Eco-Innovative Technology untuk Mitigasi Bencana di GCGE 2017

Reading time: 2 menit
eco-innovative technology
Foto: greeners.co/Sarah R. Megumi

Bandung (Greeners) – Dalam rangka menyambut ulang tahun LIPI ke-50, Pusat Penelitian Geoteknologi-LIPI menyelenggarakan Global Colloquium on Geosciences and Engineering (GCGE) 2017 pada tanggal 18-19 Oktober 2017 di Bandung. Kegiatan bertema “Memahami Kompleksitas Bumi untuk Mendukung Lingkungan Peradaban yang Berkelanjutan” ini dirancang sebagai upaya untuk meningkatkan dan mendorong kualitas sumber daya manusia LIPI pada khususnya, dan peneliti lainnya dari berbagai instansi serta perguruan tinggi dalam bidang kajian ilmu kebumian meliputi geology & geophysics, resources engineering, oceanography, ecohydrology & limnology.

Kepala Pusat Penelitan Geoteknologi LIPI Dr. Eko Yulianto mengungkapkan bahwa pusat penelitian Geoteknologi LIPI memiliki tiga kajian utama berbasis Eco-Innovative Technology meliputi Urban Resillience (kemampuan beradaptasi perkotaan menghadapi perubahan iklim), Functional Material (penggunaan mineral yang digabungkan dengan bakteri tertentu untuk menghancurkan limbah) dan Tourism Destination.

“Perubahan iklim itu terkait dengan urban resillience. Seperti yang kita tahu perubahan iklim mengancam, misalnya ketersedian suplai air, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Disamping itu lingkungan secara keseluruhan juga berubah, longsor menjadi lebih sering dan ancaman menjadi lebih tinggi,” kata Eko di sela-sela kegiatan GCGE 2017, Bandung, Rabu (18/10).

Eco-Innovative Technology terkait penanggulangan dan mitigasi bencana, Eko menjelaskan bahwa Geoteknologi LIPI juga sedang mengembangkan aplikasi di gadget untuk memberikan peringatan dini terkait dengan gempa, tsunami dan longsor. Geoteknologi LIPI juga mengembangkan metode untuk memantau dan memitigasi longsor. Sayangnya, menurut Eko, untuk di Indonesia sendiri, teknologi tersebut masih terbilang mahal sehingga sulit untuk diimplementasikan dan banyak yang tidak dapat disebar secara luas.

“Selain teknologi tersebut, kami juga melakukan penelitian untuk pengurangan risiko khususnya yang terkait perubahan iklim tapi basisnya itu adalah kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan oleh masyarakat,” tuturnya.

Eko berpendapat bahwa untuk melakukan penanggulangan risiko bencana tidak melulu hanya berdasarkan teknologi tinggi (high-tech) saja. Penelitian terkait dengan identifikasi tanaman yang memiliki sifat dapat mengurangi risiko bencana juga penting untuk dilakukan.

“Misalnya saja, kami melakukan penelitian tentang jenis tumbuhan apa yang ketika ditanam, maka tumbuhan itu secara natural mempunyai kekuatan untuk mencegah longsor terjadi. Kemudian jenis tumbuhan apa yang jika kita tanam dia memiliki kemampuan untuk mengumpulkan air, karena ada tumbuhan yang bisa mengumpulkan air, contohnya beringin dan lowa, dan ada juga yang jenis menyerap atau memakan air sangat banyak seperti eukaliptus, akasia, pinus,” paparnya.

Eko memaparkan, pada tahun 80-an program penghijauan lahan yang dilakukan pemerintah di Gunung Kudul dianggap berhasil. Namun, jika dilihat dari sumber daya air, penghijauan tersebut justru mengurangi ketersediaan air karena jenis tumbuhan akasia rakus air.

“Hal ini kita teliti sehingga nanti harapannya ke depan kami bisa menyediakan suatu daftar kepada masyarakat. Kalau anda tinggal di daerah longsor sementara anda membutuhkan penelitian ekonomi jangan menanam akasia, karena akasia cenderung meninggikan risiko/kerentanannya. Jika anda tinggal di daerah cenderung kering maka tanamlah tanaman ini agar anda mempunyai kesediaan air,” pungkasnya.

Penulis: Sarah R. Megumi

Top

You cannot copy content of this page