Sumber Mata Air Rusak Secara Sistematis

Reading time: 2 menit
Foto: greeners.co

Batu (Greeners) – Hampir semua sumber mata air di Indonesia mengalami krisis, mulai pulau terkecil hingga terbesar. Air yang menjadi infrastruktur ekologis agar kehidupan tetap berlangsung saat ini menjadi barang jualan.

Demikian dikatakan Hendro Sangkoyo dari Sekolah Ekonomika Demokratik Jakarta, dalam Sarasehan Pelestarian Lingkungan yang digelar Forum Masyarakat Peduli Mata Air (FMPMA) di Pendopo Dusun Cangar, Desa Bulukerto, sebagai salah satu rangkaian acara Festival Mata Air 2014, Jumat (7/11/2014).

Parahnya lagi, kata Hendro, kompetisi perebutan sumber mata air kian sengit untuk saling memperebutkan siapa yang paling berhak atasnya. Hingga kini, katanya, belum ada proteksi secara makro atau mencakup antar pulau. Ia meminta pemerintah harus mampu menekan krisis air yang semakin parah di beberapa wilayah di Indonesia.

“Kalau pemerintah cerdas, tidak perlu ada konflik sumber mata air seperti di Batu,” kata Yoyok, sapaan akrab Hendro Sangkoyo.

Yoyok juga mengingatkan Pemerintah Kota Batu yang saat ini tengah gencar mempromosikan sebagai Kota Wisata. Menjadikan Kota Batu sebagai Kota Wisata tentu bisa menjadi ancaman bagi kelestarian sumber mata air yang berada di kota ini. Sebab, tumbuhnya perhotelan, tempat-tempat wisata, serta bangunan-bangunan villa tentu membutuhkan air yang tidak sedikit.

Menurut Yoyok, pemerintah harus cerdas dan mampu memberikan keadilan kepada masyarakat terhadap penggunaan sumber mata air. “Meningkatnya industri pariwisata pasti diiringi menurunnya sumber mata air,” kata Yoyok.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu, Budi Santoso, dalam kesempatan tersebut menambahkan, pihaknya saat ini tengah menyusun Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (Ripda) yang menurutnya akan dikoreksi sendiri nanti setelah draftnya selesai. Ia ingin ada konsep optimal dalam pengembangan pariwisata di Kota Batu. “Harus ada target berapa maksimal per tahun jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu,” ujarnya.

Dari sini, bisa diketahui, kebutuhan hotel, villa, infrastruktur jalan dan fasilaitas lain untuk menunjang jumlah wisatawan yang berkunjung. Kalau sudah ketemu jumlahnya berapa, katanya, penambahan hotel, villa, dan bangunan lainnya terkait pariwisata harus di hentikan kalau sudah optimal.

Budi juga meminta warga mengusulkan peraturan daerah yang melindungi perubahan lahan pertanian terutama yang berada di dekat sumber mata air menjadi perumahan atau hotel dan villa. “Ini juga untuk melindungi sumber mata air yang tersisa saat ini,” katanya.

Sementara itu, Kepala Departemen Advokasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional, Nurhidayati, menyampaikan, selama ini tidak ada pembicaraan secara serius antara pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan di wilayah DAS Brantas, misalnya.

Sebab, jika data 10 tahun terakhir jumlah sumber mata air menurun 50 persen, maka kalau tidak ada upaya penyelamatan maka 10 tahun kedepan akan habis.“Harus ada kerjasama dari semua pihak di lingkup aliran DAS Brantas mulai dari hulu hingga hilir,” katanya.

(G17)

Top
You cannot copy content of this page