Gempa Bumi, Frekuensi Rendah tapi High Impact

Reading time: 2 menit
Hari Pengurangan Bencana Internasional, BNPB Tagih Keterlibatan Semua Pihak
Reruntuhan gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah (28/9/2018). Foto: Shutterstock.

Jakarta (Greeners) – Indonesia termasuk dalam negara dengan intensitas gempa bumi cukup tinggi. Selain letak geografisnya berada di jalur Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, Indonesia berada di atas ratusan sesar bumi aktif.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap bencana gempa bumi berkontribusi besar terhadap 80 % jumlah korban jiwa meninggal bencana sepanjang tahun 2022.

“Selama 2022 dari korban yang 844 itu, 80 persennya dari gempa. Meski lebih dari 95 % bencana adalah bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor,” kata Plt Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB.

Berdasarkan laporan bencana 1 Januari hingga 25 Desember 2022, tercatat sebanyak 3.461 kejadian bencana di Tanah Air. Bencana hidrometeorologi masih mendominasi dan gempa bumi hanya 28 kejadian. 

“Dibanding bencana lain seperti tanah longsor yang sering terjadi tapi low impact. Kita lihat bencana gempa dan gunung berapa termasuk kategori low frequency tapi high impact,” ungkapnya.

Sesar Aktif di Indonesia

Muhari menyatakan, sepanjang tahun 2022 terdapat dua kejadian gempa bumi yang signifikan yaitu gempa Pasaman-Pasaman Barat, Sumatra Utara kekuatan M6,2 dan gempa Cianjur M5,6 kedalaman 10 km.

“Meskipun kejadiannya jarang cuma dua kali gempa tapi membawa korban luar biasa banyak,” kata dia.

Dua gempa tersebut disebabkan oleh sesar darat aktif yang belum teridentifikasi sebelumnya. “Artinya kita saat ini sudah mengidentifikasi ada 300 sesar darat aktif di indonesia, tetapi mungkin yang belum teridentifikasi cukup banyak,” imbuhnya.

Beberapa kejadian gempa bumi sepanjang tahun 2022 itu antara lain gempa bumi Pandeglang 14 Januari 2022 dengan magnitudo (M6.6). Meski tak memakan korban jiwa tapi berimbas pada kerusakan ringan hingga berat.

Ia menambahkan dua gempa akibat sesar aktif yang belum teridentifikasi tersebut seharusnya memberikan pelajaran penting. Mulai dari penataan ulang tata ruangnya hingga kesiapan mitigasinya. 

Bangunan tahan gempa menjadi kunci mitigasi bencana gempa bumi. Foto: Shutterstock

Riset Gempa Bumi 

Pakar gempa bumi dan tsunami dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Danny Hilman Natawidjaja mengatakan, peta sebaran rawan bencana di Indonesia masih rendah dan bersifat umum.

Jika peta sebaran rawan bencana tidak akurat, akan sulit melakukan mitigasi bencana. Ia menambahkan pentingnya peningkatan riset untuk memahami karakteristik dan identifikasi sesar aktif baru. Ini sebagai langkah penguatan mitigasi gempa.

“Walaupun sudah cukup banyak yang sudah kita petakan sumber-sumber gempa itu, tapi masih banyak yang belum kita petakan,” kata dia

Danny menyatakan riset ini membutuhkan kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan. Baik itu ahli di bidang keilmuan dan institusi untuk memetakan sesar aktif di Indonesia. 

Selain itu, masyarakat didorong untuk tidak mendirikan bangunan di daerah-daerah sesar aktif baru tersebut.

Bangunan Tahan Gempa

Ia menekankan pentingnya bangunan tahan gempa sebagai langkah untuk mitigasi guncangan gempa. Standar ini seharusnya tak hanya wajib berlaku untuk bangunan legal, tapi juga rumah-rumah warga yang juga berisiko terhadap gempa.

Demikian saat akan membangun rumah di suatu daerah hendaknya melihat peta zonasi gempa. Ini bertujuan menghindari area rawan gempa dan jalur gempa atau sesar aktif.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top