BNPB Peringatkan Potensi Bencana Hidrometeorologi Tahun Depan

Reading time: 2 menit
Banjir di Indonesia
Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan sebanyak 98 persen laporan terkait bencana hidrometeorologi. Sedikitnya 3.622 peristiwa terjadi sepanjang 2019. Foto: shutterstock.com

Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat mengenai potensi bencana hidrometeorologi. Bencana tersebut diprediksi terjadi di penghujung 2019 hingga pertengahan tahun depan. BNPB menilai ketegasan pemimpin daerah menjadi tolak ukur ketangguhan masyarakat dalam menanggulangi bencana.

Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan sebanyak 98 persen laporan terkait bencana hidrometeorologi. Sedikitnya 3.622 peristiwa terjadi sepanjang 2019. Banjir dan longsor merupakan bencana yang berdampak serius terhadap korban jiwa dan kerugian material. Sedangkan angin puting beliung masih mendominasi bencana di hampir seluruh wilayah Indonesia.

“Jangan salahkan pohon kalau ada puting beliung. Manusia di sekitarnya yang harus melakukan upaya pencegahan dengan mengurangi beban pohon, pangkas ranting dan cabangnya, jangan tebang pohonnya,” kata Doni, di Graha BNPB, Jakarta Timur, Selasa (17/12/2019).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo saat Rapat Koordinasi Penanganan Darurat, Bencana Banjir Bandang, Tanah Longsor dan Angin Puting Beliung, di Jakarta Timur, Selasa, 17 Desember 2019. Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat agar meningkatkan kapasitas dalam menghadapi banjir, longsor, gelombang tinggi pada bulan Desember hingga Februari.

“Pada bulan-bulan tersebut curah hujan diprediksi tinggi di sejumlah wilayah seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Papua. Namun, tidak semua daerah akan mengalami hal yang sama dengan wilayah lain,” kata Kepala Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono Rahadi Prabowo.

Ia menuturkan di bulan Maret, April, dan Mei 2020, potensi ancaman bencana seperti puting beliung dan hujan es akan terjadi sebagai tanda peralihan musim. Sedangkan pada bulan Juni hingga Agustus, sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau dengan ancaman kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan.

Pola Cuaca Ekstrem 

Sementara itu, Agus Wibowo, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB mengatakan bahwa pola cuaca ekstrem terjadi karena lingkungan yang rusak. Akibatnya, di tahun ini jumlah bencana naik hingga 10 persen.

“Kita bisa lihat polanya, dari musim penghujan banjir, musim kemarau kering dan lahan terbakar. Lalu hujan lagi pada Desember dan mencapai puncak di bulan Januari hingga Maret sehingga banjir makin banyak. Ini indikator bahwa lingkungan kita rusak. Beberapa hari ini kita bisa lihat banyak pohon gundul, hutan ditebang sehingga tanahnya tidak bisa menyimpan air,” ujar Agus.

Dari keseluruhan bencana yang terjadi di Januari hingga 16 Desember 2019, Agus menuturkan sebanyak 475 orang meninggal dunia, 108 orang hilang, 3.408 orang luka-luka, 6 juta orang mengungsi, dan 72.390 unit rumah rusak.

Penulis: Dewi Purningsih

Top