Survei YLKI: Konsumen Belum Pahami Resistensi Antimikroba pada Hewan Ternak

Reading time: 3 menit
resistensi antimikroba
Survei YLKI: Konsumen Belum Pahami Resistensi Antimikroba pada Hewan Ternak. Foto: Shutterstock.

Pada November – Desember 2020 Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melakukan survei perilaku konsumen dalam pengetahuan dan penggunaan antibiotik. Hampir setengah dari jumlah responden tidak mengetahui penggunaan antibiotik pada hewan ternak justru menjadi salah satu sumber resistensi antimikroba (AMR).

Jakarta – Nataliya Kurniawati, Staf Peneliti YLKI, mengatakan peningkatan pengetahuan masyarakat dan perubahan perilaku terhadap penggunaan antibiotik, terutama pada rantai pasok pangan, sangat penting.

Survei ini, lanjutnya, juga menemukan banyak pemahaman yang salah di antara masyarakat. Misalnya, hampir 56,2% responden menganggap daging yang sudah tercemar resistensi antimikroba masih dapat mereka konsumsi dengan cara memasak yang benar.

“Meskipun hampir 80% responden tahu mengenai antibiotik, namun 50% dari total responden justru tidak mengetahui mengenai antimikroba, yang justru menjadi isu utama resistensi antibiotik. Selain itu, saya masih menemukan lebih dari 20% masyarakat masih menyimpan antibiotik dan bahkan masih menggunakannya,” papar Nataliya pada konferensi pers virtual “Bedah Persepsi Konsumen Melalui Hasil Survei Tentang Resistensi Antibiotik,” Selasa, (22/12/2020).

Peningkatan Penggunaan Antibiotik Khususnya pada Ayam Boiler

Nataliya melanjutkan peningkatan penggunaan antibiotik pada hewan ternak, khususnya terjadi pada ayam boiler. Survei dalam jaringan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 15 September–5 Oktober 2020, memperkuat klaim ini.

Lebih jauh, survei LIPI tersebut menemukan keluarga saat ini cenderung mengonsumsi makanan sehat dengan tujuan menjaga imun tubuh di masa pandemi. Dengan pertimbangan kesehatan, survei tersebut mendapati konsumsi rumah tangga untuk protein hewani masih cukup tinggi.

“Tidak terbayang kalau Indonesia mengalami kekebalan antibiotik ini dan kemudian banyak kondisi pasien tidak bisa tertolong. Biaya kesehatannya membengkak, dan sulit menemukan antibiotik baru. Pada era BPJS kesehatan, ini pastinya akan menjadi beban tersendiri,” ujar Nataliya.

Peternakan Kunci Utama Penanganan Kasus Resistensi Antimikroba

Menurut penelitian pakar ekonomi terkemuka, Jim O’Neill, yang mengkaji dampak ekonomi di seputar persoalan resistensi antimikroba, terdapat setidaknya 700.000 kematian setiap tahun akibat AMR.

O’Neill menyebutkan, kegagalan dalam menangani AMR akan menyebabkan 10 juta kematian setiap tahun dan menghabiskan biaya hingga US$ 100 triliun pada tahun 2050.

Tulus Abadi, Ketua Harian YLKI, mengatakan peternakan adalah kunci utama dalam penangangan kasus resistensi antimikroba. Menurutnya, pengelolaan peternakan yang tidak sesuai ketentuan kesejahteraan hewan akan membuat banyak hewan yang sakit dan dianggap memerlukan antibiotik.

“Sejalan dengan itu indeks keberdayaan konsumen Indonesia pada 2020 masih di angka 42. Angka ini menunjukan konsumen kita sudah pada tahap mampu dan sudah mengenal hak-kewajibannya dan bisa menentukan pilihan. Sangat penting bagi para produsen dan rantai pasok pangan, termasuk restoran cepat saji, untuk membuat komitmen bersama. Salah satunya dengan mencantumkan kandungan antibiotik pada produknya,” papar Tulus pada kesempatan yang sama.

resistensi antimikroba

Tulus Abadi, Ketua Harian YLKI, mengatakan peternakan adalah kunci utama dalam penangangan kasus resistensi antimikroba. Foto: Shuttertock.

Antibiotik Memang Industri Peternakan Butuhkan, Tetapi….

Masih dalam acara yang sama, Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (Asohi), drh. Andi Wijanarko mengatakan antibiotik memang industri peternakan butuhkan tetapi hanya sebatas untuk ayam yang keadaannya sedang sakit.

Dosisnya pun, lanjut drh. Andi, hanya untuk terapi. Maksimal penggunaan selama tujuh hari, serta wajib dengan resep dokter hewan.

“Berikan sesuai yang dibutuhkan ketika ayam sakit. Tidak boleh berbeda karena nanti munculah resisten. Kita sudah membuat pedoman umum pengunaan anti mikroba,” ujarnya.

Drh. Andi menyebut hal ini juga tertuang pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14 Tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan. Regulasi ini mengandung pelarangan penggunaan antibiotik dengan dosis pencegahan.

“Selain itu, di Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan sudah ada larangannya. Setiap orang dilarang menggunakan pakan yang mengandung hormon dan antibiotik,” ujar drh. Andi.

Drh. Andi juga menyampaikan ada alternatif pengganti dari antibiotik, yaitu prebiotik, probiotik, esensial oil, dan herbal. Macam-macam obat tersebut pun sudah teregistrasi sesuai dengan aturan pemerintah (dalam hal ini Kementerian Pertanian) dan yang ada di lapangan.

Baca juga: Riset: Restoran Cepat Saji Internasional Konsisten Siksa Ayam di Indonesia

Mengenai Survei Persepsi Publik YLKI

Survei persepsi publik mengenai perilaku konsumen dalam pengetahuan dan penggunaan antibiotik menyasar responden di beberapa kota di Indonesia. Survei ini menjaring sekitar 70% responden perempuan dengan tingkat pendidikan sarjana. Mayoritas usia 25 tahun  dengan status ibu rumah tangga.

Tujuan dari survei ini adalah melengkapi hasil survei resistensi antimikroba World Animal Protection di beberapa negara termasuk di Indonesia.

Survei ini bertujuan memahami pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap isu resistensi antimikroba pada rantai pasok pangan. Mulai dari kandang peternakan sampai ke piring para konsumen.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Ixora Devi

Top
You cannot copy content of this page