Aktivis Alam Siapkan 2000 Bibit Bakau Untuk Cegah Abrasi

Reading time: 2 menit
Mapala UMN mengajak Aktivis Alam melakukan aksi nyata menyelamatkan ekosistem dengan menanam 2000 bibit bakau di Pulau Karya, Kepulauan Seribu (26/04). Foto: dok. Mapala UMN

Kepulauan Seribu (Greeners) – Manusia membutuhkan alam untuk sumber kehidupan. Namun siapa sangka, rasa tidak puas yang dimiliki manusia malah menjadi tombak terjadinya kerusakan alam. Penyebab dari kerusakan alam salah satunya ialah minimnya kesadaran masyarakat untuk beraksi menyelamatkan alam.

Abrasi disebut-sebut menjadi salah satu permasalahan penting yang harus diperhatikan. Manusia menjadi penyebab utama terjadinya abrasi. Bila dibiarkan begitu saja, semakin lama kehidupan ekosistem laut pun akan semakin rusak. Salah satu upaya pencegahan tersebut adalah dengan penanaman hutan mangrove.

Melihat permasalahan tersebut, Mapala UMN mengajak Aktivis Alam agar memiliki kesadaran untuk menyelamatkan ekosistem di alam terutama di kepulauan Indonesia. Aksi penyelamatan lingkungan ini diwujudkan secara nyata dengan penanaman 2.000 bibit bakau di Pulau Karya, Kepulauan Seribu pada tanggal 26 April 2015. Penanaman bibit bakau ini bertujuan sebagai upaya melindungi sekaligus mencegah abrasi.

Foto: dok. Mapala UMN

Foto: dok. Mapala UMN

Perlu diketahui, bakau memiliki banyak manfaat, diantaranya sebagai kestabilan pertahanan pantai dari abrasi, menambah daratan, menyerap bahan kimia berbahaya sehingga air tidak mengandung racun dan dapat dikonsumsi, sebagai tempat bertambatnya kapal, dan tempat bernaung bagi biota laut di sepan¬jang pesisir pantai.

Bupati Kepulauan Seribu, Tri Djoko Sri Margiono, menyatakan turut mendukung aksi kepedulian dan pelestarian lingkungan hidup terutama di pulau-pulau kecil di Indonesia seperi Kepulauan Seribu. Aksi ini turut mengundangan Dithi Sofia selaku Putri Bahari Indonesia 2012 serta Abang Oki dan None Dea yang mewakili Abang-None Kepulauan Seribu 2015.

Aksi yang dilakukan oleh Mapala UMN bersama Aktivis Alam ditutup dengan pelepasan tukik (anak penyu) sebagai simbol kebebasan hewan agar generasi selanjutnya dapat terus merasakan perjuangan Aktivis Alam yang tidak berakhir hanya sampai disini.

Melalui aksi ini diharapkan secara sadar generasi penyelamat mengerti pentingnya menjaga dan merawat alam untuk keberlangsungan hidup generasi Indonesia selanjutnya sebagaimana predikat pecinta alam disematkan.

(*)

Top