Pendaki Mesti Ubah Pola Pikir Soal Sampah

Reading time: 2 menit
Pendaki mesti ubah pola pikir soal sampah
Pendaki mesti ubah pola pikir soal sampah. Foto: shutterstock.com

Jakarta (Greeners) – Komitmen pelestarian gunung di Indonesia makin dibutuhkan seiring bertambahnya jumlah kunjungan tiap tahun. Perilaku pengunjung atau pendaki taman nasional dan wisata alam perlu diatur lebih tegas agar persoalan sampah tak kian bertambah. Efektivitas Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 8748 Tahun 2019 tentang pengelolaan pendakian gunung juga masih dipertanyakan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Rahman Mukhlis mengatakan pendakian gunung di Indonesia sudah memiliki peraturan yang mengelola dan mendukung pelestarian alam. Ia mengatakan pengelolaan berupa penyediaan fasilitas, sedangkan peraturan mengarah pada hal teknis bagi pengunjung.

“Dengan adanya peraturan tersebut perilaku pendaki seharusnya bisa berubah. Namun, saat ini perilaku dan kesadaran pendaki masih kurang baik. Karena kebiasaan membuang sampah di gunung masih banyak. Kesadaran untuk menggunakan logistik maupun peralatan yang dapat meminimalisir sampah juga masih kurang,” ujar Rahman, Selasa, 10 Desember 2019.

Baca juga: Standarisasi Pelayanan Jasa, Pemandu Gunung Kini Diminta Bersertifikat

Rahman pun menyarankan kepada para pendaki untuk mengutamakan faktor keselamatan, keamanan, dan kesehatan. Caranya dengan mempersiapkan fisik, mental, pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

“Selain membawa peralatan dan perbekalan untuk diri sendiri, kita juga harus menghargai alam dan makhluk hidup lain dengan membudayakan gaya hidup ramah lingkungan,” kata Rahman.

Pendaki mesti ubah pola pikir soal sampah

Membawa wadah dan kantong mengurangi kemasan sampah plastik yang dapat merusak kelestarian gunung. Foto: Instagram @zerowasteadventure

Pendaki dan pegiat Zero Waste Adventure Siska Nirmala, merupakan perempuan yang menerapkan pendakian tanpa sampah. Sejak 2012, Pieta, panggilan akrab Siska, menerapkan prinsip nihil sampah dalam hidupnya. Ia lalu mempraktikkan pola tersebut dalam kegiatan berpetualang termasuk mendaki gunung.

Pieta mengatakan untuk mempraktekkan zero waste, yang harus dilakukan ialah mengubah pola pikir. Misalnya, dengan membawa perbekalan organik dan menghindari membawa botol minum sekali pakai. Sebab, botol tersebut merupakan jenis sampah yang paling banyak dijumpai saat mendaki.

Baca juga: Jelajah Gunung ala Zero Waste Adventure

“Kalau mindset-nya hanya membawa turun sampah saja mau sampai kapan. Karena di kaki gunung tidak ada sistem pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah hanya akan berakhir di sana dan menjadi sumber makanan hewan liar. Itu mengganggu ekosistem mereka,” ujar Pieta.

Menurutnya, banyaknya pengunjung maupun pendaki akan berbanding lurus dengan jumlah sampah yang ada di gunung. Satu-satunya cara agar gunung bersih, kata dia, pendaki mesti menerapkan pendakian tanpa sampah.

KLHK mencatat sampai Oktober 2019, jumlah pendaki terbesar terdapat di gunung Ciremai, Jawa Barat. Dengan angka 61 persen, jumlah ini naik dibanding tahun lalu, yang berkisar 39 persen. Sedangkan Taman Nasional Bromo Tengger-Semeru, Jawa Timur menempati urutan kedua dengan jumlah pengunjung sebanyak 38 persen, meski angka ini turun dari tahun 2018 yang berjumlah 62 persen.

Sementara, banyaknya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi selama 2019 mengakibatkan kunjungan maupun pendakian menurun. Beberapa gunung di Indonesia ditutup agar bisa pulih kembali.

Penulis: Dewi Purningsih

Infografis Jumlah Pengunjung Taman Nasional dan Wisata Alam

 

Top