Fake Plastic World

Reading time: 6 menit

Menurut Sobirin, cara paling efektif untuk mengobati masalah sampah plastik adalah dari tempat mereka berasal: konsumen. Namun tentu itu tidak mudah untuk menanamkan kesadaran tersebut. Karena itu, Sobirin menganggap ini semua butuh peran serta seluruh pihak.

Pertama adalah pemakai plastik yang harus bijak menentukan mana yang memang terpakai dan mana yang bisa tergantikan. Salah satu cara yang populer adalah menggunakan kantong belanja berbahan kain atau kanvas.Kemudian pemerintah juga harus memiliki keberanian politik untuk menanggulangi masalah plastik. Cina adalah salah satu negara yang telah melarang peredaran kantong plastik tipis. Dengan kebijakan tersebut, negara ini bisa menghemat penggunaan minyak mentah yang menjadi bahan baku pembuatan plastik. Di Irlandia pemerintahnya memberlakukan pajak plastik untuk membatasi penggunaan kantong plastik.

Selain itu, Bapak tiga anak ini juga menyarankan agar ada pendidikan terhadap warga tentang cara mengelola sampah sendiri. Bisa dimulai dari memilah sampah, menggunakan yang masih bisa dipakai, mengompos sampah organic, dan menyalurkan sampah yang bisa didaur ulang, misalnya plastik pada  para pemulung.

Apakah plastik bio-degradable yang terbuat dari bahan organik bisa menjadi solusi? Sobirin mengatakan bahwa  kantong plastik ramah lingkungan” (bio-degradable plastic bag) yang terbuat dari tepung singkong (maizena) memang bisa menjadi salah satu solusi karena  dapat terurai enam bulan sampai lima tahun. Jauh bila dibandingkan dengan plastik biasa yang baru terurai setelah 500 sampai 1.000 tahun. “Namun, ketersediaannya masih terbatas dan masih mahal,” tandasnya.

Dia menunjukkan salah satu plastik mudah terurai, kantong plastik kecil yang dipakai oleh perusahan kopi ternama. Di plastik ini tergambar proses pelapukannya yang membutuhkan waktu sepuluh minggu. Akan tetapi, periode degradasi ini tergantung kepada kandungan mikro-organisme yang ada di dalam tanah.

Sobirin pun menambahkan bahwa solusi terbaik adalah kembali kepada kearifan lokal; yaitu menggali kembali cara-cara membungkus makanan dan sejenisnya dengan menggunakan bahan-bahan organik, misalnya daun pisang, daun jati, dan sejenisnya. Dia juga menekankan perlunya penelitian untuk mengaplikasikan konsep kearifan lokal dalam bentuk yang lebih praktis (user friendly).

Seperti yang diungkapkan Abdul Hamid, seorang dosen di Fakultas Sastra Unpad, mengatakan bahwa kita telah berburuk sangka dengan menggunakan kalimat “Buanglah sampah pada tempatnya.” Padahal kita bisa merujuk istilah dalam bahasa Inggris “Keep Our Clean”. Jadi, lebih baik menjaga kebersihan dan selalu memerhatikan untuk mengurangi produksi sampah. Apalagi membuang sampah plastik sembarangan; sama saja dengan menganggap manusia hidup di tempat sampah dan membiarkan bumi menjadi dunia plastik. Palsu dan tidak alami! (end)

Top

You cannot copy content of this page