DKI Kembangkan Jalur Sepeda Kota Tua

Reading time: 3 menit
DKI Kembangkan Jalur Sepeda Kota Tua

Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berencana membuat jalur sepeda di kawasan Kota Tua sebagai bagian dari revitalisasi Kota Tua menjadi kawasan rekreasi dan wisata. Jalur tersebut telah digagas mulai dari periode kepemimpinan Fauzi Bowo – Prijanto, dan direncanakan mulai digarap pada  Oktober 2012. Sedangkan Sudin Perhubungan Jakarta Barat juga telah mendesain rute jalur sepeda tersebut yaitu Jalan Hayam Wuruk-Tomang-Grogol melalui Tambora dan jalur dari arah Tambora ke kawasan Kota Tua.

Rute jalur sepeda lainnya yaitu dari depan halaman kantor Walikota-Puri Indah-Jalan Pesanggrahan-Jalan Meruya Ilir dan kawasan Cengkareng di ruas Jalan Daan Mogot dan Jalan Outer Ring Road dari arah Cengkareng menuju kantor Walikota. Jalur tersebut akan dibuat selebar satu meter dengan diberi cat warna kuning dan gambar sepeda.

Jalur sepeda di Kawasan Kota Tua tersebut merupakan bagian dari penataan kawasan kota tua yang ingin dilakukan oleh Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (AHok). Beberapa hal yang harus diperbaiki di Kota Tua, yakni dari sisi kebersihan, keamanan, ketertiban, serta para pedagang kaki lima (PKL). Bahkan Jokowi menginginkan Kota Tua dijadikan sebagai salah satu kawasan yang akan dibuat creative public zone.

Ahok melihat kondisi Kota Tua yang kumuh membuat investor selama ini tidak tertarik ikut mengelola tempat wisata tersebut. “Kota Tua itu terlalu bernilai, kalau disia-siakan tidak ada komunitas yang mengurus. Pengusaha juga tidak mau berinvestasi karena terlalu kumuh,” kata Ahok di Balaikota DKI, Jakarta, Senin (25/2).

Kecilnya anggaran penataan kawasan Kota Tua pada 2013 yang hanya sebesar Rp 12 miliar, membuat Pemprov DKI berencana menambah anggaran kawasan wisata sejarah tersebut hingga Rp 150 miliar pada 2014 mendatang. Dengan anggaran yang cukup besar itu, diharapkan Kota Tua lebih bagus dari kondisi sekarang sehingga mampu menyedot kunjungan wisatawan.

“Kita siap keluarkan anggaran Rp 150 miliar untuk membenahi kawasan ini agar lebih bagus. Kalau kurang saya akan tambahkan anggaran itu,” ujar Ahok.

Pemprov DKI akan duduk bersama dengan para pemangku kepentingan untuk perencanaan penataan Kota Tua terlebih dahulu dan barulah pada 2014 penataan mulai berjalan. Nantinya kawasan Kota Tua, akan dibangun sebagai kawasan yang ekslusif. Seperti halnya, kota bersejarah di negara lain. Sehingga, kawasan tersebut akan menjadi tujuan pariwisata yang memikat daya tarik turis, tentunya dengan berbagai upaya menertibkan preman, pengemis serta gelandangan yang selama ini kerap memanfaatkan kawasan Kota Tua sebagai tempat mangkal.

Namun, untuk rencana jangka pendek ia sudah memerintahkan, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat untuk menertibkan para pedagang kaki lima (PKL) yang membuat kumuh kawasan tersebut. Selain itu, dalam waktu dekat pihaknya juga akan menjernihkan Kali Besar, karena memiliki potensi wisata air yang menarik.

Pemprov DKI terus melakukan penataan Kota Tua. Seperti pada saat Fauzi Bowo menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012, telah diresmikan lighting (pencahayaan) kawasan kota tua. Peresmian dilakukan di halaman Museum Sejarah Fatahillah Jakarta pada tahun 2008.

Waktu itu, Fauzi Bowo mengatakan, pencahayaan kawasan kota tua dilakukan dalam upaya merevitalisasi kota tua dengan harapan kawasan kota tua menjadi kawasan kebanggaan di Jakarta. Revitalisasi kota tua ini, selain untuk menjadikan bagian kota yang bersejarah itu sebagai kawasan yang nyaman dan aman, yang bisa menarik banyak wisatawan.

“Dulu, di kawasan kota tua ini banyak kabel-kabel listrik yang membentang hampir di sepanjang jalan dan di depan gedung-gedung bersejarah, tapi dengan revitalisasi fisik yang dilakukan semua kabel tersebut sudah tertanam di bawah tanah, sehingga pemandangan kawasan ini semakin indah dan sangat menarik pada malam hari,” tutur Fauzi Bowo waktu itu.

Di kawasan Kota Tua terdapat sebanyak 2.041 titik pencahayaan yang dipasang di kawasan kota tua, diantaranya di Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Keramik dan halaman stasiun Beos, kawasan pedestrian Fatahillah, jalan utama, bantaran kali dan pedestrian Kali Besar, serta di jembatan Kota Intan.

Tidak hanya membuat pencahayaan, mantan gubernur yang akrab disapa Foke ini juga telah membuat Terowongan Penyeberangan Orang (TPO) yang menghubungkan Stasiun Beos, Shelter Busway, dan Museum Bank Mandiri. TPO yang sudah menghabiskan dana sekitar Rp 39,7 miliar melalui tiga tahapan itu dilengkapi dengan pendingin ruangan, toilet, serta taman berbentuk lingkaran di dalamnya.

Untuk lebih meningkatkan minat kunjung masyarakat serta memberdayakan potensi ekonomi warga sekitar, (masih di era Bang Foke), Pemerintah Kota Jakarta Barat (Pemkot Jakbar) bersama Paguyuban Kota Tua Sektor Fatahillah melakukan peletakan batu bersama berdirinya kawasan wisata malam dan kuliner, di kawasan Kota Tua, Tamansari, Jakarta Barat, pada Februari 2010. Wisata malam dan kuliner Kota Tua bertujuan melestarikan peninggalan sejarah serta memberdayakan potensi ekonomi warga sekitar.

Juga telah dilakukan pembenahan pendestrian dan penghijauan seperti di Jalan Pintu Kecil dan Jalan Pancoran untuk menambah kenayaman para pengunjung yang mengunjungi kota tua. (G06)

Top
You cannot copy content of this page