Sirkular Ekonomi dari Pengumpulan Sampah Capai Rp 1 Triliun

Reading time: 3 menit
Dirjen PSLB3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati menjelaskan kontribusi sirkular ekonomi dalam pengumpulan sampah plastik, kertas dan limbah B3. Foto: KLHK

Jakarta (Greeners) – Nilai sirkular ekonomi pengumpulan sampah plastik mencapai Rp 1 triliun selama tahun 2019-2020. Konsep berkelanjutan dari sirkular ekonomi ini bisa menambah nilai ekonomi sekaligus mengurangi beban lingkungan.

Selain itu sirkular ekonomi juga bisa menciptakan lapangan kerja, berkontribusi pada pembangunan sekaligus mengatasi perubahan iklim.

Saat ini pemerintah gencar menerapkan ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah, limbah dan bahan berbahaya dan beracun (B3). Salah satu implementasinya dengan mendorong sampah dan daur ulang limbah B3. Selain daur ulang juga menjadi sumber daya proses produksi, baik bahan baku atau pun energi.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, di sektor hulu, penerapan ekonomi sirkular melalui pengurangan sampah oleh produsen. Jenis produsennya meliputi manufaktur, ritel, serta jasa makanan dan minuman. Target pengurangan sampah oleh produsen sebesar 30 % pada akhir tahun 2029.

“Yang menjadi perhatian pengelolaan sampah di sektor hulu ada dua yaitu pertama kita sebagai individu dan bagian masyarakat. Sekarang bukan zamannya lagi ungkapan jangan membuang sampah sembarangan, tetapi mari kita pilah sampah dari rumah,” katanya dalam refleksi akhir tahun 2021 KLHK di Jakarta, Rabu (22/12).

Selain itu lanjut Vivien, produsen pun KLHK dorong untuk tidak menghasilkan kemasan atau produk sekali pakai. Produsen juga berkewajiban untuk membatasi timbulan, pendauran ulang dan pemanfaatan kembali.

Secara nasional, indeks kinerja pengelolaan sampah masih relatif kurang. Baru delapan kabupaten/kota yang termasuk kategori baik dalam pengelolaan sampah.

“Dari gambaran secara nasional, capaian pengurangan sampah tahun 2020, timbulan sampahnya itu 67,8 juta ton. Dari target 22 %, tercapai 14,17 %,” ungkapnya.

Tetapi dibanding dari tahun 2015-2018 yang berada di kisaran 1,7-2,7 %. Sedangkan angka pengurangan di 2019 sebesar 13,27 %. Tahun 2020 ini meningkat dengan masifnya pemilahan, daur ulang dan bank sampah di seluruh Indonesia.

Sinergi Hulu Hilir Dorong Sirkular Ekonomi Sampah

Dalam refleksi akhir tahun tersebut, Vivien menyebut, capaian kinerja ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah meliputi bagian hulu, hilir, komunitas, wilayah, hingga nasional.

Sementara, capaian kinerja ekonomi sirkular dalam pengelolaan limbah B3 dan limbah non B3 meliputi beberapa aspek yaitu pelayanan perizinan, implementasi pemanfaatan limbah B3, pemulihan lahan terkontaminasi limbah B3 dan pemanfaatan limbah non B3.

Vivien mengungkapkan, kontribusi Rp 1 triliun dari sirkular ekonomi dari pengumpulan sampah plastik ini diperoleh melalui bank sampah, TPS 3R, TPST, Pusat Daur Ulang (PDU) dan sektor informal (pemulung, pelapak). Selain itu berasal pula dari sosial entrepreneur dengan asumsi harga 1 kg plastik Rp 2.400 per kg.

Dari pengumpulan sampah kertas, sirkular ekonomi yang terkumpul lebih besar lagi. Mencapai Rp 7,3 triliun dengan asumsi harga 1 kg kertas Rp 3.500 per kg.

Sementara itu, dengan potensi timbulan nasional sekitar 100.000 ton per hari, sampah organik juga menjanjikan potensi nilai ekonomi yang tinggi. Khususnya menggunakan metode black soldier fly (BSF). Metode ini menghasilkan maggot, dengan potensi sampah terkelola 15.000 ton per hari. Potensi nilai ekonomi per harinya sekitar Rp 225-300 miliar.

Selain maggot, metode ini menghasilkan pupuk cair dengan potensi sampah terkelola 30.000 ton per hari. Potensi nilai ekonominya per hari sekitar Rp 15 miliar.

“Sirkular ekonomi juga menumbuhkan sosial preneur dalam pengelolaan sampah. Saat ini ada 28 sosial preneur. Biasanya terdiri dari anak muda. Mereka membuat aplikasi untuk menjemput sampah terpilah dari rumah dan mereka membelinya,” tutur Vivien.

Sirkular ekonomi pengumpulan sampah plastik mencapai Rp 1 triliun selama tahun 2019-2020. Foto: Shutterstock

KLHK Bangun Pusat Daur Ulang

Di hilir, KLHK membantu fasilitasi sarana dan pengelolaan sampah yang mendukung ekonomi sirkular. KLHK membangun PDU di Kota Metro Lampung, dengan kapasitas terpasang 3.600 ton/tahun. Fasilitas ini memberikan potensi nilai ekonomi sekitar Rp 5,7 miliar per tahun dari sampah daur ulang dan sampah organik. Tempat ini juga dapat berfungsi sebagai lokasi eduwisata.

Berikutnya, nilai ekonomi sirkular diperoleh dari fasilitasi sarana dan prasarana pengelolaan sampah. Pembangunan instalasi pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) Benowo Surabaya misalnya.
Dengan nilai investasi Rp 2,5 triliun dan kapasitas pengolahan sampah 1.000 ton per hari, fasilitas ini mempunyai potensi listrik 10 MW dan potensi pendapatan total Rp 260 miliar per tahun.

Ada juga nilai ekonomi sirkular dari refuse derived fuel (RDF) di Cilacap. Dengan nilai investasi Rp 85 miliar dan kapasitas pengolahan sampah 200 ton per hari, memberikan potensi nilai ekonomi Rp 10,95 miliar per tahun.

Sementara itu, nilai ekonomi bruto dari pemanfaatan limbah B3 dan non B3 tahun 2021 dari manufaktur, agroindustri, pertambangan energi dan migas, serta prasarana mencapai Rp 21 triliun. Angka ini diperoleh dari 8.935 perusahaan yang melaporan kegiatannya melalui aplikasi SIRAJA.

Sementara, total nilai ekonomi yang ditimbulkan dari pemanfaatan limbah B3 dan tanah terkontaminasi limbah B3 mencapai Rp 32 miliar.

Penulis : Sol

Top