Yuk Dukung! Sabtu Malam ini Matikan Lampu 1 Jam Saat Earth Hour 2022

Reading time: 3 menit
Gerakan Earth Hour mengajak masyarakat mematikan lampu selama 60 menit untuk kelestarian bumi. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Gerakan Earth Hour akan kembali digelar pada Sabtu (26/3). Aksi simbolis ini harapannya semakin masif membangun kesadaran manusia terhadap alam dan keanekaragaman hayati untuk melawan perubahan iklim.

Kali ini pada Earth Hour 2022, lebih dari 190 negara, termasuk Indonesia akan turut berpartisipasi dalam aksi simbolik mematikan lampu selama 60 menit. Aksi ini juga sebagai bentuk solidaritas untuk manusia dan bumi. Indonesia menyelenggarakan gerakan Earth Hour pada Sabtu (26/3) pukul 20.30 waktu setempat.

CEO Yayasan WWF Indonesia Aditya Bayunanda mengatakan, jumlah dan titik kota yang turut berpartisipasi dalam Earth Hour semakin meningkat seiring bertambahnya tahun. Pada tahun ini perkiraannya ada 30 titik kabupaten kota di seluruh Indonesia dan sekitar 1.000 relawan volunteer, aktivis maupun penggerak lingkungan di seluruh Indonesia terlibat.

Aditya menyatakan, meski penyelenggaraan aksi Earth Hour tahun ini seperti tahun sebelumnya yakni online imbas pandemi Covid-19, ia berharap tak mengurangi pesan di dalamnya. Justru, sambung dia melalui pandemi manusia semakin banyak belajar terkait bagaimana mencintai keanekaragaman hayati dan keselarasan alam.

Baik itu virus flu Spanyol maupun pandemi Covid-19, lanjut Aditya sejatinya menyadarkan akan betapa indahnya virus dalam satwa liar. “Termasuk menyadarkan betapa dekatnya kita dengan mereka yang akhirnya bagaimana cara kita agar tak merusak habitat satwa-satwa liar itu,” katanya dalam jumpa pers virtual Earth Hour 2022, di Jakarta, Kamis (23/3).

Earth Hour Berikan Perlindungan Bagi Bumi

Kegiatan ini, sambung Aditya mampu memberikan perlindungan bagi bumi. Terlebih, saat ini kondisi dan cuaca yang cukup ekstrem dalam masa pandemi Covid-19. “Bumi kita sedang terancam kelestariannya. Penurunan keanekaragaman hayati dunia dan krisis iklim terjadi akibat aktivitas manusia,” imbuhnya.

Lebih jauh, ia menyebut, gerakan anak-anak muda Indonesia akan berkontribusi terbesar dan menentukan keberlanjutan alam. “Tonggak Earth Hour adalah bagaimana kita bisa menginspirasi anak muda indonesia yang telah menginisiasi berbagai macam gerakan untuk turut membantu bahwa kita recover better. Kita membangun lebih baik dan kita pulih dengan berbagai aksi gerakan,” ungkapnya.

Tak hanya aksi simbolik mematikan lampu dan alat-alat elektronik, komunitas Earth Hour di berbagai daerah menginisiasi berbagai aksi. Misalnya terlibat aktif dalam program konservasi dan telah melakukan transplantasi terumbu karang sebanyak 1.460 di lima titik lokasi di Bali.

Kegiatan lain yaitu pembibitan dan penanaman mangrove sebanyak 13.110 bibit menyasar enam wilayah, yaitu Bali, Balikpapan, Surabaya, Aceh, Serang dan Tangerang. Ada pula program goes to school di Jayapura, Jambi dan Makasar, serta pembangunan sekolah darurat di Palu.

Mematikan Lampu Simbol Gerakan Ini Pertama Kali di Australia

Youth and Education Team Leader WWF Indonesia Diah Sulistiowati menyebut, gerakan Earth Hour kali pertama diperkenalkan di Australia melalui aksi pemadaman lampu pada tahun 2007. Kegiatan serentak Earth Hour Internasional berlanjut pada tahun 2008.

Kemudian Indonesia mengadopsi gerakan ini tahun 2009. Aksi simbolis berupa mematikan lampu, sambung Sulis mendesak dilakukan karena mengingatkan betapa dekat dan bergantungnya manusia dengan alam.

Ketua Umum Bike to Work (B2W) Fahmi Saimima mengungkapkan, komunitas B2W di 34 provinsi akan mendukung Earth Hour. Mereka akan bersepeda secara serentak. Pada tahun ini, komunitas B2W akan menggandeng kolaborator yang akan mengapresiasi aksi kampanye B2W selama ini.

Tak hanya itu, B2W juga akan mengaplikasikan sebuah aplikasi pengukur pengurangan emisi selama aksi serentak bersepeda yang mereka lakukan. “Dengan upaya ini kita bisa mengukur berapa besar dan manfaat dari kontribusi aksi bersepeda sebagai bentuk perlawanan perubahan iklim,” kata Fahmi.

Direktur The Climate Reality Project Indonesia Amanda Katili menyatakan, potensi kaum muda dalam gerakan lingkungan sangat besar. Baik itu ide-ide dan kreativitas mereka. Tak heran jika aksi mereka dapat diterima oleh generasi muda yang lain.

Akan tetapi yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana agar jangkauan ini bisa berkembang lebih luas. Aksi ini harapannya lebih masif melalui lintas ilmu, lintas generasi dan lintas negara.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top