca Cola menggunakan botol daur ulang untuk kurangi sampah. Foto: Greeners/Stanly Pondaag

Komitmen Panjang Coca-Cola

Sebagai salah satu produsen yang memiliki program penuh simpatik, Coca-Cola memiliki komitmen untuk menggapai dunia bebas sampah dalam jangka panjang.

Komitmen pertama yang terus mereka tegaskan yakni pada tahun 2025 mengganti kemasan 100 % menjadi recylability. Selanjutnya, Coca-Cola pun akan menghentikan penggunaan plastik murni berbahan virgin oil dalam botol Coca-Cola pada tahun 2030.

Tak sekadar itu, Coca-Cola juga mendorong kemasan sirkular dengan menargetkan di tahun 2030 mengumpulkan 100 % botol plastik yang mereka produksi. Kemudian melakukan investasi dan inovasi untuk solusi pengemasan di masa depan.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/sampah-produk-pascakonsumsi-harus-punya-solusi/feed/ 0
PCR Wujudkan Material Kemasan dari Daur Ulang https://www.greeners.co/berita/pcr-wujudkan-material-kemasan-dari-daur-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pcr-wujudkan-material-kemasan-dari-daur-ulang https://www.greeners.co/berita/pcr-wujudkan-material-kemasan-dari-daur-ulang/#respond Mon, 26 Jun 2023 07:00:22 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40566 Jakarta (Greeners) – Pikulan tanggung jawab mewujudkan Indonesia bersih sampah tidak hanya berada di tangan konsumen, tetapi juga pada produsen. Inovasi menjadi kunci mengubah kemasan produk agar tidak lagi mencemari […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pikulan tanggung jawab mewujudkan Indonesia bersih sampah tidak hanya berada di tangan konsumen, tetapi juga pada produsen. Inovasi menjadi kunci mengubah kemasan produk agar tidak lagi mencemari lingkungan.

Pemerintah melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No 75 Tahun 2019 Tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen memberi waktu bagi produsen hingga tahun 2029 untuk menjalankan amanat tersebut.

Permen LHK No 75 Tahun 2019 menjadi pijakan produsen untuk meredesain kemasan produknya lebih ramah lingkungan. Peraturan tersebut juga mewajibkan produsen untuk membatasi timbulan sampah, daur ulang sampah, dan penggunaan kembali sampah.

Dari laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) hingga saat ini ada 16 produsen yang telah uji coba dan menunjukkan komitmennya terhadap peraturan tersebut. Namun baru 11 produsen yang sudah memasukkan dokumen perencanaan melalui aplikasi secara lengkap. Salah satunya PT Unilever Indonesia.

Head of Sustainable Environment PT Unilever Indonesia, Maya Tamimi mengatakan, komitmen Unilever saat ini sangat sejalan dengan Permen LHK No 75 Tahun 2019. Unilever telah memiliki komitmen terhadap plastik secara global.

“Kami punya komitmen global yaitu pengurangan plastik. Kemudian kami tingkatkan untuk mendaur ulang plastik tersebut dan kami terus berupaya menggunakan plastik daur ulang di kemasan kami lalu dikumpulkan kembali,” ungkap Maya kepada Greeners baru-baru ini.

Saat ini, Unilever sedang mencoba berinovasi dan menciptakan produk yang lebih mudah untuk didaur ulang. Maya menambahkan, ketika me-redesign kemasan, ternyata penggunaan plastik berkurang sangat signifikan dan pengurangannya cukup signifikan.

Unilever Lakukan PCR

Tahun 2025, Unilever juga menargetkan post-consumer recyling (PCR) dalam kemasannya. PCR artinya bahan material kemasan yang terbuat dari hasil daur ulang.

Alurnya produk konsumen gunakan, sampah bekas pakai dikumpulkan. Lalu setelah dibersihkan proses daur ulang dimulai. Hasilnya adalah PCR yang akan dites kualitasnya. Setelah melalui fase itu, bahan botol berkemasan PCR siap dipasarkan lagi sebagai produk baru.

Tak hanya itu, sejak tahun 2008 Unilever mendirikan bank sampah binaan mereka. Jumlahnya saat ini mencapai 4.000 bank sampah. Kemudian di tahun 2022, Unilever berhasil mengolah dan mengumpulkan 62.360 ton sampah plastik.

Head of Sustainable Environment PT Unilever Indonesia, Maya Tamimi. Foto: Greeners/Stanly Pondaag

Target Jangka Panjang

Maya menambahkan, saat ini Unilever telah mengirim peta jalan kepada KLHK. Unilever akan terus memperbarui proses pencapaiannya kepada pemerintah. Adapula target pada tahun 2025. Target tersebut di antaranya mengumpulkan lebih banyak produk bekas daripada yang Unilever jual.

Kemudian, dalam waktu jangka pendek, Unilever ingin menggandeng asosiasi perusahaan dan industri lainnya untuk mengkampanyekan Permen LHK No 75 Tahun 2019. Baginya agar kompetitif, perusahaan lainnya pun harus punya komitmen memenuhi amanat permen tersebut.

Direktur Pengurangan Sampah Ditjen Pengelolaan Sampah Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun  KLHK, Vinda Damayanti mengatakan, 408 produsen akan menyelesaikan roadmap pengurangan sampah mereka tahun 2023.

Senada dengannya, Kepala Subdirektorat Tata Laksana Produsen Direktorat Pengurangan Sampah KLHK, Ujang Solihin Sidik mendorong, produsen lain segera menyusun rencana mengurangi sampah.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/pcr-wujudkan-material-kemasan-dari-daur-ulang/feed/ 0
Unisoap Daur Ulang Sabun Hotel di Prancis yang Tak Terpakai https://www.greeners.co/ide-inovasi/unisoap-daur-ulang-sabun-hotel-di-prancis-yang-tak-terpakai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=unisoap-daur-ulang-sabun-hotel-di-prancis-yang-tak-terpakai https://www.greeners.co/ide-inovasi/unisoap-daur-ulang-sabun-hotel-di-prancis-yang-tak-terpakai/#respond Fri, 02 Jun 2023 04:00:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=40269 Asosiasi Unisoap melakukan hal unik, mereka mendaur ulang sabun hotel jenis batangan yang tidak terpakai di Prancis. Mereka bekerja sama dengan hotel ternama untuk membantu permasalahan lingkungan dan masyarakat yang kurang […]]]>

Asosiasi Unisoap melakukan hal unik, mereka mendaur ulang sabun hotel jenis batangan yang tidak terpakai di Prancis. Mereka bekerja sama dengan hotel ternama untuk membantu permasalahan lingkungan dan masyarakat yang kurang mampu.

Sabun yang dikemas satu persatu di hotel sering kali tamu tak manfaatkan dan gunakan. Sebab, tamu tidak akan tinggal lama di hotel sehingga sebagian sabun masih banyak yang tersisa.

Namun, dengan adanya tamu baru, sabun yang tidak terpakai ini dibuang karena staf akan mengisi ulang kamar mandi dengan perlengkapan baru. Sabun bekas biasanya langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir. Data pun telah menunjukkan bahwa 51 juta sabun dibuang di Prancis setiap tahunnya.

Saat ini asosiasi Prancis Unisoap telah bermitra dengan hotel untuk mengumpulkan dan mendaur ulang sabun tersebut. Kemudian, mereka juga menyediakan pekerjaan dan bantuan untuk asosiasi amal.

Direktur Hotel Platine Paris, Maxime Ottogalli, mengatakan rata-rata masa inap tamu adalah 1,8 hari. Jadi sabun yang tersedia di kamar mandi paling banyak mereka gunakan tiga atau empat kali.

Batangan sabun hotel yang kecil dan bulat masing-masing hanya memiliki berat 25 gram, tetapi Ottogalli menghitung bahwa staf hotel telah mengumpulkan hampir 60 kilogram sisa sabun dalam waktu lima bulan.

Proses Daur Ulang Sabun Hotel

Dalam proses daur ulang, hotel yang bekerja sama dengan Unisoap akan mengumpulkan sabun yang tidak terpakai untuk diangkut ke daerah Lyon. Sabun tersebut diproses oleh tim pemuda penyandang disabilitas berusia 18 hingga 25 tahun.

Direktur Unisoap, Pauline Grumel mengungkapkan, sabun akan mereka timbang dan bersihkan dengan tangan untuk menghilangkan semua residu. Lapisan luar benar-benar mereka lepas untuk mengutamakan kebersihan.

Sebelum sabun mereka potong menjadi sabun baru dengan berat 100 gram hingga dicap dengan logo Unisoap, isi sabun akan dikompres menjadi satu campuran sabun baru dan mereka beri wewangian.

Setelah melalui beberapa proses, sabun siap mereka distribusikan kepada asosiasi dan kelompok amal. Inisasi ini bertujuan untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung di Prancis dan di seluruh dunia.

Bantu Warga Kurang Mampu

Langkah Unisoap ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membantu mendistribusikan perlengkapan kebersihan kepada para tunawisma dan keluarga yang membutuhkan.

Grumel menambahkan, ada 2,2 juta anak yang meninggal setiap tahun akibat penyakit karena kurangnya kebersihan. Oleh karena itu, Unisoap ingin mencegah masalah ini melalui inisiatifnya.

Unisoap memiliki tiga tujuan dalam mendirikan aosiasi ini, di antaranya mengurangi limbah, meningkatkan akses kebersihan yang baik, dan menciptakan lapangan kerja bagi penyandang disabilitas.

Sampai saat ini, hampir lima ton sabun telah mereka kumpulkan dari sekitar 100 hotel. Tetapi Unisoap terus bekerja untuk menambah lagi kemitraan ke berbagai hotel lainnya.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Sumber : Connexionfrance

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/unisoap-daur-ulang-sabun-hotel-di-prancis-yang-tak-terpakai/feed/ 0
Produsen Ukraina Daur Ulang Daun Gugur Menjadi Produk Kertas https://www.greeners.co/ide-inovasi/produsen-ukraina-daur-ulang-daun-gugur-menjadi-produk-kertas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=produsen-ukraina-daur-ulang-daun-gugur-menjadi-produk-kertas https://www.greeners.co/ide-inovasi/produsen-ukraina-daur-ulang-daun-gugur-menjadi-produk-kertas/#respond Tue, 30 May 2023 04:40:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=40244 Produsen asal Ukraina, Releaf Paper mengubah serat selulosa dari daun yang gugur menjadi produk kemasan kertas. Produk kemasan kertas ini seperti tas belanja, wadah makanan, dan nampan telur. Releaf Paper […]]]>

Produsen asal Ukraina, Releaf Paper mengubah serat selulosa dari daun yang gugur menjadi produk kemasan kertas. Produk kemasan kertas ini seperti tas belanja, wadah makanan, dan nampan telur.

Releaf Paper adalah perusahaan riset dan produksi yang mengembangkan ide menggunakan daun gugur untuk memproduksi kemasan. Perusahaan telah meneliti fitur unik dari biomassa daun untuk memungkinkan terciptanya bahan kemasan yang dapat didaur ulang.

Selain itu, kemasannya juga dapat terurai secara hayati tanpa merusak lingkungan. Konsep inovatif Releaf Paper ini telah mengantongi penghargaan Sustainability Awards 2022 dalam kategori bahan terbarukan.

Lokasi produksi utama perusahaan terletak di Lutsk (Ukraina). Kapasitas produksi saat ini adalah 5.000 ton kertas per tahun. Produk utama yang Releaf Paper suplai kepada pelanggannya adalah kertas dengan kisaran kerapatan 110-300 gsm.

Terlepas dari beberapa skeptisme di pasar, perusahaan telah berhasil melakukan industrialisasi teknologi. Kini, Releaf Paper tidak melihat banyak perubahan di industri pengemasan, terutama penggantian plastik.

Temuan ini setidaknya satu perbedaan kecil yang sangat bermanfaat bagi lingkungan. Oleh karena itu, Releaf Paper percaya bahwa inovasi ini dapat mengubah biowaste menjadi kertas dan kemasan yang mendukung hidup berkelanjutan.

Foto: Packaging Europe

Awal Mula Inovasi Kertas dari Daun Gugur

Ide cemerlang berkelanjutan ini diawali dari seorang siswa Ukraina berusia 16 tahun, Valentyn Frechka yang memutuskan untuk mempelajari sumber selulosa alternatif. Dia mulai meneliti tentang rumput dan jerami, kemudian menguji selulosa yang terkandung di dalamnya.

Valentyn pun mengalihkan perhatiannya ke hutan Carpathian terdekat, lalu timbul pertanyaan mengapa daun yang berguguran tidak bisa menjadi sumber selulosa? Ternyata dia bisa mendapatkan seratnya dari daun dengan cara yang sama seperti dari kayu.

Dalam eksperimen yang panjang di laboratorium sekolah, dia akhirnya mendapatkan prototipe pertama yang cocok. Sejak saat itu, teknologinya telah ditingkatkan, patenkan, dan diakui oleh banyak pelanggan dan mitra global.

Foto: Packaging Europe

Pelanggan Prioritaskan Keberlanjutan

Berdasarkan Survei Global PwC (Juni 2022), 30 % pelanggan memprioritaskan keberlanjutan dalam pengemasan barang. Selain itu, Releaf Paper menemukan semakin banyak perusahaan yang ingin mematuhi peraturan baru yang berbagai negara berlakukan untuk mengurangi jejak karbon mereka.

Selain itu, terdapat beberapa penggerak sosial dan ekonomi yang memaksa pelaku pasar untuk lebih memerhatikan material terbarukan. 

Releaf Paper juga bekerja sama dengan merek global, dengan mempromosikan gagasan alternatif berkelanjutan untuk tidak menghancurkan hutan alam dalam memproduksi kertas.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Sumber : packagingeurope

                 releafpaper

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/produsen-ukraina-daur-ulang-daun-gugur-menjadi-produk-kertas/feed/ 0
Unik, Payung Kepala Bebek ini Berbahan Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/unik-payung-kepala-bebek-ini-berbahan-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=unik-payung-kepala-bebek-ini-berbahan-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/unik-payung-kepala-bebek-ini-berbahan-ramah-lingkungan/#respond Mon, 08 May 2023 04:47:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=39977 Pengusaha payung asal London Inggris membuat payung kepala bebek berbahan ramah lingkungan. Inisiasi tersebut berawal dari keinginan sang pemilik untuk mendorong konsumennya dekat terhadap Bumi. Original Duckhead, merek payung ramah […]]]>

Pengusaha payung asal London Inggris membuat payung kepala bebek berbahan ramah lingkungan. Inisiasi tersebut berawal dari keinginan sang pemilik untuk mendorong konsumennya dekat terhadap Bumi.

Original Duckhead, merek payung ramah lingkungan milik wanita yang berbasis di London, Inggris ini memiliki dampak lingkungan yang sangat besar. Tak hanya itu, payung Duckhead juga berkontribusi pada masalah limbah besar yang saat ini sedang dihadapi oleh seluruh dunia.

Untungnya, beberapa merek berkelanjutan perlahan mengubah keadaan menjadi lebih baik di industri payung. Misi dari Original Duckhead yaitu menciptakan payung yang tahan lama dan berkelanjutan.

Original Duckhead merek payung ramah lingkungan ini berdiri pada tahun 2012. Awal mulanya berangkat dari keinginan sang pemilik untuk mendorong orang-orang menghabiskan lebih banyak waktu di alam, bahkan saat hujan dan mendung di luar.

Misinya adalah membantu para konsumen keluar rumah dan terhubung kembali dengan Bumi pertiwi tanpa mengorbankan gaya atau keberlanjutannya. Payung Original Duckhead ini akhirnya mereka desain dengan unik dan memiliki daya tarik tersendiri.

Kepala Bebek Jadi Daya Tarik

Gagang payung yang berbentuk kepala bebek membedakan merek Duckhead dari perusahaan lainnya. Ketika para konsumen menggunakan payung ini, jelas akan lebih menonjol.

Payung kepala bebek ini juga tersedia dalam berbagai warna dan cetakan yang membangkitkan semangat, termasuk bunga dan garis yang indah. Sebagian besar desain terinspirasi oleh alam dan kita dapat memilih dari banyak warna cerah serta berani.

Original Duckhead baru-baru ini meluncurkan dua model yang menampilkan cetakan psychedelic swirls yang terinspirasi tahun 1970-an dengan sempurna untuk menari di tengah hujan.

Memiliki Bahan Berkelanjutan

Tidak hanya memiliki visual yang indah, payung buatan tangan ini bahannya berkelanjutan. Salah satunya, dari plastik daur ulang (rPET). Bahan tersebut dibuat dari limbah pascakonsumen. Satu payung menggunakan 9 botol plastik daur ulang.

Jadi, mereka bisa membantu menghilangkan sampah plastik dari tempat pembuangan sampah dan lautan. Selain itu, payung Duckhead asli juga memiliki pegangan yang terbuat dari kayu birch yang dipanen secara lestari, serta rangka aluminium dan baja yang kuat.

Original Duckhead membuat semua payungnya dengan mengutamakan umur panjang dan kualitas tinggi. Rangkanya dapat menahan angin kencang, bahkan dapat menggunakannya dalam badai petir.

Uniknya, payung ini juga dilengkapi tombol buka otomatis, membuatnya sangat mudah kita buka, dan pegangannya sangat nyaman.

Kebanyakan payung biasanya perlu dibuang di akhir masa pakainya, namun tidak untuk payung Original Duckhead. Konsumen bisa mengirim kembali payung bekas untuk perusahaan daur ulang.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Sumber : greenwithless

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/unik-payung-kepala-bebek-ini-berbahan-ramah-lingkungan/feed/ 0
Selimut Caminito, Ditenun dengan Tangan dan Berbahan Daur Ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/selimut-caminito-ditenun-dengan-tangan-dan-berbahan-daur-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=selimut-caminito-ditenun-dengan-tangan-dan-berbahan-daur-ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/selimut-caminito-ditenun-dengan-tangan-dan-berbahan-daur-ulang/#respond Sat, 06 May 2023 04:07:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=39938 Pengrajin Meksiko membuat selimut dan keranjang dari bahan daur ulang. Selimut yang dirancang di Bay Area, California ini menggunakan benang serat daur ulang dengan proses yang efisien dan tak lekang […]]]>

Pengrajin Meksiko membuat selimut dan keranjang dari bahan daur ulang. Selimut yang dirancang di Bay Area, California ini menggunakan benang serat daur ulang dengan proses yang efisien dan tak lekang oleh waktu.

Selimut warna-warni ini pengrajin tenun secara tradisional. Beberapa bagian mereka tenun dengan tangan, sementara yang lain dipandu melalui alat tenun untuk membuat selimut yang tahan lama dan serba guna.

Perusahaan juga memproduksi keranjang dan tas jinjing, dari serat palem alami dan tali kulit nabati yang disamak dengan tangan. Selimut dan tas jinjing tersedia di situs website Caminito dan dijual melalui West Elm dan Anthropologie.

Selimut ini memiliki pola dan warna yang unik. Perusahaan yang mendukungnya bangga kerajinan tradisional yang melestarikan sejarah, seni, dan budaya ini.

Proses Menenun Selimut Caminito

Proses menenun pada selimut berwarna pengrajin mulai dengan menyiapkan warp untuk alat tenun. Benang berwarna kemudian mereka pindahkan dari kerucut yang lebih besar ke canillas (gulungan yang lebih kecil).

Lalu, benang mereka lewatkan melalui alat tenun dengan tangan (untuk bagian detail) atau dalam gulungan (untuk area berwarna yang lebih besar). Semuanya mereka tenun pada alat lantai kayu yang indah.

Penenun berbakat di Meksiko tengah menenun selimut dengan tangan mereka. Perusahaan pun senang bisa bekerja sama secara langsung dengan komunitas penenun ini dan membantu mendukung kerajinan mereka.

Selimut mudah, praktis digunakan kapan saja dan dimana saja. Foto: Inhabitat

Mudah Pengguna Bawa dan Simpan

Selain itu, selimut Caminito cukup hangat untuk digunakan sebagai selimut pangkuan pada malam musim dingin dan cukup tebal untuk kita gunakan bersandar saat piknik. Selimut ini penenun rancang praktis sehingga dapat menemani perjalanan ke pantai, acara olahraga, gunung, kolam renang atau tempat berkemah.

Cara pembersihannya pun mudah. Selimut Caminito ini dapat kita bersihkan atau cuci di mesin cuci dengan siklus dingin dan lembut. Karena bisa menyusut, saat menjemur sebaiknya kita gantung hingga kering di tempat yang tidak terlalu panas.

Setiap selimut dibungkus dengan tali kulit agar aman saat kita bawa berpergian. Hal ini juga memudahkan penyimpanannya di sebuah rumah mungil. 

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Sumber : Inhabitat

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/selimut-caminito-ditenun-dengan-tangan-dan-berbahan-daur-ulang/feed/ 0
Wajib Dicoba, 5 Cara Rapikan Rumah secara Berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/wajib-dicoba-5-cara-rapikan-rumah-secara-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=wajib-dicoba-5-cara-rapikan-rumah-secara-berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/wajib-dicoba-5-cara-rapikan-rumah-secara-berkelanjutan/#respond Sat, 08 Apr 2023 04:14:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=39572 Memiliki rumah yang rapi dan bersih tentu dapat memberikan ketenangan saat kita di rumah. Salah satu hal yang bisa kamu lakukan untuk menciptakan rumah yang rapi dan berkelanjutan adalah mulai […]]]>

Memiliki rumah yang rapi dan bersih tentu dapat memberikan ketenangan saat kita di rumah. Salah satu hal yang bisa kamu lakukan untuk menciptakan rumah yang rapi dan berkelanjutan adalah mulai memilah barang yang tidak diinginkan di rumah kamu, Sobat Greeners!

Terlebih lagi jika kamu menyadari betapa pentingnya memilih barang yang lebih ramah lingkungan. Ada beberapa cara sederhana untuk menata rumah secara berkelanjutan, yaitu setiap barang harus masuk dalam kategori simpan, gunakan kembali, sumbangkan, jual, atau daur ulang.

Sobat Greeners, kamu bisa mendeklarasikan rumahmu lebih berkelanjutan lho. Simak caranya di bawah ini ya!

1. Sortir Barang dengan Baik

Jika kamu sedang terburu-buru untuk membersihkan ruangan, seringkali tergoda membuang semuanya begitu saja. Namun, jika barang kamu masih dalam kondisi baik dan berguna sebaiknya jangan dibuang begitu saja.

Ketika kamu sedang merapikan barang-barang di rumah, satu hal yang dapat kamu lakukan adalah menyimpan barang ke dalam penyimpanan sendiri. Hal ini memungkinkanmu untuk mudah menyortirnya, atau pada kemudian hari saat butuh barang-barang tersebut dan dapat digunakan untuk rumah yang lebih besar.

2. Temukan Cara untuk Menggunakan Kembali Barang-barang

Sobat Greeners, beberapa barang mungkin tidak lagi sesuai dengan tujuan awalmu, tetapi masih ada cara untuk menggunakannya kembali lho. Barang seperti baju bekas dan botol plastik bisa kamu ubah menjadi mainan atau lap pembersih.

Jika kamu memiliki meja dan lemari kayu tua, dapat membongkarnya untuk membuat rak. Jika kamu cukup terampil, kamu bahkan dapat membuat produk baru yang didesain ulang untuk dijual. Menggunakan kembali barang, dapat mengurangi kebutuhan untuk membeli barang baru.

3. Sumbangkan Barang Layak Pakai

Cara selanjutnya yang bisa kamu lakukan yaitu menyumbangkan barang-barang yang masih layak pakai sehingga tidak berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Menyumbangkan barang dapat bermanfaat bagi orang yang membutuhkan dan mengurangi limbah. Kamu dapat menyumbangkan barang kepada teman atau keluarga yang membutuhkannya, atau kamu bisa menyumbang ke badan amal atau bahkan kepada orang lain di situs penjualan lokal.

4. Jual Barang secara Lokal

Menjual barang kepada orang yang menginginkannya bisa menjadi cara untuk memperpanjang umur barang dan ini cara yang bagus untuk menghasilkan uang.

Saat memilih tempat ramah lingkungan untuk menjual barang kamu, cobalah memilih tempat lokal seperti toko barang bekas lokal, pasar loak lokal, atau situs penjualan lokal. Sebab, mengirim barang dalam jarak jauh dapat menghasilkan banyak emisi.

5. Gunakan Layanan Daur Ulang

Sobat Greeners, daripada kamu kirim barang ke tempat pembuangan akhir, sebaiknya membawa barang-barang yang mengotori ruangan kamu ke pusat daur ulang setempat. Hal ini meningkatkan kemungkinan barang yang dibawa ke pabrik daur ulang akan berubah menjadi produk baru.

Layanan ini juga dapat mengambil barang  yang ingin kamu daur ulang. Dalam beberapa kasus, bahkan bisa mendapatkan bayaran untuk barang daur ulang lho Sobat Greeners! Jika kamu ingin mencobanya, bisa cari tahu layanan daur ulang yang ada di sekitarmu ya!

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Sumber : The ethos

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/wajib-dicoba-5-cara-rapikan-rumah-secara-berkelanjutan/feed/ 0
Meksiko Ciptakan Stasiun Daur Ulang Berbahan Sampah https://www.greeners.co/ide-inovasi/meksiko-ciptakan-stasiun-daur-ulang-berbahan-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=meksiko-ciptakan-stasiun-daur-ulang-berbahan-sampah https://www.greeners.co/ide-inovasi/meksiko-ciptakan-stasiun-daur-ulang-berbahan-sampah/#respond Sat, 25 Mar 2023 04:00:16 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=39445 Sebagian besar masyarakat masih banyak menghasilkan sampah yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Kemanapun orang bepergian, mereka seringkali meninggalkan sampah. Terutama di daerah wisata dan padat penduduk, sampah yang manusia hasilkan menjadi […]]]>

Sebagian besar masyarakat masih banyak menghasilkan sampah yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Kemanapun orang bepergian, mereka seringkali meninggalkan sampah. Terutama di daerah wisata dan padat penduduk, sampah yang manusia hasilkan menjadi suatu masalah yang besar. Seperti halnya yang terjadi di sepanjang garis pantai Meksiko, yang ramai para turis kunjungi.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, hadir stasiun daur ulang sampah. Stasiun atau tempat ini dibuat untuk menyimpan dan memilah berbagai bahan sampah.

Para aktivis dan pencinta lingkungan menilai sampah masih menjadi persoalan serius. Oleh sebab itu kehadiran salah satu stasiun ini langkah penting.

Solusi Ubah Sampah 

Stasiun daur ulang sampah ini dirancang untuk dikirim dalam bentuk potongan dan dirakit di tempat. Struktur utamanya terbuat dari logam dan dilapisi dengan lembaran, yang terbuat dari bahan daur ulang. Panel kisi yang terbuat dari bahan daur ulang yang sama diintegrasikan ke dalam desain. Seniman lokal merangkai atapnya berbahan rumbia.

Selain itu, tempat sampah daur ulang yang mudah dirakit ini hadir dalam dua model. Salah satunya menyerupai silinder dan memiliki delapan kompartemen berbeda. Ada juga versi linier dengan enam kompartemen material. Masing-masing memiliki pintu akses untuk pengumpulan bahan daur ulang yang disimpan ke stasiun sampah.

Stasiun ini dibuat untuk menyimpan dan memilah berbagai bahan sampah. Foto: Inhabitat

Keunikan Stasiun Daur Ulang

Stasiun daur ulang sampah merupakan struktur sederhana dan solusi elegan untuk masalah persampahan. Sebab, strukturnya sendiri terbuat dari bahan daur ulang, ini juga berfungsi sebagai pengingat mengapa pembuangan sampah itu penting, dan bagaimana pembuangan sampah yang bertanggung jawab dapat membantu mengubah dunia menjadi lebih baik.

Pembuangan dan penggunaan kembali sampah yang baik, tercermin dalam desain yang sederhana dan sangat efektif. Sampah dari manusia adalah masalah, tetapi setiap masalah memiliki solusinya. Desain yang mudah dirakit ini adalah solusi hebat untuk masalah yang Meksiko hadapi. Solusi ini juga dapat tempat-tempat di seluruh dunia ikuti untuk mengatasi permasalahan sampah.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Sumber : Inhabitat

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/meksiko-ciptakan-stasiun-daur-ulang-berbahan-sampah/feed/ 0
Bergelut 19 Tahun, Raup Pundi Rupiah dari Daur Ulang Plastik https://www.greeners.co/berita/bergelut-19-tahun-raup-pundi-rupiah-dari-daur-ulang-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bergelut-19-tahun-raup-pundi-rupiah-dari-daur-ulang-plastik https://www.greeners.co/berita/bergelut-19-tahun-raup-pundi-rupiah-dari-daur-ulang-plastik/#respond Tue, 07 Feb 2023 06:05:15 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=38896 Mojokerto (Greeners) – Masyarakat di Desa Losari, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur masih mengalami masalah pelik sampah plastik. Daur ulang plastik menjadi salah satu terobosan. Namun apakah praktik ini […]]]>
Mojokerto (Greeners) – Masyarakat di Desa Losari, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur masih mengalami masalah pelik sampah plastik. Daur ulang plastik menjadi salah satu terobosan. Namun apakah praktik ini aman dan solutif?
 
Dalam praktiknya, sampah plastik diperjualbelikan, didaur ulang kembali hingga berpindah ke industri dan menghasilkan pundi-pundi rupiah yang menguntungkan.
 
Produk-produk houseware seperti pot, bak mandi, ember hingga mainan lato-lato yang populer belakangan ini merupakan hasil dari produksi daur ulang plastik.

Saat berkunjung ke sebuah lokasi di Desa Losari, bau menyengat lelehan plastik dan kepulan asap keluar dari mesin pemanas di rumah produksi daur ulang plastik Anang Sutanto.

Satu orang pekerja tampak asyik memasukkan potongan plastik ke mesin pemanas yang kemudian ia lelehkan dan menghasilkan olahan plastik baru. Hasil lelehan plastik yang didinginkan berbentuk kecil memanjang ini mereka sebut dengan “mie”. Karena bentuknya yang panjang dan kecil menyerupai mie.

Sedangkan dua orang lain tengah membenahi mesin cacah yang rusak. Mereka tampak santai dan sama sekali tak memakai alat pelindung diri apapun. “Tapi harus kita benahi mesin ini. Kudu produksi tiap hari, agar tak rugi,” ujar lelaki berusia 57 tahun ini, Senin (6/2).

Setelah plastik dilelehkan, menghasilkan bentuk baru berupa “mie”. Selanjutnya akan dicacah menjadi potongan kecil-kecil. 

Plastik hasil daur ulang menjadi hasil akhir yang ia jual ke beberapa pelanggan tetapnya, seperti pabrik mainan hingga houseware.

Hasil olahan berupa bijih plastik. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Daur Ulang Plastik Hasilkan Rupiah

Anang biasa membeli, menerima jasa untuk daur ulang plastik hingga kerja sama dengan pengepul dan beberapa industri. Beberapa waktu lalu bahkan ia pernah bekerja sama dengan PT Unilever untuk mendaur ulang kemasannya.

“Tapi sekarang sudah tidak. Sekarang lebih ke pengepul-pengepul di Mojokerto sini,” kata lelaki yang menggeluti usaha daur ulang plastik sejak tahun 2004.

Untuk kisaran harga, ia biasa membeli dari pengepul minimal Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per kilogram bergantung jenis dan kondisi plastik. Sedangkan harga tertinggi yakni Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per kilogram untuk PE. “Kalau PET lebih murah,” kata dia.

Sementara, ia bisa menjual bijih plastik daur ulang ini paling rendah Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per kilogram, bergantung jenis plastiknya. Dalam sehari, ia mampu memproduksi 1,8 hingga 2 ton. Hasilnya ia jual ke pabrik, seperti houseware hingga pabrik mainan anak-anak.

Anang menggunakan tenaga listrik 40.000 kilo Volt Ampere (kVA) untuk menjalankan dua mesin besarnya tersebut. Awalnya, ia menggunakan gas LPG untuk proses pemanasan, tapi karena lebih boros akhirnya ia beralih ke listrik.

Pada tahap awal, ia harus memastikan bahwa semua jenis plastiknya dalam kondisi bersih. Selain berkondisi bersih, jenis plastik juga menentukan harga jual. Hal ini berpengaruh pada proses pengolahannya.

Proses pengolahan sampah plastik. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Beda Jenis Plastik, Beda Suhu Pemanas

Berbagai macam jenis plastik ia daur ulang, di antaranya Low-density Polyethylene (LDPE), Polyethylene (PE), High-density Polyethylene (HDPE) hingga Polyethylene Terephthalate (PET).

Lelaki dua anak ini menyebut, suhu dalam pengolahan plastik-plastik tersebut berbeda-beda, yakni antara 50-100 derajat Celcius sesuai jenis plastiknya.

“Untuk PE itu agak tinggi pemanasannya, jadi harus kita atur,” ujar alumni jurusan Pemasaran Universitas Putra Bangsa ini.

Menurut Anang, solusi ini merupakan langkah terbaik untuk menuntaskan permasalahan sampah plastik di lingkungannya. Ia berharap adanya kerja sama dengan pihak desa, seperti BUMDES untuk mensosialisasikan rumah daur ulang ini ke masyarakat.

Tujuannya tak lain untuk mendorong ekonomi masyarakat sekitar dan mengoptimalkan pengumpulan sampah plastik.

“Sampah (plastik) dari rumah tangga itu banyak. Saya sanggup mengajar caranya, lalu pihak BUMDES sosialisasi ke masyarakat. Karena ada nilai jualnya ini,” imbuhnya.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/bergelut-19-tahun-raup-pundi-rupiah-dari-daur-ulang-plastik/feed/ 0