HCFC Penyebab Lapisan Ozon Semakin Menipis

Reading time: 2 menit
Ilustrasi: Ist.

Jakarta (Greeners) – Menipisnya lapisan ozon menyebabkan meningkatnya radiasi ultraviolet matahari, terutama UV- B, mencapai permukaan bumi. Berdasarkan data dan pengamatan kondisi ozon di atmosfir bumi dari bulan Oktober 1980 sampai dengan Oktober 1991, memperlihatkan bahwa kondisi lubang pada lapisan ozon semakin memprihatinkan.

Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Arief Yuwono mengatakan, memang kondisi terbaru sudah lebih baik jika merujuk data per 9 September 2011. Namun, dari foto satelit, lubang ozon di kutub utara masih memperlihatkan terjadinya penipisan.

“Penipisan itu berada di sekitar Rusia dan Skandinavia, selain yang juga terlihat di Australia,” ujar Arief di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (10/09).

Menurut Arief, banyaknya Bahan Perusak Ozon (BPO) yang masuk ke Indonesia melalui barang-barang impor menjadi salah satu penyebab semakin menipisnya ozon di atmosfir. Hal tersebut terjadi karena bahan ini diperlukan oleh industri, baik untuk manufaktur AC /Refrigerasi dan industri busa, maupun untuk kegiatan servis produk (barang) yang menggunakan BPO.

“Umumnya, chlorofluorocarbon (CFC) dan hydrochlorofluorocarbon (HCFC) yang digunakan untuk membantu daya semprot pada peralatan kosmetik, pendingin ruangan, atau lemari pendingin itulah yang menyebabkan ozon kita menipis,” ujar Arief.

Untuk itu, kata Arief, Indonesia melalui KLH dan Kementrian Perindustrian telah berupaya untuk menghapus penggunaan HCFC untuk industri manufaktur atau perakitan refrigerasi, dan meminta industri tersebut untuk melakukan alih teknologi menjadi non-HCFC.

“Per tanggal 1 Januari 2015, kita targetkan 10% untuk penurunan konsumsi HCFC pada barang-barang yang bersangkutan,” jelas Arief.

Selain itu, Asisten Deputi Mitigasi dan Pelestarian Fungsi Atmosfir KLH, Emma Rachmawaty menyatakan bahwa selain merusak lapisan ozon, BPO yang terlepas ke atmosfir juga memberikan kontribusi terhadap pemanasan global dengan adanya emisi CO2.

Semakin banyaknya peralatan yang menggunakan BPO, semakin besar tantangan untuk mencegah terjadinya emisi yang merusak lapisan ozon dan menyebabkan pemanasan global. Oleh sebab itu, terang Emma, penangan barang-barang bekas yang memiliki BPO dalam sistemnya menjadi penting diperhatikan.

“Sejak Desember 2007, melalui penetapan regulasi dan kebijakan nasional kami telah melakukan pengawasan impor BPO dengan bekerjasama antar instansi pemerintah, dunia usaha, dan Perguruan Tinggi sebagai bentuk sosialisasi dan upaya penghapusan BPO,” tambahnya.

Menurut Emma, Indonesia telah sukses menghentikan impor BPO, seperti Halon, CTC, TCA, Metil Bromida untuk aplikasi fumigasi pergudangan dan semua jenis CFC semenjak Desember 2007. Hanya BPO jenis HCFC yang masih dapat diimpor dan dalam waktu dekat akan segera diatur importasi dan penggunaannya.

“Karena upaya tersebut, Indonesia dinilai berhasil karena telah menghapuskan konsumsi CFC lebih cepat dua tahun dari pada target Protokol Montreal,” katanya.

(G09)

Top
You cannot copy content of this page