Menyorot Jalinan Keragaman Hayati dan Pandemi Covid-19

Reading time: 2 menit
Menyorot Jalinan Perubahan Iklim dan Pandemi Covid-19
Virus Covid-19 yang masuk sebagai salah satu virus zoonosis, virus yang dapat bertransmisi dari hewan ke manusia, memiliki keterkaitan dengan rusaknya hutan dan biodiversitas di dalamnya. Foto: Shutterstock.

Jakarta (Greeners) – Peneliti Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Prof. Jatna Supriatna, menjabarkan pandemi Covid-19 yang sedang kita alami saat ini ternyata tak terpisahkan dari peran lingkungan. Virus Covid-19 yang masuk sebagai salah satu virus zoonosis, virus yang dapat bertransmisi dari hewan ke manusia, memiliki keterkaitan dengan rusaknya hutan dan biodiversitas di dalamnya.

“Jadi biodiversity, keragaman hayati, menurunkan risiko penyakit menular pada ekologi komunitas. Karena dengan keragaman yang tinggi, maka kutu, bakteri, dan sebagainya itu stabil. Tapi begitu hutan hilang, maka tidak stabil. Keutuhan biodiversitas menjadi penghalang transmisi spillover zoonosis,” ujar Prof. Jatna dalam diskusi Pandemi Itu Nyata, Begitu Pula Krisis Iklim, Senin (09/11/2020).

Dia menjelaskan, kerusakan hutan yang terjadi, pun juga dengan kepunahan hewan yang ada di hutan berakibat pada kemudahan terjadinya loncatan virus, bakteri dari hewan ke manusia. Lompatan ini, lanjutnya, berpotensi terjadi di pasar gelap yang mengumpulkan berbagai satwa liar dalam satu tempat.

“Pada waktu ditumpuk dalam satu market atau pasar, burung, mamalia, reptil, semua mikrobanya akan saling lompat dari satu ke tempat lain. Ini yang menyebabkan mengapa terjadi loncatan dari virus. Seperti Sars-Cov yang diperkirakan dari kelelawar, kemudian berpindah ke semacam mamalia, lalu mamalia kepada manusia. Itu akan terjadi terus. Sama dengan Ebola, misalnya, yang juga dari kelelawar,” tutur Prof. Jatna.

Baca juga: Hari Ciliwung, Aktivis Usung Ciliwung sebagai Parameter Sungai Tanah Air

Deforestasi Mudahkan Perburuan Satwa 

Prof. Jatna pun menambahkan soal kerusakan hutan yang ikut andil dalam memudahkan satwa liar terlepas dari habitat aslinya. Satwa yang kehilangan hutan sebagai rumah membawa mikroba yang ada di dalam tubuh mereka. Secara bersamaan, deforestasi memudahkan pemburu satwa untuk menangkap satwa liar. Satwa ini pun akan berakhir sebagai objek jual-beli pemburu, penjual, dan konsumen.

Mendukung pendapat Prof. Jatna, peneliti AIPI Sofia Mubarika mengutip data World Health Organization (WHO) terkait Covid-19. Data WHO mengungkapkan virus Covid-19, selain adalah zoonosis, pun juga hadir karena masalah lingkungan yang rusak.

“Kalau kita melihat gambaran dari zoonosis di dua puluh tahun terakhir, kita lihat frekuensinya begitu tinggi. Mulai dari 2003, ada H5N1, kemudian ada H57, terus berlanjut ada Zika, Ebola, ada MERS Covid. Ini menunjukkan bahwa ternyata, mulai dari kerusakan lingkungan, kemudian dengan climate change, dengan biodiversity, itu ternyata memang bahwa itu semua memang saling kait-mengait,” tutur Rika dalam acara yang sama.

Kelestarian Biodiversitas Berkelindan dengan Kesehatan Manusia

Menteri Riset dan Teknologi Indonesia Bambang Brodjonegoro berpendapat, pandemi sendiri merupakan salah satu dari tiga ancaman utama manusia, yakni perubahan iklim, perang, dan krisis ekonomi. Selain itu, Bambang juga menyoroti kemungkinan virus yang tertular kembali ke manusia, walaupun telah ditemukan vaksin dan herd immunity.

“Saya selama mengurus pandemi ini juga diberitahu bahwa kalau herd immunity bisa tercapai secara global, dengan vaksin tentunya, maka bukan berarti virusnya akan hilang. Virusnya memang akan kehilangan host manusia, yaitu kita sendiri. Dia tidak punya rumah lagi di manusia, karena semuanya sudah divaksin. Tapi rupanya virus kalau cari rumah di orang tidak ketemu, maka berikutnya dia cari rumahnya di hewan,” tutur Bambang.

Dalam menanggulangi hal ini, pakar menawarkan sebuah prakarsa berjudul One Health.

“One Health adalah kolaborasi yang bersifat multisektoral dan transdisiplin. Baik itu bersifat lokal, regional, nasional, dan juga global. Tujuannya mendapatkan outcome kesehatan yang optimal, dengan mengingat hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Tadi sudah ada buktinya, bahwa antara hewan, manusia, dan lingkungan itu merupakan satu kesatuan yang saling interlink, sangat terkait satu sama lain,” jelas Rika.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Editor: Ixora Devi

Top
You cannot copy content of this page