Sulawesi Pusat Penemuan Spesies Baru Indonesia di Tahun 2021

Reading time: 3 menit
BRIN menemukan 88 spesies baru sepanjang tahun 2021. Mayoritasnya berasal dari Sulawesi. Foto: BRIN

Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mencatat 88 penemuan jenis baru pada akhir tahun 2021. Hampir 80 % spesies baru tersebut BRIN temukan di Sulawesi. Penemuan fauna mendominasi, dengan jumlah 75 spesies, sisanya flora sebanyak 13 spesies.

Penemuan jenis baru ini memiliki arti penting bagi studi taksonomi dan sistematika. Selain itu, penemuan ini menjadi awal dari penelitian biodiversitas selanjutnya, seperti konservasi hingga bioprospeksi.

Dari keseluruhan penemuan tersebut, hampir sebagian besar spesies baru yang BRIN temukan merupakan endemik flora dan fauna dari lokasi penemuannya. Hanya lima spesies berasal dari dari luar pulau Indonesia, yaitu Papua Nugini, sisanya mayoritas dari Pulau Sulawesi. Selanjutnya spesimen lain berasal dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali dan beberapa pulau Indonesia lainnya.

Dari 75 spesies fauna baru yang berhasil BRIN identifikasi, 68 % fauna endemik dari Sulawesi. Kelompok fauna ini yaitu jenis baru kumbang, celurut, ular, cacing, udang dan ikan. Sedangnya 32 % sisanya berasal dari kelompok coleoptera, cicak, kadal, katak, kecoa, burung, ikan, isopoda dan krustasea. BRIN menemukan beberapa di antaranya di beberapa tempat di Indonesia dan Papua Nugini.

Sementara itu dari 13 spesies flora yang BRIN temukan hampir 54 % berasal dari Sulawesi. Jenis flora yang BRIN temukan antara lain begonia, jahe-jahean, anggrek, Cyrtandra, Bulbophyllum dan Artocarpus. Sedangkan sisanya mereka temukan di Pulau Sumatra, Jawa Barat dan Filipina.

Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati (OR-IPH) BRIN Iman Hidayat mengatakan, Indonesia merupakan negara dengan kekayaan biodiversitas terbesar di dunia yang meliputi kekayaan hayati darat dan laut. Namun, jumlah yang berhasil Indonesia ungkap dan rekam saat ini masih minim.

“Beberapa peneliti memperkirakan jumlah keanekaragaman hayati yang sudah mereka temukan saat ini baru sekitar 10 % dari total potensi keanekaragaman hayati yang ada,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (28/1).

Selain fauna yang mendominasi dalam eksplorasi, BRIN juga menemukan fauna. Foto: BRIN

Pengungkapan Spesies Baru Untuk Temukan Manfaatnya 

Dari eksplorasi tersebut, Iman menambahkan, BRIN akan mengupayakan penyimpanan data whole genome sequence dan partial DNA atau protein sequence, pengungkapan ancaman dan dampak perubahan global terhadap status ekosistem dan biodiversitas nusantara. Selain itu rehabilitasi dan peningkatan populasi spesies terancam punah, eksplorasi, konservasi secara ex situ serta ekologi dan restorasi spesies.

Kepala Pusat Riset Biologi BRIN Anang S Achmadi menerangkan keberhasilan peneliti BRIN dalam mengungkap spesies baru Indonesia ibarat menemukan harta karun di bumi pertiwi. “Perjalanan penelitian tidak serta merta berhenti setelah menemukan spesies baru, akan muncul banyak penelitian lanjutan. Seperti kandungan zat aktif apa yang terdapat pada spesies ini atau menjadi indikator lingkungan perubahan lingkungan,” ungkap Anang.

Terkait upaya konservasi biodiversitas Indonesia, Anang mengatakan BRIN sangat berperan aktif. Sekretariat Kewenangan Ilmiah Keanekaragaman Hayati (SKIKH) BRIN memiliki peran sebagai otoritas ilmiah (scientific authority) di Indonesia.

Di sini, SKIKH berpartisipasi aktif sebagai delegasi Indonesia dalam Convention on Biological Diversity (CBD), Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) dan lain sebagainya.

Selain itu, upaya konservasi lain yang BRIN lakukan sejak puluhan atau ratusan tahun selama ini juga diwujudkan dalam bentuk depositori dan repositori ilmiah. Semuanya tersimpan dalam Museum Zoologicum Bogoriense, Herbarium Bogoriense dan Indonesian Culture Collection.

Dari eksplorasi selama tahun 2021, penemuan spesies fauna kembali mendominasi. Jenis kumbang paling banyak ditemukan, terutama di Sulawesi. Peneliti Pusat Riset Biologi Pramesa Narakusumo menjelaskan terdapat 28 kumbang moncong (Insecta: Coleoptera: Curculionidae) berasal dari genus trigonopterus.

Khusus untuk kumbang moncong yang tidak dapat terbang dan tinggal di lokasi-lokasi terisolir di hutan pegunungan, diyakini telah berevolusi secara cepat selama jutaan tahun, sehingga tingkat endemisitas dan biodiversitasnya sangat tinggi.

Penulis : Ari Rikin

Top
You cannot copy content of this page