calendar
Jumat, 17 Agustus 2018
Pencarian
burung endemis
Searah jarum jam: punggok sumba (Ninox sumbaensis), myzomela rote (Myzomela irianawidodoae), dan dara-laut alaska (Onychoprion aleuticus). Foto: Ist.

Jenis Burung Endemis Indonesia Bertambah

Berita Harian

Bogor (Greeners) – Alam Indonesia yang kaya menyimpan keragaman hayati yang luar biasa. Spesies burung yang ditemukan di negara dengan hutan hujan tropis ketiga terluas di dunia ini diketahui bertambah jumlahnya pada tahun ini.

Data Burung Indonesia menyatakan pada tahun 2017 terdapat 1.769 jenis burung yang teridentifikasi setelah sebelumnya tercatat 1.672 jenis. Hingga pertengahan tahun 2018 ini, jumlah burung yang teridentifikasi bertambah dua jenis, salah satunya merupakan jenis endemis Indonesia. Maka, jumlah jenis burung di Indonesia saat ini menjadi 1.771 jenis.

Kepala Komunikasi dan Pengembangan Kelembagaan Burung Indonesia, Ria Saryanthi mengatakan, salah satu jenis burung yang bertambah yaitu myzomela rote (Myzomela irianawidodoae), burung endemis Pulau Rote di kawasan Nusa Tenggara Timur yang dideskripsikan oleh LIPI pada tahun 2017. Burung ini termasuk dalam famili Meliphagidae yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999. Pengidentifikasian burung ini juga menambah jumlah jenis burung yang dilindungi menjadi 436 jenis dari sebelumnya 435 jenis.

Jenis burung endemis Indonesia lainnya yang teridentifikasi adalah paok papua (Erythropitta macklotii). Baik Myzomela irianawidodoae maupun paok papua, keberhasilan mengidentifikasi keduanya telah menambah jumlah jenis burung yang khas atau endemis Indonesia menjadi 513 jenis.

BACA JUGA: Dana Riset Minim, Keanekaragaman Hayati Rentan Tidak Teridentifikasi

Sementara itu, Daftar Merah Badan Konservasi Dunia (IUCN Red List), status burung terancam punah secara global yang tercatat di Indonesia mangalami sedikit perubahan. Terdapat tiga jenis burung yang status keterancamannya kini meningkat.

Ketiga jenis burung tersebut, yaitu dara-laut aleutian atau dara-laut alaska (Onychoprion aleuticus) yang sebelumnya berisiko rendah terhadap kepunahan (Least Concern/LC) menjadi rentan (Vulnerable/VU); myzomela bacan (Myzomela batjanensis) yang sebelumnya berstatus mendekati terancam punah (Near Threatened/NT) menjadi rentan; dan punggok sumba (Ninox sumbaensis) yang sebelumnya berstatus mendekati terancam punah kini meningkat tajam menjadi genting (Endangered/EN).

burung endemis

Infografis status burung di Indonesia 2018. Sumber: Burung Indonesia

Terhadap kondisi ini, Spesialis Konservasi Keanekaragaman Hayati Burung Indonesia, Ferry Hasudungan mengatakan bahwa jumlah jenis burung di Indonesia dapat terus bertambah dengan adanya penelitian-penelitian yang semakin intensif di lakukan di masa depan.

“Jika alam Indonesia yang merupakan habitat burung terus-menerus dirusak, maka bukan tidak mungkin banyak jenis burung akan punah bahkan sebelum ditemukan. Terlebih yang sekarang ada dan sudah ditemukan pun nantinya anak cucu kita mungkin tidak akan pernah sempat mengenalnya dan hanya bisa mengetahuinya dari literatur-literatur akademis,” kata Ferry, Selasa (19/06/2018).

BACA JUGA: Cegah Kepunahan TSL, LIPI Latih Para Pengendali Ekosistem Hutan

Kajian yang diterbitkan jurnal Nature Climate Change pada 2014 memperkirakan pada tahun 2012 lalu hutan primer di Indonesia telah hilang sebanyak 840.000 hektar. Jumlah ini merupakan yang tertinggi dibandingkan negara-negara lain, bahkan melampaui Brazil yang kehilangan 460.000 hektar hutannya. Sebagai informasi, luas hutan Amazon di Brazil sekitar empat kali luas hutan di Indonesia.

Keberadaan hutan sangat terkait dengan kehidupan dan keberlangsungan berbagai jenis burung. Hal ini dikarenakan hutan merupakan tempat burung bersarang, hidup, berlindung dan bereproduksi. Kerusakan hutan akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan bertahan hidup burung-burung yang ada.

Jasa lingkungan yang diberikan burung kepada manusia tidaklah sedikit. Burung menjadi agen pengendali berbagai jenis hama, melakukan penyerbukan berbagai tanaman, dan juga menyebarkan biji-bijian yang kemudian tumbuh menjadi tumbuh-tumbuhan di hutan dan alam liar. Oleh karena itu, terancamnya populasi burung dapat juga memperburuk kualitas hidup satwa-satwa lain dan keanekaragaman hayati pada umumnya.

Penulis: Dewi Purningsih

Top