9 Gempa Merusak Selat Sunda, Siaga Potensi Gempa di Zona Megathrust

Reading time: 3 menit
Gempa merusak dan dangkal pada Jumat (14/1) di Banten, menyebabkan ratusan rumah roboh. Foto: BNPB

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 8 kali gempa merusak sejak tahun 1851 hingga tahun 2019 di Selat Sunda. Yang terbaru gempa merusak magnitude (M) 6,6 pada Jumat (14/1) sore. Sehingga total ada 9 gempa merusak yang telah terjadi.

Dalam tiga menit pertama, BMKG memonitor gempa bumi tersebut M 6,7 kedalaman 10 km dan berpotensi tsunami. Namun pada menit ke empat setelah banyak data terkumpul, ada pembaruan data yakni gempa M 6,6 kedalaman 40 km. Episenter gempa di laut pada jarak 132 km arah barat daya Kota Pandeglang, Banten.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, gempa yang terjadi di selatan Banten ini adalah gempa dengan mekanisme pergerakan naik. Hal ini terjadi akibat patahan naik.

“Gempa yang terjadi dangkal akibat subduksi lempeng Samudra Indo Australia menghujam ke bawah lempeng Benua Eurasia. Ke bawah Pulau Jawa yang menerus ke Nusa Tenggara,” katanya dalam konferensi pers virtual, Jumat (14/1) sore.

Goncangan gempa ini dirasakan di sejumlah wilayah di luar Banten, seperti Bogor, Jakarta, Bekasi hingga Tangerang Selatan. 

Gempa Merusak di Selat Sunda

Dwikorita mengungkapkan, dari sejarah kegempaan di Selat Sunda, pada Mei 1851 di Teluk Betung dan Selat Sunda pascagempa kuat teramati tsunami setinggi 1,5 meter (m). Lalu pada 9 Januari 1852 terjadi gempa kuat dan terjadi tsunami kecil.

Setelah itu, pada 27 Agustus 1883 terjadi tsunami dahsyat di atas 30 meter akibat erupsi Krakatau. Kemudian pada 23 Februari 1903 terjadi gempa M 7,9 yang berpusat di selatan Selat Sunda. Lalu 26 Maret 1928 terjadi tsunami kecil yang teramati di Selat Sunda pascagempa kuat.

Rentetan berikutnya pada 22 April 1958, terjadi gempa kuat dan kenaikan permukaan air laut. Yang terbaru pada 22 Desember 2018, kala itu tsunami menerjang Selat Sunda akibat longsoran anak Krakatau. Berikutnya, pada 2 Agustus 2019 terjadi gempa M 7,4 yang merusak di Banten dan berpotensi tsunami.

Dari rentetan gempa yang terjadi sejak tahun 1851 hingga yang terbaru di 2022, Dwikorita mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan. BMKG memonitor dalam 30 hari terakhir ada peningkatan aktivitas kegempaan dengan magnitude di bawah 5 di Jawa Barat dan Banten.

“Ada yang masyarakat rasakan lemah. Namun perlu ada kesiapan kondisi rumah tahan gempa. Perabotan yang labil dan mudah roboh jangan berada di atas tempat tidur atau tempat bekerja,” ungkap Dwikorita.

Selain itu di setiap bangunan entah itu rumah, mal, perkantoran dan hotel harus memiliki tempat perlindungan yang aman apabila terjadi goncangan gempa.

“Meja yang kokoh bisa menjadi tempat perlindungan. Jangan malah di bawahnya ada tumpukan kardus,” imbuhnya.

Hal penting lainnya, jalur evakuasi harus tanpa halangan apapun. Berlatih peningkatan evakuasi mandiri di gedung bertingkat juga sangat penting.

Gempa merusak sebanyak 9 kali di Selat Sunda sejak tahun 1851 hingga 2022 menyebabkan tsunami dan kerusakan bangunan. Foto: Shutterstock

Waspadai dan Siaga Potensi Gempa Merusak yang Lebih Besar

Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono mengungkapkan, gempa Jumat (14/1) ini bersifat merusak (desktruktif). Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pandeglang menyebut, 113 kelurahan dari 13 kecamatan terdampak gempa. Sebanyak 700 rumah dan lebih dari 300 fasilitas umum rusak.

“Gempa Ujung Kulon ini jenisnya mirip dengan gempa selatan Jawa Timur M 6,1 pada 10 April 2021 lalu yang bersifat destruktif. Sama-sama intraslab yaitu gempa dengan sumber di dalam Lempeng Indo Australia,” kata Daryono di Jakarta, Sabtu (15/1)

Hingga Sabtu (15/1) lanjutnya, sudah terjadi 33 kali gempa susulan dengan magnitude terbesar 5,7 dan terkecil 2,5.

Ia menegaskan, gempa Ujung Kulon ini sebenarnya bukan ancaman sesungguhnya karena segmen megathrust Selat Sunda mampu memicu gempa tertarget mencapai M 8,7.

“Dan ini dapat terjadi sewaktu-waktu. Kapan saja dapat terjadi karena Selat Sunda ini merupakan salah satu zona seismic gap di Indonesia yang selama ratusan tahun belum terjadi gempa besar,” paparnya.

Sehingga tambahnya, patut patut diwaspadai karena berada di antara dua lokasi gempa besar yang merusak dan dapat memicu tsunami yaitu gempa Pangandaran M 7,7 (2006) dan gempa Bengkulu M 8,5 (2007).

Penulis : Ari Rikin

Top
You cannot copy content of this page