Alasan Bumi Tidak Akan Pernah Membeku

Reading time: 3 menit
bumi
Ilustrasi: pixabay.com

LONDON, 29 April 2017 – Para peneliti berpikir mereka mengetahui Zaman Es secara mendalam. Pada dunia di mana kadar karbon dioksida di atmosfer mencapai titik terendah dan gletser bergeser dari daerah kutub ke tempat yang lebih hangat, maka ada mekanisme yang menahan proses tersebut, yaitu Bumi tidak akan menjadi zona beku.

Hal tersebut mungkin saja terjadi di masa lalu. Ada bukti yang belum kuat terkait dengan “Bumi Bola Salju” di mana es akan mencapai khatulistiwa lebih dari 700 tahun yang lalu sebelum adanya kehidupan yang lebih kompleks menguasai daratan atau lautan. Namun kondisi sekarang, termasuk dengan adanya tumbuh-tumbuhan, justru menunjukkan bahwa Bumi akan menjadi dingin sebelum menghangat lagi.

Penelitian ini dilakukan pada dasar bebatuan. Peneliti iklim mengetahui bahwa planet sedang menghangat dan berada dalam bahaya yang diakibatkan oleh manusia yang mengeluarkan karbon dioksida ke atmosfer. Mereka menyadari bahwa keadaan menjadi tambah buruk.

Membeku dan Mencair

Namun, dasar dari ilmu iklim sendiri merupakan teka-teki. Jauh sebelum manusia pertama mengetahui api dari percikan batu api, ada Zaman Es yang diselingi dengan periode hangat. Level karbon dioksida meningkat dan menurun. Gletser mundur dan maju. Kenapa? Apa yang membuat ini terjadi? Apakah ini akan terus berlangsung?

Dua peneliti dari Autonomous University di Barcelona, Spanyol menuliskan laporan pada Nature Geoscience yang menyatakan mereka bisa menjelaskan pertanyaan tersebut. Mereka mengukur bukti dari karbon dioksida di atmosfer yang terjebak pada bongkahan es masa lampau dan mendapatkan batas bawah.

“Kami menyadari bahwa konsentrasi CO2 di atmosfer berkisar hingga 190 parts per million (ppm) sepanjang 800.000 tahun belakangan namun jarang bisa lebih rendah dari batas tersebut,” jelas Sarah Eggleston, peneliti dari Institute of Environmental Science and Technology, pada universitas tersebut.

“Hal ini sangat mengejutkan karena mengisyaratkan bahwa konsentrasi CO2 rendah tersebut cukup stabil. Lebih lanjut, kami mengetahui bahwa CO2 cenderung meningkat pada masa lalu geologis namun tidak mempunyai bukti bahwa konsentrasi CO2 tersebut lebih rendah daripada 190 ppm.”

Satu tim penelitian berhasil menetapkan kondisi siklus orbit yang dapat diandalkan untuk membawa planet kembali ke Zaman Es. Namun, karena pemanasan global yang diciptakan oleh manusia, Zaman Es berikutnya tertunda.

Meski demikian, tim penelitian lainnya percaya bahwa mereka telah mengidentifikasikan beberapa pola perubahan biogeological yang terjadi pada akhir Zaman Es. Penelitian awal terkait dengan iklim di zaman purba ini telah mengkonfirmasikan bahwa pemanasan rumah kaca tidak dapat menghilangkan es dan mengubah dunia secara dramatis.

Saat ini, para ilmuwan iklim mengetahui hal lainnya bahwa ada batasan terendah untuk level karbon dioksida. Dampak rumah kaca sangat mungkin terjadi, namun pembekuan tidak akan terjadi.

Para ilmuwan mengetahui hal tersebut di masa lalu, porsi karbon dioksida di atmosfer masih meningkat hingga 800 ppm. Dalam sejarah manusia, level tersebut stabil pada 280 ppm. Ledakan penggunaan bahan bakar fosil pada 200 tahun belakangan ini telah meningkatkan level CO2 menjadi 400 ppm dan suhu rata-rata global telah meningkat hingga 1°C. Angka tersebut dapat meningkat pada abad ini kecuali negara-negara bisa mengurangi penggunaan bahan bakar fosil secara drastis.

Penemuan tersebut, — sama halnya dengan riset lainnya, akan meyakinkan apabila bisa dikonfirmasikan secara terpisah, — terlihat menambahkan susbtansi kepada Teori Gaia yang diajukan oleh James Lovelock pada berabad-abad lalu. Lovelock berargumen bahwa makhluk hidup cenderung bertahan pada lingkungan yang stabil secara kolektif namun tidak disadari.

Kehidupan sebagai pengatur

Para peneliti asal Barcelona menyatakan bahwa biosfer memegang peranan dalam menahan turunnya suhu untuk sementara. Pada level CO2 yang sangat rendah, tanaman dan plankton mengalami kesulitan untuk berfotosintesis sehingga mereka tumbuh dengan perlahan.

Hal tersebut menyebabkan kurangnya karbon pada tanah dan lautan, dan akan lebih lama tinggal di atmosfer. Dengan demikian, kehidupan berperan sebagai pengatur untuk menghentikan planet menjadi terlalu dingin untuk didiami. Para peneliti juga mengetahui bahwa proses tersebut harus mengacu kepada biologis ketimbang geologis.

“Kami mengetahui bahwa selama ratusan tahun lalu, CO2 diatur oleh bebatuan yang bereaksi secara perlahan,” kata Profesor Eric Galbraith, yang memimpin studi tersebut.

“Namun, hal ini terlalu lamban untuk menjelaskan stabilitas selama beberapa period di ribuan tahun yang kita lihat di bongkahan es. Jadi, pasti ada mekanisme lainnya yang bekerja pada CO2 yang rendah tersebut.” – Climate News Network

Top
You cannot copy content of this page