Gerhana Matahari Sebagian, Lumba Lumba Hidung Botol Tunjukkan Perubahan Perilaku

Reading time: 2 menit
Lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncatus) menunjukkan perubahan perilaku saat terjadi Gerhana Matahari yang berlangsung pada Rabu (09/03) pagi. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Jakarta (Greeners) – Fenomena alam tertutupnya seluruh bundaran Matahari oleh bundaran Bulan yang lazim dikenal dengan Gerhana Matahari Total ternyata mampu merubah perilaku hewan, baik darat maupun laut, nokturnal maupun yang aktif di siang hari.

Di Jakarta sendiri, meski hanya mendapat jatah Gerhana Matahari Sebagian, namun perubahan perilaku pada lumba-lumba hidung botol masih bisa diamati. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di Ocean Dream Samudera selama proses gerhana matahari berlangsung pada Rabu (09/03) pagi, mamalia ini menunjukkan beberapa perubahan perilaku dari sifat aslinya.

Dr. Hagi Yulia Sugeha, peneliti dari Kelompok Penelitian Biodiversitas dan Konservasi Sumberdaya Laut Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan, dari sekitar 10 sampai 15 menit selama proses Gerhana Matahari Sebagian berlangsung, empat ekor lumba-lumba hidung botol yang berada di dalam wahana lebih banyak diam di dasar kolam. Selain itu, mamalia yang secara alamiah hidup berkelompok ini terlihat bergerak sendiri-sendiri dan lebih individualis.

“Dalam kondisi yang tidak alami seperti saat ini, ternyata mamalia dengan nama latin Tursiops truncatus itu masih memiliki insting untuk merespon peristiwa alam seperti Gerhana Matahari Total. Mereka (lumba-lumba) merespon perubahan kondisi lingkungan dengan sangat baik,” jelasnya saat dijumpai oleh Greeners di Ocean Dream Samudera, Ancol, Jakarta Utara, Rabu (09/03).

Dr. Hagi Yulia Sugeha, peneliti dari Kelompok Penelitian Biodiversitas dan Konservasi Sumberdaya Laut Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Dr. Hagi Yulia Sugeha, peneliti dari Kelompok Penelitian Biodiversitas dan Konservasi Sumberdaya Laut Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Perubahan perilaku lain yang berhasil teramati adalah perbedaan cara bernafas. Selama fase gerhana, lumba-lumba cenderung membuang nafas dengan tenang dan jarang sekali memunculkan diri ke permukaan. Hal ini terjadi karena Lumba-lumba mengalami disorientasi waktu antara malam dan siang. Padahal, pada hari biasanya, lumba-lumba selalu aktif dan responsif pada siang hari, karena memang mereka makhluk yang aktif di saat terang.

Namun, jelas Hagi melanjutkan, masih banyak pola perilaku lain yang lebih alami yang tidak bisa diamati. Hal ini dikarenakan, empat ekor lumba-lumba yang menjadi objek pengamatan berada di dalam wadah atau kolam yang juga sudah terlatih untuk merespon aktifitas manusia.

“Kalau di alam liarnya, banyak yang masih bisa diteliti seperti misalnya aktivitas makan, melindungi anaknya, dan yang paling lazim sama dengan hewan laut lainnya, yaitu lumba-lumba akan turun sedalam 50 meter di bawah permukaan laut untuk menghindari cahaya agar bisa istirahat dan bersembunyi dari predator. Insting itu yang kita tidak bisa temukan di sini,” tambahnya.

Di Indonesia, lanjut Hagi, masih belum ada penelitian khusus yang dilakukan dengan objek penelitian lumba-lumba. Hal itu dikarenakan untuk meneliti dan mengamati pola perilaku mamalia laut ini di alam bebas membutuhkan biaya yang sangat besar.

“Mungkin di negara luar seperti di Amerika dan Eropa mereka melakukan pengamatan, tapi di Indonesia bahkan ASEAN pun belum ada,” tegasnya.

Sebagai informasi, untuk menyemarakkan fenomena Gerhana Matahari Total yang terjadi di banyak wilayah Indonesia, Taman Impian Ancol mengadakan wisata edutainment dengan mengamati efek Gerhana Matahari Total terhadap satwa yang berada di Ocean Dream Samudera, khususnya lumba-lumba hidung botol.

Ocean Dream Samudera juga mengundang pelajar dari Sekolah Rakyat Ancol dan komunitas Teens Go Green untuk menyaksikan peristiwa bersejarah yang sarat dengan ilmu pengetahuan dan edukasi ini.

Penulis: Danny Kosasih

Top
You cannot copy content of this page