Kebakaran Savana Bromo Tidak Mengganggu Ekosistem dan Kunjungan Wisatawan

Reading time: 2 menit
savana
Kebakaran savana di kawasan Gunung Bromo yang terjadi sejak Sabtu (01/09/2018) sudah berhasil dipadamkan. Foto: greeners.co/Muhajir Arifin

Pasuruan (Greeners) – Api padang savana di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, dipastikan telah padam. Kebakaran yang terjadi mulai dari Jemplang di Kabupaten Malang hingga Bukit Teletubbies di Kabupaten Probolinggo ini dipastikan tidak menganggu ekosistem kawasan dan tidak berpengaruh pada kunjungan wisatawan.

Kebakaran terjadi sejak Sabtu (01/09/2018). Api bermula dari kawasan Jemplang dengan cepat menyebar ke berbagai lokasi di antaranya Blok Plentongan, Watu Gede, padang savana hingga Bukit Teletubbies yang masuk wilayah Kabupaten Probolinggo. Setidaknya terdapat 274 titik api yang menghanguskan sekitar 600 hektare padang rumput.

“Tadi pagi masih ada titik api, tapi siang ini dipastikan sudah padam total,” kata ketua Komunitas Bromo Lovers Teguh Wibowo kepada Greeners, Rabu (05/09/2018).

Teguh mengungkapkan, upaya pemadaman dilakukan oleh ratusan personel dari tim gabungan dari TNBTS, Badan Penanggulangan Bencana Darah (BPBD) sekitar, TNI, Polri, warga dan relawan termasuk puluhan anggota komunitas Bromo Lovers.

Teguh mengatakan, kebakaran yang terjadi tidak merusak ekosistem kawasan taman nasional karena sebagian besar lokasi kebakaran ditumbuhi rerumputan, tanaman obat dan semak belukar dan beberapa pohon akasia serta cemara. “Pohon-pohon ini hanya terbakar di bagian bawahnya saja, tidak sampai hangus dan mati,” terangnya.

BACA JUGA: 600 Hektare Padang Savana Gunung Bromo Terbakar 

Hal ini juga ditegaskan Kepala Seksi Wilayah I TNBTS, Sarmin, yang mengatakan bahwa di lokasi yang terbakar tidak terdapat fauna terutama mamalia. Menurut dia, fauna kawasan TNBTS banyak terdapat di Gunung Semeru. Para personel yang melakukan penyisiran memastikan kebakaran benar-benar padam dan mereka tidak menemukan satwa terutama mamalia yang terbakar.

“Sisi positif kebakaran ini bisa mempercepat penggantian rumput kering menjadi rumput hijau. Pemulihannya sendiri cukup cepat, sekitar satu bulan rumput akan kembali tumbuh,” terangnya.

Selain tidak mengganggu ekosistem, kebakaran kawasan ini tidak berdampak signifikan pada kujungan wisatawan. “Kunjungan wisatawan masih normal. Saat terjadi kebakaran kawasan wisata juga tidak kami tutup karena lokasi kebakaran jauh dari tempat-tempat yang biasa dikunjungi wisatawan, seperti Penanjakan, lautan pasir dan kawah. Memang untuk savana dan Bukit Teletubbies sempat buka-tutup,” kata Sarmin.

Perapian Warga Diduga Jadi Penyebab Kebakaran

Mengenai penyebab kebakaran, Kepala Balai Besar TNBTS, John Kenedie, mengatakan bahwa api bukan ulah pengunjung karena titik api pertama diketahui merupakan area nol pengunjung taman nasional. Awal api diduga kuat berasal dari perapian warga sekitar yang tengah mencari tanaman obat dan kayu bakar.

“Kawasan yang terbakar banyak tumbuh tanaman obat serta kayu yang bisa menjadi bahan kayu bakar masyarakat. Kemungkinan warga sedang mencari tanaman obat atau kayu bakar. Karena cuaca dingin (mereka) buat perapian, mungkin lupa (mematikan api) dan api membakar tanaman di sekitarnya,” kata John seperti dikutip dari keterangan resminya.

BACA JUGA: Pencegahan Karhutla, KLHK dan Kemenkominfo Luncurkan SMS Blast 

Ia juga menegaskan bahwa kebakaran tidak menganggu satwa endemik taman nasional. Menurut dia sejak kebakaran Sabtu malam, pihaknya memfokuskan agar api tidak merembet hingga wilayah Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang, yang banyak dihuni oleh satwa endemik.

“Saat terjadi kebakaran, saya langsung minta kawasan tersebut dijaga betul agar api tidak sampai merembet ke sana karena di situ banyak satwa dilindungi, seperti macan hingga elang Jawa,” ungkap John.

Menurut John, pihaknya akan meningkatkan pengawasan agar kebakaran tidak terulang di wilayah taman nasional meski yang terbakar merupakan semak dan rumput. “Yang terbakar sebagian kecil saja pohon tegak seperti cemara dan akasia,” terangnya.

Penulis: MA/G12

Top
You cannot copy content of this page