Laju Deforestasi di Indonesia Masih Tinggi  

Reading time: 2 menit
Deforestasi
Penyebab deforestasi di antaranya penebangan, pertambangan, ekstraksi minyak dan gas, serta perkebunan monokultur seperti sawit. Foto: shutterstock.com

Jakarta (Greeners) – Kendati pemerintah mengklaim laju deforestasi lebih rendah, lembaga swadaya masyarakat menilai sebaliknya. Perubahan tutupan hutan terus berkurang dari waktu ke waktu karena pembangunan sektor non kehutanan, perambahan, dan kebakaran hutan. Eksploitasi hutan secara terus-menerus juga mengindikasikan bencana berupa penyakit zoonosis dan krisis iklim sedang dituai.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL) mencatat, laju deforestasi Indonesia pada 2018-2019 mencapai 465,5 ribu hektar. Direktur Jenderal PKTL, Sigit Hardwinarto mengatakan tren deforestasi Indonesia relatif lebih rendah dan cenderung stabil. Menurutnya, dari angka tersebut, lahan yang telah direforestasi atau dihutankan kembali sebesar 3,1 ribu hektar.

Baca juga: JAAN: Satwa Liar Bukan Hewan Peliharaan

Dari pemantauan citra satelit, luas lahan hutan Indonesia pada 2019 diketahui sebesar 94,1 juta hektar atau 50,1 persen dari total daratan. Sementara luas deforestasi tertinggi terjadi di kelas hutan sekunder, yaitu 162,8 ribu hektar. Sebesar 55,7 persen atau 90,6 ribu hektar berada di dalam kawasan hutan. Sedangkan 72,2 ribu hektar sisanya atau 44,3 persen berada di luar kawasan hutan.

Hasil pemantauan hutan Indonesia di tahun sebelumnya, menunjukkan bahwa deforestasi pada 2017-2018 mencapai 493,3 ribu hektar dan lahan yang sudah direforestasi sebesar 53,9 ribu hektar. Dengan membandingkan hasil pemantauan di 2018 dan 2019, reforestasi 2018-2019 meningkat sebesar 5,2 persen dan deforestasi menurun sebesar 5,6 persen.

Sigit Hardwinarto

Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sigit Hardwinarto. Foto: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Organisasi Masyarakat Sipil Greenpeace Indonesia menilai angka laju deforestasi masih tinggi. Pemerintah juga dinilai gagal menghentikannya. Pasalnya, jika deforestasi sebesar 462,4 ribu hektar dikurangi 162,8 ribu hektar deforestasi di hutan sekunder, hasil yang diperoleh sekitar 299,6 ribu hektar.

“Target pemerintah seharusnya fokus pada nol deforestasi. Angka hampir 300 ribu hektar deforestasi ini terjadi di luar hutan sekunder. Artinya deforestasi masih terjadi juga di hutan primer,” ucap Arie Rompas, Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Sabtu, 25 April 2020.

Baca juga: Ancaman Mikroplastik Terhadap Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Ia menuturkan, upaya perlindungan hutan primer dan sekunder yang berada di wilayah pengelolaan KLHK belum maksimal. Arie juga mendesak Presiden Jokowi untuk mengevaluasi kementerian terkait.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Manajer Kampanye Air, Pangan, Ekosistem Esensial, Eksekutif Nasional, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Wahyu Perdana. Ia mengatakan pemerintah semestinya memberikan laporan deforestasi secara utuh. Informasi tersebut, kata dia, harus menunjukkan penyebab dan pemilik konsesi lahan. Sementara Moratorium Permanen yang diputuskan tahun lalu juga sebaiknya menjadi peringatan keras. “Tidak hanya bicara penurunan, kita harusnya zero deforestasi,” ujarnya.

Penulis: Dewi Purningsih

Top