Pakar Desak Indonesia Tinggalkan Industri Berbasis Sumber Daya Alam

Reading time: 2 menit
tambang batu bara
Pakar Desak Indonesia Tinggalkan Industri Berbasis Sumber Daya Alam. Foto: Shutterstock.

Penggenjotan industri berbahan sumber daya alam terus menjadi momok bagi lingkungan hidup Bumi Pertiwi. Pakar pun mendesak urgensi pergeseran kacamata pembangunan ekonomi dalam negeri melalui industri yang lebih berkelanjutan. 

Jakarta (Greeners) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2014-2019, Ignasius Johan, menilai Indonesia perlu mulai fokus pada pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, Indonesia mesti segera meninggalkan paradigma industri berbasis sumber daya alam menuju industri berbasis teknologi digital dan informasi.

Dia menekankan, industri berbasis teknologi digital dan informasi –selain lebih ramah lingkungan– juga sesuai dengan tuntutan zaman. Menurutnya, industri tersebut menjanjikan ketimbang industri berbasis sumber daya alam. Hal ini terbukti dengan industri berbasis sumber daya alam yang saat ini tidak lagi menjadi industri berpendapatan tinggi.

“Industri tersebut merupakan langkah besar yang menjanjikan. Indonesia tertinggal, setidaknya sepuluh tahun terakhir tidak meningkat signifikan. Kita mengalami perkembangan meski masih perlahan. Jadi kita harus mengarah ke sana,” ujar Ignasius dalam 18th Economix International Seminar bertema The Emergence of Crisis, Senin, (1/3/2021).

Publik Mulai Pertimbangkan Kelestarian Lingkungan

Ignasius menyajikan beberapa data yang memuat pergeseran dominasi di sektor industri. Berdasarkan data dari Bloomberg, Google terkait 10 perusahaan terbesar di dunia, pada tahun 2008 terapat 5 yang berbasis sumber daya alam. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2018 tidak ada lagi perusahaan berbasis sumber daya alam.

“Berdasarkan rangking dari Current Market Capitalization hanya ada satu perusahaan berbasis sumber daya alam,” imbuhnya.

Dia menyebut saat ini belum semua pihak mendukung adanya pembangunan berkelanjutan. Meski begitu, Ignasius mereken publik sudah mulai mempertimbangkan kelestarian lingkungan. Termasuk dalam menggunakan produk untuk kebutuhan sehari-hari.

“Dengan begitu bisnis harus mendapat dukungan dari publik atau customer. Tanpa ada dukungan dari mereka, bisnis tidak akan berjalan,” jelasnya.

deforestasi

Penampakan deforetasi di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Foto: Shutterstock.

Baca juga: RDF Mampu Perbaiki Ekosistem Pengelolaan Sampah di Cilacap

Asia Menyumbang Hampir Setengah Emisi Gas Rumah Kaca Dunia

Sementara itu, Vice President for Knowledge Management and Sustainable Development at Asian Development Bank (ADB), Bambang Susantono, menyebut emisi gas rumah kaca dari benua Asia terus bertambah.

Pada periode 1990-1999, Asia hanya menyumbangkan 27 persen dari total emisi gas rumah kaca global. Jumlah tersebut bertambah pada tahun 2016 menjadi 41 persen.

Dia berharap negara-negara di Asia harus lebih memperhatikan dan mengatasi hal tersebut sebagai bagian dari pengendalian perubahan iklim.

Menurutnya, meski pandemi Covid-19 membuat emisi gas rumah kaca menurun, tapi hal tersebut tidak cukup untuk mencegah perubahan iklim pada masa mendatang.

“Pandemi cukup membantu sebab membatasi aktivitas manusia serta kegiatan yang berdampak pada kerusakan iklim. Tapi ,kita harus mengingat sebelum adanya pandemi, Asia sudah terdampak bencana juga yaitu dari perubahan iklim,” tuturnya.

Penulis Muhamad Ma’rup

Top
You cannot copy content of this page