Unik! Limbah Kulit dan Tulang Hewan jadi Produk Berkelanjutan

Reading time: 2 menit
Vas unik ini berasal dari tulang hewan. Foto: Dezeen

Desainer asal Islandia, Valdi Steinarsdóttir berhasil mengolah limbah kulit dan tulang hewan dari industri daging menjadi dua produk berkelanjutan. Produk tersebut antara lain sebuah vas dan mangkok dari limbah tulang hewan, lalu kemasan bioplastik ramah lingkungan yang terbuat dari kulit hewan.

Inovasinya ini ia namakan proyek Just Bones, karena hanya menggunakan satu bahan utama pada masing-masing produk. Untuk membuat sebuah vas dan kemasan bioplastik, Steinarsdóttir bekerja sama dengan rumah jagal dan petani lokal sebagai penyediaan limbah kulit dan tulang hewan.

“Proyek Just Bones adalah upaya untuk menemukan cara baru dalam mengolah kembali jumlah limbah yang dihasilkan oleh rumah pemotongan hewan,” kata Steinarsdóttir pada situs resmi Dezeen,”

Dalam proses pembuatan produk Just Bones, Steinarsdóttir pisah menjadi dua cara. Untuk membuat vas, mula-mula ia giling limbah tulang hewan hingga menjadi bubuk. Lalu ia olah seperti proses pembuatan kayu daur ulang Medium Density Board (MDF).

Memiliki orientasi pada ramah lingkungan, Steinarsdóttir tidak mencampurkan bahan kimia lainnya pada vas dan mangkok unik ini. Karena itu, apabila sudah dalam masa akhir pakai, konsumen dapat mengatasinya dengan mudah. Kedua produk dapat terurai secara hayati dan akan larut hanya dalam waktu satu minggu jika konsumen melarutkannya dengan air panas.

Selain vas, mangkok ini juga berasal dari limbah tulang hewan. Foto: Dezeen

Kemasan Bioplastik Ramah Lingkungan

Layaknya limbah tulang, Steinarsdóttir juga mengolah limbah kulit sebagai wadah untuk kemasan makanan, salah satunya daging. Pada prosesnya, Steinarsdóttir merebus kulit hewan dengan suhu dan waktu yang sudah ditentukan untuk mengumpulkan gelatin. Ia mengaku, metode olahan limbah kulit menjadi bioplastik ini ia dapat dari proses pembuatan lem kayu pada abad-abad sebelumnya.

“Selama berabad-abad orang mengunakan metode ini untuk membuat lem kayu. Saya memodifikasi proses ini untuk membuat bahan seperti plastik,” jelasnya.

Untuk membuat kemasan bioplastik yang sempurna, Steinarsdóttir mencampurkan berbagai rasio gula alkohol agar kemasan memiliki tekstur yang lebih lembut dan lentur. Lain dari kemasan plastik pada umumnya, kemasan hasil olahan Steinarsdóttir juga dapat terurai secara hayati hanya dalam beberapa minggu saja.

Ia menambahkan, inovasi ini bertujuan untuk menciptakan cara pengemasan daging yang lebih berkelanjutan. Tentu kemasan bioplastik dari limbah kulit hewan ini dapat menjadi inovasi dan alternatif masa depan sebagai langkah untuk mengurangi kemasan plastik di dunia.

“Dalam hal ini, tujuan saya bukan untuk membuat lebih banyak permintaan akan produk hewani. Melainkan memaksimalkan semua aspek agar tidak ada yang terbuang sia-sia dan mengurangi limbah,” ucapnya.

Penulis: Zahra Shafira

Editor : Ari Rikin

Sumber: Dezeen

Top