Ikan Belida Chitala lopis Kembali Ditemukan di Pulau Jawa

Reading time: 2 menit
Ikan belida Chitala lopis (C. lopis) muncul kembali di Pulau Jawa. Foto: BRIN
Ikan belida Chitala lopis (C. lopis) muncul kembali di Pulau Jawa. Foto: BRIN

Jakarta (Greeners) – Ikan belida Chitala lopis (C. lopis) muncul kembali di Pulau Jawa. Padahal, ikan tersebut sempat dinyatakan punah pada tahun 2020. Penemuan ini memperluas sebaran keberadaan C. lopis di tiga pulau, yakni Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.

Penemuan ikan belida Chitala lopis tersebut merupakan hasil dari penelitian antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Food and Agriculture Organization (FAO), dan sejumlah pihak lainnya. Kolaborasi riset tersebut telah menjawab persoalan taksonomi genus Chitala di Indonesia. Sebab, spesies belida ini terakhir ada di pulau Jawa 172 tahun yang lalu (tahun 1851).

Peneliti dan Kepala Pusat Riset Konservasi Sumber Daya Laut dan Perairan Darat BRIN, Arif Wibowo mengungkapkan, spesies yang termasuk Famili Notopteridae dan Ordo Osteoglossiformes adalah ikan purba. Ikan tersebut memiliki bentuk sirip seperti kipas.

BACA JUGA: Penemuan Spesies Baru Dorong Peneliti Gali Keanekaragaman Hayati

“Secara intraspesifik, jarak genetik C. lopis, C. hypselonotus, dan C. borneensis sangat rendah. Sehingga, pembeda gen mitochondrial antarspesies tidak identik.  Karakter morfologi C. lopis memiliki tinggi tubuh posterior dan panjang pre-dorsal lebih dominan daripada C. bornensis. Perkiraan evolusi C. lopis terjadi sejak 1.200 tahun yang lalu,” ungkap Arif melalui siaran pers.

Sementara itu, The International Union for Conservation of Nature (IUCN) Redlist pada tahun 2020 pernah merilis kepunahan C.lopis di Pulau Jawa. Penemuan kembali ikan belida ini berasal dari hasil koleksi yang terkumpul sejak November 2015 hingga September 2023. Khususnya pada 34 lokasi di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.

Tim penelitan pun melakukan perbandingan data hasil sekuensing Deoxyribonucleic Acid (DNA) barcoding dengan data genetik global Barcode of Life Data (BOLD), dan karakterisasi morfologi. Tim peneliti pun meyakini bahwa spesies tersebut adalah C. lopis. Hal itu juga melalui tahap perbandingan dengan koleksi spesies Chitala lopis yang tersimpan di Natural History Museum, London.

Mayoritas Ikan Belida Termasuk Spesies C.lopis

Tak hanya membantah kepunahan C.lopis, penemuan ini juga menjawab persoalan taksonomi ikan belida di Indonesia. Menurut para ahli, mayoritas ikan belida di Indonesia termasuk dalam spesies C. lopis. Namun, jenis lain yang sering ada adalah C. borneensis dan C. hypselonotus.

“Kelimpahan dan sebaran ketiga jenis ikan tersebut mengalami penurunan di Pulau Sumatera dan Jawa. Bahkan, status C. hypselonotus terakhir ditemui pada tahun 2015,” lanjut Arif.

Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1 tahun 2021 tentang Jenis Ikan yang Dilindungi, terdapat empat spesies famili Notopteridae yang dilindungi. Tiga di antaranya adalah C. lopis, C. borneensis, dan C. hypselonotus.

BACA JUGA: Bulbophyllum wiratnoi, Anggrek Endemik dari Papua Barat

IUCN mengungkapkan spesies Chitala termasuk spesies dengan kategori Least Concern yang mengindikasikan tingkat risiko kepunahan masih rendah di Indonesia, kecuali C. lopis yang dianggap punah.

Oleh karena itu, perlu evaluasi status konservasi pada IUCN pada sebaran C. lopis di Indonesia, bukan hanya di Pulau Jawa. Selain itu, perlu revisi status konservasi C. hypselonotus dan C. borneensis dari Least Concern menjadi Critically Endangered (kritis) karena keterbatasan stok dan sebaran.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top